BAB 23: KITAB SUCI

1338 Kata
"Gue ada temen di perpustakaan kampus. Dia bisa bantu cari aturan buat orang tanpa dokumen." Naya berdiri di depan pintu kamar Arsya. Ekspresi datar seperti biasa. Tapi tawarannya membuat Arsya tersentak. "Kamu... mau membantu kami?" "Ya. Liat kalian kayak orang tersesat di mall." Jeda. "Capek liatnya." Lira melompat dari balik pintu. "Kita akan ke kuil pengetahuan!" Matanya berbinar. "Aku sudah dengar tentang tempat itu! Ribuan kitab suci!" "Bukan kitab suci." Naya. "Buku biasa." "Tapi ada mantra-mantra di dalamnya, kan?" "Ada. Namanya 'informasi'." Arsya masih ragu. "Kami tidak ingin merepotkanmu." "Udah gue tawarin." Naya menyilangkan tangan. "Lagian gue juga mau cari referensi buat kerja. Sambil-sambil." Lira menggandeng lengan Arsya. "Tuan, ini kesempatan! Naya bersedia menjadi pemandu ritual pengetahuan!" "Aku tidak—" Naya menghela napas. "Oke, terserah." --- Perjalanan ke kampus penuh pertanyaan Lira. "Apakah di kuil pengetahuan ada pendeta khusus?" "Ada petugas perpustakaan." "Apakah kita harus membawa persembahan?" "Cukup kartu anggota. Tapi kalian belum punya, jadi pake kartu temen gue." "Kartu anggota? Itu semacam jimat akses?" Arsya mencoba menjelaskan. "Lira, perpustakaan itu tempat manusia menyimpan dan meminjam buku. Bukan kuil." "Tapi buku adalah sumber pengetahuan!" Lira tidak menyerah. "Sama seperti kitab suci di alam kita!" Naya memandang Lira. "Lu imajinatif banget." --- Perpustakaan kampus. Gedung besar, jendela kaca, mahasiswa serius di setiap sudut. Lira terkesima. "Betapa megah! Aku bisa merasakan aura pengetahuannya!" "Jangan berisik." Naya. "Ini tempat tenang." "Tenang... seperti sebelum ritual besar!" Naya tidak mengomentari. Mereka masuk. Naya langsung menuju meja informasi. Seorang perempuan berkacamata tersenyum. "Naya! Lama nggak kesini!" "Hey, Maya. Gue bawa temen yang butuh bantuan." Maya melirik Arsya dan Lira. "Wah, baru nih. Butuh apa?" "Mereka butuh informasi soal pembuatan akta kelahiran dan KTP tanpa dokumen awal." Maya mengernyit. "Itu agak ribet. Tapi ada prosedurnya. Coba cari di bagian koleksi hukum dan administrasi." "Di mana?" "Lantai dua, rak H." Maya melihat Lira yang sedang mengamati mesin pemindai buku dengan tatapan waspada. "Teman lu yang itu... baik-baik ya." "Gue jamin." --- Lantai dua. Lira langsung kewalahan. "Tuan! Rak-rak ini disusun dengan pola magis!" Ia menunjuk ke deretan nomor. "Lihat, semua buku punya kode yang sama!" "Itu sistem klasifikasi, Lira." Arsya berbisik. "Tapi sangat teratur! Seperti pasukan yang siap bertempur!" Naya memimpin ke rak H. "Ini. Cari buku tentang administrasi kependudukan." Arsya melihat deretan buku tebal. Matanya berkunang. "Semuanya... terlihat sama." "Sambil cari, gue mau ke rak sebelah ambil buku buat kerja." Naya. "Jangan pergi kemana-mana." "Jangan tinggalkan kami!" Lira panik. "Tenang. Cuma sebentar." --- Tapi "sebentar" bagi Naya terlalu lama bagi Lira. Setelah Naya pergi, Lira mulai menjelajah. Mesin peminjaman mandiri. Seorang mahasiswa memindai buku. Bip! Lira mendekat. "Tuan, lihat! Altar peminjaman! Manusia memasukkan kartu jimat, lalu buku keluar!" "Itu bukan—" "IA BERSINAR! DAN BERSERU!" "Itu bunyi scan berhasil, Lira." "Ah! Altar pengesahan!" Mahasiswa itu melirik Lira aneh, lalu pergi. Lira penasaran. Ia mengambil buku dari rak sembarang. Mencoba memindainya. Tidak punya kartu. Beeeep! Beeeep! "ALATNYA MARAH! APAKAH KITA TIDAK MEMBAWA PERSEMBAHAN?!" "Lira, kita tidak punya kartu. Itu sebabnya error." "Kartu... kartu... OH! AKU PUNYA!" Lira mengeluarkan kartu nama warung bakso dari saku. Menempelkannya ke scanner. Beeeep! "MASIH MARAH!" Arsya menarik lengan Lira. "Sudah. Kita cari buku yang dimaksud Naya." --- Tapi Lira sudah melihat sesuatu yang lebih menarik. Rak buku bergerak. Seorang petugas memutar tuas. Rak-rak berat itu bergeser perlahan, membuka lorong baru. Lira terpesona. "RAK BERGERAK! INI SIHIR ARSITEKTUR!" "Lira, jangan—" Lira sudah mendekat. Menempelkan telinga ke rak. "Aku bisa mendengar dengungan! Ada roh mesin di dalam!" Petugas melihatnya. "Eh, jangan dekat-dekat! Bahaya!" Tapi Lira sudah melihat celah kecil di antara dua rak. "Aku ingin melihat mekanismenya!" Dia menyelipkan kepala. "LIRA, JANGAN!" teriak Arsya. Petugas—tidak melihat Lira—memutar tuas. Rak bergerak menutup. "ADUH! KEPALAKU TERJEBAK!" Arsya panik. "TOLONG! HENTIKAN!" Petugas buru-buru membalik tuas. Tapi rak bergerak pelan. Lira terkepung. "TUAN! TOOOOLOOONG!" --- Naya datang berlari. Melihat Lira dengan kepala terjepit di antara dua rak. Dia hampir tertawa. Menahannya. "Lira, jangan bergerak." Suaranya tenang. "AKU TIDAK BISA BERGERAK! INI JEBAKAN PERPUSTAKAAN!" Petugas lain ikut membantu. Rak bergerak membuka perlahan. Tapi saat terbuka, Lira terlalu bersemangat. Menarik kepala keluar dengan kencang. Tanpa sengaja menarik buku-buku di rak samping. Satu dera buku jatuh beruntun. "LARI!" teriak Arsya. Naya berdiri di dekat tumpukan. Diam. Arsya melompat. Refleks dewa. Ia menarik Naya ke pelukannya. Berputar. Membelakangi buku-buku yang jatuh. BRAAAK! Buku berhamburan. Punggung Arsya menerima hantaman. Mereka berdua jatuh. Arsya di bawah. Naya di atasnya. Terkungkung dalam pelukan. --- Suasana hening. Lira mengintip dari balik rak yang sudah aman. "Wah." Naya mengangkat kepala. Pipinya—untuk pertama kalinya—memerah. "Lu... nggak apa-apa?" Arsya masih memegang Naya. Tidak segera melepaskan. "Kamu... tidak apa-apa?" "Gue baik-baik aja." Jeda. "Tapi lu jadi bantalan buku." Arsya baru merasakan sakit di punggung. "Aduh." Petugas berkerumun. "Apa-apaan ini?!" Maya datang dari lantai bawah. "Naya! Apa yang terjadi?!" "Kecelakaan kecil." Naya bangun. Membantu Arsya berdiri. "KECIL?!" petugas menunjuk kekacauan. "Lihat ini!" Lira bersembunyi di balik punggung Arsya. "Aku minta maaf! Aku hanya ingin memahami mekanisme rak ajaib!" "Rak ajaib?!" Petugas bingung. Naya mengambil alih. "Maaf, Pak. Temen gue dari desa. Baru pertama ke perpustakaan." "Desa mana yang nggak punya perpustakaan?!" "DiRaTim." Arsya dan Naya bersamaan. Petugas menghela napas. "Oke. Kalian harus merapikan buku-buku ini. DAN keluar dari sini. Sekarang." --- Setengah jam kemudian. Di luar perpustakaan. Maya menemani mereka, menggeleng-geleng. "Aku nggak percaya kalian bisa bikin kekacauan dalam lima belas menit." "Maaf, Maya." Naya. "Gue ganti rugi kalau ada yang rusak." "Alhamdulillah nggak ada yang rusak, cuma berantakan." Maya melihat Lira. "Tapi kepala perpustakaan marah. Kalian dilarang masuk selama sebulan." Lira menunduk. "Aku telah m*****i kuil pengetahuan." "Sudahlah." Arsya. "Yang penting tidak ada yang terluka." Naya melirik Arsya. "Punggung lu?" "Sedikit sakit. Tapi tidak apa-apa." "Gue punya salep di kos." "Tidak usah repot—" "Gue nawarin." Jeda. "Balas budi karena lu jadi bantalan buku." Maya melihat interaksi mereka. Tersenyum kecil. "Naya, temen lu ini... spesial ya." Naya tidak menjawab. Tapi telinganya merah. --- Perjalanan pulang. Lira terus meminta maaf. "Naya, maafkan aku. Aku merusak rencanamu." "Gue sih gapapa." Naya. "Tapi lu belajar nggak? Jangan sentuh sesuatu yang nggak lu paham." "Aku belajar!" Lira mengangguk sungguh-sungguh. "Perpustakaan adalah tempat yang sangat rapuh! Buku-bukunya mudah marah!" "Bukan itu pelajarannya—" Naya berhenti. "Ya sudahlah." --- Kos Bu Rini. Teras. Naya mengambil salep dari kamar. Menyerahkannya pada Arsya. "Olesin nanti. Jangan lupa." "Terima kasih." Lira melihat mereka. "AKU INGAT! AKU HARUS MEMBELI... s**u! SEKARANG!" Dia lari masuk ke kamar. Meninggalkan Arsya dan Naya berdua. Arsya tersenyum kecut. "Dia memberikan kita waktu sendirian dengan cara yang jelas sekali." "Lira emang gitu. Polos." Mereka duduk di bangku teras. Senja mulai turun. Langit jingga. "Maaf untuk hari ini." Arsya. "Kami selalu membuat kekacauan." "Nggak apa-apa." Naya menatap horizon. "Hidup sama kalian... nggak pernah boring." "Kamu tidak kesal?" "Kesel iya." Jeda. "Tapi lucu juga. Gue jarang ketemu orang kayak kalian." "Kami... memang berbeda." "Gue tahu." Naya. "Dan gue nggak nanya. Nanti kalo lu mau cerita, cerita aja." Arsya merasa dadanya hangat. "Kamu sangat baik pada kami." "Gue cuma manusia biasa." Naya. "Ngelihat orang kesulitan ya dibantu." --- "Untuk KTP." Naya melanjutkan. "Gue tanya ke Maya. Dia bilang ada jalur khusus buat orang tanpa dokumen. Tapi butuh surat dari kelurahan dan saksi." "Kami tidak kenal siapa-siapa." "Gue kenal pak RT. Bisa minta tolong." "Kenapa kamu membantu kami sebanyak ini?" Naya menatap Arsya. Matanya yang biasa cuek, sekarang lembut. "Karena... gue suka liat lu berusaha." Jeda. "Meski salah terus, tapi nggak nyerah." Arsya tersenyum. "Terima kasih." "Jangan senyum-senyum gitu. Ntar gue malu." Tapi Naya sendiri yang tersenyum kecil. --- Dari balik tirai, Lira mengintip. "Diam-diam manis," bisiknya. Bima lewat. "Lagi ngintip apa?" "SHHH! Jangan ganggu ritual pendekatan!" "Ritual apa lagi nih?" "Ritual... manusia berkoneksi." Lira tak mengalihkan pandangan. "Sangat indah." Bima ikut mengintip. "Wah, mereka berdua emang cocok ya." "Kakak sangat beruntung punya Naya." "Kamu juga beruntung punya kakak kayak Arsya." Lira tersenyum lebar. "Iya. Aku sangat beruntung." --- Di teras, tanpa mereka sadari— Jari kelingking Arsya dan Naya bersentuhan. Tidak ada yang menarik. Mereka diam saja. Menikmati senja. Dan keheningan yang nyaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN