"Tuan, aku punya rencana sempurna untuk mendapatkan Kartu Tanda Penyembahan itu!"
Arsya mengangkat kepala dari tumpukan dokumen.
"Kartu... apa?"
"Kartu Tanda Penyembahan! Yang Tuan butuhkan untuk menjadi manusia legal!"
Lira berdiri gagah di tengah kamar. Memegang papan tulis kecil—hasil curian dari kantor.
"Lira, itu KTP. Kartu Tanda Penduduk. Bukan penyembahan."
"Ah, sama saja!" Lira tidak peduli. "Di alam kita, dokumen resmi selalu melibatkan ritual penyembahan pada penguasa setempat!"
Arsya menghela napas.
Ini akan panjang.
---
Lira mulai menggambar di papan tulis. Spidol merah. Lingkaran-lingkaran misterius.
"Pertama, kita perlu persembahan. Manusia menyukai kertas berwarna hijau, kan? Uang!"
"Itu bukan persembahan, Lira. Itu pembayaran."
"Kedua, kita perlu perantara." Ia mencoret panah. "Seorang pemimpin upacara yang mengenal jalur birokrasi!"
"Kamu maksud... pegawai catatan sipil?"
"Ketiga!" Lira mencoretkan lingkaran besar. "Mantra pengikat! Ada kata-kata sakti yang harus diucapkan: 'Nama lengkap, tempat lahir, tanggal lahir'!"
Arsya menutup mata.
"Lira. Itu data diri. Bukan mantra."
"Tapi rencanaku sudah sempurna!" Lira membuka lemari. "Aku bahkan sudah menyiapkan sesajen!"
Tiga bungkus mie instan. Satu botol saus sambal.
"Mie instan?"
"Persembahan untuk roh administrasi!" Lira mengangguk yakin. "Aku dengar mereka bekerja sampai larut. Pasti lapar!"
---
Tok tok tok.
"Ada yang di dalam?"
Lira kaget. "Perantara datang! Cepat, siapkan sesajen!"
Sebelum Arsya bisa mencegah, pintu terbuka.
Bima berdiri di luar. Wajah bingung.
"Eh, mau minjam panci—"
Ia terhenti. Melihat papan tulis penuh coretan merah. Lingkaran. Panah. Tulisan "KARTU PENYEMBAHAN".
"Lagi ngapain?"
"Kami sedang merencanakan ritual pengambilan Kartu Tanda Penyembahan!" Lira serius.
Bima mengernyit. "Ritual... apa?"
"Jangan dengarkan dia—" Arsya mencoba menyela.
"Tuan butuh KTP!" Lira terus saja. "Dan menurut risetku, butuh tiga tahap: persembahan, perantara, dan mantra!"
Bima matanya berbinar. "Wah, roleplay? Asik nih! Aku suka game fantasy!"
"Bukan game, ini serius!" Lira menarik lengan Bima. "Kau akan jadi perantara kami! Kau tahu jalur birokrasi, kan?"
"Ehm... pernah urus KTP sih." Bima menggaruk kepala. "Tapi nggak pakai ritual."
"Bagus! Jadi kau pemimpin upacara!"
Arsya mencoba menarik Lira. "Lira, ini bukan—"
"Tenang, Tuan!" Lira berbisik keras. "Aku sudah mempelajari budaya manusia! Mereka suka hal-hal simbolis! Lihat saja acara pernikahan mereka, penuh ritual aneh!"
Bima—yang mendengar bisikan itu—salah paham total.
"Oh, kalian mau bikin acara pengambilan KTP yang dramatis?" Ia tersenyum lebar. "Boleh juga! Biar aku yang atur!"
"TIDAK!" teriak Arsya.
Terlambat.
---
Bima sudah mengambil alih papan tulis.
"Oke, jadi kita perlu: lokasi suci—kantor catatan sipil! Waktu suci—jam kerja! Dan... persembahan!"
Lira mengangguk-angguk antusias. "Sudah siap! Tiga bungkus mie dan saus sambal!"
Bima terkekeh. "Mie? Lebih baik kita bawa kue atau rokok buat nyogok—eh, maksudku buat bikin baik hati petugasnya."
"Rokok? Itu persembahan untuk roh api?"
"Bukan, ini untuk—ah, sudahlah." Bima melambaikan tangan. "Aku ada kenalan di catatan sipil. Tapi dia cuma bisa bantu kalau dateng pagi-pagi."
"Paginya fajar?" Lira bersemangat. "Waktu terbaik untuk ritual!"
"Jam tujuh pagi."
"Fajar administratif! Sempurna!"
Arsya memegang kepala.
"Kalian berdua, dengarkan—"
"Besok pagi kita berangkat!" Bima menepuk punggung Arsya. "Aku jemput jam setengah tujuh. Pakai baju yang rapi, ya! Biar kayak mau upacara beneran!"
"AKU TIDAK SETUJU DENGAN INI!"
Lira dan Bima sudah high-five.
Rencana kacau disetujui.
---
Esok pagi. Jam 06.30.
Ketukan keras di pintu.
"Tuan! Bangun! Waktunya ritual!"
Arsya menggerutu. Semalam ia sudah mencoba membatalkan rencana ini. Tapi Lira bersikeras.
"Ini untuk kebaikan Tuan! Kita harus punya identitas!"
Di luar, Bima sudah menunggu dengan motor tiga.
"Ayo! Biar aku antar ke kuil administrasi!"
"Bukan kuil—"
Percuma.
---
Perjalanan ke kantor catatan sipil penuh dengan penjelasan salah Bima.
"Jadi nanti kita ketemu Mas Agus. Dia temen SMP aku. Kerja di bagian pendaftaran." Bima bersiap membelok. "Tapi jangan sebut-sebut soal ritual ya. Dia orangnya serius."
"Tapi bagaimana dengan persembahan?" Lira di jok belakang.
"Ah, bawa aja itu mie. Tapi sembunyiin."
Lira memeluk tas berisi mie instan seperti membawa benda suci.
"Aku paham. Persembahan rahasia."
---
Sesampainya di kantor, Arsya langsung merasa ini ide buruk.
Gedung ramai. Antrean panjang. Suasana birokratis yang dingin.
"Tinggal ikuti aku." Bima berbisik. "Aku yang ngomong."
Mereka masuk. Bima langsung menuju loket tertentu.
"Mas Agus! Lama nggak ketemu!"
Petugas muda di balik loket mengangkat kepala.
"Bima?" Ia mengernyit. "Lu ngapain sini?"
"Temen aku mau urus KTP." Bima menunjuk ke belakang. "Nih, Arsya dan adiknya, Lira."
Agus melihat Arsya dan Lira. "Oke, dateng pagi-pagi bagus. Bawa dokumen?"
Arsya gelagapan.
"Saya... belum punya dokumen sama sekali."
Agus mengernyit. "Lah, gimana mau bikin KTP nggak ada dokumen? Akte lahir? KK?"
Lira maju ke depan.
"Kami membawa persembahan!"
Dia mengeluarkan tiga bungkus mie instan. Menaruhnya di meja dengan khidmat.
Agus memandang mie itu. Lalu memandang Bima.
"Lu bawa orang gila ya?"
"Bukan! Mereka cuma... unik!" Bima tersenyum kaku.
"Persembahan untuk roh administrasi." Lira menjelaskan dengan serius. "Agar prosesnya lancar."
Agus menggeleng. "Bima, ini nggak lucu. Gue kerja beneran di sini."
"Tolong dong, Agus." Bima memelas. "Mereka dari desa terpencil. Nggak paham prosedur."
---
Sementara mereka berbicara, Lira memperhatikan orang-orang yang mengantre.
Mereka membawa berkas-berkas. Mengisi formulir. Wajah konsentrasi.
"Tuan." Bisik Lira pada Arsya. "Mereka sedang menulis mantra pada kertas! Lihat betapa konsentrasinya!"
"Bukan mantra, Lira. Itu formulir."
"Ah! Formulir!" Lira mengangguk. "Itu nama mantra resminya!"
Tiba-tiba—
"ANAK SAYA DIPERSUSAH TERUS! SUDAH TIGA KALI DATANG!"
Seorang ibu tua berteriak di loket sebelah.
Petugas di balik loket menjawab datar. "Ibu, berkasnya tidak lengkap."
Lira mendengus. "Roh administrasi sedang marah." Ia mengamati situasi. "Persembahan kita kurang kuat."
"Lira, tolong jangan—"
Tapi Lira sudah bergerak.
Dia mengambil saus sambal dari tas.
"Mungkin ini tambahan yang dibutuhkan!"
Dia berjalan ke loket yang ribut. Meletakkan botol saus sambal di depan petugas.
"Untuk meredakan amarah roh administrasi."
---
Petugas itu melotot.
"Apa ini?"
"Persembahan tambahan." Lira tersenyum. "Mie sudah ada di loket sebelah."
Ibu tua yang sedang marah malah tertawa.
"Dasar anak muda lucu."
Petugas mengangkat telepon.
"Satpam ke loket 3."
Bima panik. "Lira, JANGAN!"
Satpam datang. Seragam lengkap. Wajah garang.
"Ada masalah?"
Lira melihat satpam. Matanya membesar.
"PRAJURIT KERAJAAN!"
"Bukan prajurit—" Arsya menarik lengan Lira.
"Tuan! Prajurit kerajaan datang!" Lira berbisik panik. "Apakah kita melanggar aturan ritual?!"
Satpam mendekat. "Mau urus KTP? Antre yang bener. Jangan ganggu pengunjung lain."
Tapi Lira sudah masuk mode panik.
"KAMI HANYA MEMBAWA PERSEMBAHAN UNTUK ROH—"
"LIRA, DIAM!" Arsya dan Bima bersamaan.
Terlambat.
Lira mengambil semua mie dari tas. Menumpahkannya di lantai.
"AMBILLAH SEMUA PERSEMBAHAN KAMI! JANGAN MARAH!"
---
Semua orang di ruangan berhenti.
Antrean membeku. Petugas loket lain menoleh. Ibu tua berhenti marah.
Semua mata tertuju pada mereka.
Tiga bungkus mie instan berserakan di lantai keramik.
Satu botol saus sambal terguling di meja loket.
Agus dari balik kaca memegang kening.
"Bima..." Suaranya lelah. "Bawa temen lu pergi. Sekarang."
Bima menarik Arsya dan Lira.
"Ayo kita pergi dulu!"
Tapi Lira masih belum selesai.
"Tapi ritualnya belum—"
"TIDAK ADA RITUAL!" teriak Arsya dan Bima bersamaan.
Mereka menyeret Lira keluar. Meninggalkan tumpukan mie. Botol saus sambal. Dan puluhan pasang mata yang memandang mereka seperti melihat makhluk dari dimensi lain.
---
Di luar gedung.
Arsya bernapas dalam-dalam. Berusaha tenang.
"Lira..." Suaranya rendah. "Apa yang kau pikirkan?"
"Aku hanya ingin membantu, Tuan." Lira menunduk. "Ritualnya gagal. Roh administrasi terlalu kuat."
Bima tiba-tiba meledak.
Tertawa. Terbahak-bahak. Memegang perut.
"Gue... gue nggak bisa..." Napasnya tersendat. "Itu... lucu banget!"
"Ini tidak lucu!" Arsya. "Kita hampir ditangkap!"
"Ditangkap?" Lira bingung. "Tapi kita hanya membawa persembahan..."
"Di dunia manusia, menawarkan mie instan ke petugas pemerintah disebut menyogok. Atau gangguan." Arsya. "Bukan ritual!"
"Oh."
Lira terdiam.
"Jadi... tidak ada roh administrasi?"
"Tidak ada! Hanya prosedur dan aturan!"
Bima masih tertawa. "Tapi... tapi ekspresi Mas Agus... priceless! Dia kayak lagi ngeliat orang gila!"
Arsya memandang Lira yang semakin menunduk.
"Lira." Suaranya melembut. "Aku menghargai niatmu. Tapi tolong... lain kali diskusikan dulu denganku."
"Baik, Tuan." Suaranya nyaris tak terdengar. "Maafkan aku."
Bima berhenti tertawa.
"Oke, serius dikit." Ia mengusap mata. "Sebenernya gue bisa bantu. Gue punya sepupu yang kerja di dinas kependudukan."
Jeda.
"Tapi... jangan bawa mie lagi ya."
"Tidak akan." Arsya tegas. "Tidak akan pernah lagi."
---
Kos Bu Rini. Siang.
Naya keluar dari kamar. Melihat mereka bertiga pulang dengan wajah kalah.
"Pulang dari mana pagi-pagi?" Nada datar.
"Urus... sesuatu." Arsya singkat.
Lira menunduk malu.
Naya melihat ekspresi mereka. Tidak bertanya lebih lanjut.
"Oke. Ada kopi di dapur kalo mau."
Naya masuk kembali.
Bima berbisik, "Gue akan hubungi sepupu gue. Jangan khawatir."
Jeda.
"Tapi... jangan ajak Lira bikin rencana lagi ya."
"Tidak akan." Arsya menghela napas.
Bima pergi.
---
Kamar 207.
Arsya duduk di kursi. Lira di lantai.
"Kau tahu." Arsya memecah keheningan. "Yang penting niatmu baik. Tapi cara manusia... berbeda."
"Aku paham sekarang, Tuan." Lira masih menunduk. "Aku akan belajar."
"Tapi..." Arsya tersenyum kecil. "Setidaknya hari ini tidak membosankan."
Lira mengangkat kepala.
"Benarkah?"
"Iya. Hidup di dunia manusia..." Arsya memandang langit-langit. "Selalu penuh kejutan."
---
Tok tok tok.
Bukan pintu. Jendela.
Arsya membuka tirai.
Di ambang jendela, sebuah kantong plastik kecil. Di dalamnya: tiga bungkus mie instan.
Ada kertas kecil terselip.
"Dari Agus. Bawa pas dateng lagi. Jangan ribut."
Arsya membacanya. Diam.
Lira mengintip. Matanya berbinar.
"Lihat, Tuan!" Suaranya bergetar haru. "Persembahan kita diterima!"
Arsya memandang mie instan itu. Lalu ke luar jendela.
Petugas itu—Agus—mungkin tidak mengerti ritual mereka. Mungkin tidak percaya pada roh administrasi.
Tapi dia masih punya rasa humor.
Mungkin itu juga semacam persembahan.
Arsya tersenyum.
"Ya." Ia menutup jendela. "Persembahan kita diterima."
Lira tersenyum lebar.
Mungkin ada harapan untuk KTP mereka.
Atau setidaknya, ada manusia yang memahami keanehan mereka.
Tapi satu yang pasti:
Lira tidak boleh lagi membuat rencana tanpa pengawasan.