Kebahagiaan Evan akan terpancar dari wajahnya. Mulai hari ini sepulang sekolah Evan akan bekerja paruh waktu di bengkel Om Akbar. Tentunya setelah Evan mengantongi izin dari Ambu dan mamanya. Tidak lupa Evan memberi tahu hal itu kepada Tatang sahabatnya.
Tatang begitu antusias ketika mendengar cerita Evan yang tidak sengaja berteduh di emperan sebuah ruko yang tidak lain adalah bengkel milik Om Akbar, yang merupakan mantan pembalap pada zamannya.
"Jadi sekarang kamu teh mau ke bengkelnya si Om akbar itu?" Tatang yang penasaran sebenarnya ingin ikut ke tempat Om akbar. Tapi dia menunggu Evan mengizinkannya.
"Iya, Tang! Jadi teh selama harga barter tenaganya itu belum selesai, artinya aku tetap kerja paruh waktu di tempat Om Akbar. Sampai bayarannya teh setara 4 juta itu. Iya semoga aja sih beberapa bulan sudah setara sama bayaran empat juta itu. Jadi nanti pas liburan sekolah bisa menjajal motor baru, eh maksudnya performa baru gitu!" Evan menggerakkan kedua alisnya sembari menatap Tatang.
“Nasibnya mujur banget sih, Van! Bisa ketemu sama bengkel yang klop! Tapi ngomong-ngomong teh ...." Tatang menghentikan ucapannya.
"Ngomong-ngomong teh ... naon?" Evan mengernyitkan dahinya sembari menatap ke arah tatang.
"Kapan-kapan teh, aing diajakin atuh ke sana!" Tatang meminta izin kepada Evan.
"Sugan teh naon? Hayuk atuh! Boleh aja, tapi nanti aing izin heula ama si Om Akbar tea. Okeh?" Evan kembali menggerakkan kedua alisnya sembari menatap Tatang, sahabatnya.
"Tah cocok! Ya udah sana! Ke bengkel Om Akbar! Biar nggak kesiangan juga! Pokokna mah kalau butuh bantuan, jangan sungkan call me lah!" Tatang mengulas senyum kepada sahabatnya.
"Nah ieu! Cocok! Ya udah atuh, aing mau OTW dulu, on the way!" Evan cengengesan sembari bersiap mengenakan jaketnya. Karena sebentar lagi dia akan menempuh perjalanan menuju bengkel milik Om Akbar.
***
Tidak ada bosannya, Evan melajukan motornya membelah jalanan Kota Bandung. Bahkan hampir setiap hari, Evan tidak pulang dulu ke rumahnya setelah pulang sekolah, karena jarak dari rumah ke kota cukup jauh. Seperti siang ini, Evan menyisakan uang jajannya untuk membeli nasi bungkus sebelum dia sampai di bengkel milik Om Akbar. Motor dua tak milik Evan kini sudah terparkir di emperan ruko kecil itu. Evan melepas helmnya dan segera turun dari motor.
“Assalamualaikum.” Evan mengucap salam dan berjalan memasuki ruko bengkel sembari melepas resleting jaketnya.
“Wa’ alaikumsalam,” jawab Akbar dan Odi sembari mengulas senyuman ramah.
“Kumaha, Jang? Menerima tawaran Om Akbar atau enggak?” Akbar begitu penasaran karena Evan kembali ke bengkelnya.
“Alhamdulillah, Mama sama Ambu mengizinkan Evan untuk kerja paruh waktu di bengkel Om Akbar.” Evan tersenyum bahagia.
“Benar kamu izin kerja paruh waktu buat upgrade motor kamu?” Akbar masih tidak percaya kalau orang tua Evan mengizinkan Evan untuk memodifikasi mesin motornya.
Evan hanya bergeming sembari tersenyum malu. Karena sepertinya Om Akbar mengetahui alasan Evan kepada orang tuanya.
“Iya begitulah Om! Sebenarnya yang masih tidak setuju sama impian Evan itu Mama. Nggak tahu kenapa Mama selalu melarang Evan bahas tentang balapan motor. Alasannya sih karena keselamatan Evan. Takut cedera lah, takut jatuh dari motor, ya yang begitu-begitu, Om. Tapi kalau Nenek Evan sih setuju aja. Ya Evan bilang kemarin ban motor Evan meletus, terus Evan nyari bengkel dan akhirnya Evan ngobrol sama yang punya bengkel sambil nunggu hujan reda. Nah ternyata yang punya bengkel nawarin kerja paruh waktu, akhirnya Mama sama nenek setuju ngasih izin sama Evan. Maaf ya Om, bukannya nggak mau jujur. Tapi gimana ya?” Evan menunduk kalau seandainya Akbar mengurungkan niatnya untuk merekrut Evan sebagai salah satu karyawan kerja paruh waktu, selama barter untuk upgrade motor Evan.
“Ya sudah, Om ngerti! Yang penting belajar kamu enggak terganggu sama kerja paruh waktu ini! Sekarang kerjaan kamu teh bantuin Om, buat jadi admin! Mendata barang masuk sama barang yang keluar. Mendata apa saja yang harus dibeli dan yang masih. Dalam sehari ada berapa motor yang masuk dan berapa yang sudah dikerjakan sampai selesai. Sparepart apa aja yang digunakan, semua kamu catat! Mungkin dalam seminggu ini kamu akan saya training dulu! Nanti kalau kamu sudah paham, Om bisa mempercayakan administrasi sama kamu dan dari segi mekanik motor sama Mang Odi! Kamu juga bisa belajar sama Mang Odi tentang mesin motor dan lain-lain kalau kamu mau, gimana setuju?” Akbar kembali menegaskan kepada Evan.
“Setuju Om!” Evan tersenyum sembari berjabat tangan.
***
Hari demi hari Evan lalui dengan semangat. Dia berusaha untuk membagi waktu antara sekolah dan bekerja paruh waktu demi bisa barter dengan mesin motor yang akan di-upgrade menjadi performa balap. Bagi Evan yang penting dia bisa mewujudkan impiannya menjajal terjalnya deru aspal arena balap. Tanpa mengganggu kegiatan sekolahnya.
Waktu terus berlalu, Evan menikmati kehidupannya yang sederhana. Walau impiannya memang agak sulit dijangkau oleh Evan. Namun kerja kerasnya patut diberi penghargaan, seperti Om Akbar yang begitu salut kepada anak muda seperti Evan. Bagi Om Akbar, Evan adalah sosok pemuda yang tangguh, tidak gengsian, dan juga mau bekerja keras demi meraih apa yang dia inginkan. Bukan hanya semata dengan mudahnya meminta uang begitu saja kepada kedua orang tuanya, apa lagi dengan cara memaksa. Evan adalah pemuda yang sudah mandiri semenjak kecil karena dia menyadari bahwa ibunya adalah seorang janda. Dia juga tidak malu membawa beberapa kantong plastik yang berisi kue buatan Widya, berkeliling warung setiap hari sebelum berangkat ke sekolah. Evan juga menjajakan kue buatan Widya dengan menitipkannya di kantin sekolah.
***
Hingga satu bulan berlalu Evan bekerja paruh waktu di bengkel Om Akbar. Siang itu Evan mau minta izin kalau besok dirinya akan datang terlambat.
“Om, Evan boleh minta izin atau enggak? Besok Evan teh bakal terlambat datang ke bengkel.” Evan berusaha untuk meminta izin agar dia nyaman dengan semua aktivitasnya.
“Ada kegiatan di sekolah, Van?” Akbar memgira kalau Evan akan ada kegiatan di sekolahnya sehingga dia akan datang terlambat ke bengkel.
“Enggak ada sih Om, kalau kegiatan di sekolah, tapi besok teh Mama dapat pesanan katering untuk diantar ke rumah Pak Haji di desa sebelah. Jadi pulang sekolah Evan teh harus bantuin Mama dulu nganterin katering. Nah abis itu Evan baru ke sini. Gimana, Om? Boleh kan?” Evan menatap Akbar dengan iba. Sorot matanya terlihat jujur apa adanya.
‘Aku salut sama anak ini, dia mau membantu Mamanya untuk ngantar katering, jadi penasaran, sebenarnya dia itu berasal dari mana? Rumahnya di mana? Orang tuanya seperti apa ya kira-kira?’ ucap Akbar dalam hatinya, karena penasaran dengan asal-usul Evan.
“Gimana, Om? Nggak boleh izin ya?” Evan merasa gelisah kalau sampai Akbar tidak mengizinkannya untuk membantu Widya mengantar katering.
“Oh, boleh dong! Kamu bantu Mama kamu dulu, terus ke sini!” Akbar mengulas senyum kepada Evan.
“Tong hilap, Jang! Bawa atuh jajannya ke sini juga!” celetuk Odi.
“Hus! Sebastian ulah kitu atuh! Lamun mau mah meser! Ulah menta!” Akbar nyengir kuda ke arah Odi yang lagi mengoprek salah satu motor yang sudah masuk ke bengkel Akbar.
“Aku penasaran sama makanan buatan mamahnya Epan!” Odi kembali memancing Evan.
“Beres lah, Om! Besok Evan bawain buat Om Akbar sama Mang Odi! Okeh?” Evan tersenyum bahagia, walau dia satu-satunya yang paling muda di antara Akbar dan Odi, tetapi hobinya justru mengakrabkan mereka.