DIA TIDAK PERNAH BERUBAH

1465 Kata
“Lho … kok Gus sudah ke sini?” tanya sopir kantor dengan nada yang keheranan. Tentu saja. Aku juga heran. Harusnya di jadwal jam tiga nanti kami yang akan ke pondoknya, menjemputnya. Ini justru malah sebaliknya. “Nggak apa-apa. Lagipula kegiatan di pondok sudah dihandle. Tidak salah kan kalau saya datang lebih awal?” ungkapnya. “Wah … maaf, ya. Jenengan malah yang jadi repot ke sini,” tutur sang sopir. Mustafidz mengangguk sopan ke si sopir. Dia lantas melempar pandang ke arahku. Dan entah apa yang terjadi selama beberapa hari ini tidak ketemu, dia terlihat lebih segar. Pipi kempotnya dan pandangan sayunya sudah tidak ada lagi. Dia tampak seperti dulu, seperti kami pertama kali bertemu. Wajahnya cerah, secerah rembulan di pertengahan bulan. Benar-benar meneduhkan, atau mungkin jauh lebih dari itu. Apakah mitos kalau mantan itu lebih glowing dari sebelumnya itu menjadi kenyataan. Kami pun masuk ke mobil. Satu temanku ikut, dia duduk denganku di belakang. Sedang Mas Mustafidz duduk di depan bersama sopir kantor. Kami hari ini akan mengecek sendiri lokasi yang akan ditempati sebagai lokasi buka bersama nantinya. Mobil pun mulai melaju. Aku menyandarkan diriku ke kursi. Dari spion dalam mobil, aku dapat melihat wajah Mustafidz yang sedang duduk sembari menutup matanya. Bibirnya terlihat tengah bergerak-gerak, sepertinya dia sedang berdzikir atau berdoa, hal yang sangat wajar ketika kami masih bersama. Kuharap dia tidak berdoa tentang kami. Kalau ia, menakutkan sekali. Kalau orang gombal dan beri bunga atau cokelat, sepertinya masih bisa lah aku tolak. Lah kalau doa seorang gus yang sedang tersakiti dikabulkan oleh Allah? Apa yang bisa aku lakukan? Mustafidz membuka matanya. Sontak saja aku dapat melihat bola mata cokelat khas Indonesia yang indah itu. Beda sekali dengan bola mata biru milik Sagara yang khas akan aura laut. Aku jadinya bingung. Hanya ada dua orang pemuda di dunia ini yang mulai menjelajahi perasaanku. Satunya sudah jelas Mustafidz dan satunya Sagara. Tapi apa iya, aku harus menyelidiki omongan Manda benar atau tidak. Kalau pas diselidiki dan ternyata salah, sih, aku bisa bahagia, lamaran terus nikah sama Sagara. Tapi kalau benar? Aku tidak yakin hatiku akan utuh ketika sudah jatuh cinta eh ternyata tunangan orang. Mustafidz memandang ke spion dalam mobil, sama sepertiku. Akibatnya kami jadi saling tatap. Aku pun segera menundukkan pandangan. k*****t juga nih si pak supir. Kenapa pula spion dalam mobilnya bisa diposisikan menghadap ke arah Mustafidz. Matahari sudah menukik ke barat kala kami sampai di restoran yang dimaksud. Kami berempat turun. Sang sopir dan temanku segera masuk ke restoran. Sedang Mas Mustafidz justru malah terhenti di gerbangnya saja. Dia mendongak, memandang plang nama restoran. Ada apa nih? Apa jangan-jangan dia melihat penglaris? Mulutku terbuka, hendak mengajaknya masuk. Tapi urung. Aku berpikir, kalau aku mengajaknya, bisa saja dia malah kegeeran dan menganggapku masih mengharap bisa balikan dengan dia. Oh no. Big no! Sudah kubilang bahwa masa depan Mustafidz bukanlah diriku. Aku pun melangkah masuk. Ketika diriku melewati dirinya, kepala Mustafidz menoleh ke arahku. Sialnya aku spontan menengok juga ke arahnya. Mata kami pun bertemu. Anehnya, kupikir dia akan mengatakan sesuatu. Tapi tidak. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Awalnya aku yang hendak masuk terlebih dulu darinya, sekarang dia yang malah masuk lebih dulu dariku. Tanpa menoleh lagi atau pun mengajak aku masuk bersama dengannya. Ada apa ini? “Tik, tampilan gue nggak ada yang salah, kan?” tanyaku setelah duduk bersama Tika di sebuah meja di restoran. Tika – teman satu devisi di kantor – memandangku dari atas sampai bawah. Dia lantas menggeleng. “Nggak kok, elegan seperti biasanya,” tanggapnya. Aku menyipitkan pandang ke Mustafidz yang kini duduk di depanku. Jika seperti itu kenapa tadi Mustafidz melihatku dengan datar. Biasanya dia akan terperangah atau minimal ya tersenyum lah. Ini kepada tidak sama sekali. Apa mungkin sekarang aku menjadi mantan yang tidak berharga di depannya? “Mushala di restoran ini luas atau tidak, ya, Pak?” Mustafidz melempkan pertanyaan. “Cukup, Gus,” jawab singkat si pemilik restoran. Mustafidz menggeleng lemah. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. Pastinya Mas Mustafidz tidak ingin kalau buka bersama dijadikan ajang untuk bolos sholat magrib. Padahal menu di restoran ini termasuk murah dengan kualitas yang bagus. Kalau dipandang dari segi bisnis dan keuntungan perusahaan, ini mah langsung diacc sama bos tanpa memedulikan bentuk mushalanya bagaimana. Tapi kalau soal agama, Mustafidz memang tak pernah mentolerir hal sekecil apa pun. “Sholatnya kan bisa gantian, Gus,” sanggah si pemilik restoran. Kentara sekali kalau dia tidak mau kehilangan pengunjung yang besar. Terlebih lagi kami juga berencana membungkus makanan yang nantinya akan dibagikan ke panti asuhan. Sekaligus juga beberapa lembar uang. “Maaf, Pak. Apa jenengan menjamin kalau waktunya pas digunakan untuk satu kantor kami?” sanggah Mustafidz balik. Tika dan sopir perusahaan hanya bisa diam. Sedang aku hanya senyum-senyum saja mendengar perkataan-perkataan yang keluar dari Mustafidz. Dia sama sekali tak berubah. Dia teguh prinsip dan sama sekali tak bisa digoyahkan. Itu yang kuhormati dari dirinya. Si pemilik restoran pun tak bisa berkata-kata. Dengan demikian, Mustafidz pamit, diikuti oleh kami. Pemilik restoran pun merelakan kami begitu saja. Tidak ada yang bisa dia perbuat lagi. Sekali lagi aku salut dengan Mustafidz, dia secara tidak langusng menginterupsi kalau restoran juga harus menyediakan tempat ibadah yang cukup, bukan hanya tampang restorannya saja yang dibesarkan, ruang ibadahnya juga harus besar. Lagi-lagi Mustafidz memejamkan matanya di mobil. Mulutnya juga seperti sedang berdoa. Sumpah aku penasaran banget apa yang sedang dia perbuat. Dan lagi-lagi setelah dia berdoa, dia memandangku dari spion. Apakah dia sedang memeletku? *** Sayangnya setelah kami berputar-putar, tak ada restoran yang cocok dengan selera kantor ataupun selera Mustafidz. Sekalinya tempat ibadahnya besar, harganya mahal. Sekalinya harga murah, tempat ibadahnya malah kecil atau bahkan tidak ada. Jadinya kami pun bubar barisan. “Pak, saya di sini saja. Kossan saya dekat dari sini, lagi pula saya juga belum masak apa-apa di kosan, mau buka di jalan saja!” ujarku halus kala sang sopir mengajak kami semua untuk kembali ke kantor. “Yakin kamu nggak mau balik kantor, Qis? Kendaraan lo gimana?” “Lo lupa kalau gue ke kantor itu naik metro?” Tika menepuk dahinya. “Ok deh, aku duluan, ya!” ujarnya lalu masuk ke mobil. “Mari, Gus!” ajak si sopir sopan. Mustafidz sejenak menatapku. Dia lalu menggeleng. “Saya turun di sini saja, Pak. Nanti akan ada yang jemput,” katanya masih dengan menatapku. Si sopir kantor pun mengangguk lalu masuk dan menancap gas. Tersisa kami berdua di trotoar. Kalau ini masuk ke drama korea, asli scennya romantis banget. Dengan ditemani angin senja dan siluet mentari yang indah, kami berjalan bersama. Di samping kanan-kiri juga banyak orang yang berlalu lalang. Indah nian. Apalagi bulan ini, masih bulan Ramadan. Suasanya benar-benar menyejukkan. Pasti senja-senja begini jalan bareng itu manis sekali. Manis kalau kami masih jadian. Tapi sekarang kan sudah beda konteks. “Emang jalan ke pondok Mas Mustafidz ke sini?” tanyaku yang mulai risih karena dia selalu berada di sampingku. Kami bukan lagi sepasang kekasih yang bermimpi untuk menikah. Tapi kami hanya sepasang manusia yang berusaha untuk menjauh. Lebih tepatnya aku yang berusaha menjauh. “Kamu masih ingat ternyata,” sahutnya. Aku melongo sembari memiringkan dahi. “Hah, maksudnya?” tanyaku. Mustafidz menghentikan langkahnya. Aku pun. Dia lalu memandangku dan berkata, “Kamu masih ingat rumahku dan itu membuatku tenang,” katanya dengan nada sehalus sepoi angin yang baru saja melintasi kami. Aku segera menggeleng. Tak akan kubiarkan pesona manusia satu ini merasuk ke hatiku lagi. Tak akan. “Lah kalau Mas Mustafidz masih di sini, apa di pondok ndak nyariin?” tanyaku. Ingin aku mengusirnya secara halus. Aku masih cinta padanya, tentu saja. Melenyapkan cinta tak semudah mendatangkannya. “Tidak usah mengkhawatirkanku, Qis.” Aku makin tak mengerti apa yang dipikirkan Mustafidz sekarang. Apa dia bilang? Mengkhawatirkannya? Dari dua belas perkataanku barusan, mana pula yang menunjukan bahwa aku khawatir padanya? Tapi belum juga aku menyanggah perkatannya, Mustafidz sudah berjalan kembali. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengikutinya. Eh aku koreksi. Bukan mengikutinya, tapi jalan yang kutuju sama persis dengan yang dituju Mustafidz. Sebentar … oh tidak. Jangan bilang Mustafidz akan menuju ke tempat yang aku tuju. Kami pun berjalan bersama lagi. Mustafidz masih diam. Aku juga tak mau berkata apa-apa lagi. Aku memilih fokus untuk melihat jalan saja. Semoga saja Allah membantuku untuk menjaga pandangan, terutama menjaga mataku agar tidak melirik ke Mustafidz. “Bagaimana kabarmu, Qis?” tanyanya tiba-tiba. “Baik,” jawabku singkat. Aku benar-benar tak mau mendengar suaranya. Dulu aku jatuh cinta dengannya juga karena suaranya yang begitu tenang dan tak pernah sekali pun terdengar naik walau sedang marah. “Apakah kamu sudah menemukan penggantiku?” Cleb. Skakmat. Kenapa pula tadi aku tidak kepikiran kalau Mustafidz akan bertanya tentang hal ini? Kalau tahu seperti ini, lebih baik aku tadi ikut sama Tika saja. Duh. Harus menjawab apa aku ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN