Dengan gerakan malas, Alesya melihat dokumen yang harus ia pelajari. Kantuk yang semakin menyerangnya, mendorong dirinya untuk segera menutup matanya. Sungguh, rasanya ia ingin segera pulang dan beristirahat dengan tenang di kamarnya. Namun, lagi – lagi ia harus menelan kenyataan pahit bahwa jam pulang kantor masih lima jam lagi. Sial! Getaran ponsel membuyarkan lamunannya dan Alesya melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya. Ternyata adik kembarnya menelpon, dan ia segera menggeser ikon hijau yang ada di layar benda pipih tersebut. “Halo, Kak,” ujar suara yang ada di sebrang telpon itu. Sementara Alesya tak menjawab, ia menunggu adiknya itu melanjutkan ucapannya. “Bagaimana pestanya?” tanya Alinisya dengan nada girangnya. Itu membuat Alesya mengedikkan bahunya. Namun, ia segera meny

