SINDIR-SINDIRAN

1564 Kata
“Belum,” jawabku jujur. Mana mungkin aku berbohong di bulan puasa. Enak aja, pahala yang kuperjuangkan dari seharian penuh akan musnah hanya karena melindungi statusku sekarang dari Mustafidz. Oh no. Aku tak mau itu terjadi. Aku menoleh, memperhatikan bagaimana reaksi Mustafidz. Kukira dia akan tertawa terbahak-bahak sambil berjingkrak kegirangan, tapi tidak. Dia justru menatap langit. Matanya terlihat sedikit berbeda. Namun sikapnya sama sekali tak ada indikasi hendak mengejekku. Dia masih sama saja, selalu menghormati keputusanku. “Makan dulu, yuk!” ajaknya. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Aku lebih memilih untuk berjalan di sampingnya, alih-alih berjalan di belakangnya. Aku tidak tahan melihat punggungnya itu, punggung yang pernah aku bayangkan bisa bersandar di sana. “Kenapa cincinnya nggak dipakai?” tanyaku ketika menyadari tak ada lagi cincin platina di jari manisnya. Mustafidz mengangkat tangan kirinya. “Aku hanya bilang padanya kalau aku akan memakainya di hari kami bertungan dan akan kulepas sampai kamu memiliki cincin emas yang melingkari jari manismu, Qis,” ujarnya. Aku menelan ludah. Lagi-lagi ini. Mustafidz masih saja berpegang teguh dengan pernyataanya dulu. Heran. Kenapa sih? Aku jadi penasaran seperti apa perempuan yang jadi tunangan Mustafidz sekarang. Apa dia tidak secantik diriku? Apa dia tidak bisa menggantikan diriku di hati Mustafidz? Harusnya bisa dong. Kan pilihan calon mertua yang masya Allah tegasnya itu. Pastinya dia cantik, alim, dan juga bisa ngaji. “Tapi kamu tidak berencana menggantikan diriku dengan om-om, kan?” celetuknya. Aku seketika terperangah. Apa tadi dia bilang? “Kemarin aku melihat dirimu jalan bareng sama om-om.” Seketika wajahku pun memerah. Momen itu tak akan pernah hilang dari ingatanku. Momen ketika aplikasi sialan jodoh online malah mempertemukanku dengan sugar dady. “Masa aku mau gantiin kamu dengan babeh-babeh. Ogah, lah. Kemarin itu hanya tragedi.” “Kalau yang di pantai gimana?” Aku menelan ludah. Pantai? Kok ini orang banyak tahunya. Apa jangan-jangan dia intel? Masa punya informasi tentang diriku. “Pantai yang mana?” Aku mencoba untuk bersikap bodoh. "Lupakan," tanggap Mustafidz singkat. Aku pun melemparkan pandangan sinis. Dia memang suka banget seperti ini. Giliran menyinggung sedikit saja tentang hatinya, dia akan menghindar. Entah mengapa. Tapi aku dulu pernah bertanya. Dia hanya ingin hatinya tenang tanpa bersuudzon kepada siapa pun. Mungkin dia belum tahu bahwa ghibah itu enak sekali. Cuma ya dosanya emang tidak main-main. Satu kata keluar, sepuluh pahala ditransfer ke orang yang dighibahi. "Kita mau makan di mana?" tanyaku pada akhirnya. Jalan mulu, sampai kagak. Atau jangan-jangan mantanku satu ini sengaja berlama-lama jalan bareng gini. Tapi itu tidak mungkin. Dia gus lho. Berduaan seperti kan dosa. Juga tak baik untuk kesehatan hatiku. Mustafidz tak menjawab. Alih-alih dia merenspon pertanyaanku, Mustafidz justru berhenti. "Mas, beli ikan bakarnya dua, ya!" Aku pun hanya bisa melongo. Salah satu keajaiban dari Musatafidz muncul lagi. Dia baru berhenti ketika ditanya mau makan di mana. Hebat. Memang hebat. Modus kan gus satu ini. Kami pun duduk. Tidak berhadapan. Malah kami menjaga jarak satu kursi. Kursi empat, di satu sisi dua dan sisi lainnya dua lagi. Aku menempati ujung kanan, sedang Mustafidz menempati ujung kiri. Ya, kami menyisakan satu kursi di bagian kami masing-masing. Tidak mungkin bagi kami berhadap-hadapan. Kan belum halal. Atau mungkin tidak akan halal. “Tunangannya nggak bertanya kamu di mana, Mas?” tanyaku. Tadi dia yang ingin tahu bagaimana aku mencari penggantinya, kini aku yang ingin tahu bagaimana kehidupannya sekarang. Sakit? Biarlah. Orang waras kalau merasa sakit pasti akan menjauh. Semoga saja Mas Mustafidz masih waras. Mustafidz menelan ludah. Dia menunduk. Sepertinya dia ingin menarik napas dan merumuskan apa yang hendak dikatakannya. “Dia baik. Tidak masalah dengan apa yang hendak aku lakukan. Dan dia tahu kalau sebesar apa pun usahanya untuk mendekatiku, cintaku tidak pernah sampai kepadanya.” “Belum,” potongku. Dia mau mengungkit kisah kami? Oh tak bisa. “Maksudnya?” tanya Mustafidz tak paham. Atau mungkin pura-pura tak mengerti. “Ya belum. Cinta itu ada berbagai bentuk, Mas. Dan caramu menghadapi kehidupan dengan menerima cincin di jari manismu itu, itu juga salah satu dari gerbang menuju cinta yang lain,” kataku sok bijak. Pokoknya aku tak mau kalau sampai aku yang kena skakmat. Hubungan kami benar-benar harus tandas. “Selain itu, kamu juga pernah berpesan kalau manusia tidak bisa berkehendak. Hanya Allah yang bisa,” tambahku. Mustafidz tertawa kecil mendengarnya. Dan demi apa pun, hatiku masih nyes mendengar kikikannya. Andai dia orang biasa gitu, aku pasti akan dengan senang hati menerima lamarannya. Tapi dia itu gus. Yang menikahinya kelak juga akan jadi bu nyai. Masa iya Bu Nyai Balqis Savitri. Tidak cocok sama sekali. Ngaji aja kagak bisa. “Kamu lupa satu hal, Qis. Takdir itu ada yang sudah menjadi ketetapan-Nya ada juga yang bisa diusahakan. Dan ini adalah takdir yang aku ingin usahakan,” ujarnya. Aku pun terperangah. Dia tidak mau menyerah ternyata. Aku jadi penasaran usaha seperti apa yang dia akan lakukan untukku biar bisa yakin menikahinya. “Balqis?” sapa seseorang. Sontak aku pun menengok. Begitu pun Mustafidz. Kepalanya kini mengarah ke sosok yang aku kenal di pantai. Seperti apa kata Mustafidz tadi. “Mas Sagara?” tanyaku setengah tidak percaya. Kok pas sekali. Apakah ini pertolongan dari Allah agar aku benar-benar bisa move on dari si gus di depanku ini? “Hai!” sapanya sembari melambaikan tangan ke arahku. Aku pun melambai balik. Dan ketika aku menawarinya duduk lalu Sagara duduk bersebelahan dengan Mustafidz, aku bisa melihat ekspresi yang tidak biasa dari gusku itu. Sepertinya akan ada badai tapi bukan dari langit nih. Mereka pun berkenalan. Aku melihat tangan mereka yang tengah bersalaman. Ini hanya firasatku saja atau memang mereka bersalaman kencang sekali. Urat di leher mereka sama-sama terlihat loh. Aku jadi berpikir. Ini mereka benar-benar baru kenalan, kan? Mustafidz dan Sagara baru melepas salaman mereka ketika pesananku dan Mustafidz datang. Mereka sama-sama tersenyum, senyum canggung lebih tepatnya. Aneh. “Mas Sagara kok ada di sini?” tanyaku mencoba memecah nuansa yang menurutku sedikit dingin. Sagara menoleh. Ketika mata birunya itu menatapku, aku pun segera menunduk. Benar-benar mata biru yang menggoda iman. Dan lagi-lagi Mustafidz menatapku dengan tatapan sedikit sinis. Apa mungkin dia cemburu karena aku mengajak bicara Sagara? Tapi kan itu wajar. Masa ada orang satu meja didiamkan begitu saja. “Sengaja lagi cari menu berbuka.” “Cari menu berbuka kok bisa pas seperti ini, ya?” tanggap Mustafidz. Aku yang sedang hendak menyuapkan nasi mulut pun seketika terhenti. Kupingku terasa gatel dengarnya. Kok nadanya sinis sekali. Baru pertama ini loh aku dengar nada seperti itu dari mulut Mustafidz. Sagara tersenyum. “Di sini memang terkenal enak kok bakarannya. Dekat jalan besar pula. Tapi bukannya Gus harusnya di pondok, ya?” Lagi-lagi aku gagal memasukkan makanan ke mulut. Ini kok aku tidak usah menyalakan tv udah bisa lihat drama. Ah bodo ah, aku mau makan saja. Buka kok ditunda-tunda. Nanti masuk waktu isya baru kapok. Giliran Mustafidz yang tersenyum. “Kebetulan pondok sudah dihandle sama pengurus dan juga Abah. Takdir kami berdua di sini karena ada proyek dari perusahaannya Balqis.” Aku yang sedang makan dengan enaknya dan mendengar kata ‘takdir’ pun jadi tersedak. Sagara dan Mustafidz secara bersamaan menyerahkan gelas mereka kepadaku. Aku pun tambah bingung. Bersamaan dengan batuk, aku melempar pandangan ke mereka berdua. Mustafidz memajukan gelasnya satu centi lebih dekat denganku. Sagara menyusul, mendekatkan gelasnya dua centi kepadaku. Begitu seterusnya sampai gelas mereka berdua benar-benar dekat dengan wajahku. Aku pun melempar pandangan sinis. Kuambil dua gelas mereka, meletakkannya di samping piring mereka masing-masing lantas kuambil gelasku sendiri dan minum. Sumpah, istilah laki-laki dewasa itu sebenarnya bocah yang terjebak dalam tubuh besar, kayaknya benar deh. Hening. Aku pun mengembuskan napas lega. Akhirnya aku bisa makan dengan tenang. Semoga saja sindir-sindiran mereka tak akan berlanjut lagi. “Mas Sagara ini pecinta alam, kan, ya?” Mustafidz mulai berbicara lagi. Duh. Baru saja aku bisa merasakan suapan nasi yang tenang dan nikmat, mereka mau mulai lagi. “Hooh, kok tahu?” jawab Sagara. Kendati tangan kedua pria di depanku ini sibuk makan, tapi kenapa pula lidah mereka malah sibuk berbicara. “Saya pernah lihat akun sosmed jenengan bersama para relawan wanita lainnya. Pernah beberapa hari di hutan kan, ya? Wah kalau saya mah udah nggak kuat.” Sagara tertawa. “Di pondok jenengan juga ada asrama putri kan, Gus? Saya lihat di ig pondok jenengan, santri putrinya cantik-cantik, loh. Setiap hari bisa melihat mereka, pasti sebuah kenikmatan, ya?” Ih. Sumpah kupingku gatal. Ini pada kenapa sih. Mereka baru kenalan tadi, kan? Dengan jelas aku mendengar mereka menyebut nama masing-masing sambil bersalaman. Ini malah sudah tahu. Dan sudah stalk pula. “Alhamdulillah, tapi saya jaga pandangan, kok. Kami selalu menerapkan menundukan pandangan ketika bertemu lawan jenis,” jawab Mustafidz dengan halus, tapi tidak dengan ekspresi mukanya. “Alhamdulillah. Kami juga seperti itu, Gus. Tenda dan segala macam hal terkait lawan jenis, kami pisah. Bahkan kami para lelaki pecinta alam, sering tidur di luar dan para perempuan tidur di dalam tenda.” “Oh ya? Saya juga ….” Aku pun berdiri. Aku sama sekali tidak tahan lagi dengan sindir-sindir kekanak-kanakan mereka. Kok ya bisa-bisanya aku yang malah dikacangin. Jangan kira aku anak kecil wahai laki-laki. Aku sudah bisa menafsirkan kalau kalian mau saling menjatuhkan dan terlihat wow di mataku. Menyebalkan. Aku pun jadi pindah meja. Untung saja ada meja yang kosong. Namun tak kusangka, ternyata dua makhluk yang aneh itu, turut mengikutiku. Mereka pun pindah meja dan sempat berebut kursi juga. Aku hanya bisa menghela napas. Astaghfirulloh!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN