LIRIKAN MUSTAFIDZ

1890 Kata
Kami, maksudnya aku dan Mustafidz sholat magrib bersama di sebuah musala SPBU. Tidak romantis, emang. Karena kami memang bukan mau menjalin asmara. Kami hanya dua insan yang mencoba mengakhiri hubungan ini dengan kata baik-baik saja. Eh aku ralat, itu aku bukan kami. Mustafidz kan tidak mau mengakhiri hubungan kami. Ketika mendengarnya membaca lafadz al-fatihah, hatiku terenyuh. Suaranya yang indah dan merdu sungguh bisa memporak-porandakan ego duniaku. Nada yang keluar dari mulut Mustafidz tidak terasa mendikte. Aku merasa seperti diajak untuk melihat makna lebih dalam dari sekadar mendengarkan saja. Dan ketika lafadz iyya kana’budu wa iyya kanasta’in, dibunyikan, aku berdoa dalam hati. Ini yang diajarkan Mustafidz padaku. Dan bahkan aku masih ingat hubungan kami setelah pertemuan yang memalukan itu. *** Tahun lalu. Saat Ramadhan tiba di hari cuti nasional disusul dengan tanggal merah. Aku pun memutuskan untuk mengikuti kajian pesantren kilat di pesantren selama seminggu. Hidup itu cuma sekali. Sayang banget kalau tidak semua hal positif di dunia ini aku coba. Maka dari itu pilihanku jatuh pada puasanan di salah satu pondok pesantren. Aku menatap sekitar. Pondok yang aku pilih adalah pondok tradisional. Sengaja. Biar mindset kecongkakan dunia di otakku bisa terpental. Bangunan pesantren tradisional ini cukup indah dan sakral. Banyak bangunan biasa yang cukup dibangun berdasarkan kegunaan, tidak muluk-muluk. Desainnya pun cukup simpel, layaknya rumah-rumah pedesaan. Di pesantren tradisional ini, para santri masak makanan mereka sendiri. Mereka juga dibebaskan mau sekolah, kerja, atau hanya mondok saja. Para kiai dan pengurus tidak melarang. Hanya satu aturan paling tinggi. Di saat magrib, semua harus balik ke pesantren dan mengikuti sholat jemaah serta pengajian. Tidak hadir sama dengan dihukum. Ketika aku masuk ke kamar santri puasanan – sebutan bagi kami yang ada di pondok buat ngaji puasa doang – banyak orang yang sudah datang. Ternyata banyak juga yang ikut puasana di pondok ini. Pondok dengan nama Al-Huda. Yah … aku memang tidak satu bulan penuh sih, tapi aku mengambil minggu pertama. Hari pertama yang libur resmi dari perusahaan dan sisanya aku ambil dari jatah cuti tahunan. Aku tidak mau mati sebelum mengalami hal-hal yang belum pernah kualami, jadi kukobarkanlah cutiku. Hari pertama cukup asyik. Aku berkenalan dengan banyak orang. Mereka juga ada yang kalangan umum ada juga kalangan santriwati. Kalangan santriwati ada yang datang karena kemauan sendiri, ada juga yang diutus oleh pesantren mereka masing-masing. Setelah aku bertanya-tanya, ternyata hal seperti itu lazim dilakukan. Malah seringnya kegiatan seperti ini membuat hubungan antar pesantren menjadi kian erat. Aku cukup exciting untuk hari pertama. Semua kegiatan aku lahap habis. Di pesantren ini setelah tarawih ada banyak kegiatan. Bertingkat malah. Kajian sehabis tarawih ada empat tingkatan. Masing-masing tingkatan berdurasi satu jam. Jadi bisa dibayangkan kalau tarawih sampai jam sembilan, berarti kegiatan bisa sampai jam satu dini hari. Itu hematnya dan kajian pasti melebihi dari satu jam. Jadi bisa-bisa kajian sampai sahur. Tapi santai, semuanya tidak wajib diikuti kok. Semampunya saja. Di antara kami santri puasanan hanya kalangan santriwati yang kuat berlama-lama duduk. Aku sampai kesemutan dan hampir jatuh saat berdiri. Untung saja aku duduk di samping tembok, jadi bisa berpegangan. Kalau tidak, aku pasti sudah malu. Mana yang hadir itu sampai ratusan orang. “Kalau tidak mau kesemutan, minum air putih yang banyak, Mba!” sahut Kaluna. “Makasih sarannya, Mba. Tapi mungkin juga kalau udah biasa, nggak akan seperti ini,” selorohku. Rasanya masih canggung berbicara dengan orang satu ini. Dia bukan hanya seorang santriwati biasa, tapi juga ning – anak kiai yang kelak menuruni tahta ayahnya sebagai pengampu pesantren. Horor tidak tuh! Ilmunya pasti sudah menyundul sampai langit. Tapi kerennya, dia memilih kamar bareng dengan kami. Walau dari pihak pondok sudah menyediakan kamar khusus untuknya. “Nggak juga. Saya juga sering kok kesemutan kalau jarang minum,” sambung Kaluna. Aku mengangguk lalu mencoba berjalan. “Sudah bisa, Mbak?” “Alhamdulillah sudah. Oh ya, habis ini siapa yang mengisi?” “Hmm … kalau tidak salah Gus Mustafidz, sepupu dari Kiai Ali.” “Kayak pernah denger namanya.” “Oh sudah pasti. Beliau orang yang sering mengisi pengajian kok, Mba.” “Hmm ….” Karena masih belum mengantuk, aku pun memutuskan untuk ikut pengajian kitab satu lagi. Walaupun kitab yang dikaji itu kitab kuning dengan arab gundul, aku tetap bisa menyimaknya dengan kitab terjemahan yang memang sudah disediakan di pondok. Aku duduk sila di samping tembok, berjaga-jaga kalau nanti kesemutan lagi. Aku juga membawa satu botol minum agar tidak mengantuk sampai ini usai. Toh, durasinya cuma satu jam. Enteng lah. Revisian dari bos yang berjam-jam saja kuat, masa ngaji tidak. Ustadz pengampunya pun datang. Kami yang semuanya duduk menghadap ke depan, tak dapat melihat wajahnya begitu saja. Ruangan ini berbentuk persegi panjang dengan tembok di sisi kanan dan kiri, sehingga semuanya duduk dengan rapi berbaris lurus dan memberikan ruang tengah untuk lewat sang ustadz. Si ustadz pun duduk. Ia mengucapkan salam. Sejenak ia memandang ke depan. Dan saat itulah aku menyadari bahwa yang mengisi pengajian kitab Fathul Qorib adalah orang yang sama dengan orang yang sering aku dengarkan dakwahnya. Buru-buru aku menutup wajahku dengan kitab terjemahan yang aku bawa. Aku segera berdiri, sialnya aku dibarisan tiga dari depan. Kalau keluar sekarang pasti memalukan. Duh! “Ya Allah … semoga dia tidak melihatku!” lirihku. Aku pun menunduk. Masih jelas terngiang di otakku tentang pertemuan pertama kami dulu. Aku yang terjengkang di depannya sungguh memalukan. Kenangan di masjid itu benar-benar membuat wajahku memerah. “Kenapa, Mba? Kok mukanya merah gitu?” Kaluna agaknya memerhatikan tingkahku yang seperti cacing kepanasan. “Ngga … nggak papa.” Aku pun kian menunduk, berdoa dengan khusyuk agar Gus Mustafidz benar-benar tidak melihatku. “Air bersuci itu terbagi menjadi tujuh, air salju, laut, sungai, sumur, air yang datang dari sumbernya, air hujan, dan air embun. Nah ketujuh air itu dapat kita gunakan untuk bersuci,” jelas Mustafidz setelah membaca beberapa baris kitab. Aku pun sedikit mencuri pandang, memastikan dia tidak melihatku. Wajahnya yang putih bersih dan setenang langit itu, menebar pandangannya ke semua orang. Ia begitu fasih menjelaskan setiap uraian yang ada, pelan serta begitu rinci. Dan seperti yang sudah-sudah, aku terlena dengan kemampuannya menguasai panggung walau hadirin di sini semuanya perempuan. Mustafidz tiba-tiba menengok. Tatapannya dan tatapanku bertemu dalam satu garis. Aku pun langsung menunduk. Buru-buru kusembunyikan wajahku rapat-rapat. “Jadi kalau di gunung bisa ada embun yang menempel di pohon, bisa kalian gunakan untuk bersuci. Maka jangan sekali-kali kita meninggalkan sholat. Ingatkan? Satu hal yang wajib kita lakukan ketika sakit adalah sholat. Ketika sakit, bahkan puasa bisa digantikan dengan fidyah, tapi tidak untuk sholat. Orang yang sakit tetap berkewajiban sholat. Jika dia tidak kuat berdiri, maka duduk. Tidak kuat duduk, tidur miring ke kiblat. Tidak kuat miring, maka tidur terlentang. Tidak bisa menggerakkan badannya, cukup dengan kedipan mata. Tidak bisa semuanya barulah dia disholati.” Aku sedikit tersenyum kala mendengar kalimat terakhirnya. Aku juga bersyukur dia tidak mengungkitku di depan umum, walau dengan jelas tadi dia tersenyum sebelum meneruskan kalimat penjelasannya itu. Setelah pengajian fikih dari Gus Mustafidz selesai, aku pun memilih untuk mengakhirinya. Meski si Kaluna masih mengajakku, tapi jujur sampai di pengajian fikih ini saja aku sudah hebat karena menahan kantuk sampai selesai. Aku tidak yakin kalau pengajian yang diadakan lewat jam dua belas malam ini mampu membuatku benar-benar terjaga. Aku pun masuk kamar dan menata kitab di loker lalu berganti baju. Tak kusangka vibes pesantren benar-benar berbeda dari dunia luar. Aku seperti memasuki dunia lain. Kalau makanan lebih, biasanya aku buang, kalau di sini, satu nasi bungkus pun yang notabene untuk satu orang, bisa dimakan berlima. Lebih dari itu. Sesuatu yang kita anggap privasi di kamar, bisa diungkap semuanya. Karena loker saja tidak ada kuncinya. Kalau ada maling, entah bagaimana caranya bisa cepat diketahui dan langsung ditendang keluar dari pesantren. Pesantren benar-benar membuka sisi luar dan dalam. Dengan waktu singkat, aku bisa mengetahui bagaimana watak asli teman-teman satu kamar. Hal lainnya yang aku temui adalah kesantunan luar biasa yang terjadi. Aku masih ingat dulu pas di sekolah, guru masih di dalam dan belum keluar saja aku sudah ramai sendiri. Tapi kalau di pondok, saat ustadz-ustadznya baru keluar dan benar-benar sudah tidak terlihat, barulah semua santrinya berulah. Lalu yang paling membekas di benakku adalah sore hari, ketika aku mencari menu buka puasa karena di pondok kurang berasa sayurnya. Maklum namanya juga masak buat ribuan orang, pasti orang-orang dapur berslogan yang penting matang. Saat itu aku dengan jelas melihat santri putra tengah bermain sepak bola. Mereka begitu gaduh dan seru bermain di halaman pesantren. Tapi ketika mobil romo kiai lewat, semuanya hening. Permainan otomatis berhenti begitu saja. Bahkan mereka sampai jongkok dong sampai mobil romo kiai masuk garasi dan beliau melangkah menuju dalem. Itu adalah hal yang benar-benar membuatku tak habis pikir bagaimana agungnya akhlak yang diterapkan di sini. *** “Aku pikir … kayaknya Gus Mustafidz suka sama kamu, Mbak,” cetus Kaluna saat sahur sepiring berdua denganku. Di pondok ini sudah biasa. Mau sekaya apa pun dirimu, siapa pun ayah dan ibumu, jika kehabisan piring, nampan lah satu-satunya solusi. Dan jika beralaskan nampan, sudah pasti dimakan lebih dari satu orang. Contohnya aku dan Kaluna sekarang. Karena sayur yang tersedia tinggal sedikit dan piring juga sudah habis, Kaluna berinisiatif untuk makan berdua denganku. Semua sayur yang tinggal sedikit, ia borong habis. “Jangan ngawur, deh! Buktinya apa coba?” Aku menguap. Rasa kantuk masih saja menggelayutiku. Ini sudah hari keempat dan kurasa aku mulai kurusan. “Kamu nggak lihat sedari beliau mulai ngaji, selalu ngelirik kamu?” lanjut Kaluna. Ia mengambil teh manis lalu menyuruputnya. “Dari mana kamu tahu? Kan kamu asyik nulis arab di tulisan arab.” “Jawa pegon itu namanya atuh.” “Ya itulah. Lah kamu kan lagi sibuk ngartiin, mana sempet merhatiin Gus Mustafidz.” “Kan nggak terus-terusan ngartiin. Kadang juga beliau jelasin, kan? Lah pas itu tu, dia ngelirik kamu terus.” “Perasaan kamu aja kali,” tepisku. Males banget sumpah meladeni gosip diri sendiri. Kalau gosip tetangga kamar itu baru menarik. “Ehm … moga aja sih. Soalnya aku juga ngarep kalau sampai bisa nikah sama Gus Mustafidz,” seloroh Kaluna. Mendengar itu sontak kupingku melebar. “Kenapa emang?” “Gini ya, Gus Mustafidz itu tampan. Aku dengar juga dia sangat sayang ibunya sampai seringkali dia memasak sarapan sebelum santriwati dalem masak untuk keluarga kiai. Kebayang nggak, besok kalau sampai ada yang jadi istrinya bagaimana? Ouh pasti disayang banget.” “Aku aminin aja, deh,” jawabku singkat. Entah kenapa ada rasa tidak ikhlas gitu saat mendengarnya. Pernyataan Kaluna mengundang rasa penasaranku seharian. Aku terus bertanya-tanya, apakah Gus Mustafidz benar-benar suka aku? Bahkan pertanyaan itu sampai terbawa ketika waktu ngaji bersama Gus Mustafidz tiba. Kali ini aku memberanikan diri untuk menatapnya. Aku memang tak bisa mengartikan kitab seperti yang dilakukan Kaluna dan santri lainnya, maka dari itu aku banyak waktu untuk melirik wajah Mustafidz ketika dia membaca kitab. Dan saat itulah aku mengetahui kalau yang dikatakan Kaluna benar adanya. Bahkan lebih dari itu, faktanya lebih mengerikan. Mustafidz. Seorang gus yang selalu kudengarkan dakwahnya, sesekali melirikku ketika tengah membacakan kitabnya. Pandangan kami bertemu. Wajahnya pun langsung memerah. Aku pun. Kami buru-buru menundukkan pandangan. Seketika itulah, entah mengapa dan bagaimana, bacaan kitab Gus Mustafidz yang terkenal lancar, langsung tersendat. Dia yang biasa membaca satu halaman lebih, malam itu hanya satu paragraf yang ia baca. Aku rasa dia kehilangan konsentrasi dan memilih untuk mengakhiri pengajiannya segera. “Tuh, kan! Apa aku bilang!” sosor Kaluna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN