10. UMAR FADILLAH

2352 Kata
Perkembangan Aisyah buruk. Dia banyak diam dan melamun, apalagi setelah libur sekolah dimulai. Tapi dia setuju dengan rencana hari ini, liburan hari terakhir kalender 2016, kami akan menghabiskannya di daerah Muntok, ujung paling barat Pulau Bangka, menjelajahi kota tua dan bersejarah itu bersama dengan Hans dan Hera. Kami sudah siap berangkat. Aku dan Tina bahkan sudah duduk manis di dalam mobil seperti pasangan pejabat. Tiba-tiba suara pintu mobil dibuka, Hera muncul dengan senyum cerah. "Hera, kamu duduk di belakang," suara Hans sedikit memerintah saat adiknya baru saja duduk di bangku depan samping stir. Wajah riang segera berganti bingung, "Kenapa Bang?" Aku juga sedikit bingung, Tina juga melirikku dan kami memperhatikan mereka. "Ini kursi Erly," jawab Hans singkat. "Hah? My Allah!" Hera tampak tidak terima. Dia malah duduk dengan bersedekap di kursi itu dan tidak peduli. Aku dan Tina di kursi tengah saling tatap dengan senyum geli. Sayang sekali Erly tidak melihat ini. "Hera! Turun sekarang," perintah Hans gusar melihat Hera memainkan kuku, seolah tidak mendengar perintahnya. Lalu kami mendengar suara Erly mendekat. Hans gelisah, "Turun atau kamu tidak boleh pergi!" Hera turun dengan wajah cemberut, membanting pintu cukup kasar. Lalu aku melihat Erly menghampirinya, dari posisi dudukku mereka berdua terlihat lucu. “Ada apa, Hera?” tanya Erly sambil menatap Hera. Aku dan Tina juga menikmati pemandangan ini, adegan itu tepat di sebelah luar kursi Tina yang kaca sampingnya masih diturunkan. "Abang menyuruhku di kursi belakang," adu Hera kepada Erly. "Apa kamu mabuk darat? Perjalanan kita setidaknya lebih dari 2 jam," tebak Erly dengan wajah prihatin. Ekspresi khawatir itu sangat tulus, pastinya membuat Hans mabuk kepayang. "Tidak Yuk. Hera tidak apa-apa," Hera luluh. Aku bisa merasakan Hans tersenyum menang. "Aku akan menemanimu," Erly menyemangati Hera. "Aku juga di kursi belakang." Nah, sekarang seri. Hera pula yang tersenyum, bahkan anak itu dan Erly menyatukan telapak tangan mereka, membuat suara tepukan. "Kenapa? Maksudku... apa Aisyah mabuk darat?" Hans bertanya karena penasaran atau, tidak terima sebenarnya. "Ayuk sedang galau, lebih baik dia di depan saja." "Oh, oke." Hans berakhir kecewa. *** Perjalanan ini cukup menyenangkan, terutama cerita antara Erly dan Hera yang tampaknya akrab. Sesekali Hans membawa Hera saat bertandang ke rumah, anak itu juga tampak selalu semangat membantu Tina di dapur. Mereka kadang membuat kue bersama. Sementara Hans dengan Aisyah saling diam. Ini pertemuan pertama mereka berdua di depanku setelah malam itu. Hans memang sesekali datang dan ikut membantuku melakukan beberapa hal laki-laki, seperti memperbaharui cat rumah. Tapi dia datang selalu saat Aisyah tidak di rumah. Sekarang aku juga bisa melihat gerakan kepala Hans yang curi pandang dari spion kepada sosok Erly, yang malah tidak sadar dirinya diperhatikan. "Tina!" Aku baru akan mengajaknya ngobrol, tapi ternyata dia tidur dengan tidak nyaman. "Ya, ada apa?" Tina bertanya sambil membuka setengah matanya yang terlihat berat. "Kamu mengantuk? Silahkan bersender di bahuku," tawarku dengan senyum sambil menepuk bahuku. "Oh, terimakasih sayang," ucapnya. Entah dia sadar atau tidak mengatakan itu, tapi tubuhnya langsung merapat ke arahku. Ada kebanggaan aneh menyusup hatiku atas perlakuan itu. Usia kami mungkin tua, tapi perasaan tetaplah sama. Aku dan Tina menganggap Hans dan Hera seperti anak sendiri, terutama kehadiran Hera untuk Erly. Mereka kadang pergi berdua untuk berbelanja atau sekedar makan bakso bersama, meskipun Aisyah selalu menolak ajakan mereka karena memang sedang sibuk saat itu. "Ehm, Erly," Hans menatapnya lewat spion. "Kalau kamu tidak nyaman di belakang, kursi tengah sepertinya masih muat untukmu," tambahnya dengan senyum tampan, aku yakin sekali meski tidak melihatnya langsung. Memang benar, karena Tina merapat kepadaku, tapi aku merasa tidak suka. "Biarlah, aku suka di sini," tolak Erly sambil tersenyum. Aku juga ikut tersenyum. Terimakasih sekali atas pengertian anak manis itu. "1-0!" seru Hera bangga. Erly di sebelahnya terkejut, "Skor? Permainan apa?" tanyanya terdengar tertarik. "Tidak ada. Abaikan dia Erly, sebelum dia menularimu kegilaannya," jawab Hans cepat sebelum Hera sempat membuka mulutnya. Bisa dipastikan gadis itu akan merengut. "Aisyah, kamu mabuk?" suara Hans terdengar lagi. Hans baru menyapa gadis yang sejak satu jam lalu duduk diam di sampingnya. "Tidak." "Kamu masih marah? Masih membenciku?" tanya Hans, hampir berbisik. Itu pertanyaan yang kurang tepat saat ini, kalau yang ditanyainya Erly mungkin hasilnya akan bagus, tapi ini Aisyah. "Tidak." Waw, itu singkat, tapi positif. Perang dingin diantara mereka cukup menegangkan. "Alhamdulillah," ucap Hans sambil tersenyum. Aisyah menatap Hans seolah dia bisa menelan Hans hidup-hidup. Siapa saja yang marah memang berbahaya, tapi Aisyah? Entahlah apa yang lebih bahaya daripada bahaya. "Tempat tujuan pertama kita ke mana?" Aku sengaja bertanya untuk mengalihkan perhatian mereka. Khawatir yang akan mungkin diucapkan Aisyah kepada Hans, tapi malah suara jawaban terdengar dari belakang kami lebih dulu. "Mercusuar!" seru Hera semangat. "Menumbing!" Aisyah ikut memberi saran datar. "Erly... ke mana aja boleh," Erly netral. Dia mengatakannya dengan senyum manis, tanpa perlu melihat wajahnya pun aku sangat yakin. "Bagaimana Abi?" Hans sedikit menoleh kepadaku. "Terserah, tapi Abi ingin melihat langsung Masjid Jamik yang bersebelahan dengan Klenteng itu." "Oh, yang... perlambangan kerukunan beragama itu, kan, Abi?" Hera memastikan. "Ya. Bagaimana kalau magrib saja ke sana, sekalian sholat?" Hans menyarankan, aku mengangguk setuju. *** Kami mengunjungi Pesanggarahan Menumbing, tempat Presiden pertama pernah diasingkan, cagar budaya yang masih eksis dengan sejarahnya hingga sekarang. Kemudian singgah sebentar melihat plang Batu Balai yang tidak terlalu jauh dengan jalan masuk menuju Menumbing, dan sekarang kami sedang makan siang setelah sholat di Masjid dekat rest area. "Kamu mengenal tempat ini seperti tempat tinggalmu saja, Nak," Tina memuji Hans dengan nyata. "Itu keharusan Umi, secara... Abang, kan tour guide," kilah Hera sengaja. "Oh, shut up! Hera kamu menyebalkan hari ini," Hans murka. Namun, Hera malah tampak senang membuat abangnya marah. "Aisyah, kamu tidak menghabiskan makanmu?" Aku menegur Aisyah, yang pucat dengan nasi seolah tak tersentuh di hadapannya. "Aisyah tidak lapar, Abi," jawabnya lemah. Dan meskipun aku Abi-nya, tidak ada yang bisa memaksa gadis ini, termasuk aku. "Umi akan meminta nasi bungkus untukmu. Nanti kalau kamu lapar, beritahu Umi, ya, Nak." Aisyah mengangguk. Perlakuan kekanak-kanakan itu tidak akan cocok kalau dilakukan olehku, jadi aku bersyukur Tina melakukannya dengan baik saat ini. **** Aku dan Tina memutuskan untuk mandi saat tiba di Mercusuar, sementara yang lain naik ke puncaknya. Yang paling aneh, Aisyah malah naik lebih dulu, mungkin mood-nya membaik setelah sholat, meskipun makannya tidak banyak. Dia tidak sakit, tapi kelihatan lebih parah daripada sakit biasa. "Kamu kelelahan, Tina," kataku ketika kami hanya berdua. "Sesekali tak mengapa, ini menyenangkan," jawabnya dengan senyum samar. Aku berpikir akan menginap di sini malam ini, daripada pulang dan menyiksanya, anak-anak tentu tidak akan keberatan. Namun saat melihatnya keluar dari kamar bilas, kekhawatiranku musnah. "Ada apa?" "Tidak ada. Aku hanya khawatir kamu sakit." Aku tidak repot-repot ingin berbohong. Dia pasti langsung tau perasaan legaku dari senyuman yang tidak bisa kubendung ini. "Oh, beib, it’s okay. Ai em okay." Dia meniru gaya anak-anak dengan sok ahli. "Why you tertawa?" "No what what." Aku membalas semauku dan kami berdua tertawa. "I love you, Atina," aku tiba-tiba berpikir dan mengucapnya. "Hah?" Dia tersentak lalu tertawa keras. Dulu ketika aku melamarnya Atina juga tertawa. "Aku hanya mengungkapkannya dengan cara baru dan lebih modern," jawabku santai dan dia tertawa lagi. "Baiklah, aku suka, berasa lebih muda." "Kamu tidak membalasnya?" tanyaku ragu. Tina menatapku sedikit lebih serius. "Kalau Abang memaksa, I love you two," ucapnya dengan fasih, tapi salah. "Too, Umi," Erly muncul bersama yang lain, tersenyum geli. "Two," ulang Tina serius. "Sebut saja Tu," Aisyah menyarankan dengan datar. "Okay, I love you Tu, Abi." Dan diusiaku yang sudah setengah abad ini, pipiku masih bisa memerah ketika mereka bertepuk tangan sambil tertawa. "Ke mana lagi kita?" tanya Hera kepada Hans. Tampaknya mereka sudah berbaikan. "Kita akan mencoba otak-otak khas Muntok," jawab Hans dengan senyum. "Let’s go!" Tina kembali bersemangat. "Yey!" Hera menyambut. "Abi, sepertinya kita harus lebih sering mengajak Umi jalan-jalan," kata Erly kepadaku sambil senyum senang, kurasa anak ini juga khawatir sepertiku. "Kita bisa sering melakukannya dan gratis kalau kamu menikah dengan Hans." Waw! Aisyah kata-katamu baik sekali, Nak. Tapi jangan mengatakannya dengan wajah sedih itu. "Itu alternatif yang tidak buruk Erly, kamu bisa mempertimbangkannya," sambutan positif Hans menggembirakan Hera. "Waw! Abang, itu keren." "Aku masih akan membuatmu kecewa Hans, berhentilah berharap," Erly bercanda sambil berlalu, sementara kami membeku. "Jangan putus asa, Bang. Never give up! cemungut eaa!" Hera sambil tertawa mengikuti Erly ke arah mobil. "Fighting! Cai yo!" Dia masih mengoceh hingga tak terdengar lagi. "Semangat!" Tina malah men-support dengan gaya 45, mengepalkan tinjunya ke arah Hans. "Abi! Restui aku," Hans memasang wajah putus asa. Aku tertawa sambil menepuk pundaknya, "Abi akan merestuimu, kalau dia sudah menerimamu." *** Kali ini aku sungguh khawatir. Aisyah! Anak itu memilih menyendiri daripada bergabung bersama kami dengan beragam otak-otak dan air kelapa segar. Aku masih mentatap sosoknya yang hanya diam, entah anak itu menangis atau bukan, kami hanya bisa melihat punggungnya dari jarak kurang lebih 15 meter ini. "Erly akan membawakan air kelapa kepada Ayuk." Aku tersentak, lalu segera melihat putri bungsu kami. Sebutir kelapa sudah memenuhi kedua tangan mungilnya. Dari tadi anak ini duduk diam dengan gelisah sambil mencomot otak-otak. "Jangan, biarkan saja dulu," cegah Hans. "Hoi-hoi! Ayuk mungkin akan pingsan sebentar lagi!" Erly tetap bergerak. Dia nampak kesal dengan kalimat Hans. "Erly! Kita biarkan sebentar lagi, Nak," aku menegurnya. Erly duduk sambil merajuk, "Siapa laki-laki konyol itu! Beraninya dia membuat Ayuk seperti ini! Aku akan mengajaknya berduel kalau bertemu dengannya!" Erly mengepalkan tangan, sebelah tangannya yang lain menopang dagu, menatap sosok Aisyah sedih. "Tenanglah, dia sudah dewasa, Erly," Tina mengelus jilbab putri bungsu kami yang tidak mudah marah lebih sabar. "Ini pertama kalinya, Umi!" Matanya berkilat, "Lelaki macam apa yang bodoh sekali mengabaikannya!" Suara marah yang sangat kasar untuk ukuran Erly Natasha. "Yuk Erly, Ayuk juga mengabaikan Abangku," Hera berbicara tanpa wajah bersalah, posisi mereka memang sama. "Hera!" Hans melotot ke arah adiknya yang manyun, "Maaf, Umi, Abi dan Erly," Hans mengangguk kepala dengan sopan. Pasti tidak mudah menghadapi Hera, terlebih tanpa kedua orangtua mereka. "Hera minta maaf," katanya menunduk lesu setelah disikut Hans. "Tidak mengapa. Kamu benar Hera," Erly tersenyum masam lalu wajahnya berubah serius, "Tapi aku punya alasan jelas menolak Abangmu." Hera terdiam. Begitu pula kami. "Erly!" Aku memperingatkannya lembut. "Kamu akan tau, Hera. Kamu akan mengalaminya." Erly menatap Hans yang diam, "Lelaki yang ingin kamu jauhi dan yang ingin kamu nikahi." Hans beku. Lalu mata Erly kembali tertuju pada Hera. "Kamu akan tau perbedaannya!" Itu berlebihan Erly! Kenapa Erly putriku jadi sekasar ini?! "Erly, kamu tidak perlu marah seperti ini kepada Hera, Nak," Tina menasehatinya. "Erly tidak marah Umi, Erly hanya membuatnya mengerti," bantahnya dengan wajah kesal. "Hera mengerti, Yuk." Aku hampir berpikir Hera menangis dengan suara lemahnya itu. "Sudahlah. Kita kemari untuk bersantai, jangan membuatnya malah jadi tidak menyenangkan," tegurku. "Maafkan Ayuk, Hera." Anak baik. Kamu memang tidak suka menyakiti hati orang lain Nak, karena itu membebani hatimu. Meski banyak yang menyakitimu tanpa merasa bersalah. "Apa aku bukan laki-laki yang pantas untukmu?" Hans bersuara setelah diamnya, sukses membuat kami semua tercengang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN