"OH, ROBOHLAH BENTENG DATA! HANCURKAN TEMBOK FORMULASI! DEWA SPREADSHEET, BERIKAN KAMI KEKUATAN!"
Suara Lira bergema dari kamar Arsya.
Dia sedang berlatih presentasi untuk proyek freelance—dengan gayanya sendiri.
Bima yang kebetulan lewat di depan kamar, berhenti mendadak.
Matanya melotot.
Ia mendekatkan telinga ke pintu.
"KITA HARUS MENGUBAH ENERGI MENTAH MENJADI INFORMASI SUCI! DENGAN RITUAL PENGISIAN SEL DAN PENYELARASAN KOLOM!"
Bima menggeleng. Apa-apaan ini?
"DEADLINE ADALAH GARIS KEMATIAN WAKTU! KITA HARUS MELAWANNYA DENGAN PERSEMBAHAN KETELITIAN DAN KORBAN WAKTU TIDUR!"
"Ya ampun." Bima berbisik. "Dia kerasukan!"
---
Tanpa berpikir panjang, Bima berlari ke kamarnya dan menelepon Dinda.
"Di, gawat! Lira kerasukan roh komputer!"
"...Apa?"
"Aku dengar sendiri! Dia bicara tentang dewa spreadsheet dan ritual pengisian sel!"
Dinda terdiam. "Bima, lu yakin nggak cuma dia lagi belajar buat proyek?"
"BELAJAR? DIA BICARA TENTANG PERSEMBAHAN DAN KORBAN!"
"Hmm... emang dia aneh sih dari dulu." Dinda menghela napas. "Oke, gue datang. Tapi jangan gegabah."
"Gue juga akan panggil Adit! Dia kan pernah ikut seminar spiritual!"
"Jangan lebay, Bima!"
Tapi Bima sudah memutuskan.
Niatnya baik: menyelamatkan Lira dari "kultus teknologi".
Hasilnya: bencana.
---
Satu jam kemudian, tiga orang berkumpul di depan kosan.
Bima, Dinda, dan Adit—teman kampus Bima yang dikenal sebagai "ahli hal gaib amatir".
"Jadi, menurutku ini kasus kerasukan digital." Adit memasang wajah serius. "Dengan maraknya teknologi, roh-roh jahat sekarang bermigrasi ke dunia digital."
"Kita harus melakukan intervensi." Bima mengepalkan tangan. "Tapi jangan sampai Arsya tahu. Dia mungkin juga sudah terpengaruh."
Dinda mengangkat alis. "Atau... mungkin mereka cuma lagi roleplay? Kan Lira itu imajinatif."
"TAPI BICARA TENTANG KORBAN, DI! KORBAN!"
"Oke, oke." Dinda mengalah. "Tapi hati-hati ya."
Rencana mereka sederhana:
Bima akan mengalihkan perhatian Arsya.
Dinda dan Adit akan "memeriksa" Lira.
Tapi seperti semua rencana Bima, ini tidak berjalan sesuai rencana.
---
Di kamar Arsya.
Lira sedang serius belajar Excel dengan Naya.
Arsya sedang istirahat di dapur.
"Jadi, kalau mau jumlahin kolom ini, pake SUM." Naya.
"SUM..." Lira mengetik dengan antusias. "...mantra penjumlahan!"
"Bukan mantra. Fungsi."
"Tapi fungsinya seperti mantra!" Lira menunjuk layar. "Kita mengetikkan kata sakti, dan angka-angka menuruti!"
Naya menghela napas. Tapi tersenyum.
"Ya, terserah."
---
Tok tok tok.
Bima di pintu. "Arsya! Ada di situ?"
Naya membuka pintu. "Arsya di dapur. Ada apa?"
"Eh, Naya. Aku... mau pinjam gula!"
"Gula? Kenapa nggak ke dapur langsung?"
"Eh, iya ya. Tapi—"
Bima melihat ke dalam kamar.
Lira sedang menatap layar laptop dengan konsentrasi tinggi. Bibirnya komat-kamit.
"Lagi belajar?" tanya Bima.
"Iya. Excel."
"Excel..." Bima menelan ludah. "...itu berbahaya nggak?"
Naya memandang Bima aneh. "Berbahaya? Kecuali lu ketiduran di atas keyboard."
Tapi Bima sudah salah tafsir.
Dia melihat Lira yang berkonsentrasi sebagai trance.
Dia melihat Naya yang mengajari sebagai pemimpin ritual.
"Oke, oke. Aku ke dapur aja."
---
Bima tidak ke dapur.
Ia memberi kode pada Dinda dan Adit yang bersembunyi di balik pintu kamarnya.
"Situasi darurat! Naya juga terlibat! Mereka sedang melakukan ritual Excel!"
Adit mengangguk serius. "Excel... itu singkatan dari Exorcism Cellular. Penyembahan sel digital."
"BUKAN!" Dinda menjawab. "Excel itu program spreadsheet!"
"Tapi bisa jadi kedok!" kata Bima. "Kita harus selamatkan Lira!"
"Gimana caranya?"
"Kita interupsi ritualnya! Dengan... dengan membawa energi positif!"
Adit mengeluarkan dupa dari tas. "Aku bawa ini. Untuk pembersihan aura."
Dinda memegang kening. "Kalian berdua gila ya?"
Tapi Bima sudah mengambil dupa itu.
"Ayo!"
---
Mereka berjalan ke kamar Arsya.
Bima membuka pintu tanpa mengetuk.
"LIRA! Kami datang untuk... MEMBANTUMU!"
Lira mengangkat kepala dari laptop.
"Bima?" Ia mengernyit. "Kamu bisa Excel?"
"BUKAN! Kami datang untuk... MEMBEBASKANMU!"
"Bebaskan? Dari apa?"
"DARI PENGARUH JAHAT... EXCEL!"
Naya berdiri. "Bima, lu lagi mabuk apa?"
Adit masuk. Dupa di tangan. Asap mengepul.
"KAMI DI SINI UNTUK MENGUSIR ROH DIGITAL YANG MENGGANGGU!" seru Adit.
Lira terkesima.
"ROH DIGITAL?" Matanya membelalak. "DI MANA?"
"Di dalam komputermu!" kata Bima.
"Wah!" Lira bertepuk tangan. "Jadi selama ini ada roh penunggu di laptop? Aku kira hanya program!"
Naya mencoba menjelaskan. "Bima, dia cuma belajar. Nggak ada roh."
"Tapi tadi dia bicara tentang dewa spreadsheet dan persembahan!"
Lira tersenyum lebar. "Oh, itu hanya metafora! Untuk membuat belajar lebih menyenangkan!"
Tapi Bima sudah telanjur yakin.
Dia maju ke laptop.
"Kita harus menyelamatkan datamu!"
Dia menekan tombol acak di keyboard.
"BIMA, JANGAN!" teriak Naya.
Terlambat.
Bima tanpa sengaja menekan kombinasi tombol yang menghapus satu baris data.
"HAH?" Lira panik. "DATANYA HILANG!"
"Aku... aku coba kembalikan!"
Bima menekan Ctrl+Z.
Salah.
Malah menekan Ctrl+Y.
Data tidak kembali.
"ROH DIGITAL MARAH!" teriak Lira. "DIA MENELAN DATA KITA!"
Adit mengayun-ayunkan dupa.
"KELUAR, ROH JAHAT! KELUAR DARI MESIN INI!"
Naya mencoba merebut laptop. "Bima, BERHENTI!"
Tapi Bima sudah menekan tombol lain.
Tanpa sengaja, dia mengaktifkan voice command.
HELLO, I'M CORTANA. HOW CAN I HELP?
Suara robot wanita keluar dari laptop.
Lira melompat mundur. "ROH PENJAGA BERBICARA!"
"ITU BUKAN ROH, ITU ASISTEN VIRTUAL!" teriak Naya.
Adit bereaksi cepat.
Ia menyemprotkan air suci—yang sebenarnya air mineral—ke laptop.
"BERSIHKAN DENGAN AIR SUCI!"
"ADIT, JANGAN!"
Naya mencoba menghentikan, tapi air sudah mengenai keyboard.
Laptop mulai bermasalah.
Layar berkedip. Berkedip. Lalu—
Biru.
"TUAN! TUAN! BANTU!"
Lira berteriak keluar kamar.
---
Arsya yang di dapur mendengar teriakan, berlari.
Sampai di kamar, ia melihat pemandangan kacau:
· Asap dupa di mana-mana.
· Laptop basah dengan layar biru.
· Bima dan Adit berpose seperti sedang mengusir setan.
· Dinda menggeleng-geleng di pojok.
· Naya memegang kening.
"APA YANG TERJADI?!"
"BIMA MENYERANG ROH DIGITAL DI LAPTOP KITA!" jawab Lira.
"ROH DIGITAL?"
"Mereka pikir kita lagi ritual," jelas Naya singkat. "Sekarang laptop lu mungkin rusak."
Arsya melihat laptop.
Blue screen of death.
"BIMA!"
Bima tersadar.
"Aku... aku cuma mau bantu!" Ia menunjuk Lira. "Lira kerasukan roh spreadsheet!"
"IA TIDAK KERASUKAN!" Arsya berteriak. "IA HANYA BERSEMANGAT BELAJAR!"
Adit masih tidak menyerah. "Tapi dia bicara tentang dewa dan persembahan!"
"ITU HANYA KIASAN!" teriak Arsya. "SEPERTI ORANG BILANG 'DEADLINE MEMBUNUHKU'! BUKAN BENAR-BENAR DIBUNUH!"
Dinda akhirnya angkat bicara.
"Sudah, Bima." Ia menarik lengan Bima. "Mereka benar. Lu salah paham."
Bima melihat laptop rusak.
Melihat Lira yang bingung.
Melihat Arsya yang marah.
"Aku... minta maaf." Suaranya lirih. "Aku cuma khawatir."
"Khawatir dengan cara merusak laptop?" tanya Arsya.
"Gue akan ganti! Janji!"
---
Naya memeriksa laptop.
"Mungkin cuma keyboard yang kena air." Jeda. "Tapi data yang hilang..."
Lira tiba-tiba ingat.
"AKU PUNYA BACKUP!"
Semua memandang Lira.
"Backup?" tanya Arsya.
"Iya! Naya mengajarkanku tentang 'ritual penyimpanan cadangan'!" Lira bangga. "Aku sudah simpan di awan!"
"Cloud storage," koreksi Naya. "Bagus. Jadi datanya aman."
Bima lega. "Jadi... tidak ada yang hilang?"
"Kecuali waktu dan kesabaran kami." Arsya.
Adit masih penasaran.
"Tapi suara wanita dari laptop tadi..."
"Itu Cortana, Adit." Dinda menarik lengan Adit. "Bukan roh."
Ia menyeret Adit ke pintu.
"Ayo kita pergi. Biar mereka beresin."
Setelah Dinda dan Adit pergi—dengan Adit masih bergumam tentang "teknologi adalah sihir modern"—Bima tetap di kamar.
"Aku benar-benar minta maaf." Ia menunduk. "Aku cuma... dengar Lira bicara aneh-aneh dan khawatir."
Lira memandang Bima.
"Kamu khawatir padaku?"
"Iya." Bima mengangguk. "Kamu seperti adik sendiri."
Lira tersentuh.
"Itu... sangat manis." Jeda. "Meskipun caranya bodoh."
Bima tersenyum kecut.
"Aku tahu. Aku memang sering salah paham."
---
Arsya menghela napas.
"Laptop bisa diganti." Suaranya lebih pelan. "Yang penting niatmu baik."
"Tapi tetap saja, gue akan bantu perbaikin." Bima menatap laptop. "Atau ganti baru."
Naya berdiri. "Gue bawa laptop ke temen yang bisa bersihin keyboard. Tapi besok baru bisa."
"Artinya, proyek tertunda?" tanya Arsya.
"Nggak. Kita bisa pake laptop gue dulu."
Bima merasa bersalah sekali.
"Aku akan bantu apa saja. Input data, apapun."
Lira tiba-tiba punya ide.
"Kau ingin menebus kesalahan?"
"IYA!"
"Baiklah." Lira tersenyum lebar. "Aku akan mengajarkanmu tentang... DEWA SPREADSHEET!"
"Lira, jangan." Arsya.
"Tapi dia ingin membantu!" Lira tidak menyerah. "Dan aku butuh asisten dalam memahami mantra-mantra Excel!"
Bima bingung. "Mantra?"
"Fungsi! SUM, AVERAGE, VLOOKUP! Semuanya!"
Naya melihat Arsya.
"Biarin aja." Ia menyandarkan punggung. "Mungkin dengan cara Lira, Bima jadi bisa Excel."
Arsya mengalah. "Baiklah. Tapi tidak ada dupa dan air suci."
"JANJI!" kata Bima.
---
Malam itu, di kamar Arsya, terjadi sesi belajar Excel yang sangat aneh.
"Jadi, SUM adalah mantra penjumlahan!" Lira menunjuk layar. "Kau harus menunjuk sel-sel yang ingin kau jumlahkan, seperti memilih korban persembahan!"
"Korban?" Bima bingung.
"Maksudku, data yang ingin diolah!"
"Oh."
"Lalu, AVERAGE adalah mantra penyeimbang! Ia mengambil energi dari beberapa sel dan membaginya secara adil!"
"Oke..."
"Dan VLOOKUP! Itu mantra pencarian! Seperti mengirim utusan untuk mencari informasi di negeri data yang jauh!"
Naya yang duduk di samping, menutup telinga.
"Gue nggak tahan." Ia menggeleng. "Mereka berdua cocok."
Arsya tersenyum.
"Setidaknya Bima belajar sesuatu. Dan Lira punya murid."
"Yang jadi pertanyaan." Naya menatap Bima yang antusias. "Besok gimana kalo Bima mulai ngomong tentang mantra spreadsheet di kampus?"
"Biarlah." Arsya. "Mungkin itu cara mereka berdua berkomunikasi."
---
Dua jam kemudian.
Bima dan Lira sudah seperti guru dan murid yang kompak.
"Jadi untuk membuat grafik, kita perlu memilih data dan memanggil dewa visualisasi?" tanya Bima.
"Tepat! Dewa Chart! Ada banyak jenis: batang, lingkaran, garis!"
"Wow!" Bima takjub. "Excel itu seperti game RPG ya?"
"Lebih dari itu!" Lira bersemangat. "Ini adalah petualangan data!"
Naya memandang Arsya.
"Kita sudah menciptakan monster." Nada datar.
"Tapi monster yang berguna." Arsya.
---
Larut malam. Bima pulang ke kamarnya dengan penuh semangat.
Dia bahkan meminjam buku catatan Lira.
"Besok kita lanjut!" katanya. "Aku akan belajar IF function!"
"IF adalah mantra pengandaian!" Lira melambaikan tangan. "Sangat kuat!"
Setelah Bima pergi, Arsya melihat laptop rusaknya.
"Setidaknya dari bencana ini, ada hal baik."
"Apa?" tanya Lira.
"Bima sekarang akan membantu proyek." Jeda. "Dan dia tidak lagi mengira kita anggota sekte."
"Tapi kita memang sekte, Tuan." Lira tersenyum. "Sekte pembelajaran Excel."
Arsya tertawa.
"Kamu benar."
---
Naya mengumpulkan barang-barangnya.
"Gue pulang dulu." Ia menuju pintu. "Besok laptop gue dibawa ke sini."
"Terima kasih, Naya." Arsya. "Untuk semuanya."
"Gapapa." Naya tanpa menoleh. "Lumayan hiburan, ngeliat Bima kena semprot air suci."
---
Di kamar Bima, dia sedang menelepon Dinda.
"Di, kamu lihat? Mereka tidak marah! Malah mengajarkanku Excel!"
"Ya, karena kamu bodoh." Dinda. "Tapi setidaknya kamu mau belajar."
"Excel ternyata menyenangkan!" Bima bersemangat. "Lira mengajarkannya seperti game!"
"Baguslah." Dinda menghela napas. "Sekarang jangan lagi mengira orang kerasukan hanya karena mereka bersemangat."
"Janji! Oh, tunggu, aku harus belajar VLOOKUP besok. Doakan aku!"
Dinda menggeleng. Tertawa.
"Dasar Bima."
---
Mungkin intervensi tadi adalah kesalahan besar.
Tapi seperti kata Arsya, dari bencana bisa lahir hal baik.
Sekarang, setidaknya ada satu orang lagi di kosan yang memahami "bahasa dewa" Lira.
Dan untuk proyek freelance, tambahan tenaga Bima mungkin justru membantu.
Asalkan dia tidak membawa dupa lagi.