31. Secarik Kertas Alamat

1458 Kata

Malam yang dingin berselimut kabut. Tak membuat sambutan keluarga Evan terhadap teman-temannya sedingin kabut itu. Justru sebaliknya, suasana kembali menghangat saat keluarga Evan menyambut mereka dengan begitu ramah dan hangat. Sehangat teh manis dan pisang goreng buatan Ambu. Mereka semua berkumpul di ruang tamu. Evan duduk di samping Widya. Sedangkan Aki duduk fi antara teman-teman Evan. Ambu yang baru saja menyuguhkan pisang goreng kloter kedua langsung ikut nimbrung bersama mereka. “Jang, sebenarnya teh kunaon bisa keok begitu?” Ambu merasa iba sekaligus kesal karena Evan tidak berhati-hati. “Ya ... namanya juga pertandingan, Ambu! Kadang teh menang kadang juga kalah. Udah lagi nasib Evan aja begini jadinya teh jatuh. Tah tangan kiri Evan teh diikat perban!” Evan menjelaskan dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN