Sabtu pagi. Lira berdiri di depan cermin kecil kamar 207 dengan ekspresi bingung.
Bima akan menjemputnya pukul sembilan untuk acara kampus.
Ia harus memutuskan pakaian "yang cocok untuk jadi panitia".
"Kak, menurutmu mana yang lebih tepat?" Dua kaus di tangan. "Kaus 'Save The Earth' ini, atau yang 'Coffee First'?"
Arsya sedang mencoba memahami koran pagi. Gagal total.
Berita utama tentang kenaikan harga bawang—tidak masuk akal baginya.
"Pilih yang tidak menimbulkan pertanyaan. Polos saja."
"Tapi Bima bilang acaranya bertema lingkungan. Mungkin 'Save The Earth' cocok?"
"Itu bisa diartikan secara harfiah." Arsya menoleh. "Kau mungkin ditanya apakah anggota organisasi penyelamat planet."
Lira akhirnya memilih kaus putih polos dan jeans.
"Aku akan berusaha tidak menimbulkan kecurigaan."
"Tiga aturan." Arsya menatapnya. "Jangan panggil aku Tuan. Jangan ceritakan tentang alam dewa. Jangan tunjukkan keheranan berlebihan."
"Siap, Kak!"
---
Pukul sembilan. Bima mengetuk pintu.
Kaus lengan panjang. Celana cargo. Lebih rapi dari biasanya.
"Li, siap? Ayo berangkat."
Halte bus. Bima menjelaskan.
"Acaranya bazaar lingkungan. Kita jaga stand daur ulang. Tugasnya kasih informasi dan terima barang bekas."
"Seperti ritual pengumpulan persembahan?"
"E... iya, semacam itu." Bima tertawa. "Kamu ini lucu banget."
---
Kampus. Stand-stand di sepanjang jalan.
Makanan. Kerajinan. Stand daur ulang tempat Bima dan Lira bertugas.
Reza dan Dinda sudah di sana.
"Bima! Ini adik kos yang kamu ceritakan?" Reza mengamati Lira.
"Iya, ini Lira. Lira, ini Reza dan Dinda."
"Senang bertemu kalian." Lira membungkuk sedikit. Kebiasaan lama.
Dinda tersenyum. "Wah, sopan banget. Gak usah sungkan. Ayo siapkan brosur."
---
Tugas Lira sederhana.
Bagikan brosur. Terima barang bekas.
Masalah dimulai saat seorang mahasiswa menyerahkan botol plastik.
"Terima kasih." Lira serius. "Apakah Anda ingin ini didaur ulang menjadi serat pakaian, wadah baru, atau diubah menjadi energi alternatif?"
Mahasiswa itu bingung. "Boleh aja sih... yang penting didaur ulang."
"Tapi prosesnya berbeda tergantung tujuan akhir. Jika menjadi serat pakaian, proses A. Jika wadah, proses B. Kami harus mencatat preferensi Anda untuk statistik."
Bima cepat menyela. "Gak usah detail banget, Li. Terima aja botolnya."
"Tapi data penting untuk efisiensi!"
"Santai aja." Bisik.
---
Mahasiswi dengan tumpukan kertas bekas.
Lira menerima. Memeriksa setiap lembar.
"Maaf, ini ada tulisan rahasia? Perlu dihancurkan? Di tempat asalku, dokumen tertulis sering mengandung informasi sensitif."
"Gak, cuma print-an tugas yang salah." Mahasiswi itu tertawa.
"Baik. Tapi sebaiknya lain kali gunakan kedua sisi kertas. Perhitungannya: jika satu rim bisa menghemat satu pohon kecil—"
"Lira, sudah." Bima pelan. "Kita terima saja."
Lira mengangguk. Tapi wajahnya masih penuh keinginan memberi edukasi lengkap.
---
Masalah terbesar datang siang hari.
Seorang dosen membawa radio tua.
"Apakah ini bisa didaur ulang?"
Lira memeriksa dengan teliti.
"Komponen logamnya bisa. Tapi ada bagian plastik, kabel, dan—" Matanya membelalak. "Baterainya sudah bocor! Ini bahan kimia berbahaya! Kita perlu penanganan khusus! JANGAN DISENTUH!"
Suara keras. Panik.
Beberapa orang menengok.
"Tenang, Nak. Cuma radio rusak." Dosen itu tenang.
"Tapi kebocoran baterai bisa mencemari tanah dan air! Ini darurat lingkungan kecil!" Lira berbalik ke Bima. "Kita perlu alat pelindung! Dan prosedur isolasi!"
Bima mencoba menenangkan. "Lira, biasa aja. Nanti kita pisahkan baterainya."
"Tidak bisa biasa! Ini seperti racun lambat! Di alam—di tempatku, kita punya protokol ketat untuk limbah berbahaya!"
Tanpa sadar—
"Tuan Bima, kita harus bertindak cepat!"
Reza mengernyit. "Dia manggil kamu 'Tuan'?"
Bima cepat. "Itu... panggilan dari daerahnya. Artinya 'tuan' itu... teman yang dihormati. Iya."
Lira menutup mulut. Terlambat.
Dinda memperhatikan. Curiga.
---
Sepanjang hari, Lira terus membuat komentar aneh.
"Efisiensi energi manusia."
"Siklus hidup material."
"Paradigma keberlanjutan multidimensional."
Bima terus menyelamatkan situasi. Tertawa. Bilang "Lira memang unik".
---
Di kos Bu Rini.
Arsya menghadapi tantangan lain: hari libur kerja.
Tapi libur bukan berarti tenang.
Tok tok tok.
Rania di pintu. Pukul sepuluh pagi.
"Arsya, kamu sibuk? Aku butuh bantuan."
"Apa yang bisa saya bantu?"
"Laptopku error. Katanya kamu jago teknologi?" Senyum manis.
"Sebenarnya aku lebih ke strategi. Tapi... boleh kucoba."
---
Kamar 206. Berantakan.
Pakaian. Kosmetik. Barang-barang berserakan.
Laptop di atas kasur. Layar biru.
"Ini tiba-tiba muncul tulisan aneh."
Arsya duduk. Memperhatikan.
"Blue screen of death. Biasanya karena masalah hardware atau driver."
"Kamu pinter banget. Bisa memperbaikinya?"
"Aku akan coba."
---
Dia menekan tombol dengan hati-hati.
Teknologi magis dewa dan laptop manusia—berbeda. Tapi masih bisa dipahami.
Rania duduk sangat dekat.
"Kamu serius banget ya. Manis."
Arsya tidak menanggapi. Fokus.
Safe mode. Diagnosa.
"Kamu sering bantu perempuan seperti ini?"
"Tidak. Ini pertama kalinya."
"Wah, merasa spesial dong aku."
Arsya tidak tahu harus menjawab apa. Tetap fokus.
---
Dua puluh menit. Driver grafis corrupt.
"Harus di-update. Ada koneksi internet?"
"Ada Wi-Fi. Passwordnya 'RaniaCantik2023'."
Arsya mengangguk. Mencoba tidak bereaksi.
Update driver. Restart.
Laptop normal.
"Berhasil. Tapi sebaiknya jangan simpan data penting tanpa backup."
"Wah, kamu penyelamat!" Rania meletakkan tangan di pundaknya. "Aku harus balas jasa. Mau aku traktir makan siang?"
"Tidak perlu. Saya sudah makan."
"Ah, jangan menolak. Aku jarang ngajak laki-laki makan."
Arsya tidak nyaman. "Maaf, saya janji dengan adik saya nanti."
"Ya sudah lain kali." Rania tersenyum. "Oh iya, kamu dekat ya sama Naya?"
Pertanyaan tiba-tiba.
"Kami berteman."
"Hati-hati. Dia tipe yang dingin. Susah ditebak."
---
Arsya bangkit.
"Saya harus pergi. Semoga laptopnya tetap baik."
Lorong. Hampir bertabrakan dengan Naya.
Membawa cucian.
"Kamu dari kamar Rania?" Nada datar.
"Iya. Membantu memperbaiki laptop."
"Hmm."
Naya melanjutkan jalan. Tanpa komentar lain.
Arsya ingin menjelaskan. Tapi tidak tahu harus bilang apa.
---
Siang. Ponsel Arsya berdering.
Pak Anton.
"Arsya, maaf ganggu liburmu. Ada dokumen darurat harus dicetak dan dikirim hari ini. Kamu bisa ke kantor?"
Arsya berpikir. "Bisa, Pak."
"Baik. Naya juga akan datang. Kalian kerjakan bersama."
Naya juga.
Arsya tidak tahu harus senang atau grogi.
---
Kantor. Naya sudah ada.
"Kamu cepat."
"Prinsip responsif."
Mereka mencetak. Menyusun dokumen.
Sunyi. Hanya suara printer.
"Tadi pagi kamu membantu Rania?" Naya tiba-tiba.
"Ya. Laptopnya rusak."
"Dia memang suka minta tolong pada cowok baru."
"Kamu tidak suka padanya?"
"Nggak juga. Cuma kebiasaannya itu aja yang agak mengganggu."
---
Printer macet.
"Sudah menjadi musuhmu." Naya membuka tutup printer.
"Mungkin mesin ini merasakan aura asingku."
Naya tertawa kecil. "Kamu percaya aura?"
"Sebagai kiasan."
Printer diperbaiki. Dokumen selesai pukul tiga sore.
"Kalau tidak ada kamu, mungkin aku akan menghadapi mesin ini sendirian."
"Biasanya aku bisa sendiri." Naya mengeringkan tangan. "Tapi lebih cepat berdua."
---
Mereka mengunci kantor. Berjalan ke halte bersama.
"Lira sedang di kampus dengan Bima?"
"Iya. Dia membantu acara."
"Bima tertarik padanya."
"Kurasa juga."
"Hati-hati. Bima baik, tapi sering ganti-ganti pacar."
Arsya mengangguk. "Aku akan mengawasi."
---
Halte. Bus datang. Penuh.
Mereka terhimpit di dekat pintu.
"Maaf." Bahu Arsya menyentuh bahu Naya.
"Gapapa."
Berdiri sangat dekat.
Arsya bisa mencium aroma sampo Naya. Wangi apel sederhana.
Aneh. Di alam dewa, tidak ada yang berbau seperti ini.
Tapi ia suka.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat.
---
Sore. Lira kembali ke kos.
Wajah lelah. Tapi senang.
"Kak, aku dapat uang saku seratus ribu! Dan aku belajar banyak tentang daur ulang manusia!"
"Bagus. Tapi aku dengar ada insiden panggilan 'Tuan'?"
"Ah, itu... Bima yang menyelamatkan." Lira menunduk. "Tapi Dinda, temannya, terus memandangiku aneh."
"Mungkin dia curiga. Lain kali lebih berhati-hati."
---
Malam. Makan malam bersama.
Dinda tiba-tiba muncul di kos. Dijemput Bima untuk "nongkrong".
"Lira, ini Dinda. Dinda, ini Kakak Lira, Arsya." Bima memperkenalkan.
Dinda mengamati mereka. Tajam.
"Kakak beradik ya? Mirip... sedikit."
"Kami keluarga dekat." Arsya singkat.
---
Teras. Dinda bertanya pada Lira.
"Kamu tadi bilang tentang 'protokol limbah berbahaya'. Dari mana tahu itu? Kamu kuliah di mana?"
Lira gugup.
"Aku... belajar otodidak. Dan banyak baca."
"Tapi istilahnya sangat teknis. Kayak orang jurusan lingkungan."
"Kebetulan saja."
Bima mencoba mengalihkan. "Dinda, mau minum apa? Aku buatkan teh."
Obrolan canggung. Dinda terus bertanya. Arsya dan Lira terus menghindar.
Naya di kursi sebelah hanya mengamati. Sesekali membantu mengalihkan topik.
---
Dinda dan Bima pergi.
Naya berkata pada Arsya, "Dia curiga."
"Aku juga merasakannya."
"Kalian memang agak aneh. Tapi selama tidak merugikan, tidak apa-apa."
"Kamu tidak penasaran?"
"Nggak terlalu. Semua orang punya rahasia."
Arsya tersenyum lega.
Setidaknya ada satu manusia yang tidak memaksa.
---
Malam. Kamar 207.
Lira bertanya, "Kak, apakah kita akan terus-terusan hampir terbongkar?"
"Mungkin." Arsya berbaring di lantai. "Tapi kita harus tetap berusaha."
Jeda.
"Dan... aku rasa Naya bisa dipercaya."
"Kakak semakin sering menyebut namanya."
"Itu karena dia sering membantu."
"Atau karena kakak mulai—"
"Tidur saja, Lira."
---
Di kamar 205.
Bima tersenyum sendiri. Lira unik. Tapi seru.
---
Di kamar 206.
Rania membuka laptop. Layar normal.
Arsya berguna. Dan manis. Harus dimanfaatkan.
---
Di kamar 204.
Naya membuka buku. Tapi tidak membaca.
Pikirannya di halte bus tadi.
Aroma sampo apel? Ia sadar tidak memakai sampo hari ini.