7. Teringat Masa Lalu

1383 Kata
Setelah hujan berhenti Evan berpamitan kepada Om Akbar dan Mang Odi. Evan begitu bersemangat dan berterima kasih kepada Akbar yang sudah membantu Evan meraih impiannya. Semua karena Akbar merasa iba kepada Evan. Entah apa alasannya yang jelas, hatinya bergetar ketika pertama kali mendengar cerita Evan yang sangat memimpikan bisa menjadi pembalap ataupun mencicipi aspal arena balap. Evan menyetujui tawaran yang diberikan oleh Akbar kepadanya. Akbar akan membantu meng-upgrade motor Evan menjadi performa balap dengan imbalan berupa tenaga Evan yang akan dikontrak bekerja paruh waktu untuk membantu Akbar di bengkel. Evan melajukan motornya dengan kecepatan antara 40 sampai 60 km per jam, membelah jalanan kota Bandung sore hari. Tentunya setelah hujan reda dan kabut tipis mulai menerpa tubuh Evan. Dia terus menyusuri jalur yang berkelok-kelok menuju ke rumahnya yang berada di perbukitan di daerah Kabupaten Bandung. *** Perasaan cemas tengah menyelimuti hati seorang wanita yang sedang menunggu putranya yang belum pulang ke rumah sampai sore ini. Dialah Widya, wanita itu selalu menunggu putranya dengan berdiri di balik jendela kaca ruang tamu rumah itu. Perasaan gelisah dan cemas akan keselamatan putranya membuat Widya mengerutkan dahinya. Tak lama berselang Ambu datang menyapa Widya. “Wid? Neng geulis! Keur naon di ditu?” Ambu tengah melepas sendal di teras rumah Widya sebelum masuk ke rumah itu. Widya yang terkesiap dari lamunannya, segera membukakan pintu rumahnya, dan mencium punggung tangan Ambu. “Widya lagi nunggu Evan, Ambu! Udah sore tapi belum pulang juga.” Widya merasa sangat gelisah karena putra kesayangannya belum pulang sampai hari menjelang petang. “Ada kegiatan di sekolah mungkin, Wid? Nih Ambu gorengin Sampeu! Lumayan dingin-dingin gini buat nemenin minum teh!” Ambu berusaha untuk menenangkan Widya sembari memberikan satu piring singkong goreng kesukaan Ambu kepada Widya. Kemudian Widya bergegas menyimpan gorengan singkong itu di dalam tutup saji yang ada di atas meja makannya di dekat dapur. Ambu duduk di ruang tamu sembari menunggu Widya kembali dari ruang makan. Tak lama berselang, Widya kembali dan duduk di ruang tamu bersama Ambu. “Tadi si Epan nggak pamitan mau ke mana?” tanya Ambu sembari mengernyitkan dahi. “Kalau pamitan mah atuh Widya nggak gelisah begini, Ambu! Tadi pagi nggak pamitan mau ke mana. Biasa aja kayak hari-hari biasanya.” Widya duduk menemani Ambu di ruang tamu. “Tenang atuh, Wid!” Ambu mengulas senyum ke arah putrinya. “Da si Kasep mah barudak bageur! Insha Allah sebentar lagi juga si Kasep teh pulang! Dia mah meni bager, henteu neko-neko! nggak akan berbuat aneh-aneh!” Ambu berusaha menenangkan Widya. “Da atuh ... Gimana Widya nggak kepikiran! Di luar hujan deras banget. Widya takut Evan kenapa-napa, Ambu! Dari tadi Widya ngedoain si Ujang Kasep biar selalu dalam lindungan Allah. Tapi ... Widya jadi kepikiran atuh, Ambu! Semalem teh si Evan minta izin katanya, dia pengin jadi pembalap!” Widya mengatakan hal yang sejujurnya kepada Ambu. “Terus sama kamu diizinin apa enggak?” Ambu berpura-pura tidak mengetahui perkara itu. “Enggak Widya izinin atuh, Ambu!” Widya menatap ibunya dengan tatapan penuh arti. “Kunaon, Wid? Masih ingat sama Papanya Epan?” Ambu kembali menatap Widya, karena wanita itu sangat mengerti bagaimana masa lalu putrinya. Widya hanya bergeming, ketika Ambu menyinggung soal Papanya Evan. Widya kembali terbuai dalam lamunannya. Mengingat masa lalu yang pernah terukir indah bersama suaminya, yang tidak lain adalah Papa dari Evan. “kenapa diam, Wid?” Ambu kembali melihat sorot mata putrinya yang meredup. “Mentang-mentang dulu suami kamu pernah jadi pembalap? Kitu? Terus kamu melarang putra kamu sendiri untuk meraih impiannya?” ucapan Ambu membuat Widya langsung menatap ke arah Ambu. Ucapn Ambu seakan-akan membuka tabir masa lalu yang sudah Widya kubur dalam-dalam. “Sebenarnya Widya sudah menutup buku masa lalu Widya. Terlalu banyak kenangan yang membuat Widya merasa sakit.” Tatapan Widya kembali tidak berarah seakan menyelusup lebih jauh ke relung masa lalunya. “Epan udah gede, Wid! Mau sampai kapan kamu merahasiakan masa lalu kamu sama Epan?” Ambu kembali menatap Widya lebih dalam. Ada rasa enggan dalam hati Widya untuj membahas masa lalunya. “Mungkin Widya akan merahasiakan masa lalu Widya kepada Evan selamanya. Widya nggak mau Evan mengetahui semuanya dan merasa sakit seperti yang Widya rasakan.” Wanita itu menatap kedua bola mata ibunya. Ambu melihat kabut di mata Widya. “Coba kamu pikir baik-baik, Wid! Nggak selamanya Epan akan tinggal sama kita! Suatu hari nanti Epan akan menikah. Apa kamu masih mau menyembunyikan masa lalu kamu? Bagaimana kalau calon besan kamu menanyakan asal-usul Epan? Siapa Papanya? Di mana rumahnya? Lalu kamu mau diam saja?” Ambu menggenggam jemari Widya. “Sok dipikirkenn atuh, Wid! Kamu nggak bisa selamanya mengubur masa lalu kamu! Bagaimana kalau suatu hari Epan mengetahui semuanya sebelum kamu cerita sama dia?” Ambu kembali memberi masukan kepada Widya. Widya kembali menatap mata ibunya sembari bergeming, seakan dihadapkan pada dua hal yang membuatnya semakin bingung. “Widya pernah memikirkan hal itu. Tapi kalau Widya bilang sama Evan, semua masa lalu Widya. Ada perasaan takut dalam hati Widya kalau Evan akan mencari Papanya. “ Widya merasa dilema. “Dipikirkeun heula, Wid! Ambu hanya takut, kalau Epan tahu sendiri sebelum kamu cerita sama dia.” Ambu kembali mengingatkan Widya. Tak lama berselang suara motor Evan terdengar sampai di halaman rumahnya. “Tah! Si Bujang na geus balik! Sok dipikirkeun heula, Wid!” Ambu kembali berbisik kepada Widya. Wanita itu hanya mengangguk. Widya dan Ambu bergegas menyambut kedatangan Evan karena hari menjelang petang. Mereka mengulas senyuman hangat ke arah Evan. “Dari mana atuh, Kasep? Wayah gini baru pulang?” Ambu berusaha menyapa Evan terlebih dahulu. Karena sebenarnya Ambu juga merasa khawatir. “Assalamu’alaikum!” Evan menyapa kedua wanita yang saat ini tengah berdiri di hadapannya. “Wa’alaikumsalam!” “Dari mana, Van? Kok baru pulang?” Widya kembali mempertanyakan hal itu setelah Ambu mempertanyakannya terlebih dahulu. “Maafin Evan atuh Ambu, Mama! Tadi teh pas Evan mau pulang, ban motor Evan meletus! Jadi Evan teh nyari bengkel heula! Eh terus malah hujan gede. Ya udah Evan nunggu aja deh di sana. Tapi ....” Ucapan Evan berhenti. ‘Maaf ya, Ma! Maaf, Ambu, Evan harus bohong! Evan takut Mama marah sama Evan kalau tahu yang sebenarnya. Tapi Evan janji bakal terus jaga nama baik keluarga! Sebangor-bangornya Evan teh masih eling,’ ucap Evan dalam hatinya sembari berusaha untuk tetap tenang. “Kunaon, Pan? Ulah setengah-setengah atuh nyarios na!” Ambu begitu penasaran. “Evan teh jadi dapat kerja paruh waktu.” Pemuda itu tersenyum kepada nenek dan juga ibunya. “Kerja paruh waktu bagaimana, Van?” Widya masih mempertanyakan pekerjaan paruh waktu yang dimaksud oleh putranya. “Jadi teh si Om yang punya bengkel, kebetulan lagi cari tenaga tambahan. Soalnya mekanik yang jadi asisten Om yang punya bengkel itu, kewalahan ngadepin banyaknya pelanggan. Katanya si Om yang punya bengkel, kadang sampai susah buat ninggalin bengkel walau sekadar belanja kebutuhan bengkel itu. Jadi Evan teh ditawarin, buat jadi admin bengkel atau bantuin si Mamang mekaniknya. Kebetulan kan sekolah Evan teh jurusana teknik sepeda motor, makanya Evan teh ditawarin sama si Om nya, begitu.” Evan bercerita sembari mencopot sepatu sekolahnya dengan duduk pada sebuah bangku di ruang tamu bersamaan Ambu dan mamanya. “Euleuh-euleuh! Itu mah berita bagus atuh, Kasep!” Imas tersenyum bahagia karena cucunya sudah mulai berpikir dewasa dan mandiri. “Ambu geus setuju, Ma! Mama gimana? Setuju enggak?” Evan berusaha meyakinkan Widya. Widya masih bergeming seakan memikirkan sesuatu, ‘kira-kira itu bengkel punya siapa ya? Aku takut bengkel itu milik ....’ Widya justru melamun memikirkan pemilik bengkel yang menawarkan pekerjaan paruh waktu kepada Evan. “Widya?” Ambu memanggil Widya sembari mengernyitkan dahinya. “Eh, iya ... Ambu! Maap!” Widya kelicutan. “Kumaha sih, Wid? Ngalamun terus?” Ambu masih mengernyitkan dahinya. “Eta jawab dulu atuh pertanyaan si Kasep!” Ambu melirik ke arah Widya. “Iya, Ambu, maap!” “Selama nggak mengganggu sekolah kamu, ya silahkan saja, Van! Mama cuma minta kamu sekolah yang bener! dapat nilai bagus! Biar nanti pas kuliah kamu bisa dapat beasiswa! Kalau kamu memang bisa membagi waktunya, Mama nggak masalah!” Widya menyetujui dengan persyaratan. “Evan janji, Ma! Bisa bagi waktu antara sekolah sama kerja paruh waktu.” Pemuda itu tersenyum kepada Widya. “Ya udah, mandi dulu sana! Takut masuk angin!” Ambu meminta Evan untuk segera membersihkan tubuhnya yang lelah seharian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN