Part 4

512 Kata
Menyebalkan. Satu kata yang bertengger di pikiran Alesya yang membuat pagi harinya memburuk. Yap, lagi dan lagi ulah bos kurang ajarnya membuat Alesya kelimpungan pagi ini. Jika ia bisa memilih, ia ingin meninggalkan perusahaan ini dan mencari pekerjaan yang lebih layak dan lebih menjunjung tinggi hak asasi manusia—bukan perusahaan dimana sang CEO yang terhormat terus menyiksanya seperti ini. Alesya menghela napas karena semua itu hanya angan. Mencari pekerjaan baru tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi mengingat usaha dan kerja kerasnya hanya untuk bisa menjadi karyawan disini. Akhirnya, karena begitu frustasi ia lebih memilih membuat cokelat panas untuk menenangkan pikirannya. Namun, ketika ia akan melangkah menuju pantry, pria itu datang dihadapannya. Dan Alesya yakin itu bukan pertanda baik. Benar saja, Kent langsung menarik Alesya kembali ke tempat duduknya dan mengurung Alesya dengan kedua tangan berada di kedua sisinya dan wajahnya benar – benar dekat dengannya. “Selesaikan. Laporanmu.” Kent megucapkannya dengan sangat tegas dan tidak bisa dibantah. Alesya menghela napas, berapa banyak laporan yang ia selesaikanpun tidak akan membuatnya terbebas dari kerja rodi yang diberikan oleh Kent. Di sisi lain, Kent sudah berdiri tegak seraya memperhatikan Alesya. Wanita itu bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang menarik darinya. Tidak ada rok pensil, hanya ada celana bahan longgar yang dipakainya, tidak ada lipstick Chanel ataupun make up berlebih. That simple. Tapi, Kent tahu Alesya tidak sesimpel itu, ia tahu Alesya memiliki daya tarik yang lebih dari itu. “Aku melihat seseorang yang mirip denganmu kemarin sore,” ucap Kent yang membuat Alesya berhenti mengerjakan pekerjaannya. Pasti Ali, batin Alesya. “Aku yakin itu bukan kau. Tapi, kalian sangat mirip.” Kent melanjutkan dan tetap memandang Alesya dengan seksama seraya melipat kedua tangannya di depan d**a. Alesya tidak ingin Kent semakin mengorek – orek silsilah keluarganya. Ia memang tidak peduli sekalipun Kent tahu jika Alinisya Safira adalah adik kembarnya, tapi, ia lebih memilih jika Kent tidak tahu sama sekali. “Kau salah lihat.” “Of course, i didn’t. Aku melihatnya dengan jelas, toh, dia berdiri di hadapanku. Tidak mungkin aku salah lihat.” Alesya menyadari jika semakin ia mengelak, semakin membuktikan jika yang Kent lihat memang adiknya. “Lalu, jika memang kau melihat Alesya Versi Dua, apa itu berpengaruh besar padamu, Tuan Kent?” jawab Alesya dengan sinis. Ia lelah jika semua orang di sekitarnya terus membahas Alinisya. “Oh, tentu saja. Aku harus tahu darimana sekretarisku berasal, siapa keluarganya, dan hal lain yang tadi kau anggap tidak penting,” ucap Kent dengan geram karena jawaban Alesya yang membuatnya merasa direndahkan. Wanita ini pintar membalas ucapannya dan berhasil membuat Kent kesal. “Go ahead, carilah sendiri. Karena, aku tidak akan memberitahumu.” Alesya kembali melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan Kent yang kesal namun semakin penasaran pada wanita itu. *** Miranda Wijaya membuka majalah wanita itu dan terpaku melihat sampul majalahnya. “Alinisya Safira? Bukankah dia baru terjun ke dunia model? Tapi sekarang ia sudah terkenal,” ucapnya mengomentari kesuksesan Alinisya Safira. “Ya, she is,” balas Clara Wijaya—anak keduanya—yang berada di sampingnya itu ikut mengomentarinya. “Dia anak dari Rio Mahendra dan Nada Revenna, kan?” tanya Miranda seraya menutup kembali majalah tadi. “Iya, Mom.” Clara menyesap teh hangat itu dengan tenang, gerakannya penuh dengan kelembutan dan keeleganan. “Bukankah mereka juga memiliki satu anak lagi?” “Tidak, Mom. Yang aku tahu hanya Alinisya Safira.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN