Suasana makam Zerah sudah mulai Sepi, Aline Sudah di bopong pulang oleh Jenny, dan Raymon, kakinya lemas tak mampu untuk Berdiri menopang Tubuhnya, walau awalnya ragu, namun sebagai Pria yang sudah Berjanji menjaga Aline, Raymon Akhirnya mengendong Aline sampai ke Mobil lalu mengantarkan Aline Pulang. Aline yang sudah lelah menangis hanya bisa diam tanpa bisa melawan apapun yang dilakukan Baik Jenny maupun Raymon.
" Zer, Terima kasih ya nak... selama ini mama Tidak Pernah mengucapkan Terima kasih banyak buat kamu, kamu sudah relakan masa depan kamu, bahkan lebih mementingkan Pendidikan Sarah dan Aurora. Maafin mama Sepanjang hidup kamu, mama belum bisa jadi Seorang ibu yang Baik.. Padahal kamu Terus berjuang untuk kita bertiga, Sekarang Tugas kamu Sudah selesai, Sekarang Tugas Papa yang jaga kamu disana... Kamu sudah sehat gak sakit lagi kan sekarang nak ? Mama akan berusaha bangkit lagi setelah kehilangan kamu... Mama juga akan jaga Aline Seperti permintaan kamu ... " Melisa tidak mampu lagi menyelesaikan Ucapannya, ia hanya bisa tertunduk menangis di samping makam Zerah yang masih basah.
Jadi, Suaminya juga sudah meninggal ? Mel kenapa kehidupan kamu sama sepertiku ? Aku tau jauh di dalam hatimu yang selalu Terlihat Tegar, ada banyak Luka disana. Tuhan bolehkah aku meminta agar kami berdua bisa Sembuh dari luka itu bersama ? Daniel Cukup lama terdiam di hadapan Melisa, namun wanita itu tidak menyadari ada Daniel disana, Melisa terlalu Larut dalam kesedihannya.
" Melisa, kamu Wanita hebat... Zerah dan Suami kamu pasti bangga diatas sana " Ucap Daniel sambil mengusap lembut pundak Melisa.
" Dokter... ? Terima Kasih sudah berusaha keras untuk Zerah, Terima kasih juga untuk bantuannya selama ini Dokter " Melisa Terburu-buru untuk menghapus Air matanya, ia tidak mau ada yang melihatnya menangis seperti ini.
Saat itu Melisa tidak menyangka Dr. Daniel akan hadir di Pemakaman Zerah, dirinya Bersyukur pahit Kehidupan yang dijalani, ia masih menemukan Orang-orang Baik Seperti Dr. Daniel. Pria itu beberapa kali menawarkan Bantuan, bahkan menjaga Zerah.
" Sama-sama, saya senang melakukannya, kapanpun kamu butuh saya jangan Ragu Hubungi Saya "
" Terima Kasih Dokter..."
" Ayo saya antar kerumah mel " Melisa mengangguk setuju, karena Mataharipun perlahan turun meninggalkan Jejak Malam.
****
Kamu tau bagaimana rasanya kehilangan Arah ? Tersesat di tempat yang kamu sendiri tidak tau ada dimana ? Ya itu yang aku Rasakan Setelah kehilangan Zerah.
Ini Perasaan asing Buatku, aku belum pernah merasakan Sakit yang Sedalam ini. Jujur mungkin sifatku ini agak kekanak-anakan tapi saat ini aku Merajuk dengan Tuhan, Aku tau Dia yang Maha Penguasa, tapi aku marah padaNya. Dari banyaknya bahkan ribuan orang diluar sana kenapa Dia ambil Zerahku? Kenapa Zerah?.
Aku menarik nafas dalam, Sudah Seminggu ini aku hanya dikamar mengurung diriku, Aktivitasku hanya Makan, Tidur atau Menangis Seharian.
Aku bahkan menggambil cuti seminggu ini hanya untuk menangisi Zerah, Mematikan Ponsel, bahkan menjahui apapun yang berhubungan dengan Zerah. Jenny, Raymon dan Bang Jo ada di List utama Orang-orang yang aku hindari, Mengingat mereka Bertiga saja secara Otomatis aku langsung Teringat Zerah, Teringat Kebersamaan kami yang selalu Bersama-sama Kemanapun.
" Zerah... " Aku kehilangan kata-kata, aku hanya bisa Menangis Lagi Setelahnya.
Suara ketukan Pintu Mengharuskan ku menghapus Air mata dengan Cepat, Sekalipun aku dalam kondisi yang Memprihatinkan, aku tetap tidak ingin terlihat lemah di mata siapapun.
Aku bangun dari Tempat tidur dan Meraih Gagang Pintu untuk membukanya, Jenny dia datang menatapku Prihatin, tanpa berucap apapun dia Memelukku dengan Lembut.
" Lin, Sampai kapan lo kayak gini Terus ? Please lin Ikhlasin Zerah, gue yakin saat ini Zerah sedih banget liat lo kayak gini terus "
" Gue belum bisa jen ...."
Jenny Melepas pelukannya lalu menatapku dari atas sampai bawah, aku merasa Tampilanku sangat Memprihatinkan Saat ini, kemudian Jenny Menarikku ke depan kaca Lemari Bajuku yang cukup besar, aku melihat gambar diriku yang bisa dikatakan Hancur Berantakan, Rambutku Bagai Habis Terkena Badai Topan, Mataku Bengkak dan Tubuhku terlihat lebih kurus akibat Pola Makan yang tidak Teratur.
" Liat diri lo sekarang, lo ngancurin diri lu Sendiri lin " Ucapanan Jenny Seakan Menaparku Keras, Membuatku kembali Menangis.
" lo boleh nangis, lo boleh sedih, tapi lo gak boleh terlalu larut lin, hidup Terus Berjalan... lo juga harus inget ada Nyokap sama Bokap lo, lo gak kasian apa? Orang tua lo pasti Sedih juga liat lo kayak gini Terus "
Aku Benar-benar tidak bisa Mengeluarkan Suaraku, Semua ucapan Jenny Benar aku harus Segera Move on, bukan Melupakan Zerah, di lubuk hatiku akan Selalu ada Ruang untuk dia. aku akan Move on untuk diriku Sendiri, ya aku akan Berusaha Sebaik Mungkin. Aku akan bertekat Mulai Besok ! untuk mamah dan Papah, aku juga Harus menjadi Wanita yang Kuat ! .
****
Meski tidak Mudah akhirnya Perlahan aku mulai bisa membiasakan diri tanpanya... Kekasihku Zerah... bahkan di Tempat parkiran Motor kantorku aku punya banyak kenangan Menunggu atau ditunggu Zerah. Parkiran itu Seolah saksi bisu betapa Sabarnya Zerah menunggu ku pulang Setiap Harinya.
Kini aku Tersenyum Mengingatnya..
Zerahku...
Cinta Pertamaku...
Pacar Pertamaku...
Terima Kasih untuk Waktumu yang sangat Singkat namun Berharga untukku..
Terima Kasih Buat Cinta yang sampai detik ini belum ada yang bisa Melampaui Cinta Pria manapun..
dibalik itu semua aku Bersyukur bisa menjadi Cinta Terakhir untuk Zerah.
ya.. Waktu memang Bisa Menyembuhkan Sebagian Luka, namun Semua kembali lagi ke kita Apakah kita Bisa Merelakannya ? Sekalipun Waktu Bisa Menyembuhkan, apakah akan sembuh Jika kita Tetap memilih untuk tetap Tinggal ?
Meskipun Sering sekali Tergiur untuk kembali lagi Terpuruk, aku memutuskan untuk Melangkah Perlahan... Meninggalkan Semua Memory indah tentang kamu, Perlahan tapi pasti aku pasti akan meninggalkan atau mungkin melupakan Semua ini, Melupakan Tentang kamu. namun Izinkan aku Sedikit saja Menyimpan Hati yang kamu Tinggalkan ini ya ?