Episode 1
Amira memandang sendu gundukan tanah yang masih merah itu. Begitu pula dengan Gandi, sesekali dia mengusap batu nisan tempat peristirahatan terakhir kakek nya. Tepat setelah dia melakukan ijab kabul kakek langsung tak sadarkan diri. Sempat koma selama 2 hari. Tetapi Tuhan mempunyai rencana lain. Tadi sehabis solat subuh kakek menghembuskan nafas terakhirnya.
Gandi melirik Amira, dia jadi bingung dengan apa yang akan dia lakukan dengan Amira setelah ini. Memang Amira sudah berjanji tidak akan menuntut apapun darinya termasuk status. Tapi tetap saja dia merasa berdosa dengan kakek. Bagaimana pun Amira adalah istrinya, walau hanya menikah siri.
FLASH BACK
"Saya tidak bisa memenuhi keinginan kakek untuk menikah dengan kamu."
"Kenapa?"
"Ada hati yang sedang saya jaga."
"Maksud mas?"
"Saya telah berjanji menikahi seseorang."
Amira terdiam sesaat.
"Tapi apa mas tidak kasihan dengan kakek? Kita juga tidak tau sampai kapan kakek akan bertahan." Lanjut Amira sendu.
"Tapi saya juga tidak bisa meninggalkan Melati begitu saja. TOLONG MENGERTILAH."Suara Gandhi mulai meninggi membuat Amira spontan memejamkan matanya karena terkejut.
"Aku mengerti. Tapi tolong nikahi aku mas, aku tidak akan menuntut apa-apa. Termasuk status."
"Maksud kamu apa?" Gandhi menatap Amira penuh tanya.
"Mas hanya perlu mengakuiku sebagai istri di depan kakek. Tidak dengan yang lainnya. Dan aku tidak akan membuat mas kehilangan kekasih mas itu. Itulah janjiku." Ucap Amira penuh tekat walau hatinya terluka.
***
Gandi juga tidak bisa meninggalkan Melati. Gandi bukan pria yang bisa menjalin hubungan dengan banyak wanita. Dia adalah pria yang setia dan memegang janji.
"Ayo pulang." Amira mengangguk dan menyusul Gandi yang telah dahulu meninggalkan makam.
"Buat apa mas?"
"Kirim saja."
"Tapi buat apa no rekening ku?"
"Saya memang tidak bisa memberimu status sebagai istri. Tetapi saya akan tetap mengirimkan nafkah untuk mu setiap bulannya."
Sudah seminggu setelah kematian kakek dan Gandi akan berangkat kembali ke Jakarta untuk melanjutkan hidupnya seperti sebelumnya.
"Kita hanya menikah siri." Ucap Amira sendu.
Gandi bisa melihat kesedihan di mata wanita itu tetapi dia tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.
"Mas tinggal menjatuhkan talak, maka mas akan lepas dariku."
"Kita baru seminggu menikah Amira, apa mungkin aku akan menalak mu. Menjatuhkan talak tidak semudah itu, harus ada saksi di sini, siapa yang akan kamu jadikan saksi? Warga kampung akan merendahkan mu jika mereka tau kau di talak seminggu setelah pernikahan." Jelas Gandi.
"Baiklah." Ucap Amira setelah mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kalau begitu saya pergi dulu." Pamit Gandi.
"Mas."
Gandi mengerinyit melihat Amira meraih tangan nya dan____
Gandi terdiam saat Amira mencium tangan nya.
"Hati-hati di jalan mas, semoga setelah ini kau mendapatkan kebahagiaan." Ucapan tulus dari Amira membuat langkah kaki nya berat untuk melangkah.
Tiba-tiba Gandi mencium kening Amira. "Jaga dirimu."
Kalimat terakhir dan kecupan Gandi membuat Amira enggan membuka mata melihat kepergian suaminya.
***
Sudah 3 bulan Amira menunggu kepulangan Gandi untuk menjatuhkan talak padanya, tetapi Gandi tak kunjung kembali. Amira memang masih menghuni rumah sederhana peninggalan dari kakek Gandi.
Dulu Amira cuma perawat puskesmas yang di bayar Gandi untuk menjaga kakek nya selama dia bekerja di Jakarta. Tetapi siapa sangka, ketulusan hati Amira membuat kakek ingin menjodohkan Amira dengan cucunya Gandi. Keinginan itu di sampaikan kakek saat kondisinya tidak baik-baik saja membuat Mira tidak tega menolak keinginan kakek. Lagi pula sudah lama Amira menyukai Gandi dalam diam.
Tetapi Amira harus menelan rasa kecewa saat Gandi menolak keinginan kakek dan mengatakan pada Amira jika dia sudah memiliki orang lain.
Bukannya menyerah Amira malah memaksa Gandi tetap menikahinya hanya semata-mata untuk menyenangkan kakek walau dia tidak akan mendapatkan apa-apa dalam pernikahan ini.
Hari dan bulan terus berlalu. Amira masih setia menanti kedatangan Gandi walau itu hanya untuk menjatuhkan talak untuk nya.
Namun semua nya nilhil. Menelfon pun Gandi tidak pernah, apalagi datang menemuinya.
Tepat setahun berlalu Amira memberanikan dirinya menghubungi Gandi. Berhari-hari Amira mencoba menghubungi Gandi, tetapi tidak ada perubahan. Ponsel Gandi tidak aktif.
Tetapi satu yang pasti, Gandi selalu mengirimi Amira nafkah setiap bulanya.