Part 2

1281 Kata
Kilatan flash kamera menerpa tubuh ramping itu. Alinisya Safira, wanita yag berprofesi sebagai model brand ternama itu terus berpose sesuai arahan sang photografer, sejujurnya tanpa arahan pun, Alinisya dapat berpose sendiri karena ia adalah model profesional sehingga angle yang dia hasilkan sangat sempurna. “Cut!” “Sudah waktunya break.” Alinisya kemudian duduk di depan kaca rias yang ada di ruangan itu, kemudian mengambil smartphonenya dan langsung menghubungi Ibunya. “Halo, Bunda?” “Halo, Ali... bagaimana pemotretan hari ini? Lancar?” “Ya, tentu saja. Oh, aku ingin mengatakan, jika aku akan pergi ke apart Alesya malam ini, boleh?” tanyanya. Sudah pasti ia akan meminta ijin terlebih dahulu. Selain karena ia masih satu atap dengan orangtuanya, hubungan ia dan kembarannya tidak terlalu baik—bahkan bisa dikatakan buruk. Menemuinya secara tiba – tiba pasti akan membuat orangtuanya keheranan. “Ada acara apa tiba – tiba kau mau bertemu Alesya?” “Aku hanya merindukannya. Sudah tiga tahun ini ia pergi. Mengunjunginya sekali – kali mungkin bisa membuat dia lambat laun memaafkan kita, Bunda.” “Ali.” “Okay, i’m sorry. Tapi, aku hanya ingin menemuinya,” ucap Alinisya. Ia tahu apa arti dari teguran Nada—Bundanya itu tidak suka jika ia menyinggung masalah keluarganya. “Ya sudah, berhati – hatilah. Istirahat yang cukup, oke?” “Oke,  I love you..” Sudah tiga tahun ini Alesya memisahkan diri dari keluarganya. Dan Alinisya tahu apa penyebabnya, semua keluarganya juga tahu mengapa sang kakak bersikap seperti itu, hanya saja mereka memilih untuk diam. *** Ting tong! Shit! Alesya kembali mengumpat entah sudah keberapa kalinya. Siapa tamu tak tau diri yang bertamu di tengah seperti ini. Kau tahu? Alesya baru saja sampai di apartemennya jam sebelas malam dan jam setengah dua belas malam ini ada yang bertamu? Bloody hell! “Fu*k!!! Tidak bisakah kau berhenti!” teriaknya kepada pintu apartemennya dan dia tidak tau siapa yang terus – menerus memencet bel apartemennya itu. Dengan langkah yang berat dan rasa kantuk yang berada di sekitar matanya, ia berjalan untuk membukakan pintu apartemennya. Alangkah terkejutnya ia, ketika ternyata itu adalah adik kembarnya, Alinisya Safira—orang yang berada di list terakhir nama orang yang ingin ia temui. “Untuk apa kau datang kemari?” ucap Alesya dengan dengan nada sedatar mungkin. “Kak Ale, kenapa kau sangat lama membuka pintunya? Aku sudah gemetaran disini,” balas Alinisya yang—jika boleh jujur—sangat tidak disukai Alesya. Bukannya Alesya benci. Tidak sama sekali. Alesya hanya kesal karena jam tidurnya terganggu. Karena ulah bos baru sialannya itu, ia mendapat hari terburuk yang pernah ia alami. “Cepat masuk, Ali. Aku sangat mengantuk,” ucap Alesya. Alinisya masuk ke apartemen itu dan terhenyak begitu melihat setumpuk dokumen dan laptop milik Alesya yang masih menyala. “Kau masih mengerjakan pekerjaanmu?” tanya Alinisya. Alesya hanya menganggukan kepala dan tidak berniat untuk menjawab. Alesya segera pergi ke walk – in – closet untuk mengganti pakaiannya dan setelah itu, ia segera beranjak tidur. Karena sejak awal ia pulang dari kantor, ia belum mengganti pakaiannya dan lebih memilih melajutkan pekerjaannya yang belum selesai. “Hm, well. Kalau begitu aku tidak akan menginap disini, dan kembali pulang. Kau... terlihat sibuk sekali,” ucap Alinisya ragu, jujur ia juga lelah sehabis pemotretannya, tapi setelah ia melihat wajah Alesya, ia juga menyadari betapa lelah kakaknya itu. Setelah mendengar apa yang dikatakan adiknya, mata Alesya langsung terbuka. No way! Setelah ia mengganggu jam tidurnya kini ia akan pergi begitu saja? Are you kidding me? “Kau gila? Ini sudah tengah malam, Ali. Aku tidak ingin menanggung resiko jika Ibumu memarahiku karena membiarkanmu pulang larut.” Alinisya mengikuti perkataan Alesya. Ia bergegas mengganti bajunya dengan baju milik Alesya dan segera tidur di samping kakaknya. Ibumu. Tentu saja Alinisya tidak bisa menghiraukan perkataan Alesya yang dengan jelas menyebutkan kata; ibumu. Bukan ‘bunda’ ataupun ‘ibu kita’ dan rasanya sakit mendengar hal itu, ketika saudaramu sendiri tidak mau mengatakan semua hal mengenai keluargamu. “Sebenarnya apa maksud kau kemari?” tanya Alesya pada adiknya yang kini terlentang memandang langit – langit kamar. “Maksudmu?” “Ayolah, Alinisya. We all know that, kau tidak akan secara mendadak pergi ke sini jika bukan karena sesuatu.” Alinisya memandang Alesya dengan dalam dan mengatakan, “Aku hanya...ingin kemari. That’s all, Kak.” Alesya menghela napas dan berbalik memunggungi Alinisya. Ia lelah dengan semua drama ini. *** Matahari bersinar lembut, menembus sela – sela tirai jendela kamar itu. Mata Alesya berkedip – kedip menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Ketika nyawanya sudah terkumpul semua, barulah ia bangkit dan duduk di tepi kasurnya. Alesya meyadari bahwa adiknya tidak ada, dan ketika ia melirik ke atas nakas, ia melihat ada note yang ditulis tangan oleh adiknya sendiri. “Terimakasih sudah mengijinkan aku menginap. See you soon. Your twins” Dahi Alesya berkerut, ia tidak peduli jika Alinisya pergi begitu pagi. Alesya melihat jam yang ada di nakas di samping tempat tidurnya. Holy crap! Sudah jam delapan pagi, dan kantornya masuk pukul sembilan dan secara otomatis ia hanya memiliki waktu satu jam untuk sampai ke kantornya, dan di perjalanan menghabiskan waktu empat puluh lima menit. Sial! *** Wanita cantik itu terburu – buru memasuki lobby kantornya, sial! Ia terlambat satu jam. Seketika melakukan pekerjaannya setelah sampai di meja kerjanya. “Anda terlambat, Nona Safira yang terhormat,” ucap seseorang tepat ditelinga Alesya, ketika ia sedang mengerjakan dokumennya. Ketika ia memutar kepalanya ke samping kanan, ia menemukan wajah tampan itu sambil tersenyum smirk padanya. Oh god.... wanita mana pun yang melihatnya pasti akan langsung merona. “Apa yang anda lakukan disini, Tuan Wijaya yang terhormat?” jawab Alesya mengikuti nada bicara Kent. Matanya sesekali melihat ke sekeliling—takut jika ada salah satu karyawan yang menangkap basah ia dan CEO b******n ini. But wait, yang ia tahu, Kent Wijaya belum mengetahui namanya. Jadi, bagaimana mungkin pria itu kini bisa ada di sampingnya, mengetahui di bagian mana ia bekerja? “Well, karena ini kantor saya, jadi itu terserah saya mau berada dimana pun.” Mendengar itu Alesya hanya memutar bola matanya dan kembali fokus pada tumpukan dokumen yang ada di depannya. Tapi ucapannya juga seolah menjawab pertanyaan yang bertengger di kepalanya. Ini kantornya, besar kemungkinan ia mengetahui namamu, Alesya. “Anda mengabaikan saya, Alesya?” ucap Kent setengah tak percaya. Kent tidak suka diabaikan dan Alesya yang mencoba untuk tidak peduli dengan keberadaan Kent. “Tidak bisakah kau kembali ke ruanganmu, Tuan? Mengapa kau selalu menggangguku?” ucap Alesya dengan sedikit mengecilkan suaranya, ia masih was – was jika ada yang melihatnya sedang berdekatan dengan Kent. “Wow... jadi sebenarnya yang menjadi atasan disini, kau atau aku? Kenapa kau yang menyuruhku, Nona manis?” goda Kent yang membuat Alesya ingin sekali pergi dari sana dan menghindari semua mahluk yang bernama Kent. “Ikut saya ke ruangan saya sekarang, Alesya Safira!” ucap Kent seraya melangkahkan kakinya untuk menuju lift yang ternyata membawa mereka menuju lantai dimana ruangan CEO berada. Firasat Alesya tidak enak, ia yakin si b***t ini pasti akan melakukan sesuatu. *** Setelah sampai diruangannya, Alesya segera mendorong pintu ruangan itu, terlihat Kent yang sedang duduk di kursi kebesarannya. “Ada apa Tuan memanggil saya ke sini?” tanya Alesya. “Silahkan duduk, Alesya,” ucap Kent menghiraukan pertanyaan Alesya. “Jadi, saya ingin Anda menjadi sekretaris pribadi saya, Alesya. Alasannya karena saya melihat kemampuan kerjamu sangat memuaskan. Well, walaupun tadi Anda terlambat, tapi jika dilihat, Anda sangat kompeten dan cerdas, oleh karena itu, saya meminta Anda untuk menjadi sekretaris pribadi saya.” Kent memandang Alesya dengan tajam. Mengintimidasi wanita itu dengan aura yang membuat Kent yakin bahwa Alesya kini sedang menahan gugupmya. “Tapi saya tidak bisa—“ “Tidak ada penolakan.” Kent memotong ucapan Alesya dengan cepat. “Saya tidak mau Tuan, kenapa Anda menyuruh saya? Di kantor ini bukan hanya saya yang seperti itu, jadi kenapa harus saya?” “Saya ingatkan lagi bahwa saya tidak menerima penolakan, Nona, sekarang Anda boleh membereskan barang – barangmu dan pindahkan ke meja sekretaris di depan ruangan saya. Oh iya, sepertinya Anda yang harusnya bersyukur karena bisa dibilang, Anda naik jabatan.” “Persetan,” gumam Alesya yang masih bisa didengar Kent, persetan dengan tatakrama, ia langsung meninggalkan ruangan itu dengan wajah memerah menahan amarah. Kent terdiam diruangannya, ia baru menyadari, ia tidak pernah berbicara banyak di depan wanita, kecuali pada ibu dan adiknya. Tapi di depan Alesya, entah mengapa Alesya memiliki daya tarik yang kuat. Kent sangat ingin menggodanya dan membuat wajah cantik itu merona. Kent menginginkannya. Kent tertarik padanya. Pada wanita dingin itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN