Pria berbadan tegap itu berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan lobby kantornya. Hari ini adalah hari yang paling melelahkan baginya. Ia harus menghadiri meeting dari pagi hingga sore, dan sialnya, jadwal yang telah satu bulan disusun oleh sekretaris lamanya harus diulang kembali dari awal dan itu membuat dirinya sendiri uring-uringan.
Sekretarisnya yang dulu harus berhenti bekerja dikarenakan ia akan menikah, sehingga Kent harus mencari penggantinya secepatnya. Dan yang terlintas di kepalanya adalah Alesya Safira.
Terlalu lama memikirkan Alesya Safira, hingga Kent tidak sengaja menabrak seorang wanita. “Maaf, Nona, apakah kau tidak apa – apa ?” tanya Kent, untung saja wanita tersebut tidak jatuh.
“Ya, aku tidak apa,” jawab wanita tersebut, membuat Kent mengamati wajahnya dan seketika tersentak karena mengetahui suatu hal. Alesya?—wanita yang dihadapannya ini begitu mirip dengan Alesya—sangat amat mirip.
“Tuan, ada apa?” ucap wanita itu sambil melambai – lambaikan tangannya di depan Kent.
“Alesya?” tanya Kent yang dibalas kerutan di dahi wanita tersebut. Merasa nama kakak kembarnya disebutkan, membuat Alinisya seketika sadar bahwa pria yang di hadapannya ini pasti mengenal Alesya. Sementara Kent masih memperhatikan wajahnya—yang membuat Alinisya menjadi semakin tidak nyaman—didalam pikirannya, Alinisya seperti pernah melihat pria itu. Sepertinya pria ini memang cukup terkenal, tapi Alinisya lupa siapa namanya.
“Aku Ali—”
“Bagaimana kau bisa kesini lagi, Alesya?” Kent dengan cepat memotong perkataan Alinisya, dan langsung mengutarakan isi kepalanya pada gadis itu.
“Bukan, Anda salah, aku bukan Alesya. And, i gotta go,” ucap Alinisya terbata – bata dan segera pergi dari hadapan Kent. Ia tidak bisa lagi berhadapan pria itu dan menjelaskan jika ia adalah adik kembar Alesya.
***
Alesya memasuki lift di gedung itu untuk mencapai lantai tempat apartemennya berada dengan tampang dingin dan terus menggerutu. Bagaimana tidak, ia terpaksa pulang menjelang malam karena mengerjakan jadwal atasan barunya itu untuk satu bulan kedepan. Itu bukan pekerjaan yang mudah, Alesya harus terus mengulang pembuatan jadwal itu hingga tujuh kali, karena setiap ia menyerahkan jadwalnya pada Kent, pria itu terus menolaknya dengan alasan bahwa ia telah menulis waktu yang salah.
“Sialan!” gumam Alesya ketika ia mengingat kejadian hari ini. Bagaimana bisa semua wanita terpesona pada pria arogan itu?
“Hey, aku dengar Alinisya Safira akan mengisi sampul majalah...” Sayup – sayup Alesya mendengar nama adik kembarnya disebut oleh salah seorang gadis muda yang ada di sampingnya. Sedangkan, si gadis itu terus mengoceh pada temannya tentang ‘kehebatan’ seorang Alinisya Safira. Hingga Alesya tidak mendengar ocehannya lagi dan merasa ada yang memperhatikannya.
Alesya melirik ke arah dua gadis tadi dan alhasil bertemu pandang dengan mereka.
“Ali—Alinisya—”
Here we go, Alesya. Bersiaplah untuk menjadi bayang – bayang adikmu seumur hidup.
“No, aku kakaknya.” Alesya dengan cepat menimpali ucapan gadis tadi—yang sudah ia yakini bahwa gadis itu mengira ia adalah Alinisya Safira. Alesya sudah bosan dengan semua ini. Kejadian di lift ini bukan yang pertama, Alesya sudah beberapa kali disodori pertanyaan semacam itu.
“Oh, benarkah? Kalian sangat mirip, apa kalian kembar?” Alesya menjawab pertanyaan itu hanya dengan bahu yang terangkat—jawaban yang sangat membingungkan. Ia melipat tangannya di depan d**a dan memandang malas kedua gadis tersebut.
“Aku tidak pernah tahu Alinisya mempunyai kembaran.” Si gadis itu menyimpulkan. Suara lift yang menunjukkan tanda bahwa Alesya sudah sampai di lantai yang dituju, membuatnya menarik napas lega.
“Well, now you know.”
***
Alesya sampai di kamarnya dan langsung bergegas membersihkan diri.
Ting! Tong!
Bel apartemen Alesya berbunyi di saat yang sama ketika ia akan beranjak ke tempat tidurnya. Bloody hell...
Ketika membuka pintu apartemennya, terpampanglah wajah Kent Putra Wijaya. “Apa yang kau lakukan, Kent?” persetan dengan tatakrama, dan... Alesya baru menyadari bagaimana Kent bisa tahu letak apartemennya.
“Bagaimana kau tahu apartemenku?” tanya Alesya langsung pada atasannya karena rasa penasaran yang membuncah. Ia tidak ingat jika ia pernah memberitahu Kent tempat tingalnya.
“Aku bisa tahu segala hal, Alesya. Dan, aku—aku hanya ingin kau tahu, besok kau masih menjadi sekretarisku dan akan tetap seperti itu,” ucap Kent yang membuat Alesya mengerutkan dahinya.
Di sisi lain, Kent tidak bisa mengutarakan apa maksud ia datang ke apartemen Alesya. Ia ingin tahu jika Alesya memang ada di apartemennya dan yang tadi ia temui di kantor bukan Alesya. Dan ternyata memang benar, Alesya dengan piyama berwarna softpink dengan gambar beruang ada di hadapannya.
Tidak ingin disangka terlalu berlebihan dan mencampuri urusan orang lain, Kent akhirnya mengganti pertanyaannya dan hanya mengatakan hal yang tidak penting.
“What’s the point, Odd Kent? Aku sudah tahu itu, dan kau membuang waktumu jika hanya itu yang ingin kau katakan,” ucap Alesya menatap Kent dengan kesal dan akan menutup pintu apartemennya jika Kent tidak menahan pintunya.
“Aku hanya mengingatkan, Safira. Dan jangan lupakan jika aku ini atasanmu, show me some respect,” ujar Kent berbisik dengan suara berat. Tanpa sadar, Alesya menelan ludahnya dengan susah payah karena aura Kent yang mengintimidasi.
Alesya mengangkat bahu, mencoba untuk tidak gugup dan mengatakan, “Let me show you my respect, Sir.”
BLAM!
Pintu itu tertutup tepat di depan wajah Kent, Alesya tidak peduli jika esok hari ia dipecat dari kantor. Toh, ia bisa mencari pekerjaan lain.
Wait, jika Kent menjadi atasannya, tidak menutup kemungkinan jika ia bisa tahu kalau Alesya Safira adalah kakak kembar dari Alinisya Safira. Selama ini, ia memang tidak bangga jika ia adalah kakak dari Alinisya Safira—sang model yang dipuja. Ia tidak memberitahu orang lain, dan bahkan jika boleh ia tidak ingin orang lain tahu.
Selama ini, mereka yakin jika orangtuanya hanya memiliki satu anak—Alinisya Safira. Sedangkan Alesya, ia hanya bayangan yang tidak pernah dianggap.
Begitu juga dengan Kent, Alesya tidak peduli jika Kent tahu ia adalah kakak kembar Alinisya atau bukan. For God sake, ia tidak akan pernah peduli.
***
Alinisya kembali kerumahnya setelah ia mendatangi kantor kakaknya dan tidak mendapati Alesya disana. Well, walaupun ia tidak dapat bertemu kakaknya, ia dapat bertemu pria tampan tadi.
Alinisya langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya, dan tak sengaja melihat Nada keluar dari ruangan yang ada di samping kamarnya.
“Dimana Ale?” tanya Nada. Niat awal Alinisya, ia ingin mengajak Alesya berkunjung ke rumah ini, walau ia sendiri tidak yakin bahwa Alesya akan bersedia.
“Aku tidak bertemu dengannya. Tadi memang sudah menjelang malam, mungkin Alesya sudah pulang ke apartemennya,” jawab Alinisya pada Nada yang membuat Nada terdiam.
“Baiklah, cepat ganti bajumu dan segera turun untuk makan malam,” ucap sang bunda, Alinisya hanya menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke kamar.
Nada melihat kembali pintu ruangan yang tertutup itu, kamar yang sudah tiga tahun ini tidak ditempati, pemiliknya memilih untuk pisah rumah dari keluarganya—Alesya, Nada benar- benar merindukannya, walaupun ia dan suaminya—Rio—seperti membedakan Alesya, tapi di dalam hatinya, mereka sangat mencintai anaknya itu, ingin Nada memeluknya dan menjelaskan kesalahpahaman ini.
Tadi pagi, ia berpikir ingin mengundang Alesya untuk makan malam bersama dan memperbaiki hubungan mereka. Namun, Alesya sudah terlebih dahulu pulang ke apatemennya.
Mungkin tidak sekarang, itu yang selalu ada dipikiran Nada.
***