Setelah kemarin Evan mengantongi izin dari Om Akbar. Sepulang sekolah siang ini Evan langsung pulang ke rumahnya. Karena sudah berjanji akan membantu mamanya mengantar katering ke rumah Pak Haji di Desa sebelah. Dengan jiwa yang penuh semangat menyusuri jalanan berkelok-kelok menaiki perbukitan menuju tempat tinggalnya.
Evan sudah melihat dari kejauhan kalau Ambu dan mamahnya tengah mempersiapkan katering di teras rumahnya. Nasi boks itu sudah diikat menjadi satu untuk setiap lima susun nasi boks menggunakan tali rafia. Seperti biasa, Evan mendengar obrolan ramai antara Ambu dan Mamanya setiap kali mereka menyiapkan katering. Ada perdebatan-perdebatan kecil yang membuat suasana menjadi lebih hidup.
“Widya! Wid! Cepetan atuh keburu siang ini! Takutnya teh terlambat antar katering ke acaranya Pak Haji!” Imas alias Ambu sangat gemar mengatur apa yang menurut Beliau paling benar.
“Ari Ambu teh ulah ngatur-ngatur wae! Sok dibantuin si Widya teh!” Aki ikut pusing mendengar ocehan Imas yang mengatur ngatur Widya.
“Ari si Abah teh kumaha? Bukan masalah ngatur-ngatur na, Abah! Tapi ini teh takutnya kesiangan kitu! Kan nggak enak kalau jadi omongan tetangga!” Ambu hanya takut kalau katering pesanan Pak Haji terlambat diantar, lalu akan menjadi omongan tetangga yang tidak mengenakkan hati.
“Tenang aja atuh Ambu! kalem! Tuh si Evan juga udah dateng!” Widya tersenyum ke arah mereka.
“Nah sekarang giliran Abah, nganter jeung Epan! Biar teu ngomong hungkul! Nggak Cuma ngomong doang! Udah cepet sana Abah ganti bajunya! Temenin Epan nganter katering ka imahna Pak Haji!” Imas atau Ambu selalu memaksakan kehendaknya kepada Abah.
“Iya, Ambu! ulah nyorocos wae!” Abah menggerutu sembari berjalan menuju ke rumahnya.
“Assalamualaikum.”
“Wa’ alaikumsalam.”
“Ma, kateringnya udah siap?” Evan yang baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah langsung berjalan menghampiri Widya yang sedang menata nasi box itu di teras rumahnya.
“Udah siap, Jang!” Widia tersenyum ke arah Evan sembari mengulurkan tangannya karena Evan meminta untuk berjabat tangan dan mencium punggung tangan Widya.
“Pan! Nunggu sekedapnya! Sebentar! nganternya bareng si Aki. Biar cepet dapet banyak sekali antar! Tiga kali balik juga udah beres!” Ambu sibuk mengatur pengiriman katering.
“Iya, Ambu.” Evan juga mencium punggung tangan Ambu.
“Tah tingali! Aki udah rapi!” Ambu berbisik kepada Evan.
“Kumaha, Pan? berangkat sekarang?” Aki alias Abah Mus mengajak Evan untuk segera mengantar katering. Abah Mus berganti pakaian resmi saat menemani Evan mengantar katering.
“Hayuk atuh, Aki! Biar Evan di depan bawah satu susun, nah ... Aki di belakang bisa bawa dua susun, jadi nanti kita teh bolak-balik, tiga kali balik, Aki udah siap?” Evan memastikan kalau kakeknya sudah siap untuk membantunya mengantar katering. Karena Angga tidak bisa membantu jika pengantaran katering di siang hari. Karena dia selalu pulang kerja sore hari.
“Nah, Abah calik heula!” Ambu kembali mengatur Abah.
Setelah semuanya siap. Evan menarik tuas gas motornya. Kemudian mereka berangkat menuju rumah Pak Haji yang ada di Desa sebelah.
“Eh ... eee ... Ulah kebut-kebut atuh, Pan! Aki teh takut!” aki begitu takut dibonceng oleh Evan.
“Evan nggak ngebut, Aki! Tapi ini teh jalanannya menanjak! Kalau Evan nggak narik tuas gasnya kencang-kencang, atuh nanti mundur motornya!” Evan merasa bingung karena dia memang berada di jalanan yang menanjak.
“Tapi ulah kebut-kebut juga atuh, Kasep!” Aki kembali protes.
“Aki percaya aja sama Evan atuh! Biar cepet selesai, nganter kateringnya!” Evan kembali menarik tuas gasnya. Sehingga mau tidak mau Aki berpegangan kepada Evan walau tangan kanannya memegang satu ikat nasi boks buatan Widya.
***
Setelah tiga kali balik, akhirnya Evan dan Aki selesai mengantar pesanan katering Pak Haji. Setelah itu, Evan beristirahat sejenak di rumah, ibadah Salat Zuhur, dan dia langsung meminta izin untuk berangkat ke bengkel.
Widya sangat mengerti Kalau Evan belum makan siang, sehingga wanita baik itu memberikan tiga nasi boks kepada Evan untuk diberikan kepada dua rekannya di bengkel.
“Ma, Evan berangkat dulu ya!”Evan kembali berpamitan kepada Widya.
“Jang! Tiga nasi boks ini kamu bawa! Yang dua kamu kasihkan ke Om yang punya bengkel dan yang satu untuk kamu makan! Bilang sama Om yang punya bengkel makasih udah ngasih kamu kerjaan!” Widya mengulas senyum ke arah putranya.
“Siap, Ma! Pas banget kita belum makan siang! Yaudah Evan berangkat dulu ya, Ma!” Evan mengulas senyum dan mencium punggung tangan Widya, diiringi ucapan salam.
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Evan sampai di bengkel milik Om Akbar. Kebetulan mereka belum pada makan siang. Sehingga kedatangan Evan seakan bagai Oase di padang pasir. Dengan senang hati Evan membagikan nasi boks yang berisi makanan buatan mamanya.
Orang pertama yang mencicipi makanan itu adalah Mang Odi. Dia mengatakan kepada Akbar kalau makanan buatan mamanya Evan begitu enak hingga menggoyang lidahnya. Akbar yang begitu penasaran akhirnya mencicipi juga masakan buatan Widya.
‘Rasanya aku pernah mencicipi makanan yang beraroma dan rasanya seperti ini?' Akbar bergeming setelah menyuapkan satu sendok makanan itu ke mulutnya.
Evan yang menyadari hal itu ikut terdiam dan menatap Akbar. Dia takut kalau Akbar tidak menyukai makanan buatan mamanya.
“Maaf, Om! apa Om nggak suka rasa makanan buatan Mama, ya?” Evan masih menatap Akbar.
“Oh, bukan itu, Van! Tapi ... Rasa makanan ini seakan-akan membuat Om Akbar berasa nostalgia!” Akbar tersenyum ke arah Evan kemudian melanjutkan makannya.
“Oh pasti mau bilang, makanan buatan Mamanya Epan teh memiliki rasa yang pernah ada?” Odu melirik ke arah Akbar.
“Eeeh blegug sia, Odi! Macam-macam wae! Udah nikmatin aja masakan mamanya Evan teh enak!” candaan Odi dengan Akbar membuat Evan merasa nyaman berada di sana.
Waktu yang terus bergulir tidak akan pernah bisa kembali dan tidak bisa terulang. Setiap hari Evan hanya berusaha untuk membahagiakan keluarganya terutama mamanya. Walau ada rahasia yang Evan simpan dari mamanya, yaitu rahasia tentang modifikasi mesin motor Evan di bengkel milik Akbar.
Tiga bulan berlalu, siang ini ketika Evan berangkat ke bengkel, Odi meminta Evan untuk meninggalkan motornya di bengkel. Karena Akbar menyuruh Odi untuk segera memodifikasi mesin motor Evan. Sehingga Evan dipinjami motor matic milik Akbar.
Evan merasa tidak percaya dengan kenyataan yang begitu membuatnya bahagia. Sampai-sampai Evan kehabisan kata-kata untuk menjelaskan bagaimana suasana hatinya saat itu. Odi meminta waktu dua hari untuk mengecek seluruh motor Evan dan dimodifikasi langsung agar menjadi mesin motor dengan performa balap.
“Mang? Ini beneran? Motor Evan teh udah mau di-upgrade?” Evan kembali mempertanyakan hal itu kepada Odi, karena Akbar sedang keluar untuk membeli beberapa onderdil yang harus dilengkapi.
“Iya, Jang! Jadi mulai hari ini teh kamu pulang pakai motor Kang Akbar, biar motor kamu teh disimpan di sini dulu nanti saya oprek!” Odi menatap ke arah Evan yang terlihat begitu bahagia dan antusias.
“Udah enggak usah kebanyakan mikir, Evan! Soalna teh kalau motor dua tak biar jadi balap itu yang perlu di utak-utik teh ngarana bagian Balance kruk as sama Porting silinder di dalam mesin motor kamu! Tapi nanti bakal saya cak semuanya! Apa aja yang perlu diganti dan yang dipertahankan!” Odi kembali menjelaskan.
“Paham, Mang! Berarti yang perlu dipertahankan teh bukan Cuma cinta hungkul nya, Mang?” Evan justru mengajak Odi untuk bercanda.
“yah ... Si Ujang mah ngabodor wae! Ya udah gitu aja. Sekarang kalau kamu mau beres-beres, tah kunci motor kang Akbar di atas etalase!” Odi mempersilahkan Evan untuk membawa motor Akbar seperti yang sudah diperintahkan oleh Akbar.
“Beres, Mang! Pokokna mah terima kasih ya, Mang! Hatur nuhun!” Evan bergegas mengambil kunci motor Akbar dan memberikan kunci motor miliknya ke Mang Odi. Lantas dia berpamitan dan bergegas pulang.
***
Sepanjang perjalanan pulang Evan merasa bingung dan gundah gulana. Karena dia pulang membawa motor milik Akbar sang pemilik bengkel. Evan yang sebenarnya tidak mau membohongi ibunya dengan berat hati harus mengatakan bahwa motor Evan sedang berada di bengkel dan harus tinggal di sana untuk beberapa hari ke depan. Sehingga sang pemilik bengkel meminjamkan motor miliknya untuk dibawa pulang oleh Evan. Widya tidak mencurigai Evan sama sekali, kalau ternyata keberadaan motor Evan yang menginap di bengkel bukan hanya dibenahi atau diservis seperti motor pada umumnya. Melainkan akan di-upgrade menjadi performa balap oleh Mang Odi dan pemilik bengkel.
Dua hari berlalu dan Evan melihat perkembangan mesin motor yang sudah di-upgrade oleh Odi setiap hari. Hingga pada hari ini, untuk pertama kalinya, Evan akan menjajal motor miliknya yang sudah di-upgrade. Evan meminta izin kepada Akbar untuk pulang lebih awal dan menjajal motornya di jalanan sepi menuju desa yang menjadi tempat tinggal Evan. Bisa dibilang di sana Evan sering berlatih karena memang jalur tersebut sepi dari kendaraan lain ataupun kendaraan roda empat. Tentunya Evan tetap menjaga kecepatan motornya agar tidak membahayakan dirinya maupun orang lain yang sama-sama menggunakan jalur itu.
Evan begitu menikmati performa motornya saat ini. Sekali tarik tuas gas, motornya bisa melaju dengan kencang. Begitu juga dengan koplingnya dan segala macam yang dirasa motornya saat ini sudah berbeda. Lalu keesokan harinya, Evan kembali ke bengkel milik Akbar. Dia mengucapkan banyak terima kasih kepada Akbar dan Odi.
“Om, terima kasih sudah dengan baik menerima Evan di sini dan mewujudkan impian Evan untuk memiliki motor dengan mesin yang luar biasa buat Evan.” pemuda itu tersenyum kepada Akbar. Mereka berdua duduk di bengkel sembari menikmati secangkir kopi. Sedangkan Odi seperti biasa, tengah sibuk membongkar sepeda motor yang sudah masuk ke dalam daftar servis.
“Sama-sama, Van! Om mengerti karena dulu Om pernah berada di posisi Evan. Ingin sekali mencicipi bagaimana aroma aspal arena balap.” Akbar kembali tersenyum dan seakan meyakinkan Evan untuk tidak berkecil hati.
“Bener banget Om, kemarin terakhir Evan lihat balapan di Cimahi, waktu lihat performa Eric Devandra, Evan bener-bener ingin sekali memiliki tim racing seperti Devandra Racing Team, Evan bener-bener mengidolakan Eric Devandra, Om. Sampai Evan teh mikir, gimana ya rasanya jadi seorang Eric Devandra? Sering banget masuk podium. Sebenarnya yang menjadi motivasi Evan teh Eric Devandra itu, Om.” Evan tersenyum karena dia begitu mengidolakan sang pembalap legendaris Eric Devandra.
“Berarti kejadiannya sama kayak Om pada masa itu. Dulu Om sama kayak kamu, Jang! cuma punya motor bekas. Zaman segitu teh, motor masih jarang dan lumayan mahal. Tapi Om berusaha buat ngumpulin uangnya. Ditambahin juga sama abah yang kasih uang buat nambahin beli motor. Akhirnya teh kebeli juga, cuma ya itu tadi di kepengen kalau ngelihat pembalap idola lagi ada di arena balap teh suka ngebayangin, rasanya jadi dia! Kamu tahu enggak zaman dulu teh Ada pembalap yang dikenal dengan nama Rudi Antares. Dia itu anak pemilik bengkel otomotif terbesar di Jawa barat pada masa itu. Ceritanya teh Rudi ini punya tim racing solid banget. Akhirnya dia bener-bener jadi juara lah bisa dibilang gitu. Terus saya teh menjajal debut pertama. Ya ... kelas pemula lah, ternyata masuk podium walaupun nggak juara satu. Berangkat dari sana, karier Om menanjak dan pada akhirnya kami berada pada arena balap yang sama dan kami bertanding. Ya nggak sengaja kecelakaan itu terjadi yang mengakibatkan Rudi harus dilarikan ke rumah sakit, sedangkan Om mengalami luka yang tidak begitu serius. Begitulah perjalanan yang pernah Om lalui pada masanya.” Akbar tersenyum ke arah Evan setelah menceritakan sepenggal kisahnya.
“Bangga banget Om pernah jadi juara sampai mengumpulkan piala sebanyak itu.” Evan menghirup napas lega sembari melihat lihat piala yang masih terawat dengan baik yang berada di dalam lemari di sudut ruangan.
“Udah sekarang kamu cobain motornya! Hati-hati jangan kebut-kebutan di jalan raya! Motor ini memang untuk kondisi pertandingan! Oli samping motor kamu yang full synthetic karena performa mesinnya udah beda! Kalau pakai oli samping yang biasa, bisa-bisa motor kamu jadi gancet! Kalau menggunakan oli standar tidak akan mungkin kuat karena akan cepat menguap. Kalau oli sintetik walaupun suhunya tinggi kemampuannya akan tahan.” Akbar mengingatkan Evan untuk menggunakan motor itu dengan sebaik mungkin dan dengan perawatan yang baik juga.
“Ini berarti motor Evan teh udah nggak bisa dipakai harian ya, Om?” Evan bingung untuk mencari alasan kepada Mamanya.
“Kalau dipakai harian ya panas, Van! Jadi kalau saran Om, gunakan motor ini saat kamu ada di sirkuit! Selamat mencoba ya! Kalau besok-besok kamu masih mau kerja di sini, boleh! Tenang aja seperti biasanya!” Akbar mengizinkan Evan untuk bisa kembali bekerja walaupun barter tenaganya sudah selesai.
“Makasih banyak, Om!”
“Makasih juga buat Mang Odi.”
Evan tersenyum kepada mereka sebelum berpamitan. Saat ini Evan sudah berada di emperan ruko bengkel menunggangi motornya. Sebelum dia menarik tuas gas, Evan merenung di dalam hati.
‘Motor performa balap udah aku dapatkan. Tapi sayangnya motor ini nggak bisa buat harian ke sekolah, bingung juga gimana ya cara ngomongnya ke Mama,' ucap Evan dalam hatinya sembari bingung memikirkan alasan kepada Widya. Evan hanya dihadapkan pada dua pilihan. Jujur kepada Widya atau terus membohongi Widya. Masing-masing pilihan selalu memiliki risiko. Itulah tantangan untuk Evan. Dia akan jujur atau masih menutupi semuanya dengan banyak alasan.