BAB 24: TAK TERSAMARKAN

1457 Kata
"Kakak Arsya~!" Suara mendayu-dayu itu membuat bulu kuduk Arsya berdiri. Ia baru keluar dari kamar mandi. Rambut masih basah. Handuk di pundak. Rania sudah menunggu di depan pintu kamarnya. "Rania." Arsya mengangguk kaku. "Ada apa?" "Wah, habis mandi ya?" Rania menyeringai. "Wangi~" Lira yang mengintip dari balik pintu, langsung merapat. "Jadi, aku dengar dari Bu Rini." Rania menunduk, sok malu. "Kakak lagi cari cara bikin KTP tanpa dokumen?" Arsya mengangguk hati-hati. "Ya. Sedang mencari informasi." "Kebetulan banget!" Rania bertepuk tangan. "Aku punya sepupu kerja di dinas kependudukan! Dia bisa bantu!" Lira langsung melompat keluar. "BENARKAH? Kau punya perantara birokrasi?!" Rania memandang Lira dengan sedikit jengkel. Ganggu momen. "Iya, adik. Tapi... ini perlu pembicaraan khusus." Ia menekankan kata 'khusus'. "Berdua aja sama kakakmu." "KENAPA HARUS BERDUA?!" Lira curiga. "Aku asisten—eh, adiknya! Aku harus ikut!" "Nanti aja, ya." Rania tersenyum manis. "Ini urusan dewasa." Arsya merasa tidak nyaman. "Kalau bisa, Lira ikut. Dia bagian dari keluarga saya." "Tapi sepupuku mau ngobrol santai." Rania mengedip. "Mungkin kita bisa ketemu di café? Aku traktir." Lira mengernyit. "Café? Itu semacam altar minuman, kan?" Rania mengabaikan. "Gimana, Kak? Besok sore? Sepupuku cuma bisa ketemu di luar jam kerja." Arsya terjepit. Dia butuh bantuan. Tapi nalurinya berteriak: ini jebakan. "Saya... harus konsultasi dulu dengan Naya. Dia juga sedang membantu." "Eh, ngapain sama Naya?" Rania cemberut. "Dia mah cuma kenal pak RT. Sepupuku bisa langsung ke pusat!" Tepat di saat itu— Naya lewat dari dapur. Gelas di tangan. Teh di dalamnya. Dia mendengar semuanya. "Rania nawarin bantuan?" Nada datar. "Ya dong!" Rania mendongak. "Aku kan peduli sama tetangga." Naya memandang Arsya. "Lu mau terima?" "Sebenarnya—" "Kakak pasti mau!" potong Rania cepat. "Ini kan untuk kebaikan dia." Naya menyeruput teh. "Oke. Tapi jangan janjiin yang nggak bisa ditepatin." "Ah, Naya iri ya?" Rania tersenyum puas. "Soalnya aku yang bisa bantu lebih cepat?" "Gue nggak iri." Naya tanpa ekspresi. "Cuma ingetin aja." Dia masuk ke kamarnya. Brak. Pintu tertutup agak keras. Rania tersenyum puas. "Dia cemburu nih~" Arsya kebingungan. "Cemburu?" "Iya! Soalnya aku lebih bisa bantu kamu daripada dia!" Lira mengamati pintu Naya dengan serius. "Aku merasakan aura dingin yang menusuk." "Itu AC-nya nyala." Arsya. "BUKAN!" Lira menggeleng keras. "Itu aura cemburu! Di alam kita, cemburu itu dingin seperti es!" Rania tertawa. "Lucu banget adikmu." Ia bangkit, merapikan rambut. "Oke, besok jam empat sore ya? Aku jemput." "Tunggu—" Rania sudah berjalan pergi. Lenggak-lenggok. Percaya diri. --- Keesokan harinya. Jam 16.00. Rania berdiri di depan kosan dengan pakaian yang sangat mencolok. Gaun merah. Heels tinggi. Makeup lengkap. "Kakak Arsya~! Ayo kita pergi!" Arsya keluar dengan kemeja biasa. Celana jeans. Wajah datar—tapi bingung. "Kita memang harus pergi seperti ini?" "Kan mau ketemu sepupu aku." Rania mengedip. "Dia suka yang rapi~" Lira keluar dari kamar. Ransel besar di punggung. "Aku siap!" Rania terkejut. "Kok kamu ikut?!" "Aku penjaga kakak!" Lira tegas. "Di tempat asing, selalu butuh pengawal!" "Tapi—" "Biarkan dia ikut." Arsya cepat. "Saya lebih nyaman dengan Lira." Rania menghela napas dramatis. "Ya sudah. Tapi jangan ganggu pembicaraan kami ya." --- Taksi online. Rania duduk di depan. Arsya dan Lira di belakang. Sepanjang perjalanan, Rania bercerita. "Sepupuku itu, Reno, orangnya sangat berkuasa." Ia memoles bibir di kaca spion. "Bisa mengatur segalanya." "Bisa bikin KTP dalam seminggu! Nggak pakai ribet!" Arsya mengernyit. "Tapi bukankah prosesnya butuh waktu?" "Buat orang biasa iya." Rania tersenyum. "Tapi sepupuku punya koneksi~" Lira mencondongkan badan dari jok belakang. "Apakah sepupu Anda... penyihir birokrasi?" Rania menoleh sekilas. "Bukan penyihir! Hanya punya kenalan!" "Kenalan..." Lira merenung. "...seperti sekutu dalam permainan kekuasaan?" Rania memandang Arsya di kaca spion. "Adikmu ini imajinatif banget ya?" "Ya." Arsya menghela napas. "Dia... kreatif." --- Café. Sudut tersembunyi. Rania memilih meja di pojok. Tersembunyi. Remang. "Sepupuku belum datang. Kita tunggu dulu." Lira duduk dengan waspada. Matanya mengamati setiap sudut. "Banyak manusia berkumpul di sini." Ia berbisik. "Apakah ini tempat pertemuan rahasia?" "Café biasa, Li." Arsya. Tapi Lira sudah melihat sesuatu. Mesin kopi di bar. Asap. Bunyi desis. "Tuan—eh, kakak!" Ia menunjuk. "Lihat! Altar pembuat ramuan hitam! Ada asap dan bunyi desis!" "Itu mesin espresso, Lira." "Espresso..." Lira mengulang pelan. "...nama mantra kopi?" Rania terkekeh. "Kamu nggak pernah ke café ya?" "Kami dari desa terpencil." Arsya cepat. "DiRaTim." "Oh iya, lupa." Rania tersenyum. "Makanya lucu." --- Pelayan datang. Lira memesan jus alpukat. Minuman datang. Daun mint di atasnya. Taburan biskuit di pinggir gelas. Lira menatapnya dengan serius. "Minuman ini... ada hiasan perang di atasnya?" "Itu garnish, Lira." Arsya. "Bisa dimakan." "Tapi bentuknya seperti perisai kecil!" Lira takjub. "Apakah ini minuman prajurit?" Rania tertawa terbahak-bahak. "Kakak, adikmu ini hiburan banget!" --- "Maaf telat!" Seorang lelaki berjas rapi datang. Duduk tanpa permisi. Rania tersenyum lebar. "Ini sepupuku, Reno!" Reno memandang Arsya dan Lira dari ujung kepala ke kaki. "Jadi ini yang butuh bantuan?" "Ya!" Rania mendekatkan kursinya. "Mereka dari desa, nggak punya dokumen sama sekali." Reno mengangguk. Satu. "Bisa diatur." Jeda. "Tapi..." Ia menatap Arsya. "Butuh biaya administrasi tambahan." "Berapa?" Arsya. "Lima juta." Reno tersenyum tipis. "Buat 'pelancaran'." Lira terkesiap. "LIMA JUTA?!" Suaranya nyaring. "Itu persembahan yang sangat besar!" "Bukan persembahan." Reno. "Ini uang pelicin." Arsya diam. "Saya perlu berpikir dulu." "Jangan lama-lama." Reno melihat arloji. "Slotnya terbatas." Rania menepuk lengan Arsya. "Cepetan, Kak. Kesempatan langka!" --- Dari balik tanaman hias— Naya. Duduk sendiri di meja sebelah. Membaca buku. Ekspresi datar. Seolah kebetulan. Arsya terkejut. "Naya?" Naya mengangkat kepala. "Oh, lu juga di sini?" Suara santai. "Kebetulan." "Kamu... di sini sendirian?" "Iya. Habis dari perpustakaan umum." Jeda. "Mau pulang tapi kehujanan. Mampir dulu." Rania cemberut. "Kebetulan banget ya." "Emang." Naya pendek. Kembali ke bukunya. Tapi Lira memperhatikan sesuatu. Buku itu terbalik. "Kakak." Bisik Lira. "Buku Naya terbalik." Arsya melihat. Benar. Halamannya terbalik. Sampul menghadap ke atas. Tapi Naya tetap membaca. --- Reno mendesak. "Gimana? Setuju nggak?" "Boleh saya hubungi nanti?" Arsya. "Hubungi Rania aja. Dia yang atur." Reno pergi. Rania langsung menggoda. "Jadi, Kak? Gimana?" Ia mendekat. "Aku bisa bantu nego turunin harganya~" Jeda. "Tapi... mungkin kita bisa ngobrol berdua dulu?" Ia melirik Lira. "Tanpa adik?" Lira langsung waspada. "AKU TIDAK AKAN PERGI!" Tegas. "Aku pengawal tetap!" --- Terjadi. Pelayan membawa tray. Tiga gelas minuman panas. Melewati meja Naya. Naya menjulurkan kaki. Pelayan tersandung. Tray terlempar. Tiga gelas kopi MELUNCUR ke arah meja Rania. "AAAAH!" Arsya bereaksi cepat. Refleks dewa. Menarik Rania. Menarik Lira. Satu gelas masih mengenai lengan Rania. "PANAS! PANAS!" Naya berdiri. "Aduh, maaf." Suara datar. "Gue nggak sengaja." Ekspresinya: tidak terlihat menyesal. Pelayan panik. "Maaf, mbak! Saya ganti!" Rania marah. "Gaun aku baru! Dari Paris!" "Itu brand lokal, Ran." Naya tanpa ekspresi. "Gue liat di e-commerce seminggu lalu." Rania memerah. "Kamu sengaja ya?!" "Kecelakaan." Tapi Arsya melihat. Naya sengaja menjulurkan kaki. Dan matanya—biasanya cuek—sekarang ada sedikit kepuasan. Lira berbisik ke Arsya. "Naya sedang berperang diam-diam, Tuan! Ini strategi gangguan!" --- Taksi online. Pulang. Rania duduk di depan. Mengomel terus. "Gaun rusak! Malu! Kacau!" Naya dan Arsya di belakang. Lira di tengah. Lira memperhatikan Naya. Tangannya mengepal. Jari-jari putih. "Kakak." Bisik Lira ke Arsya. "Aku punya teori." "Apa?" "Naya cemburu." Jeda. "Tapi dia menyembunyikannya dengan serangan terselubung." "Kamu berpikir terlalu jauh." "TIDAK! Lihat tangannya! Dia mengepal! Itu tanda kemarahan terpendam!" Arsya diam. Tidak membantah. --- Kos Bu Rini. Teras. Naya langsung masuk ke kamar. Tanpa pamit. Rania masih di teras. "Kakak Arsya, besok kita lanjut bicara, ya?" Ia merapikan rambut. "Aku coba nego sama Reno." "Tidak usah." Rania terkejut. "Saya akan coba jalur RT dulu." Arsya tegas. "Terima kasih atas bantuannya." "Tapi—" "Sudah." Arsya. "Saya tidak nyaman dengan cara yang ditawarkan sepupumu." Rania mendengus. Masuk ke kamar. Kesal. Tinggal Arsya dan Lira di teras. --- "Tuan." Lira memandang langit senja. "Aku belajar sesuatu hari ini." "Apa?" "Cemburu manusia itu... rumit." Jeda. "Tapi indah." "Indah?" "Iya. Naya yang biasanya cuek, hari ini berperang untuk Tuan." Lira tersenyum. "Diam-diam. Itu sangat... romantis." Arsya tersenyum. "Kau mungkin benar." "Dan Rania..." Lira menghela napas. "Dia seperti musuh dalam permainan strategi. Tapi terlalu jelas gerakannya." "Kita tidak butuh permainan strategi, Lira." Arsya. "Kita hanya butuh hidup tenang." "Tapi dengan Naya, hidup tidak pernah tenang, kan?" Arsya tertawa. "Benar." --- Malam. Kamar 207. Tok tok tok. Naya di depan pintu. Kotak kecil di tangan. "Salep buat luka bakar." Suara datar. "Kasih ke Rania." Arsya menerima. "Kamu membelinya?" "Iya." Jeda. "Meskipun dia nyebelin, tapi tetep tetangga." "Terima kasih." "Gue nggak sengaja tadi. Sungguh." Mata Naya tidak bisa berbohong. Ada rasa bersalah di sana. Sedikit. "Tidak apa-apa." Arsya. "Rania baik-baik saja." "Oke." Naya berbalik. Lalu berhenti. "Lu nggak jadi pake jasa sepupunya kan?" "Tidak." "Bagus." Nada datar. "RT lebih aman." Naya pergi. --- Arsya memandang kotak salep di tangannya. Tersenyum. Lira mengintip dari balik pintu. Berbisik pada diri sendiri: "Pertahanan: mengusir musuh." "Serangan: menjatuhkan kopi." "Rekonsiliasi: memberikan salep." Ia mengangguk kagum. "Strategi sempurna."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN