DRAMA BERKELANJUTAN

1950 Kata

“Kok makin drama banget …,” komen Vika. Aku berada di kafe Widya. Setelah sekian lama tidak berkunjung ke sini. Semenjak kejadian kemarin ketika pulang, aku tak tahan lagi buat curhat. Pokoknya aku harus curhat demi meringankan beban pikiran. “Hmm ….” Widya menyilangkan tangannya. Dia mengembuskan napas panjang. “Sedari kukenal Mustafidz, dia nggak pernah segitunya sama cewek, sih. Atau jangan-jangan kalian ….” Widya menggantungkan perkatannya. Dia menanggapi curhatanku setelah aku memperlihatkan cincin bertasbihlah pemberian Mustafidz. “Jangan kepikiran yang aneh-aneh, deh. Please gue udah pusing. Di sisi lain gue kasihan sama Mas Mustafidz, di sisi lain gue juga kasian sama diri gue sendiri. Gue emang cinta sama dia. Tapi gue nggak bisa kalau hidup seperti dia.” “Ini nih yang disebut

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN