Manda mengangguk sambil tersenyum, sedang Widya menatapku dengan sinis. Dia memang paling tidak suka kalau ada janji yang diingkari. Jadi aku hanya bisa meringis menatapnya lalu mengeluarkan satu amunisi yang bisa membuat Widya tertawa lagi. Yakni jagung bakar. Untung saja tadi di alun-alun masih ada yang jual. "Wah, makasih!" sorak Widya sembari menerima satu jagung bakar. "Maklumin aja, Wid. Balqis itu kan jiwa jompo. Tampangnya aja yang cantik, dalemannya mah udah tua," seringai Vika. "k*****t," ketusku. Setelah selesai membagikan jagung bakar yang harumnya sungguh membuat ngiler, aku pun mengambil tisu untuk bersiap-siap. Salah satu resiko makan jagung bakar adalah belepotan. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak asyik kalau ngerumpi tanpa amunisi. Aku menatap sekitar. Kafe milik Widya i

