Alesya mengerjapkan matanya ketika sinar matahari mulai mengusik tidurnya. Ia segera menolehkan kepalanya, menyadari bahwa sisi ranjangnya kosong. Ia sangat ingat bahwa semalam, pria itu—Kent—tidur di sampingnya semalam. Ya Tuhan...Hati Alesya berdesir mengingat perlakuan Kent semalam. Pria itu menenangkannya dengan memeluk dan mengelus lembut rambutnya. Membisikkan kata – kata yang membuatnya benar-benar merasa menjadi wanita yang paling beruntung. “I will always love you,” Itulah kalimat terakhir yang Kent ucapkan sesaat sebelum alam mimpi menjemputnya. Alesya ingat, orang yang selalu menenangkannya ketika ia dirundung masalah—Zidan—tidak pernah membuatnya tersenyum cerah seperti ini. Apalagi membuat hatinya berdesir. Alesya bangkit dan mengusap wajahnya, ia melirik ke arah jam yang

