Namaku Mustafidz Mushafa. Biasanya aku dipanggil Mustafidz, atau mungkin gus dalam kebanyakan kasus. Namun dari kecil aku selalu risih dipanggil seperti itu. Entah mengapa, aku lebih suka dianak biasakan daripada dianak emaskan. Aku masih ingat saat dulu aku melakukan sedikit kesalahan saja, tidak ada yang berani menegurku tapi nanti diam-diam membicarakanku di belakang. “Gus kok sikapnya gitu?” Kata itulah yang sering aku dengar. Padahal aku dulu ingin sekali mencuri mangga seperti anak kecil lainnya. Tapi selalu saja dipandang kalau gus atau anak kiai dosanya lebih besar daripada anak orang biasa yang mencuri mangga. Dan mereka akan melapor ke ayah lalu aku dihukum membaca satu juz Al-Qur’an dengan sekali duduk. Aku tak menyesali zaman anak-anakku yang terkekang oleh status keluarga. N

