Untuk pertama kali dalam hidup, aku bisa merasakan kesegaran pantai. Kalau dulu aku biasanya hanya numpang selfie atau sekadar merehatkan pikiran saja. Namun kini aku bisa merasakan bagaimana simfoni alam berpadu menjadi satu. Semilirnya angin pagi berperang dengan kehangatan sang surya dan dibantu dengan dinginnya pasir yang membawa pulang para nelayan. Ngomong-ngomong soal pulang, aku jadi ingat rumah.
Sepertinya aku sudah lama tidak pulang. Jujur aku sedikit takut untuk menginjakkan kaki di rumah. Umurku sudah menginjak angka dua puluh sembilan yang artinya tahun depan aku sudah berkepala tiga. Belum pernah di kampungku, wanita menikah di atas umur dua puluh lima. Dulu aku bisa menyanggah dengan mengatakan apa bedanya antara dua puluh lima dengan angka di atasnya. Toh sama-sama dua puluhan. Tapi untuk kasus tahun ini pasti beda.
“Dingin?” tanya Sagara tiba-tiba.
Aku menggeleng. Alih-alih menjauh dari bibir pantai, aku malah mendekatinya. Kulepas sepatu lalu perlahan melangkah, membasahi telapak kaki dengan asinnya lautan. Asli, segarnya bukan main-main.
Entah mengapa, kudengar derap langkah yang mendekat. Sagara tiba di sampingku. Dia menutup mata. Sayup-sayup deru napasnya terdengar. Ia sepertinya menghirup udara begitu dalam. Sekilas kudengar ada serak yang keluar dari embus napasnya.
Kurasa namanya sangat serasi dengan dirinya. Dia seperti laut yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai segara. Dia begitu luas. Selalu menenangkan, namun sejatinya dalam dirinya ada banyak gejolak. Atau mungkin seperti itulah tebakanku. Aku belum mengenalnya begitu jauh, lalu kenapa aku sok tahu.
“Berani menyentuh air laut, nggak?” tantangnya.
Aku segera mengangkat alis. “Gitu doang tantangannya?” celaku.
Sagara mengangguk. Mata birunya yang indah itu, menatap ke arahku. Dan ketika bibirnya tersenyum serta memunculkan deretan giginya yang rapi itu, aku tersetrum. Ya beneran. Seketika aku melongo, subhanallah … betapa indah ciptaan Tuhan satu ini.
“Ealah, cuma nyentuh air laut di subuh hari mah, enteng. Di sepertiga malam ketika di Dieng aja aku kuat ambil wudu.”
Sagara menarik ujung bibirnya. Sebuah senyum simpul terpancar dari sana. Dan demi apa pun, taraf kegantengannya bertambah terus. Wah tidak baik nih buat kesehatan leher. Bisa-bisa leherku keseleo karena terus-menerus menatap ke arahnya.
“Ayo coba ke sana! Siapa yang paling lama, berhak bertanya satu hal pada orang yang kalah dan dia harus jujur!” sambungnya.
Aku berkacak pinggang. Menarik nih. Kalau aku menang, aku tidak perlu malu buat bertanya apakah Sagara memiliki calon atau belum. Kalau belum kan bisa aku bawa ke Mas Mustafidz dan mendeklarasikan dirinya sebagai calon imamku. Pasti Mas Mustafidz hanya bisa cengo.
“Ok!” sambutku.
Kami pun melangkah bersama menuju ke laut. Kami berdua saling pandang. Mata kami bertaut. Entah apa alasannya, masing-masing dari kami tak mau mengalihkan pandangan.
Aku sedikit meringis kala ombak menyambut kakiku. Sialnya Sagara sama sekali tidak berekspresi apa pun. Dia justru tersenyum, meledek. Aku pun segera tersenyum balik. Pokoknya aku harus bertahan demi mencari pengganti Mustafidz dan itu aku temukan dalam diri Sagara kali ini.
“Kalau dingin, ngalah aja! Masih lama kita di sini, sampai temenku datang,” ledek Sagara.
Meski singkat, aku melihat dia mengernyitkan dahi. Sepertinya ini dingin juga baginya. Tapi yang namanya lelaki pasti ingin terlihat kuat.
“Mas Sagara yang namanya memang bermakna segara, nggak usah sok kuat, deh, ya! Katanya kamu bakalan mimpin bersih-bersih pantai kali ini. Nanti kalau kedinginan, gimana?” ledekku balik.
“Mana mungkin … aku kalah!” katanya sembari mulai menggigil.
“Heh, ini baru tanggal muda puasa, loh. Kalau kamu sakit, nanti hutang puasanya banyak, kapok!”
Sagara tertawa. Dia mendekatkan wajahnya kepadaku. “Itu berlaku buatmu juga, Ratu Balqis!” ujarnya.
Saat Sagara mendekatkan wajahnya itu, pipiku kemerahan. Apa dia kata? Ratu? Oh so sweet banget, sih. Tapi tak mungkin bagiku untuk tersipu sekarang. Enak aja. Nanti dia mengecap aku sebagai wanita yang gampang tergoda. Tak akan. Tak akan mempan.
“Kita lihat saja nanti!” tandasku.
Kami diam sejenak. Angin pantai subuh hari ini benar-benar dingin sekaligus menyegarkan. Mentari mulai membulat di tengah-tengah laut. Sinarnya yang tadi samar-samar, kini benar-benar tampak. Bahkan ada sinar mentari yang mengenai tubuh Sagara. Sekali lagi aku melirik ke arah Sagara. Dia kini memejamkan matanya. Dia benar-benar menikmati bongkah mentari yang menyelimutinya dalam kehangatan.
“Mas Sagara memang ingin tahu apa tentang aku?” celetukku. Tak tahan rasanya berlama-lama diam dengan orang ganteng.
Sagara membuka matanya perlahan. Dan subhanalloh … indah banget Ya Allah. Sorot mata birunya itu loh seketika membuat dadaku kembang kempis.
Sagara lalu menoleh dan memandangku lamat-lamat. “Banyak, Qis. Aku akan memberi tahumu, jika kamu duluan yang memberi tahu apa yang kamu ingin tahu dariku.”
Aku tertawa, “Curang!”
“Seperti biasa, ladies first!”
“Nggak gitu konsepnya!” raungku.
Sagara tertawa. Aku pun. Dan untuk pertama kalinya aku bisa berhenti memikirkan Mustafidz walau hanya sesaat. Sagara sedikit berhasil mengusir kegundahan yang aku alami.
Aku mengalihkan pandangan ke mentari kembali. Kulihat pantulan mentari yang terperangkap di lautan. Rona warna emasnya sungguh menenangkan batin. Aku menghela napas, bersiap hendak memberi tahu apa yang ingin kutahu dari Sagara, tapi tiba-tiba ….
“Mas Sagara!” panggil seseorang.
Seorang perempuan dengan rambut yang tergerai panjang, berjalan mendekat. Dia memakai kaos kuning cerah berbalutkan sweater putih. Dia manis, harus kuakui itu. Dandanannya juga tak menor, malah terkesan hanya menaburkan bedak sedikit saja. Aku yakin tanpa make up sekalipun perempuan ini sudah cantik.
Aku keluar dari bibir laut. Tapi Mas Sagara masih saja di sana. Dia lalu melempar pandang ke arahku sembari menaikkan alisnya.
“Kamu kalah Balqis!” katanya.
Aku pun melempar pandang kecut. Asem. Jebakan tak terduga. “Ok-ok. Mas Sagara mau tahu apa tentangku?”
Sagara menarik ujung bibirnya, tersenyum simpul ke arahku. Ish, bisa berhenti tidak sih orang satu ini tersenyum seperti itu? Bisa-bisa leherku benar-benar keseleo karena selalu bisa melihat senyuman seperti itu.
“Akan kuberi tahu nanti!” bisiknya.
Orang yang memanggil tadi tidak tahu dengan apa yang tengah aku dan Sagara bicarakan. Terlihat dari gesturnya yang hanya menatapku dan Sagara secara bergantian. Namun ketika Sagara diam dan mengalihkan pandangan ke orang yang memanggilnya tadi, dia pun tersadar.
“Ditungguin tuh sama temen-temen!” lanjutnya. Pandangan orang itu lalu jatuh kepadaku. “Eh, ini kamu pasti Balqis! Salam kenal, aku Manda.” Ia menjabat tanganku begitu saja.
“Salam kenal.” Aku tersenyum formal. Agak sedikit gimana gitu rasanya bertemu dengan orang yang disebut-sebut Sagara di meja makan kemarin.
Kami pun menuju ke sebuah gubuk. Di sana sudah terdapat banyak orang yang langsung menyambut hangat Sagara. Mereka tengah berkumpul mengitari api unggun. Eh tunggu-tunggu, jadi ini Mas Sagara ngecamp bersama yang lainnya. Lalu kenapa repot-repot jemput?
Manda mengajakku duduk di sampingnya. Sagara segera memulai rapat. Ia menjelaskan banyak hal yang akan dilakukan. Tapi pada intinya perkerjaannya hanya satu, yakni membersihkan pantai dari semua sampah yang ada.
Tak menunggu lama lagi, pekerjaan pun dimulai. Tim pun dibagi. Mereka semua berpencar. Aku mendapatkan jatah untuk membersihkan ke arah hutan cemara bersama Manda, sedangkan yang lain dari bibir pantai untuk kemudian juga sampai ke hutan.
Aku menelan ludah. Bibirku gatal ingin bertanya. Kapan lagi bisa berduaan seperti dengan perempuan yang disebut-sebut Sagara. Lagi pula aku juga harus mencari pengganti Mustafidz secepatnya kalau ingin dia benar-benar menjauhiku. Tapi kok rasanya agak bagaimana ya. Soalnya kan baru saja kenal tapi langsung bombardir pertanyaan privasi.
Tapi kalau tidak tanya sekarang …. Aku menggeleng-geleng. Sudah ah bodo amat sama suasana canggung yang nanti akan terjadi.
Aku menarik napas, bersiap untuk mengeluarkan kalimat yang sudah mengganjal mulutku sedari tadi.
“Jadi sudah berapa lama kalian jadian?” tanya Manda.
Aku terperangah. Itu yang tadi keluar dari mulut Manda, harusnya menjadi pertanyaanku. Ini kok malah dia yang tanya. Aneh.
“Maksudnya?” sahutku.
“Kamu sama Mas Sagara, sejak kapan jadian?” tanya Manda lebih jelas.
Aku sontak tertawa. Pertanyaan macam apa itu. “Bukannya kamu yang jadi pacarnya Mas Sagara?” aku lempar kembali pertanyaan itu ke Manda.
Kali ini Manda yang tertawa. “Bagaimana mungkin kami saling jatuh cinta. Iman kita saja beda.”
“Maksud kamu?”
Manda merogoh ke dalam kerah bajunya. Ia keluarkan kalung berbandul salip. “Walaupun kami saling respect, kami tak akan mungkin menuju ke jenjang yang lebih serius lagi.”
Manda menarik napas. Ia ambil sebuah bungkus minuman bekas lalu memasukkannya ke dalam karung. Aku yakin walau Manda juga dilengkapi dengan baju lusuh dan juga wajahnya diolesi tanah liat, tak akan ada yang menyangka kalau wanita itu pemulung. Cantiknya itu loh kebangetan.
“Mas Sagara itu nggak pernah mengajak perempuan mana pun, sedekat apa pun dia dengan perempuan itu. Bahkan ya calon tunangannya aja nggak pernah diajak. Aku yakin sih kalau mereka itu sebenarnya nggak saling cinta ….”
Kendati Manda menerangkan panjang lebar, perkataannya tidak ada yang masuk lagi ke dalam pikiranku. Aku syok mendengar Sagara sudah mempunyai calon tunangan. Yang benar saja, masa aku jadi Yeo Da Kyung di film World of Marriage dalam hubungan Sagara. Tidak mungkin!
“Tapi masa sih mereka tunangan tapi nggak saling cinta,” sangkalku.
“Namanya juga wasiat,” jawab enteng Manda. Tangannya masih terus memunguti sampah.
“Wasiat?”
“Kamu belum dengar kalau kedua orang tua Sagara sudah meninggal?”
“Hah?” aku bergidik mendengarnya.
“Iya meninggal. Mereka berdua kecelakaan ketika mengantar Sagara bertunangan dengan perempuan yang dijodohkan.” Manda diam sejenak. Ia menarik napas dan memberi jeda dalam kalimatnya.
Aku diam. Alih-alih mendengar kabar dari yang mengalami kejadian itu sendiri, aku malah mendengarnya dari orang lain.
“Aku berteman dengan Sagara sedari kita kuliah bersama dulu. Kami masih sering bersama-sama mengadakan kegiatan sosial dan kamu tahu, dia tidak pernah terlihat tertawa lepas saat mengikuti kegiatan sosial itu. Kupikir dia hanya mengikuti kegiatan seperti ini hanya untuk kabur dari kesedihannya. Makanya ketika aku lihat dia bersamamu, dia itu agak sedikit berbeda.”
Aku melongo. Benar-benar melongo. Beda dari mananya? Orang dia saat bersamaku hanya sekali ini, tidak banyak bicara lagi. Oh ya sebagai catatan, matanya itu kosong, ya, please deh.
“Kalian sudah selesai?” sebuah suara membuatku tersadar dari lamunan. Aku dan Manda pun bersama-sama menengok ke belakang. Ada Sagara di sana. Dia memakai caping. Lucu juga ya melihat orang ganteng berpenampilan seperti itu. Gemas banget. Rasanya ingin nyubit, deh.
“Belum. Ini baru setengah jalan!” sahut Manda.
“Oh gitu. Aku sudah selesai, sih. Mau aku bantuin?”
“Nggak usah. Kami kuat kok!” timpal Manda kembali.
Sagara meletakkan keranjang sampah yang dipikulnya. Ia pun berjalan mendekati aku dan Manda. Namun alih-alih membantu yang menjawab pertanyaannya dari tadi, ia malah memegang keranjang sampahku.
“Biar aku bantu,” ujarnya.
Sontak aku menatap erat ke Sagara. Ia terlihat enteng saja mengambil keranjang sampah dari bahuku. Wajahnya tidak memerah ataupun tampak segan. Ekspresinya sesimpel tukang parkir minta uang dari orang yang parkir.
Setelah Sagara melangkah agak jauh, Manda pun menyikut lenganku. “Tuh, kan! kubilang juga apa!” celetuknya.
Aku memutar bola mata, sangsi. Benar apanya coba. Kalau Sagara memang suka dengan aku, kenapa ekspresi wajahnya seperti itu. Bagusan ekspresi tukang sayur yang lewat depan kosan.
***
“Aduuh Balqis! Kenapa lo nggak tanya kepada orangnya aja, sih!” geram Vika sembari menyubit pipiku.
“Gila lo! Mana berani gue ikut campur masalah pribadi orang. Nih ya, negara lain aja nggak berani usik urusan domestik negara lain meski mereka satu tim dalam ranah ekonomi, lah aku baru kenal sama Sagara udah syok nyampuri urusannya aja,” jawabku malas. Aku pun kini telentang di atas ranjang. Pikiranku buntu. Mana besok harus mulai ngefixin acara bareng Mas Mustafidz lagi. Amsyong dah.
“Ya ngapain Sagara ngajak lo ke pantai kalau bukan ngode? Pakai acara ngangkatin keranjang sampah lo lagi!” Vika kian gemas. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri seperti orang gila.
“Dia ngajak aku mungkin karena anggotanya kurang kali. Lagian kan aku juga belum pernah ikut bersih-bersih. Mana puasa lagi kan? Wajar lah kalau dia bantuin gue!” Aku menebak sekenanya.
“Terus ngapain Manda bilang kalau mungkin Sagara itu suka sama kamu.”
“Vika sayang itu ada kata mungkin ya. Mungkin itu bisa jadi kecil, bisa jadi besar. Dan agar hatiku nggak sakit-sakit amat, aku milih yang kecil aja deh. Jadi singkatnya nggak mungkin Mas Sagara suka sama aku.”
“Aduuh anak satu ini emang nggak ada peka-pekanya.”
“Gue peka kali. Cuma gue nggak mau berharap terlalu banyak.”
Vika yang sepertinya sudah lelah dengan perasaan gemasnya, memutuskan untuk ikut merebahkan diri di sampingku. Kali ini sepertinya dia akan menginap, mengingat jam sudah menujukan pukul tengah malam dan sebentar lagi harus bangun untuk sahur.
“Terus gimana besok sama Mas Mustafidz. Masa bilang belum punya lagi.”
“Tahu, ah. Gue sumpek mikirnya.”
Walaupun aku berusaha untuk memejamkan mata, namun pikiranku masih melayang ke ingatan di pantai tadi. Kami memang seharian di sana. Dan untuk pertama kalinya, aku serasa mau pingsan. Benar-benar panas berada di pantai. Sudah panas, anginnya kencang, puasa pula. Sudah lengkap dah itu. Apalagi pas melihat teman-teman wanita yang sedang halangan minum, hmm benar-benar ujian.
Namun yang benar-benar menganggu pikiranku bukan itu. Sagara. Lelaki itu waktu berbuka puasa di pantai, dia lagi-lagi salat dahulu. Dia sendiri. Wajar saja. Jarang sekali ada orang yang mau salat dahulu sebelum menyantap menu berbuka mereka. Aku yang merasa sedikit bagaimana gitu, akhirnya ikut Sagara.
Dia tersenyum kala berpapasan denganku di tempat wudu. Aku mengangguk dan membalas senyum. Kami lalu salat bersama dan setelah selesai, aku segera membereskan mukena, tak enak rasanya lama-lama. Siapa tahu yang lain menunggu kami untuk makan bersama. Tapi Sagara tak kunjung selesai. Setelah berdoa, Sagara bersujud. Ia lama sekali membenamkan dahinya ke sajadah. Kulihat dia juga sesenggukan sebelum akhirnya duduk dan mengusap wajah. Kejadian itulah yang membuatku bertanya-tanya. Sesungguhnya apa yang disembunyikan Sagara.