Bab 9: GOMBALAN

1409 Kata
Senin pagi. Weekend yang menegangkan sudah lewat. Arsya bersiap untuk hari kerja kedua. Tapi sebelum itu, insiden kecil di dapur kos. Bima—yang biasanya bangun siang—sudah berdiri di depan kulkas. Kaus oblong compang-camping. Rambut acak-acakan. "Pagi, Bang Arsya." Ia mengambil s**u kotak. "Lira udah bangun?" "Masih tidur." Arsya singkat. Fokus pada roti panggang. "Ooh. Nanti siang aku mau ajak dia ke warung kopi baru. Dekat sini. Diskon buat mahasiswa." "Lira bukan mahasiswa." "Tapi dia masih kelihatan muda. Bisa pake kartu adikku." Arsya tidak setuju. Tapi tidak punya alasan kuat untuk melarang. Lagi pula, Lira memang perlu belajar interaksi sosial. Tapi insting dewanya berteriak: Ini rencana Bima untuk mendekati Lira secara personal. --- Pukul 10 pagi. Arsya sudah di kantor. Bima mengetuk pintu 207. "Lira, ayo ke warung kopi. Aku traktir." Lira sedang mempelajari resep telur dadar dari buku pemberian Naya. Mengangguk. "Baik. Tapi aku harus pulang sebelum kakakku kembali." "Gak apa-apa. Cuma sebentar." --- Warung kopi kecil. Tapi trendy. Mahasiswa nongkrong dengan laptop. Bima memilih meja di sudut. "Kamu mau pesan apa?" "Apakah mereka punya teh? Aku tidak terlalu suka kopi." "Ada teh tarik. Manis. Enak." "Baik. Aku pesan itu." --- Pesanan datang. Bima mulai percakapan. "Kamu tahu, Lira." Senyum. "Sejak kamu datang, kos jadi lebih hidup." "Karena kami sering membuat keributan?" Lira polos. "Bukan. Maksudku... kamu itu berbeda. Lucu. Unik. Bikin penasaran." Lira tidak paham. Pengetahuan budaya kami memang terbatas. Jadi wajar jika kami terlihat aneh. "Bukan aneh." Bima tersenyum. "Menarik. Aku suka orang yang berbeda." Lira masih tidak paham. Di alam dewa, pujian seperti ini biasanya diucapkan sebelum meminta bantuan—atau pengorbanan. "Apakah kamu membutuhkan sesuatu dariku? Jika bisa, akan kubantu." Bima tertawa. "Gak butuh apa-apa. Cuma pengen kenal kamu lebih dekat." "Kita sudah tinggal satu kos. Bukankah itu sudah cukup dekat?" "Lebih dekat lagi. Maksudku... mungkin kita bisa sering jalan berdua gini." Lira berpikir. Mungkin ini ritual pertemanan manusia. "Oh, aku mengerti. Kamu ingin menjadi sahabat dekat. Seperti ikatan persaudaraan?" "Bisa dibilang... gitu." Bima agak kikuk. "Baiklah. Aku setuju." Lira mengangguk. "Kakakku juga butuh lebih banyak teman." Bima senang. Mengira Lira menerima gayanya. "Jadi besok kita bisa nonton bioskop?" "Bioskop? Itu tempat pertunjukan gambar bergerak, ya? Aku belum pernah." "Wah, harus cobain! Aku ajak!" Lira mengangguk antusias. Ini kesempatan belajar budaya manusia lagi. --- Sore. Arsya pulang kerja dengan kelelahan mental. Spreadsheet hari ini sangat rumit. Saat tiba di kos, ia mendengar obrolan Lira dan Bima di teras. "Jadi besok jam empat sore aku jemput ya?" Bima. "Baik! Aku akan tanya izin kakakku dulu." Lira. Arsya mendekat. "Izin untuk apa?" "Bima mengajakku ke bioskop besok, Kak." Arsya langsung tegang. Bioskop? Tempat gelap? Berduaan? Insting protektifnya—sebagai dewa, sebagai kakak—langsung aktif. "Bioskop? Apa tujuannya?" Usahanya terdengar netral. "Cuma nonton film, Bang. Biar Lira bisa experience." "Film apa?" "Action. Tapi gak terlalu keras." Arsya tidak yakin. Tapi sebelum ia menjawab— Rania keluar dari kamar. "Wah, Bima mau ajak Lira nonton? Romantis ya." Goda Rania. Bima tersipu. "Bukan, Ran. Cuma teman." "Lho, tadi aku dengar kamu bilang 'aku suka orang yang berbeda'." Rania menyeringai. "Itu kan jelas-jelas nembak." Lira bingung. "Nembak? Artinya menyerang dengan senjata api?" Semua diam. Sejenak. Lalu Rania tertawa terbahak-bahak. "Lucu banget kamu, Li! Nembak itu maksudnya ngungkapin perasaan!" Lira memandang Bima. Mata membesar. "Kamu mengungkapkan perasaan? Perasaan apa?" Bima malu-malu. "Ya... perasaan... suka." "Suka? Sebagai teman? Atau...?" Lira masih tidak paham. Arsya mulai panik. Situasi ini bisa berbahaya. Jika Lira menolak dengan cara yang aneh, Bima bisa curiga. "Lira, ayo kita bicara di dalam dulu." Arsya menarik Lira. Tapi Bima buru-buru berkata. "Lira, aku emang suka sama kamu. Mau gak jadi pacarku?" --- Lira benar-benar bingung. Pacar? Di alam dewa, tidak ada konsep pacaran. Ada ikatan abadi. Persekutuan. Pelayanan. Tapi "pacar" adalah konsep asing. "Apakah ini semacam kontrak kerja sama?" Lira serius. "Dengan tujuan apa? Apakah ada benefit timbal balik?" Rania tertawa lagi. "Benefitnya ya kamu dapat cowok ganteng kayak Bima!" Bima tersenyum penuh harap. Arsya semakin panik. "Lira, kita bicara dulu." Desis Arsya. Tapi Lira penasaran. "Kalau jadi pacar, apa yang harus kulakukan?" "Ya... jalan bareng. Nonton. Saling jaga." Bima malu-malu. "Pegang tangan..." "Pegang tangan? Itu ritual ikatan? Apakah ada sumpah darah?" "LIRA!" Arsya hampir berteriak. "CUKUP!" --- Lira menoleh. "Kak, aku hanya ingin memahami. Ini penting untuk penelitian budaya manusia." Arsya menarik napas dalam-dalam. "Bima, maaf. Adikku belum siap untuk hubungan seperti itu. Dia masih sangat polos." "Gak apa-apa, Bang. Aku bisa nunggu." Rania tidak mau berhenti. "Lira, kamu suka nggak sama Bima?" Lira berpikir. "Aku suka dia sebagai teman. Dia baik. Membantu. Tidak marah saat aku membuat kesalahan." "Itu awal yang bagus!" Bima semangat. --- Naya keluar kamar. Earphone masih menempel. "Ribut banget sih. Mau tidur susah." "Naya, kamu nemenin deh. Bima lagi nembak Lira." Rania. Naya melepas earphone. "Serius? Di sini? Gak romantis amat." "Jadi gimana, Lira?" Bima lagi. Lira melihat Arsya. Matanya melotot penuh peringatan. "Aku... harus menolak dengan hormat." Jeda. "Maaf, Bima. Aku belum siap." --- Bima wajahnya jatuh. "Oh... ya udah. Gak papa." Tapi Rania berkomentar. "Mungkin Lira punya tipe lain. Atau... sudah ada yang punya?" Lira bingung. "Punya? Maksudnya?" "Sudah ada cowok lain." "Tidak. Hanya kakakku dan... para dewa—!" Lira terhenti. Arsya langsung bereaksi. "Dia maksudnya 'dan para tetua' di kampung! Itu lelucon daerah kami! Ha... ha..." Suasana canggung. Naya memandang tajam. "Para tetua?" Bima. "Iya. Di kampung kami, kami sangat menghormati tetua." Arsya berkeringat dingin. "Sebutannya... Dewa-Dewi lokal!" "Ooh, budaya menarik." Bima masih sedih. Tapi penasaran. Naya tiba-tiba berkata. "Bima, mungkin lebih baik kamu pelan-pelan. Lira masih baru di sini." "Iya sih." Bima menunduk. "Maaf ya, Lira, kalau aku terlalu langsung." "Tidak apa-apa. Aku menghargai kejujuranmu." --- Krisis tampaknya sudah lewat. Tapi kemudian— "Kalau jadi pacar, apakah kita harus berbagi makanan juga?" Lira polos. "Di tempat asalku, berbagi makanan adalah ikatan sakral." Bima tersenyum lagi. "Bisa banget! Aku traktir kamu makan kapan aja!" "Lalu, apakah kita harus melindungi satu sama lain dari bahaya? Seperti serangan makhluk jahat atau bencana alam?" "Ya... maksudnya saling jaga lah." "Apakah ikatan ini bersifat eksklusif? Atau boleh memiliki banyak pacar sekaligus?" Rania tertawa terpingkal-pingkal. "Gak bisa banyak-banyak! Satu aja!" "Tapi di alam—di beberapa daerah, poligami diperbolehkan." Arsya cepat menyela. "SUDAH! Cukup pertanyaannya!" Dia menarik Lira ke dalam kamar. --- Pintu tertutup. "Hampir saja kau katakan 'di alam dewa'!" Arsya mendesis. "Maaf, Kak! Tapi ini sangat menarik!" Lira tidak menyesal. "Manusia memiliki sistem ikatan romantis yang kompleks!" "Iya, tapi kita tidak bisa terlibat! Kita harus tetap rendah profil!" "Tapi Bima baik. Dan dia tidak marah saat aku menolak." "Itu bagus. Tapi lain kali, jika ada yang mengungkapkan perasaan, katakan saja 'tidak, terima kasih'. Jangan ajukan pertanyaan analitis!" "Siap, Kak." --- Di luar. Bima masih duduk di teras. Wajah kecewa. Naya duduk di sampingnya. "Jangan terlalu dipikirin. Dia memang masih aneh." "Aku cuma bingung. Dia kayak bukan dari dunia ini." "Mungkin memang begitu." Rania mendekat. "Bima, gak usah sedih. Nanti Ibu Ran temenin kamu nonton." "Gak usah, Ran. Aku mau sendiri dulu." --- Malam. Makan malam. Suasana canggung. Bu Rini bertanya, "Kok pada diam? Ada apa?" "Bima lagi patah hati, Bu." Rania bercanda. "Patah hati? Sama siapa?" "Lira." Bu Rini memandang Lira. "Kamu tolak Bima?" Lira mengangguk. "Aku belum siap, Bu." "Ya sudah. Bima, cari yang lain. Banyak ikan di laut." Bima hanya mengangguk. Malu. --- Setelah makan. Naya membantu Arsya mencuci piring. "Tadi hampir meledak ya." Naya. "Ya. Lira sangat polos." "Polos? Atau tidak mengerti budaya kita sama sekali?" Arsya berhenti mencuci. "Apa maksudmu?" "Gak ada. Cuma observasi." Arsya ingin menjelaskan. Tapi tidak bisa. Ia hanya mencuci piring lebih keras. --- Malam. Kamar 207. "Kak." Lira bertanya. "Apakah menolak Bima adalah keputusan yang tepat?" "Ya. Kita tidak bisa terlibat hubungan romantis dengan manusia. Itu terlalu berisiko." "Tapi katanya kita harus beradaptasi." "Adaptasi bukan berarti harus pacaran." "Kalau suatu hari nanti kakak jatuh cinta pada Naya, apakah kakak juga akan menolak?" Arsya terdiam. Pertanyaan itu... Ia belum pernah memikirkannya. "Itu... tidak akan terjadi." "Tapi hari ini kakak melihat Naya dengan ekspresi yang berbeda." "Lira." "Tidur saja." --- Arsya berbaring di lantai. Gelap. Pertanyaan Lira mengganggu pikirannya. Apakah mungkin? Dewa jatuh cinta pada manusia? Itu melanggar segala aturan. Tapi mereka sudah terdampar di dunia manusia. Mungkin aturan juga berbeda. --- Di kamar 205. Bima menyesali diri karena terlalu terburu-buru. --- Di kamar 206. Rania berpikir. Ini kesempatan untuk mendekati Arsya. Dia sedang fokus melindungi adiknya. --- Di kamar 204. Naya membuka laptop. Mencari resep teh tarik. Bukan untuk siapa-siapa. Cuma penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN