11. UMAR FADILLAH

1624 Kata
Kami singgah di Pantai Asmara. Entah apa sebabnya pantai ini dinamakan pantai Asmara, yang jelas dari pantai ini kita bisa melihat Mercusuar yang menjulang tinggi, biasanya juga diabadikan dalam bentuk foto. Di sini kami memesan berbagai jenis otak-otak : daun, udang, empiang dan juga kelapa muda sebagai minuman. Aisyah tidak menyentuh sebutir pun otak-otak atau setetes pun air kelapa. Anak itu duduk di pucuk pasir yang terkikis gelombang, bekas pasang-surut. Aisyah diam memandangi hamparan pantai, sementara kami di pondok dekat jalan masuk pantai. Tadi Aisyah dengan tenang melepas sepatunya dan berjalan ke sana, meski sudah dipanggil Tina. "Aisyah menikmati pantai dulu, Umi," jawabnya lesu dan datar. Beberapa orang bermain dengan keluarga mereka di batas pantai dekat Aisyah duduk. Kami sedang membahas Aisyah ketika Hera menyela dengan tanpa bersalah dan pembicaraan berbalik arah, malah membahas hubungan Erly dan Hans. Mata Erly berkilat, "Lelaki macam apa yang bodoh sekali mengabaikannya!" Mengabaikan Aisyah. Memang, seorang Aisyah tidak seharusnya diabaikan, tapi mungkin saja ada faktor lain. Tidak semua lelaki akan menyukai Aisyah, contohnya Hans. "Yuk Erly, Ayuk juga mengabaikan Abangku," Hera berbicara tanpa bersalah. Posisi mereka memang sama. Secara tidak langsung Hera mengatai Erly bodoh. Tentu saja, jika kita melihat kasus luarnya begitulah yang tampak. Tapi Erly punya alasan dan sepertinya anak ini ingin menyimpan alasan itu sendiri. Kami juga sudah selesai membahas pertengkaran antara Erly dan Hera dengan permintaan maaf keduanya. Tapi semuanya baru akan dimulai lagi, ketika Hans yang semula diam angkat bicara. "Apa aku bukan laki-laki yang pantas untukmu?" tanyanya dengan wajah lelah dan terpukul. Sebagai lelaki, aku pun bisa mengerti jika kalimat Erly sangat menyakitkan kali ini. Karena yang tersakiti di sini tidak hanya dirinya sendiri, tapi Hera juga. Anak itu hanya punya Hans dan sebaliknya. Mereka saling melengkapi. Belum lagi kebanggaan dari mata Hera kepada abangnya dan Hans yang siap memasang badan untuk Hera. Erly terdiam. Dia mungkin baru saja menyadarinya, merenungi kalimatnya. Hera juga nampak meringis. Aku pun tidak bisa mengeluarkan alasan untuk menghentikan tatapan menuntut Hans kepada Erly. "Hans! Tidak, Nak... setiap kita punya kepantasan yang sama," Tina menyela cepat. Sekali lagi, kehadiran wanita ini sungguh seperti keajaiban bagiku. Dia bergerak cepat dalam banyak kondisi dengan tenang dan bijak. "Ya. Jangan merendahkan dirimu," tambahku peduli. "Benar Hans, kamu hanya perlu menemukan seseorang yang tepat untukmu, selain aku." Erly memaksakan senyum kepadanya, “Aku hanya ingin menjadikan kamu sebagai sahabatku, hanya itu.” Erly dengan wajah minta maaf atas kalimatnya, tapi itu bukan raut penyesalan. Persis, anak ini tau apa yang dia inginkan. Aku dan Tina melempar pandangan. Kami berdua sangat yakin kalimat itu adalah pemutus harapan kami untuk menjadikan Hans sebagai menantu. Kami berdua juga harus bersiap kehilangan Hans dan Hera setelah hari ini, melihat Hera yang menepuk pundak abangnya dengan wajah sedih, aku khawatir sekali itu kalimat ‘Sudahlah. Abang sudah berusaha, sekarang kita harus menemukan jalan lain.’ "Aisyah!" Tina tiba-tiba berseru dan terperanjat. Dia langsung berdiri dari duduknya. Kami semua mencari sosok yang disebut itu, mengikuti arah pandangan mata Tina dan menyapu 15 meter di depan kami dalam sekejap. "Siapa laki-laki itu?” Yang kami lihat adalah sesosok lelaki tinggi dan bertubuh proposional mendekati Aisyah. Tubuh Aisyah kini meringkuk pada lututnya. Pembahasan barusan sedikit mengalihkan perhatian kami darinya. Entah sudah berapa lama lelaki itu di sana. Entah lelaki itu yang membuat Aisyah meringkuk atau bukan. Yang jelas, kami semua tidak yakin, hal itu berarti baik. "Apa yang diinginkannya?" Tina juga bersuara khawatir. Sepertinya lelaki itu tidak melukai Aisyah, mungkin saja lelaki itu hanya menyapa, karena sosok Aisyah mendongkak ke arah lelaki berkaos biru itu. Jalas sekali warna kaos itu biru, karena air pantai ini lebih cokelat daripada biru seperti pada pantai biasanya, jadi kontras di antara kedua warna itu sangat mencolok. Mungkin karena pengaruh tambang timah ilegal yang sedang marak merusak pantai-pantai di Bangka. Aku tidak yakin awalnya, tapi melihat langsung seperti ini merubah persepsiku, ternyata tambang timah itu juga sudah merambah sampai di sini, ujung paling barat Bangka. Kondisi yang cukup memperihatinkan bagi pulau indah ini, mengingat aset pariwisatanya yang paling utama adalah pantai. "Mungkin mereka saling kenal," Hera berpendapat saat kami melihat lelaki itu berjongkok di dekat Aisyah. Aisyah memakai gamis hitam. Lelaki itu dan Aisyah sepertinya saling bertatapan. Ini bukan kategori zina mata, mungkin saja Aisyah hanya bingung dengan sikap lelaki itu. Lagi pula anak itu hanya menunjukkan respon wajar siapa saja ketika ada orang lain menyapa kita. Tapi kemudian kekhawatiranku sedikit menjadi nyata. "WHAT!" Erly menggeram. Aku juga menggeram saat melihat lelaki itu menyentuh pipi Aisyah dengan tangannya. Itu berlebihan jika mereka hanya bersapa, lelaki itu sudah pasti bukan lelaki baik-baik. Dia mungkin saja lelaki gombal dan hidung belang. Itu jelas bukan perlakuan normal. "How dare!" Erly murka dan dia sudah berlari dengan wajahnya yang memerah. Aku tidak tau arti kalimat itu, tapi aku yakin itu kalimat u*****n atau luapan amarah. “Erly!” Tanpa aba-aba Hans menyusul Erly yang sudah berlari sekitar 5 meter menuju Aisyah dan lelaki itu. "Itu romantic," komentar Hera dengan senyum. Aku dan Tina melihatnya dengan tatapan mengancam. Anak ini malah terlihat menikmati sementara kami masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. “Maaf, Umi, Abi.” Dia meringis dengan cengiran. Aku juga bisa mengategorikan itu hal romantis, kalau Hans dan Erly sudah menikah dan suasananya sedang tidak aneh seperti ini. “Ayo kita ke sana!” ajak Tina. Suaranya tidak tenang, datar dan mungkin istriku ini sedang sangat marah. "Kurang ajar sekali! Beraninya menyentuh putriku!" Kami berjalan cepat ke arah mereka. Hera bersama kami, dia mengimbangi langkah tua aku dan Tina. Nah, anak ini sebenarnya cukup manis. Tapi dia sering tidak bisa mengendalikan diri saat membahas Erly dan Hans. Dan Hera selalu berubah kasar ketika Hans sendiri menerima begitu saja keputusan Erly. Seperti Aisyah yang tidak terima teman-temannya bercerita buruk tentang Erly, Aisyah juga tidak akan segan mengusir detik itu juga temannya yang berani berkomentar buruk tentang Erly. "Bagus Erly! Hajar lelaki itu!" Tina menampakkan marah dan menyemangati sepenuh tenaga. Mata kami melihat lelaki itu terjengkang diterjang Erly. Aku juga tersenyum bangga dengan tubuh mungil bernyali besar itu. Dia putriku yang sangat luar biasa, sangat tidak terduga dengan sikap manisnya ketika di rumah. Kadang kala, aku tanpa sadar menempatkan Erly sebagai anak tertua kami karena sikapnya. Sifatnya yang sangat peduli dan suka melindungi, persis seperti anak laki-laki. "Kenapa Ayuk Aisyah tidak langsung menamparnya?" Hera bersuara lagi. Aku tertegun sesaat tanpa menghentikan langkah, melihat wajah penasaran Hera yang sepertinya sangat alami. Aku dan Tina saling lirik, kami bingung. Meski Aisyah tidak sekuat Erly, anak itu sama menjaga jaraknya dari sentuhan laki-laki, itu yang kami berdua ajarkan kepada mereka. Berarti lelaki itu, mereka saling kenal? Tapi siapa? Kami berdua belum pernah melihat lelaki ini. Kami melihat Erly menghampiri Aisyah sambil terlihat memeriksa Aisyah dengan raut khawatir. "Kamu akan menerima tinjuku!" suara Erly terdengar marah. Dia sudah bergerak cepat ke arah lelaki itu dan Hans mencegahnya. Suara mereka lebih jelas terdengar karena kami semakin mendekat. "Erly! Tenanglah!" suara Hans bergetar karena Erly memberontak. Hans menarik tangan Erly yang seperti kerasukan ingin menghajar lelaki baru itu. Kami sampai dan dengan napas terengah, aku dan Tina berhenti di dekat Aisyah. Tapi ketika lelaki baru itu bangkit, Aisyah malah meninggalkan kami. Dia mendekati Hans, Erly dan lelaki itu. Mereka sekitar 5 meter dari kami. "Hoi-hoi! Aku hanya menyapanya, tidak perlu sekasar ini." Lelaki itu bangkit dengan baju agak basah. Wajahnya tersenyum aneh merespon tindakan Erly yang spontan. "Erly! Dia—" Aisyah dengan wajah pucat dan suara lelah menegahi Erly. Sepertinya dia akan memperkenalkan lelaki baru itu. Ini sedikit melegakan, karena jika lelaki itu orang asing, aku tidak tahu apa yang akan Erly lakukan kepadanya. “Abang?!” Hera bersuara, hampir berbisik. Aku dan Tina menatapnya, tapi anak ini malah menatap lurus ke arah sosok lelaki baru itu. "Ya!" suara Hans terdengar menjawab, tapi dia bukan menoleh ke arah kami, melainkan ke arah Erly. Ada apa ini? Aku sangat tidak mengerti dengan pemandangan aneh ini. Aisyah yang pucat dan lelah terlihat bingung, aku khawatir anak itu akan pingsan. Erly yang membatu di dekat Hans, tapi memandang lelaki baru itu. Hans yang menatap Erly dengan wajah penasaran. Hera yang membeku, juga melihat lelaki itu dengan tatapan rindu. Siapa yang dipanggil Hera? Lelaki itu, berarti Hera juga mengenalnya. Aku melihat Tina, yang ternyata juga menelaah lekat-lekat lelaki itu sambil terperangah. “Ada apa?” ”Mereka... mirip!” Aku bingung, lalu aku memperhatikan Hans dan lelaki itu dan aku juga shock. Mereka mirip!!! Ya. Itulah yang dikatakan Tina barusan. Hampir seperti anak kembar. Lalu pemandangan selanjutnya lebih membuatku yakin. Mereka berdua saling sapa dan berpelukan dengan senyuman yang... sangat akrab. Apa ini artinya mereka saudara? Lagipula Hera memanggilnya Abang, kan? Tapi... mereka mengatakan hanya berdua?! Ini membingungkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN