Pak Rahman bersedekap. Tatapan monsternya pun keluar. “Balqis-Balqis. Sudah berapa kali saya bilang kalau jangan menyampurkan urusan pribadi dengan kantor.” Aku membelalak. “Maksud Pak Rahman urusan pribadi yang mana, ya?” Aku mencoba mengoreksi. Mana mungkin sih Pak Rahman kayak ibu-ibu tetangga yang doyan gosip. Dari mana dia tahu kalau aku punya hubungan sama Mustafidz. Sumpah seingatku yang tahu di kantor ini hanya Vika. Dan Vika juga sudah berjanji tak akan membocorkannya. Tapi ini kok? Pak Rahman hanya berdeham. “Ya pokoknya itu, lah. Saya denger juga dari orang.” Eh-eh, tunggu-tunggu, apa? Sejak kapan si bos menyampuri urusan pribadi orang? Kalau urusan kerja aja disuruh profesional, ini kenapa makhluk satu ini malah menjelma jadi ibu-ibu tetangga? “Dengar dari siapa, Pak?” aku

