Wanita berkaki jenjang itu berjalan santai menuju lift yang penuh sesak oleh karyawan. Bibir merah muda, kulit putih, dan rambut kecoklatan, serta paras cantiknya membuat seluruh karyawan Gedung Wijaya Corp. itu memperhatikannya. Namun, sang objek perhatian itu hanya berjalan santai tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Memang sudah menjadi ciri khas seorang Alesya Safira, wanita dengan pembawaan dingin dengan kesan cuek.
Ting!
Alesya masuk ke lift yang cukup ramai pagi ini, ia sempat terkejut ketika ada tangan yang seolah ingin menahan lift itu agar tetap terbuka.
Pria itu kemudian masuk dan tambah membuat sesak lift yang penuh itu. Alesya pun menatap sang pria heran, bukan hanya dirinya, tapi seluruh karyawan yang ada. Bagaimana tidak, seorang Kent Putra Wijaya, CEO dari Wijaya Corp. masuk kedalam lift untuk karyawan?
Fyi, gedung ini mempunyai dua lift di setiap lantainya, satu untuk karyawan biasa dan satu lagi untuk petinggi perusahaan, jadi tentu saja mereka terheran – heran mengapa CEO mereka yang tampan, berwibawa nan tegas itu masuk ke lift ini. Demi Tuhan, itu membuat karyawan wanita di lift itu memandangnya dengan tatapan lapar dan berharap bahwa lift itu berhenti sehingga mereka bisa memandang wajah “dewa yunani modern” itu cukup lama.
Kent yang merasa diperhatikan pun melihat ke sekeliling, lalu ia menghela napas karena baru menyadari semua mata tertuju padanya.
“Lift yang satunya rusak, makanya saya masuk lift ini,” ucapnya entah pada siapa. Namun, setelah Kent berucap seperti itu, seluruh karyawan di lift langsung mengalihkan pandangannya. Terutama karyawan wanita, mereka malu karena tertangkap basah memandang CEO mereka dengan tatapan seakan – akan mengatakan “aku menunggumu di ranjangku.”
Berbeda dengan Alesya yang tetap memandang wajah Kent dengan pandangan herannya. “Maaf, Nona. Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini?” tanya Kent, pandangannya tertuju pada wanita cantik yang memandangnya dengan dingin. Ia mengakui bahwa Alesya memang cantik, sangat. Alesya yang merasa pertanyaan itu ditujukan padanya merasa takut dan memilih untuk menunduk dan tidak menjawab perkataan Kent.
What the heck! Seorang Kent diabaikan oleh seorang wanita tidak tahu diri. Apa ia tidak menyadari siapa Kent sebenarnya? Kent bisa menghancurkan hidupnya dalam satu jentikan jari jika ia mau.
Alesya menyadari bahwa CEO itu sedang memperhatikannya, namun ia mencoba untuk tidak peduli. Lama – kelamaan ia pun merasa aneh karena terus diperhatikan oleh Kent dan berharap bahwa lift itu cepat sampai pada lantai yang dituju.
Ting!
Alesya berjalan keluar lift sampai tiba – tiba seseorang menarik tangannya hingga ia terbentur tembok, dengan sekali gerakan pria itu mengunci pergerakan Alesya, tangan kirinya di pinggang Alesya dan tangan kanannya persis di samping telinga nya. Hidung mereka pun bersentuhan. Alesya dapat merasakan napas panas sang CEO itu.
“Lepaskan,” ucap Alesya dengan nada sedingin dan sedatar mungkin—walaupun jantungnya seperti sedang lari marathon. ia bena – benar takut.
“Siapa namamu?” Kent berbicara dengan napas beratnya, ia penasaran dengan wanita ini, seumur hidupnya ia tidak pernah diabaikan oleh seorang wanita.
“Bukan urusan anda, Tuan Wijaya,” ucap Alesya dengan penekanan di dua kata terakhirnya.
“Kau membuatku penasaran.” Kent menjawab dengan napas berat tepat di telinga Alesya. Menjadi playboy yang sering kali keluar masuk club hanya untuk hiburan semata, Kent tahu persis berbagai macam tipe perempuan dan sepertinya wanita yang ada di hadapannya ini bukan tipe yang mudah ditaklukkan.
Plak!
Alesya menampar wajah Kent tepat di pipinya sehingga menimbulkan tanda merah di wajah Kent. Muka wanita itu memerah antara kesal bercampur malu. Alesya langsung pergi meninggalkan Kent yang masih melongo.
“Damn!” Alesya mendengar Kent berteriak namun ia tetap tidak peduli dan tetap melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya.
***
Alesya menyimpan setumpuk dokumen itu di meja kerjanya. Setelah kejadian tadi dengan pria tidak tahu malu itu, mood- nya hancur dan sekarang yang ingin ia lakukan hanya pulang ke apartemennya dan tidur. Namun, itu hanya angan, kini ia harus berkutat dengan setumpuk dokumen yang rasa – rasanya ingin ia hancurkan sekarang juga.
Sekarang ia harus menyalahkan Karina, rekan kerjanya itu tidak masuk karena demam yang menyerangnya dan sudah tidak tiga hari ini ia tidak melihat batang hidung sahabatnya itu di kantor. Alhasil, seluruh pekerjaan diserahkan semua padanya, dan itu semua ulah Kent fu*king—Wijaya. CEO yang tadi ia tampar adalah bosnya, hmm.. maksudnya “ bos barunya”.
Awalnya Pak Dira Wijaya—Ayah Kent—yang menjadi bosnya. Namun, tadi ia diberitahu oleh rekan kerjanya bahwa Kent sudah resmi menjabat sebagai pemimpin perusahaan ini. Dan itu seperti petir di siang hari bagi Alesya, secara otomatis ia akan sering berjumpa dengan pria itu—hal terburuk yang tidak pernah ia kira.
“Cobaan apalagi ini, Tuhan?” gumam Alesya seraya menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.
This is gonna be the bad day of my life...