Katakanlah aku seorang yang beruntung, anggap aku James Bond, sang agen legendaris yang dikelilingi wanita cantik, tapi aku bukanlah pemain hati, aku hanya seorang Abi dan suami. Umar Fadillah.
Ingat satu hal, setiap seseorang terlahir dari wanita, seorang ibu. Aku menjunjung tinggi keistimewaan para wanita. Satu orang wanita dosanya akan ditanggung oleh 4 laki-laki. Ayahnya. Suaminya. Saudaranya dan anak laki-lakinya. Ini hadist yang dulunya selalu diwejangkan bapakku dan sekarang saat aku jadi bapak, aku tidak bisa meneruskan wejangan itu kepada putraku. Setidaknya dua putriku bukan anak pembangkang dan aku berterimakasih atas didikan Atina, istriku tercinta kepada mereka.
"Abi!"
Sudah setua ini dan dirinya selalu menyambutku dengan senyuman. "Apa ada hal baik? Senyumanmu agak berbeda hari ini."
"Tadi Hans datang bersama adiknya, Hera."
Karena aku mencintainya, mendengarkan cerita remeh-temeh pun akan menyenangkan asal itu dari dia. Hans? Seminggu anak itu belum berkunjung. "Benarkah? Seperti apa adiknya?"
Aku mengiringi langkahnya. Aku baru pulang dari So-mart dan Atina seperti biasa, menyambutku di pintu masuk dan kami akan berjalan ke arah dapur, lalu dia akan menyuguhkan segelas kopi Kingkong kepadaku. Aku duduk menunggu sambil mendengarkan bibirnya bercerita, yang sama cekatan dengan tangannya.
"Cantik dan ramah. Dia juga membawakan oleh-oleh." Tina menyodorkan kue di samping kopiku, "Bakpia panthok dan kain batik."
"Hmm... rasanya enak," kataku setelah mencoba kue bulat itu. "Mana anak-anak?" Meskipun mereka sudah dewasa, bagi seorang Abi sepertiku mereka tetap saja anak-anak. Apalagi aku adalah satu-satunya laki-laki di rumah ini.
"Aisyah sedang sibuk mengisi raport di kamarnya, Erly belum pulang," jawabnya sambil duduk di sebelahku.
"Biasanya jam begini dia sudah di rumah."
Tina menjawab dengan bergidik. “Aku mengundang Hans dan Hera untuk acara 10 Januari nanti. Apa itu baik?”
Aku mengerti. Dia pasti menanyakan tentang Aisyah, putri kami yang bahkan cemberut saat nama Hans muncul. Sekali ini Aisyah sangat menahan diri untuk memotong kalimat bahagia Erly yang bercerita tentang anak laki-laki itu. “Aisyah pasti mengerti,” tenangku. Aku akan membujuk Aisyah bila perlu. Hans sahabat dan laki-laki pertama yang menurutku sangat bersedia menghadapi Erly yang tidak terduga. Belum lagi penolakan terang-terangan Erly yang sama sekali tidak menimbulkan kesan melukai bagi Hans atau peristiwa malam itu.
“Assalamu’alaikum.”
Kami mengenal suara itu, bahkan aku masih mengingat tangis pertamanya saat usia 3 bulan, saat kami baru bisa menyentuh tubuh merahnya untuk pertama kali. Mungkin karena lahir prematur dan faktor keturunan yang menyebabkan disfungsi pada matanya. Namun sudah lama sekali dia tidak mengeluh, sejak kelas satu SD. Dan kami tidak akan pernah menyinggung masalah mata dalam keluarga ini.
"Itu dia." Tina spontan berjalan ke arah suara.
Aku kagum dengan ketangguhan dan tangkasnya wanita ini. Dia sudah berkeliling membersihkan rumah dan masih sempat tersenyum menyambut putri kami. Mungkin semua wanita begitu? Entahlah, yang penting wanita ini seperti itu bagiku.
"Kamu nampak senang Nak," tegurku kepada Erly yang berseri. Apa aku juga akan melihat wajah cerah Aisyah hari ini? Jika iya, semuanya akan sempurna.
"Aku bertemu teman lama, Abi," jawabnya segera.
Aku mengangguk meski tidak mengerti kenapa reaksinya harus sesenang itu. "Laki-laki?" tanyaku ragu. Pepatah mengatakan sakit cinta bisa sembuh dengan menemukan penggantinya, cinta yang baru. Apa itu berlaku untuk Erly Natasha juga?
"Perempuan. Abi ingat Ika? Gadis yang dulu sering datang ke rumah untuk belajar kelompok denganku?"
"Oh, anak itu." Aku langsung ingat dan tidak mungkin lupa. Satu-satunya teman Erly yang pernah datang, gadis yang hampir mirip secara fisik dengan Erly.
Erly mengangguk semangat, "Erly mengundangnya." Aku belum paham. "Acara 10 Januari."
"Oh, Abi mengerti. Ya, kalian bisa mengundang siapa saja," kataku dengan senyum.
“Terimakasih, Abi.” Erly berlalu dengan riang.
Sangat mudah membuatnya bahagia dan dia juga tidak pernah menuntut banyak hal. Aku sering kali salah kaprah tentang keinginannya. Erly tidak seperti Aisyah yang mengatakan dengan gamblang yang diinginkannya. Erly hanya menolak atau memberikan kepada orang lain barang pemberianku dan Tina yang tidak disukainya, tapi ketika dia menyukai suatu barang, anak itu selalu memakainya. Kepada benda mati saja dia setia, apalagi suami. Aku tidak ingin meragukan alasan apapun yang digunakannya untuk menolak Hans. Erly tau apa yang dia mau, persis seperti Hans pula... yang sangat yakin, dirinya menginginkan Erly.
***
Aku menonton gerakan sibuk penghuni rumah. Tiga perempuan yang lalu-lalang di sekitarku, mereka yang setiap hari mengisi hidupku, yang menemani umurku bertambah detik demi detik. Aku sedikit khawatir tentang kedua putriku, terutama Aisyah. Gadis ini sedang berjalan ke arahku dengan membawa empat piring bersih, lalu kembali ke dapur tanpa senyum setelah meletakkannya di atas meja makan. Apa yang membuat anak itu lama sekali menemukan jodohnya. Lantai rumah ini sudah licin dipijaki berbagai macam lelaki yang datang ngapel malam kamis dan malam minggu untuknya. Apa susahnya memilih satu saja yang terbaik diantara mereka. Bukan salahnya jika para lelaki itu mengejarnya, tapi dia jelas bersalah untuk membiarkan harapan mereka tumbuh tanpa kepastian. Sang rembulan yang menyinari untuk siapa saja, tanpa pandang bulu dari kegelapan, Aisyah terlalu berbaik hati hingga lupa tujuannya. Sebagai seorang Abi, aku mengkhawatirkannya akan jadi rebutan untuk ego para lelaki, seperti sebuah medali yang akan mengangkat nama pemenangnya. Takut putriku diminati bukan untuk dibahagiakan.
Sekarang Erly juga menghampiriku dengan mangkuk berisi lauk. “Sebentar lagi siap, Abi,” katanya dengan senyum. Aku hanya mengangguk dan anak ini duduk di kursinya yang biasa.
Erly, dia hanya harus membuka hati kepada Hans. Kalau lelaki datang melamarnya tentu saja karena lelaki ini sungguh mencintainya. Tidak akan ada yang bisa melihat sisi menarik dari fisiknya, tapi jika saja rupanya sesuai dengan hatinya, dia akan jauh lebih cantik daripada Aisyah. Itu kelebihan dan juga kekurangannya. Dia hanyalah seorang gadis yang tidak suka menonjolkan diri, jika harus berdiri, dia memilih bayangan dan tak terlihat atau jika harus dilihat dia memastikan yang melihatnya akan kesulitan, seperti menatap matahari. Kepribadiannya tentu akan menarik lelaki baik yang akan membahagiakannya.
Aisyah dengan wajah masam bersama Tina ikut bergabung denganku dan Erly. Kami siap memulai makan malam hari ini. Atina? Aku berharap akan bisa melihat cucu kami bersama, tidak lebih dari itu. Masa pasti berakhir dan segala pertemuan akan berakhir, aku sungguh berharap janji surga bersamanya.
Kami sedang makan malam dan yang membuatku penasaran masih Asiyah. Wajahnya lebih kusut daripada saat kapanpun yang pernah ditampakkannya. Aku melirik Tina, ‘Apa yang terjadi padanya?’
Istriku hanya berekspresi lelah, ‘Abang aja yang nanya.’
Aku baru saja ingin menyapa Aisyah, tapi suara Tina-lah yang lebih dulu terdengar. "Ada apa, Aisyah?"
Aisyah nampak tersentak mendengar suara lembut Uminya. Dia melepas sendok dan kami bertiga terpaksa menunggu kalimatnya. "Aisyah sedang kesal, Umi," jawabnya datar.
Itu bukan jawaban yang kami harapkan. "Kesal? Kenapa Yuk?" tanya Erly sabar.
"Guru di sekolah Ayuk akan dimutasi," jelas Aisyah, yang sama sekali tidak jelas bagi kami bertiga.
Lalu apa masalahnya?
"Sebabnya? Apa mungkin dia sahabatmu?" tanya Tina lebih jauh. Itu kemungkinan ternormal, tapi Aisyah menggeleng.
"Bukan. Dia yang mengajukan diri."
Nah, sekarang Aisyah sedang berteka-teki. Anak ini selalu memaksa orangtuanya memeras otak ketika kekesalannya muncul, tidak perlu heran kalau marahnya lebih baik daripada kesalnya.
"Kalau begitu cegah saja Yuk," Erly menyarankan dengan semangat.
Itu pemikiran simpel yang tidak mungkin dilakukan Aisyah. Ada pertimbangan harga diri untuk meminta baginya, untuk siapapun itu.
"Kamu sangat menyukainya?" Aku bertanya dengan pertanyaan yang sudah jelas.
"Tidak."
Tidak? Itu lebih parah, perkiraanku salah dan Aisyah bertambah kesal.
"Pasti laki-laki," Tina memprovokasi dan tepat sasaran.
Aisyah dengan mata berkilat menyuap nasi ke mulutnya, berarti jawabannya 'iya'. Aku dan Erly sangat terkejut. Benarkah? Aku perlu sujud syukur sepertinya.
"Ayuk jatuh cinta? Waw! Siapa laki-laki beruntung ini? Erly mungkin bisa membujuknya untuk membatalkan mutasi," komentar Erly makin semangat. Niat baik yang terkesan mengejek. Tapi kalau harus turun tangan aku pun akan bersedia melakukannya.
"Tidak. Aisyah tidak jatuh cinta. Sekolah lebih ramai kalau ada dia, hanya itu alasan tidak sukaku atas mutasinya," bantah Aisyah. Tapi kami tentu saja tau yang sebenarnya.
"Kamu yakin... tidak menyukainya?" Tina menyelidik, anggukan Aisyah menjawabnya. "Padahal sekolah, terutama SD selalu ramai. Kecuali libur," Tina berasumsi tanpa dosa sambil kembali melanjutkan makannya.
Wah, aku perlu memujinya nanti. Tina sangat bisa membuat kesal Aisyah berubah jadi marah, itu satu-satunya cara agar wajah kusutnya berakhir. Kalau beruntung, Aisyah akan menjelaskan semuanya, isi hatinya ketika dia marah.
"Apa dia juga masuk saat libur?" tanya Tina lebih lanjut. Wajah tanpa dosa istriku dan pertanyaan itu, aku yakin, itu lebih menohok Aisyah.
Aku tertawa. Ini lucu, biasanya aku tidak tertawa di depan anak-anakku dan aku akan mengabaikannya saat ini.
"Abi! Ini tidak lucu," protes Aisyah gusar.
Tina dan Erly juga tertawa, tapi cuma aku yang mendapatkan protes. Anak ini punya pemikiran wanita itu harus selalu dimengerti, tidak seperti Tina yang demokratis dan jauh dari Erly yang penuh emansipasi dan selalu mengerti.
"Umi, sebaiknya kita mencari identitas laki-laki ini," Erly mengerling ke arah Tina. Tawaku terdengar lagi. Erly sangat bersemangat kali ini.
"Ada apa dengan kalian!" Aisyah berdencak, lalu pergi ke kamar dengan marah.
Aku menatap punggung anak gadis kami yang menghentak-hentakkan langkahnya, persis seperti amarah yang meletup-letup dari sorot matanya. "Ini pertama kalinya Aisyah seperti itu."
"Erly juga penasaran," katanya terkikik. Wajahnya luar biasa, anak ini sangat jarang menggoda Aisyah, tapi kali ini dia sepenuhnya berpihak padaku dan Tina.
Lain halnya dengan Tina, wajahnya lelah dan menyesal. "Apa kita biarkan saja Aisyah kali ini?" tanya Tina meminta pendapat, matanya melirik berharap padaku dan Erly bergantian.
Aku dan Erly mengangguk setuju. Sesekali Aisyah perlu dibiarkan menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa pembelaan siapapun. Anak itu selalu mendapatkan keinginannya, lelaki biasa tidak akan pernah cukup untuk mencapai hatinya. "Siapa laki-laki itu? Kalian punya gambaran?" tanyaku penasaran. Mungkin saja Aisyah pernah bercerita kepada mereka.
"Yang jelas dia guru SD," Tina menjawab tenang. Gerakan tangannya kembali melanjutkan makan, tidak ada lagi raut penyesalan di wajahnya, hanya peduli dan khawatir.
"Siapapun dia, dia pasti seorang yang spesial," tambah Erly.
Aku sangat setuju dengan mereka berdua, tapi ada yang janggal. Siapa dia? Bagaimana Hans? Ini baru satu minggu, kalau Aisyah sungguh berharap kepada anak itu... Aisyah tidak akan seperti ini! Mungkin ini pertama kalinya, meja makan ini hanya terisi tiga orang karena alasan yang tidak jelas. Aisyah sudah pergi ke kamarnya bersama marah dan bisa dipastikan kamar anak itu akan terkunci rapat.
Aku melirik Tina, ‘Bagaimana tentang Hans?’
Tina menggeleng dan kami berdua harus diam sekarang. Kami sebagai kedua orangtua Erly dan Aisyah akan membahas lebih lanjut hal ini. Erly belum tau tentang malam itu dan sepertinya Erly sama sekali tidak perlu tau. Ini sedikit melegakan, mengetahui mereka mungkin tidak akan memperebutkan satu lelaki yang sama. Cukup aku saja, lelaki yang mereka perebutkan bersama.