"Meeting jam 10 pagi via Zoom. Jangan telat. Dan tolong... jangan bikin malu."
Pesan Bima di grup w******p membuat tangan Arsya berkeringat.
Ini pertama kalinya dia harus bekerja dalam tim manusia. Dengan orang-orang yang tidak dikenal.
"Tenang, Tuan!" Lira sudah berdiri di sampingnya. Ekspresi siap tempur. "Aku akan menjadi asistenmu yang setia!"
"Lira. Meeting ini penting. Kamu harus diam." Arsya menatapnya. "Hanya duduk di belakangku. Tidak boleh bersuara."
"Tapi bagaimana jika ada serangan digital? Atau penyusup siber?"
"Tidak akan ada serangan. Ini hanya meeting biasa."
"Meeting..." Lira merenung. "...seperti pertemuan dewan tinggi?"
"Semacam itu." Arsya menghela napas. "Tapi lebih membosankan."
---
Persiapan dimulai pukul 08.00.
Arsya menyiapkan laptop pinjaman Bima. Mengatur latar belakang netral—dinding kosong tanpa poster. Berlatih di depan cermin.
"Perkenalkan, saya Arsya. Bagian input data. Senang bekerja sama dengan Anda semua."
Lira mengangguk-angguk. "Bagus! Tapi tambahkan sedikit aura wibawa."
Ia membusungkan d**a. Mengerutkan kening.
"Seperti ini."
"Lira, ini meeting kerja. Bukan deklarasi perang."
"Semua pertemuan adalah medan perang, Tuan!" Lira mengepalkan tangan. "Hanya senjatanya berbeda!"
---
Pukul 09.30. Naya mengetuk pintu.
"Persiapan gimana?"
Arsya membuka pintu dengan wajah pucat.
"Saya gugup."
"Nggak usah gugup." Naya masuk. "Orang-orang di meeting juga manusia biasa."
"Tapi mereka ahli di bidangnya! Saya hanya..." Arsya menelan ludah. "...dewa yang tersesat."
Naya tersenyum kecil. "Lu udah bisa pake Excel kan? Printer aja udah bisa lu lawan, apalagi meeting online."
"Printer itu musuh nyata." Arsya menatap laptop. "Meeting ini... musuh tak terlihat."
Lira menyela. "Naya! Apakah kamu punya jimat untuk ketenangan? Atau ramuan penambah keberanian?"
"Cukup kopi." Naya menyerahkan cangkir. "Ini buat lu. Jangan sampai ketiduran."
Arsya menerima kopi dengan tangan bergetar.
"Terima kasih."
"Gue tunggu di luar kalo butuh bantuan." Naya menuju pintu. "Tapi jangan manggil gue ya. Gue juga ada kerjaan."
Setelah Naya pergi, Lira berbisik.
"Dia memberikan persembahan cair untuk kekuatan!" Matanya berbinar. "Minumlah, Tuan!"
---
Pukul 09.55. Lima menit sebelum meeting.
Arsya duduk di depan laptop. Lira di belakangnya, bersembunyi dari jangkauan kamera.
"Lira. Ingat. Diam. Tidak bersuara."
"Aku mengerti, Tuan." Suaranya berbisik khidmat. "Aku akan menjadi bayangan yang tak terlihat."
---
Rencana berantakan sejak detik pertama.
Zoom terbuka. Empat kotak wajah muncul.
Arsya di pojok kiri atas.
Tiga lainnya orang asing:
· Bu Dian, wanita paruh baya. Wibawa.
· Mas Ryan, pria muda berkacamata.
· Mba Wulan, wanita muda dengan rambut dicat ungu.
"Selamat pagi semua!" Bu Dian memulai. "Kita mulai meeting pembukaan proyek input data digitalisasi arsip."
Ia menatap layar.
"Perkenalkan, saya Dian, project manager."
"Ryan, technical support."
"Wulan, quality control."
Semua mata tertuju ke kotak Arsya.
Dia membeku.
"Dan... yang di pojok kiri?" Bu Dian tersenyum. "Silakan perkenalkan diri."
Lira menusuk punggung Arsya dari belakang.
Bicaralah, Tuan!
Arsya terkejut. Suaranya keluar terlalu tinggi.
"SAYA ARSYA! INPUT DATA!"
---
Diam.
Bu Dian tersenyum kaku. "Oke... Arsya. Senang bekerja sama dengan Anda."
Ryan menambahkan. "Mic-nya kurang jelas. Ada echo."
Arsya panik. "Echo? Apa itu echo?"
Lira berbisik keras. "Echo adalah roh pengulang suara! Hantu audio!"
"Bukan, Lira—"
Mikrofon menangkap bisikan itu.
"Ada suara lain?" Wulan mengernyit.
"Tidak! Itu... TV!" Arsya cepat. "Maaf, saya mute dulu!"
Dia menekan tombol mute.
Salah.
Malah menekan tombol video.
LAYARNYA HILANG!
"TUAN!" Lira berteriak. "KAMU MENGHILANG!"
"SAYA TAHU! TAPI JANGAN TERIAK!"
Lira sudah panik. Ia maju ke depan kamera. Wajahnya tampak besar di layar.
"TUAN! KEMBALILAH! JANGAN TINGGALKAN AKU DI DIMENSI INI!"
Di layar meeting, tiga wajah lain tampak bingung melihat wajah Lira yang panik.
Arsya mencari tombol video. Tangannya gemetar.
"Lira, mundur! Kamu terlihat!"
"TAPI TUAN HILANG!"
"Aku tidak hilang! Hanya video mati!"
Ryan angkat bicara. "Eh... siapa itu?"
Arsya akhirnya menemukan tombol. Video menyala.
Tapi sekarang posisinya: Arsya setengah tertutup Lira yang masih berdiri di depan kamera.
"Maaf! Ini adik saya! Dia... penonton!"
Bu Dian mengernyit. "Meeting ini tertutup. Hanya tim proyek."
"Ia akan pergi!" Arsya mendesis. "Lira, duduk di belakang!"
Tapi Lira sudah melihat sesuatu di layar.
"Tuan!" Ia menunjuk. "Ada tiga orang di dalam kotak! Mereka terperangkap!"
"Bukan terperangkap! Itu video call!"
"Tapi mereka bergerak! Dan berbicara! Seperti cermin ajaib!"
Arsya menarik Lira ke belakang. Keras.
"Duduk. Diam." Suaranya rendah. "Atau aku akan murka."
Lira akhirnya duduk.
Tapi matanya masih melotot ke layar.
---
Meeting berlanjut. Canggung.
"Jadi, Arsya akan bertanggung jawab pada folder A sampai D." Bu Dian. "Ryan folder E sampai H. Wulan quality control semua folder."
Jeda.
"Deadline dua minggu."
Arsya mengangguk-angguk.
Di kepalanya, pertanyaan berputar: Folder? Deadline? Dua minggu?
Lira berbisik. "Folder adalah istilah untuk kantong dokumen digital. Deadline adalah garis kematian waktu. Dua minggu adalah empat belas hari matahari."
"Aku tahu, Lira."
"Apakah kita akan menghadapi garis kematian, Tuan?"
"Bukan kematian literal!"
Mikrofon menangkap.
"Ada masalah, Arsya?" Bu Dian.
"Tidak! Hanya... berbicara pada diri sendiri!"
Wulan tersenyum. "Kalau butuh klarifikasi, tanya saja. Jangan ragu."
Arsya mengangguk.
---
Ryan mulai membahas hal teknis.
"Kita akan pakai format CSV untuk data mentah. Nanti saya kirim template-nya. Pastikan encoding UTF-8 untuk karakter non-standard."
Arsya membeku.
CSV? UTF-8? Encoding?
Lira melihat panik di wajah Arsya.
"Tuan, aku akan membantu!" Ia mengambil kertas. Menulis:
CSV = Cantrik Sihir Virtual?
UTF-8 = Ular Terbang Format 8?
"Bukan!" desis Arsya.
"Lalu apa?"
"Aku juga tidak tahu!"
Ryan melanjutkan. "Untuk koordinasi, kita pakai Trello. Saya sudah buat board-nya. Setiap orang update progress tiap hari."
Trello? Board? Update progress?
Lira menulis lagi:
Trello = Tempat Relokasi Roh?
Board = Papan Sihir?
Bu Dian menatap Arsya yang terlihat pucat.
"Arsya, kamu paham instruksinya?"
Arsya mengangguk cepat. "Paham! Sangat paham!"
Matanya kosong.
Wulan bertanya. "Untuk data yang ambigu, apa kita buat catatan di kolom keterangan?"
"Ya, dengan format yang konsisten." Bu Dian.
Lira berbisik. "Data ambigu... seperti hantu informasi?"
"Lira, tolong—"
"Tapi ini penting! Jika data adalah hantu, kita perlu ritual pembersihan!"
"TIDAK PERLU RITUAL!"
Mikrofon menangkap teriakan itu.
Semua terdiam.
Ryan mengangkat alis. "Ritual?"
"Maaf! Saya... berbicara dengan kucing!" Arsya berkeringat. "Kucing saya sangat cerewet!"
Bu Dian tersenyum tipis. "Oke. Mari lanjut."
---
Meeting berjalan satu jam.
Arsya merasa seperti disiksa.
Setiap istilah teknis adalah cambuk baru. Setiap pertanyaan adalah ujian tanpa persiapan.
Dan Lira terus berkomentar dengan interpretasi dewanya.
"Cloud storage = awan penyimpanan? Apakah kita harus berdoa pada dewa awan?"
"Sharing screen = berbagi layar? Seperti membagi jiwa?"
"Deadline extension = perpanjangan garis kematian? Itu bisa dilakukan?"
Arsya hampir menangis.
---
Di menit-menit terakhir, Bu Dian berkata.
"Sekarang, kita coba sharing screen untuk lihat template. Ryan, tolong."
Ryan membagikan layarnya.
Spreadsheet raksasa muncul. Kolom-kolom rumit. Angka. Rumus.
Lira melihat.
"TUAN!" Berteriak kaget. "ITU PETA KEHIDUPAN DIGITAL! SANGAT KOMPLEKS!"
Arsya menjerit. "LIRA, DIAM!"
Lira sudah berdiri. Menunjuk layar.
"Lihat! Ada rumus-rumus ajaib! Dan grafik-grafik mistis!"
Di layar meeting, semua orang melihat Arsya berdebat dengan seseorang di luar kamera.
"Arsya, ada masalah?" Wulan.
"Tidak! Hanya—"
Lira tidak bisa menahan diri.
Ia maju ke kamera. Wajahnya penuh kagum.
"APAKAH INI KITAB SUCI TEKNOLOGI?"
Ryan tertawa. "Ini cuma Excel, mas."
"Excel..." Lira mengulang pelan. "...nama dewa spreadsheet?"
Bu Dian menghela napas.
"Meeting kita cukup sampai sini." Ia memandang Arsya. "Tolong selesaikan bagianmu sesuai deadline. Dan..."
Jeda.
"...jaga adikmu ya."
Meeting berakhir.
---
Arsya menutup laptop.
Menundukkan kepala ke meja.
"Gagal." Suaranya lirih. "Total gagal."
Lira duduk di sampingnya.
"Tapi kita belajar banyak, Tuan!" Ia bersemangat. "Meeting adalah ritual komunikasi jarak jauh dengan hierarki jelas! Ada pemimpin proyek, pendukung teknis, penjaga kualitas—"
"Lira." Arsya tanpa mengangkat kepala. "Tolong. Diam selama lima menit."
---
Tok tok tok.
Naya masuk.
"Gimana meetingnya?"
Arsya mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca.
"Mereka pasti mengira aku idiot."
"Gue dengar dari luar." Naya duduk di kursi. "Lumayan seru."
"Kamu dengar?"
"Suara lu keras. Teriak-teriak 'LIRA DIAM' gitu."
Lira bersungut-sungut. "Aku hanya mencoba membantu interpretasi."
Naya menatap Arsya.
"Oke. Jadi apa yang nggak lu ngerti?"
"Semuanya." Arsya menatap laptop. "CSV. UTF-8. Trello. Deadline. Semuanya."
"Gue ajarin." Naya. "Satu-satu."
"Tapi kamu sibuk."
"Gue lagi nggak sibuk-sibuk amat." Jeda. "Lagian ngeliat lu kayak anak kucing kehujanan, kasian."
Arsya tersenyum lemah.
"Terima kasih."
Lira mengangkat tangan. "Aku juga mau belajar! Aku akan menjadi ahli teknologi dewa!"
"Lu." Naya menatap Lira. "Lu bikin kopi dulu. Yang kuat."
Jeda.
"Kita mulai les privat."
Lira bergegas ke dapur dengan semangat.
---
Naya membuka laptop.
"Oke. Mulai dari CSV." Ia mengetik. "Itu cuma file teks biasa..."
Arsya mendengarkan.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa tenang.
Naya menjelaskan dengan sabar.
Tanpa menertawakan ketidaktahuannya.
---
Di dapur, Lira sibuk membuat kopi.
"Aku harus membuat persembahan kopi yang sempurna!" Ia bergumam.
Gula. s**u.
Dan... sedikit kecap. Karena kehabisan inspirasi.
---
Naya meminum kopi itu. Wajahnya berkerut.
"Ini rasanya aneh."
"Persembahan spesial!" Lira bangga. "Dengan ramuan rahasia!"
Naya memandang Lira.
Lalu memandang Arsya.
"Kalian berdua emang cocok." Ia meletakkan cangkir. "Sama-sama bikin pusing."
Tapi dia tersenyum.
Melanjutkan penjelasan.
---
Mungkin meeting tadi adalah bencana.
Tapi setidaknya, Arsya sekarang punya guru privat.
Dan Lira punya misi baru: menguasai teknologi manusia untuk melayani tuannya.
Besok, proyek akan dimulai.
Tapi malam ini, mereka akan belajar.
Dan untuk Arsya—
Belajar dengan Naya jauh lebih menyenangkan daripada meeting dengan siapa pun.