Hasrat yang menggebu-gebu dalam hati Evan membuat dirinya terus memikirkan cara agar motor pemberian dari mamanya bisa dia sulap menjadi motor balap walau standar. Setidaknya bisa digunakan untuk mendaftar kejuaraan lokal balap motor atau sekadar latihan di lintasan balap. Sehingga, hari ini Evan berniat untuk menyambangi beberapa bengkel motor bonafide yang biasanya dijadikan sebagai bengkel andalan yang diajak berkolaborasi untuk membuat performa maksimal dari motor yang akan digunakan dalam kejuaraan balap oleh tim-tim racing yang lumayan bonafide.
Bahkan sebelumnya Evan sudah pernah menyambangi kantor beberapa tim racing dan dia mempertanyakan tentang syarat menjadi seorang joki. Namun kenyataan tidak seindah angan-angan Evan. Butuh banyak biaya untuk ikut dalam pelatihan agar bisa menunjukkan performa terbaiknya. Saat itu Evan belum memiliki motor sendiri. Sehingga dirinya merasa benar-benar terpukul karena tidak bisa ikut melamar menjadi joki pada tim racing tersebut.
Sehingga ketika Widya memberikan motor butut untuk putranya, Evan langsung berinisiatif untuk mengumpulkan uang demi meraih impiannya. Setidaknya Evan memiliki motor yang sudah di-upgrade menjadi performa motor balap walau standar. Untuk mewujudkan hal itu, Evan membutuhkan biaya. Banyak atau sedikitnya tergantung pada kondisi motor. Sehingga siang ini sepulang dari sekolah, Evan nekat untuk mencari bengkel demi meng-upgrade mesin motor Evan. Setidaknya Evan mengetahui berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk meng-upgrade motornya menjadi performa motor balap dua tak.
***
Evan tidak memberitahu mamanya ataupun Ambu, kalau hari ini dia akan pulang terlambat. Evan juga tidak berpamitan kepada Tatang teman dekatnya. Pemuda itu nekat untuk mencari sendiri bengkel yang direkomendasikan oleh banyak tim racing.
‘Aku tahu! Pasti biayanya tidak murah, tapi setidaknya aku ingin tahu berapa banyak biaya yang dibutuhkan. Mungkin dengan barter bekerja ataupun harus mencari pekerjaan lain, asalkan uang itu bisa terkumpul,' batin Evan sembari nekat membelah jalanan kota Bandung siang itu.
Ada beberapa bengkel yang Evan tuju. Bengkel bonafide yang pertama Evan sambangi mematok harga yang begitu tinggi. Bahkan Evan pun rasanya tidak sanggup jika harus mengumpulkan uang sebanyak itu. Sehingga Evan beralih ke bengkel berikutnya. Ternyata tidak jauh berbeda dari bengkel yang pertama Evan sambangi, tarif untuk memodifikasi mesin motor standar menjadi performa balap standar di bengkel itu juga lumayan tinggi biayanya. Sehingga Evan memilih untuk mundur dan menyambangi bengkel lain yang masih ada di dalam daftar yang sudah dibuatnya. Hingga Evan menyambangi lima bengkel binafide di kota Bandung, dia menyerah karena memang biaya yang dibutuhkan untuk memodifikasi mesin motor standar menjadi performa balap membutuhkan biaya yang banyak. Masing-masing bengkel memiliki kriteria standardisasi tertentu. Evan merasa sangat putus asa. Dirinya begitu lemas karena dia berpikir bahwa mamanya tidak merestui apa yang menjadi Keinginan Evan. Sehingga semua bengkel yang sudah dia daftar dan dia sambangi mematok harga yang begitu mahal untuk dijangkau oleh seorang Evan yang notabene adalah anak seorang single parent yang masih berstatus sebagai pelajar SMK jurusan Teknik Sepeda Motor, kelas 2 semester dua. Sebentar lagi Evan akan menghadapi ujian kenaikan kelas dan waktunya Evan untuk fokus pada sekolahnya. Sehingga dia merasa sekaranglah waktunya yang tepat untuk menjajal keinginan yang sudah dipendamnya terlalu lama. walau hanya mengikuti satu kali atau dua kali balapan, sudah bisa membuat hati Evan merasa bangga. Namun dia merasa harapannya sudah pupus ketika tidak ada lagi biaya yang bisa Evan gunakan untuk mengoprek motor miliknya.
Tidak terasa waktu semakin sore. Awan menggumpal berwarna gelap tengah menyusuri langit kota Bandung dan sekitarnya. Angin yang berembus pun mengandung hawa dingin dan Evan merasa bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Dia bergegas untuk kembali pulang ke rumah. Melaju di antara deru aspal jalanan kota Bandung, hasrat Evan semakin menciut karena dia merasa tidak mampu untuk mewujudkannya. Walau dia berharap masih ada setitik harapan untuknya bisa mewujudkan impiannya suatu hari nanti, ketika dia sudah bisa bekerja dan mendapatkan modal. Namun rasa penasaran untuk menjajal arena balap motor membuatnya semakin resah. Suasana pun mendukung ketika rinai hujan mulai turun membasahi Kota Kembang.
Evan lupa membawa mantel karena mantel yang biasa digunakan masih tersimpan di bawah jok motor milik Mamang Angga.
‘Astagfirullah ... Hujan mulai turun tapi aku lupa bawa mantel? Mungkin aku harus mencari tempat untuk berteduh. Mana perjalanan pulang ke rumah masih jauh?’ Evan mencari tempat berteduh karena dia tidak ada persiapan jika harus menerjang hujan.
Evan menepikan motornya di dekat sebuah pertigaan jalan. Hujan yang turun mulai membesar membuat Evan segera menepikan motornya di depan sebuah ruko di pinggir jalan itu. Evan membiarkan motornya basah diterpa hujan, karena memang tidak ada tempat parkir yang luas di sana. Asalkan bisa berteduh, dari derasnya hujan yang turun sore itu.
Evan baru menyadari bahwa dirinya berteduh di bawah emperan ruko yang ternyata ada sebuah bengkel kecil di ruko itu. Evan tidak memedulikan lagi hujan lebat yang turun di sana. Karena saat ini pandangan Evan mengedar menatap ke dalam ruko yang menjadi bengkel itu. Terdapat satu orang yang tengah mengoprek motor. Lalu ada lagi satu orang pria paruh baya yang tengah mencatat sesuatu sembari melihat beberapa barang yang ada di etalase.
‘Ternyata ini sebuah bengkel? Bengkel motor tapi terlihat begitu rapi dan aku melihat ruko ini tidak seperti bengkel motor yang lainnya,' Evan merasa bengkel motor yang menjadi tempatnya berteduh tidak seperti bengkel motor lainnya.
Ketika hujan turun semakin deras, salah satu orang yang tengah memperbaiki motor menatap Evan dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam bengkel karena di luar hujan begitu deras.
“Jang, kadieu! Kalebet, heula, Jang! Hujan ageung. Sok atuh tong isin-isin!” salah seorang pria yang baru saja selesai membetulkan beberapa komponen motor yang rusak, meminta Evan untuk masuk ke dalam ruko tersebut karena hujan yang begitu deras hingga masuk ke dalam emperan toko tempat di mana Evan berteduh.
“Nuhun, Mang!” perlahan Evan melangkah masuk ke dalam ruko yang merupakan bengkel motor tersebut sembari mengibaskan jaket yang digunakan karena sedikit basah.
Evan melihat-lihat situasi di dalam bengkel tersebut. Di sana hanya ada dua orang pria yang berjaga.
“Dari mana atuh, Jang? Sore-sore begini baru pulang?” seorang mekanik motor yang ada di sana kembali berbincang dengan Evan.
“Muhun, Mang. Perkenalkan abdi teh Evan.” pemuda yang ramah itu memperkenalkan diri agar lebih akrab.
“Nah perkenalkan saya Sebastian Odi.” Pria dewasa itu memperkenalkan dirinya sembari tersenyum ke arah Evan.
“Baong sia mah Odi! Lain Sebastian eta teh Jang, tapi Mang Odi!” seorang pria paruh baya yang sedari tadi sibuk mencatat sesuatu ikut berbincang.
“Ye ... ari Akang teh kumaha? biar rada gaul atuh, Kang! Tinggal bilang iya apa susahnya si?” Gerutu Odi kepada pria yang saat ini hanya tersenyum melihat Odi.
“Saya Akbar, pemilik bengkel ini.” Pria paruh baya itu juga ikut memperkenalkan diri kepada Evan.
“Nuhun pisan udah memperbolehkan saya untuk berteduh di bengkel ini.” Evan merasa senang karena kebetulan dia berteduh di sebuah ruko yang di sewa oleh sebuah bengkel kecil.
“Sekolah di mana atuh, Jang?” Mang Odi kembali mempertanyakan hal itu.
“Di SMK wae, Mang!” Evan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Tidak lupa dia melihat-lihat ke arah sudut ruangan.
“Jurusan apa, Jang?” Akbar juga penasaran dengan jurusan yang Evan ambil.
“Teknik sepeda motor, Om.” Evan menjawab pertanyaan Akbar dengan ramah walau pandangan Evan kembali tertuju pada sebuah lemari di sudut ruangan bengkel itu.
“Om, itu pialanya banyak banget?” Evan yang penasaran kembali berjalan menuju lemari di sudut bengkel itu.
“Banyak atuh, Jang. Dulu Om Akbar pernah jadi pembalap motor. Kalau nggak salah teh tahun 95. Benerkan Om Akbar?” Mang Odi yang menjadi di asisten Akbar merasa bangga karena bosnya pernah menjadi seorang pembalap pada masa itu.
“Ah itu sudah lama banget. Ya dulu pernah sih menjajal keganasan aspal sirkuit. Ya waktu saya masih muda. Mungkin waktu itu usia saya masih sekitar 23 sampai 25 tahunan. Puncak kejayaan banyak meraih piala-piala itu. Tapi itu dulu pada masanya. Sekarang ya ... sudah beda lagi. Akan ada generasi berikutnya dan seterusnya. Walau sudah usang tapi kenangannya tetap tidak akan pernah berubah di dalam benak, Om.” Akbar yang dulu pernah menjadi seorang pembalap merasa bangga walau zaman kejayaannya pada tahun 95.
“Wah, Om Akbar keren banget. Jempolan pisan, Om! Saya juga sangat bermimpi jadi seorang pembalap. Tapi ... Heunteu boga modal Om.” Evan tersenyum walau hatinya teriris.
“Itu motor kamu, Jang?” Om Akbar melihat motor Evan yang terparkir di depan bengkelnya.
“Iya, Omm. Cuma motor bekas. semuanya standar, Om! Serba standar yang penting bisa dikendarai ke sekolah.” Evan kembali tersenyum walau dalam benaknya begitu menggebu-gebu menginginkan upgrade performa motornya.
“Nggak pengen ngoprek motor jadi performa balap?” Om Akbar kembali mempertanyakan hal itu kepada Evan.
“Itu tadi, Om! terkendala modal. Mungkin saya bakal cari pekerjaan sambilan dulu. Biar saya bisa nabung buat upgrade motornya. Tapi ya ... Nggak tahu kapan. Niatan dulu aja.” Evan kembali tersenyum.
“Sudah ada bayangan mau cari kerja apa, Jang?” Om Akbar kembali memberi pertanyaan kepada Evan.
“Belum tahu sih, Om! Apa aja yang penting halal, Om!” Evan tersenyum dan kembali melihat-lihat piala yang terpajang rapi di sudut ruangan.
“Kalau cari kerjaan sambilan, jangan lupa sama tugas utama kamu, Jang! Sekolah! Jangan sampai kerjaan sambilan kamu malah bikin nggak fokus sekolah, nanti Orang tua kamu sedih!” Akbar memberikan nasihat kepada Evan.
“I—iya, Om!” Evan tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, karena merasa malu kepada Akbar. Hampir saja dia kehilangan fokus belajar saat ikut bekerja paruh waktu di tempat pencucian motor.
“Coba dicek motornya!” Akbar memberikan perintah kepada asistennya itu.
“Motor na saha, Kang?” Odi melongo karena bingung motor siapa yang akan diperiksa.
“Ya atuh motornya si Ujang ieu! Kumaha atuh Sebastian?” Akbar melirik ke arah Odi.
“Tah oke Bos! Lamun dipanggil Sebastian mah langsung konek!” Odi tersenyum kepada Akbar sembari meninggikan kerah. Walau pakaiannya tidak berkerah, karena hanya menggunakan kaos oblong yang sudah belel.
“Maaf, Om. Kenapa ya? Mo—motor saya mau diperiksa?” Evan merasa begitu bingung dengan posisinya saat ini. Karena dia belum memiliki uang untuk mengoprek motornya dan juga belum mempertanyakan seberapa besar biayanya.
Akbar hanya mengulas senyum dan berjalan ke arah Odi yang baru saja membawa masuk motor Evan ke dalam bengkel. Saat ini Odi sedang memeriksa motor Evan. Lalu Evan melihat mereka tengah berbincang. Dia bingung harus bagaimana. Karena yang bisa Evan lalukan hanya melihat mereka dan menunggu jawaban Akbar atas pertanyaannya. Evan juga merasa kikuk karena saat ini yang bisa dia lakukan hanyalah mematung sembari menatap Akbar dan Odi yang tengah memeriksa motor milik Evan.
Tak lama berselang, Akbar berjalan menghampiri Evan yang masih berdiri di depan lemari di sudut ruangan. Evan bingung harus berkata apa. Dia benar-benar bingung kalau Om Akbar benar-benar mengoprek motor Evan. Karena saat ini Evan benar-benar tidak memiliki uang sepeser pun untuk biaya perombakan mesin motornya.
“Ma—maaf, Om! Motor saya kenapa, Om?” Evan memberanikan dirinya untuk kembali bertanya kepada Akbar tentang maksud Akbar yang memerintahkan Odi untuk mengecek motor Evan.
“Saya sudah memeriksa motor kamu, Jang! Kalau mau di-upgrade menjadi performa balap, untuk mengganti beberapa komponennya membutuhkan biaya sekitar kurang lebih 4 juta saja.” Akbar masih menatap Evan.
“Tap—tapi, Om. Sa—saya memang belum memiliki biayanya. Kumaha atuh nya?” Evan merasa begitu dilema. Di satu sisi Dia sangat menginginkan motornya di-upgrade. Di sisi lain terbatas akan biaya.
“Saya menawarkan kan upgrade mesin motor kamu dengan tenaga kamu, gimana? kamu setuju?”
“Maksudnya bagaimana ya, Om?” Evan takut salah menafsirkan.
“Saya akan membantu kamu untuk upgrade motor kamu menjadi performa balap, dengan imbalan tenaga kamu! Dalam artian setelah kamu pulang sekolah, kamu membantu saya di bengkel ini. Bisa bantu Mang Odi atau juga bantu buat menjaga bengkel saat saya pergi membeli segala kebutuhan bengkel ini. Bagaimana? Apa kamu setuju?” Akbar merasa iba kepada Evan dan akhirnya dia menawarkan barter kepada Evan. Wajah Evan begitu berbinar. Di saat dirinya pasrah dengan segala usahanya, justru takdir membawanya berteduh di emperan ruko kecil yang tidak lain adalah bengkel motor milik Akbar.
“Saya setuju, Om!” Evan menjawab dengan mantap dan dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Akbar.