"Ya Allah …. Husna, kamu ndak papa, Ndu?" tanya umi. Aku melihat ada yang pecah. Dan wajah Husna yang belepotan dengan tepung. Sedikit lucu melihatnya. Andai itu Balqis, pasti aku sudah membantunya berdiri. Atau paling tidak menyerahkan sapu tangan agar dia bisa membersihkan wajahnya. Harusnya aku tidak pilih-pilih saat menolong orang, hanya saja kaki dan tanganku berat sekali untuk bergerak. "Ndak apa-apa, Mi. Tadi ada kucing di atas meja. Mau aku usir, malah loncat ke atasku," jelas Husna. "Owalah, kucing!" Husna berdiri dengan dibantu umi. Aku pun langsung pergi. Tidak ada gunanya di sini. Lagipula tadi aku khawatirnya umi bukan Husna. Aku beralih menuju pendopo. Sepertinya akan enak kalau membaca Al-Qur'an daripada meratapi nasib semata. Meski santri juga sudah mulai tadarus, tap

