"KITA AKAN MAKAN MALAM BERSAMA! SEMUA HARUS DATANG! NGAKAK BOLEH ADA YANG BOLOS!"
Bu Rini berteriak dari depan pintu kamar masing-masing penghuni.
Suaranya seperti terompet perang.
Lira yang mendengar, langsung bersiap siaga.
"Makan malam bersama?" Matanya membelalak. "Apakah ini ritual persatuan suku?"
"Bukan ritual, Lira." Arsya mengenakan kaus yang tidak sobek. "Hanya makan bersama."
"Tapi Bu Rini bilang 'mempererat silaturahmi'." Lira mengernyit. "Itu terdengar seperti mantra pengikat persaudaraan!"
"Silaturahmi artinya hubungan kekeluargaan."
"Ah!" Lira tersenyum lebar. "Jadi kita akan mengikat tali persaudaraan melalui konsumsi makanan bersama! Seperti ritual persembahan pada dewa persatuan!"
Arsya menghela napas.
Ini akan menjadi malam yang panjang.
---
Pukul 19.00. Ruang tengah kosan sudah disulap.
Meja panjang. Taplak plastik bermotif bunga. Enam kursi rapi.
Di tengah meja: nasi putih, ayam goreng, tempe, tahu, sayur asem, dan sambal.
Bu Rini berdiri di kepala meja seperti ratu yang memerintah.
"Semua sudah datang? Ayo duduk!"
Naya datang pertama. Duduk di sisi kiri. Bima di sebelahnya.
Rania datang dengan gaun rumah—tapi masih terlihat glamor. Duduk di sisi kanan, tepat di seberang Naya.
Lira dan Arsya datang terakhir.
Lira memandang meja dengan kagum.
"Meja persembahan!" Ia menunjuk satu per satu. "Lihatlah berbagai jenis makanan! Ini pasti untuk menyenangkan banyak dewa!"
"Bukan, Lira." Arsya menarik kursi. "Ini untuk kita makan."
Mereka duduk. Arsya di antara Lira dan Bima.
Berhadapan dengan Naya.
Dan di samping Naya: Rania.
Rania tersenyum manis. "Wah, kita berhadapan, Kak Arsya~"
Naya mengambil sendok. Gerakannya agak keras.
Klak!
---
Bu Rini memulai. "Ayo kita mulai. Tapi sebelum makan, kita doa dulu."
"DOA!" Lira bersemangat. "RITUAL PEMBUKA!"
"Shhh." Arsya mendesis.
Mereka menundukkan kepala.
Bu Rini memimpin doa singkat. Lira menirukan dengan mata tertutup rapat, bibir komat-kamit penuh penghayatan.
Setelah doa, Bu Rini berkata, "Silakan makan."
Kekacauan dimulai.
---
INSIDEN PERTAMA: PENJAGA NASI
Lira memperhatikan orang lain menyendok nasi dari magicom.
Tapi dia bingung.
"Kakak." Ia berbisik. "Mengapa mereka mengambil makanan dari kotak ajaib itu? Apakah ini altar nasi abadi?"
"Itu rice cooker, Lira. Tempat memasak nasi."
"Tapi ia mengeluarkan nasi tanpa api!" Lira takjub. "Sihir!"
Rania terkekeh. "Dasar anak desa."
Naya meletakkan sendoknya. "Lu dulu pertama kali liat rice cooker umur berapa?"
Rania tersenyum tipis. "Umur lima taun lah. Nggak kayak adik Lira yang kayak baru turun gunung."
Lira mengabaikan mereka. Ia mendekati magicom dengan hati-hati—seperti mendekati makhluk sakral.
Dibuka tutupnya.
Uap panas keluar.
"IA MENGHEMBUSKAN NAPAS PANAS! IA HIDUP!"
"Lira, itu uap—"
Tapi Lira sudah bereaksi.
Refleks dewa. Ia melompat mundur. Berteriak.
"PENJAGA NASI! JANGAN MARAH!"
Semua terkejut.
Bima sampai nasi di sendoknya jatuh kembali ke piring.
Bu Rini menggeleng. "Dik Lira, itu cuma uap panas."
"Tapi ia bergerak seperti naga!"
"Sudah, ambil nasinya."
Lira akhirnya mengambil nasi.
Dengan cara yang aneh.
Ia menjauhkan tubuhnya. Menjulurkan tangan sepanjang mungkin. Menyendok dengan mata tertutup.
"Seperti mengambil telur naga," komentar Bima.
---
INSIDEN KEDUA: RAMUAN KEBAKARAN
Lira melihat sambal di tengah meja.
"Apa itu?"
"Sambal." Naya.
"Apakah ia ramuan pedas untuk meningkatkan keberanian?"
"Bisa dibilang gitu."
Lira mengambil sendok penuh sambal.
"AKU AKAN MENCOBA RITUAL KEBERANIAN!"
"Tidak, Lira! Itu pedas—"
Terlambat.
Lira memasukkan seluruh sendok sambal ke mulutnya.
Diam.
Matanya membelalak. Pipinya memerah. Mulutnya terbuka.
"AAAAH! API! ADA API DI MULUTKU!"
Dia berlari ke dapur. Mencari air.
Tapi malah mengambil botol minyak goreng.
"JANGAN!" teriak Arsya.
Lira sudah meneguk.
Dan langsung meludahkannya.
"BAHAN BAKAR! INI BAHAN BAKAR!"
Naya berdiri. Mengambil air putih. Menyerahkan.
"Minum."
Lira meminumnya dengan rakus.
"RITUAL KEBERANIAN ITU... SANGAT BERBAHAYA!"
Rania tertawa terbahak-bahak. "Kamu pikir sambal itu apa?"
"Ramuan dewa api!" Lira terisak. "Ternyata... terlalu kuat untukku!"
Arsya memandang Naya. "Terima kasih."
Naya mengangguk singkat. Lalu duduk kembali.
Tapi sebelum duduk, dia melirik Rania.
Tatapannya berkata: Kamu nggak membantu sama sekali.
Rania membalas dengan senyuman manis.
---
INSIDEN KETIGA: SENJATA MAKAN
Lira mulai mempelajari alat makan.
"Kakak." Ia memegang garpu. "Mengapa ada dua senjata untuk makan? Satu berbentuk garpu, satu sendok?"
"Bukan senjata." Arsya. "Sendok untuk makanan berkuah. Garpu untuk yang tidak."
"Tapi aku melihat Bima menggunakan garpu untuk nasi!"
Bima tersenyum. "Aku memang aneh."
Lira mencoba menggunakan garpu untuk mengambil tempe.
Tempe terpental.
Plop!
Mendarat di gaun Rania.
"AAAA! GAUN AKU!"
"Maaf!" Lira panik. "Tempe itu... memberontak!"
"Memberontak?" Rania berdiri. "Kamu sengaja ya?"
"Tidak! Garpuku memberontak!"
Rania mencoba membersihkan noda minyak di gaunnya.
"Ini gaun mahal, lho!"
Naya tanpa ekspresi. "Plastik juga gampang dibersihkan."
"INI BUKAN PLASTIK!"
"Terlihat seperti plastik."
Bu Rini menengahi. "Sudah, sudah. Rania, nanti Bu Rini bantu bersihkan. Lira, hati-hati."
Lira menunduk.
Tapi dalam hatinya, ia sudah mengambil pelajaran.
Garpu adalah senjata ofensif. Sendok adalah senjata defensif.
Harus memilih sesuai musuh—maksudku, makanan.
Arsya melihat ekspresinya. "Lira, makan saja dengan sendok."
---
INSIDEN KEEMPAT: KARTU TANDA PENYEMBAHAN
Bu Rini mencoba mencairkan suasana.
"Jadi, gimana kabar kalian semua?"
Bima langsung cerita. "Aku lagi sibuk skripsi. Tapi lebih sering main game."
Rania menyeringai. "Kakak Arsya gimana? Masih cari KTP?"
Arsya mengangguk. "Masih proses."
"Nih, aku masih nawarin bantuan sepupuku lho."
Naya menyeruput air. Tanpa melihat. "RT udah urus. Nggak perlu."
"Tapi RT lama! Sepupuku bisa cepat!"
"Resmi lebih baik."
Rania mendengus. "Naya kok jadi pengatur ya?"
"Gue cuma kasih saran."
Bu Rini melihat ketegangan. "Oke, oke. Yang penting Arsya dapet KTP. Jalur mana aja boleh."
Lira yang sedang mempelajari sepotong ayam, tiba-tiba berkata.
"Di tempat kami, KTP disebut Kartu Tanda Penyembahan."
Semua terdiam.
Bima mengernyit. "Kartu Tanda... Penyembahan?"
"Ya! Untuk menyembah penguasa setempat!"
"Lira." Arsya mendesis.
"Tapi di sini ternyata untuk tanda penduduk!" Lira tidak sadar. "Aneh, ya? Kenapa tidak sekalian untuk menyembah?"
Rania tertawa. "Kamu ini lucu banget. Nyembah siapa? Pak RT?"
"Bisa jadi! Atau Bu Rini!"
Bu Rini terkekeh. "Aku nggak mau disembah. Cukup bayar kos tepat waktu."
Naya melihat Arsya yang mulai panik. "Mereka dari desa. Istilahnya beda."
Tapi Rania tidak mau melepas. "Desa apa yang nyebut KTP begitu?"
"DiRaTim." Arsya dan Naya bersamaan.
Rania mengedip. "Desa itu sering dibicarakan ya? Kayak desa legenda."
"Desa nyata." Naya pendek.
---
INSIDEN KELIMA: KUE YANG TERBANG
Setelah makan utama, Bu Rini mengeluarkan kue bolu.
"Ini buatan sendiri!"
Lira memandang kue dengan takjub.
"Kue ritual penutup!" Matanya berbinar. "Bentuknya seperti bantal empuk!"
Bu Rini memotong kue. Membagikan ke semua orang.
Sampai pada Lira.
"Apakah kita harus memakannya dengan mantra khusus?"
"Nggak usah mantra. Langsung makan."
Lira menerima potongan kue.
Tapi dia memperhatikan sesuatu.
Kue itu ada pori-porinya.
"Kue ini... bernapas!"
"Itu pori-pori kue, Lira." Arsya. "Hasil dari pengembangan."
"PENGEMBANGAN?" Lira kaget. "Apakah ia tumbuh seperti makhluk hidup?"
Bima—yang sudah tidak tahan—main-main.
"Iya! Kalau dikasih s**u, bisa jadi lebih besar!"
Lira percaya. "SERIUS?"
"Jangan dihasut, Bima." Naya.
Tapi Lira sudah mencuri gelas s**u Bima.
Menuangkannya ke kue.
Tentu saja tidak terjadi apa-apa.
Kue hanya basah.
"Kenapa tidak berkembang?"
"Bima becanda, Lira." Arsya.
Lira tidak menyerah.
Ia mengambil sendok. Menekan kue.
"Mungkin butuh tekanan—"
PRET!
Sebagian kue terpental ke udara.
Dan mendarat di wajah Rania.
---
Diam.
Diam yang mematikan.
Rania perlahan mengusap kue dari wajahnya.
Matanya berapi-api.
"KAMU... SENGAJA?!"
"Tidak!" Lira mundur. "Aku hanya mencoba ritual pengembangan!"
"RITUAL? AKU BUKAN MEDIUM RITUAL!"
Naya tiba-tiba—
Tersenyum.
Hanya sebentar. Tapi Arsya melihat.
Bu Rini berdiri. "Sudah! Lira, minta maaf! Rania, sabar ya."
Lira menunduk.
"Maaf, Rania. Kue itu... lebih bandel dari yang kukira."
Rania berdiri. Wajah masih penuh kue.
"Aku tidak tahan lagi! Setiap kali ada acara, kamu selalu bikin kekacauan!"
"Tapi aku hanya ingin memahami tradisi manusia!"
"TRADISI MAKAN BIASA! BUKAN RITUAL SUKU TERASING!"
Naya ikut berdiri. "Rania, dia kan beneran dari desa terpencil."
"Terpencil sampai nggak tahu cara makan?"
"Orang belajar dari pengalaman."
Arsya berdiri. "Maaf, Rania. Lira memang masih belajar. Saya akan bertanggung jawab membersihkan gaun Anda."
Rania melihat Arsya.
Lalu Naya.
Lalu Lira.
Ia menarik napas panjang.
"Sudah." Suaranya lelah. "Aku capek. Aku mau ke kamar."
Dia pergi.
Meninggalkan suasana tegang.
---
Bu Rini menghela napas.
"Dik Lira, lain kali lebih hati-hati ya."
"Aku minta maaf, Bu Rini." Lira menunduk. "Aku merusak acara persatuan suku."
"Bukan suku, silaturahmi."
"Ya, itu."
Bima tertawa. "Tapi seru sih. Makan malam nggak pernah semenarik ini."
Naya membersihkan meja tanpa bicara.
Arsya membantu.
"Maaf tentang tadi." Suaranya pelan.
"Nggak apa-apa." Naya mengelap piring. "Rania emang gampang emosi."
"Kamu tersenyum saat kue mengenainya."
Naya berhenti.
"Gue nggak."
"Aku melihat."
"... Mungkin sedikit."
Mereka tersenyum.
---
Lira membantu Bu Rini membawa piring ke dapur.
"Bu Rini." Ia ragu. "Apakah acara ini gagal?"
"Gagal?" Bu Rini terkekeh. "Nggak juga. Malah jadi momen yang akan kita ingat."
"Benarkah?"
"Iya." Bu Rini membilas sabun. "Keluarga itu bukan yang sempurna. Tapi yang bisa tertawa bersama meski ada masalah."
Lira berpikir.
"Seperti kami dan Naya?"
"Seperti kalian semua."
---
Malam. Setelah semuanya bersih.
Mereka kembali ke kamar masing-masing.
Tapi sebelum masuk, Naya memanggil Arsya.
"Ini." Ia memberikan sepotong kue yang diselamatkannya. "Untuk lu. Habisin aja."
"Terima kasih."
"Lira udah tidur?"
"Masih menulis catatan tentang 'ritual makan malam manusia'."
Naya hampir tertawa.
"Dia memang spesial."
"Kamu juga."
Naya menatap Arsya. Lalu menunduk.
"Sudah. Gue tidur dulu."
---
Arsya memandang kue di tangannya.
Tersenyum.
---
Di kamar 207, Lira menulis di buku catatannya.
"Ritual Makan Malam Suku Kosan."
"Pelajaran hari ini:"
"1. Rice cooker adalah altar nasi ajaib yang bisa menghembuskan napas."
"2. Sambal adalah ramuan dewa api. Tidak boleh dicoba tanpa pelindung."
"3. Garpu dan sendok adalah senjata. Harus dipilih sesuai musuh."
"4. Kue dapat digunakan sebagai senjata proyektil secara tidak sengaja."
"5. Rania adalah musuh yang mudah meledak. Harus dihindari."
"6. Naya adalah sekutu diam-diam yang efektif."
"7. Bu Rini adalah pemimpin suku yang bijaksana."
"8. Bima adalah penghibur yang tidak membantu."
"Kesimpulan: Ritual makan manusia sangat kompleks dan berbahaya."
"Tapi menyenangkan."
Ia menutup buku.
Tersenyum.