15 | The Past

2520 Kata
Kematian kedua orang tua Adrian secara tiba-tiba menampar kedua bocah itu. Adrian menatap nelangsa makam ibu dan ayahnya. Di sampingnya, Damian mengelus bahu sahabatnya itu. Berusaha memberi kekuatan sekaligus menenangkan Adrian yang tampak sangat pucat. Damian kecil memeluk Adrian kecil yang merosot ke tanah. Bahu Adrian berguncang hebat, membuat Damian tidak kuasa menahan kesedihan. Usai pemakaman, para pengawal membawa Adrian dan Damian ke dalam mobil. Kedua bocah itu terdiam. Adrian yang kaku, dan Damian yang diam-diam melirik Adrian. Damian menunduk dalam perjalanannya. Ada apa dengan Adrian? Mengapa takdir begitu kejam membawa bocah itu untuk turut merasakan apa yang Damian rasakan? Tidak memiliki orang tua bukanlah hal yang mudah bagi anak seusianya. Damian benar-benar kasihan pada Adrian. "Jangan mengasihaniku, Damian." Damian menoleh pada Adrian yang masih asyik menatap pemandangan luar dari balik kaca mobil. "Aku tidak." "Aku tahu kamu mengasihaniku." Damian menunduk. Tangannya terulur ke samping, menepuk ringan bahu Adrian. "Apa pun yang terjadi, kamu selalu punya aku, Adrian." Adrian menoleh padanya. Hanya Damian yang dimilikinya saat ini. Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Kedua orang tuanya sangat kejam saat berjaya dulu, hingga tidak satu pun saudara mereka ingin berhubungan lagi dengan keluarga Adrian. Ayah dan ibunya hanya mementingkan keluarga kecilnya. Bahkan saat salah satu paman Adrian datang meminta pinjaman uang untuk biaya rumah sakit sang kakek, ayah Adrian malah mengusirnya dengan keji. Ayah dan ibunya kejam pada orang-orang kecuali Adrian sendiri, dan Damian. Dan kini mereka meninggalkan Adrian serta Damian dengan harta berlimpah yang tidak tahu harus Adrian apakan. Warisan mereka jatuh ke tangan Adrian. "Berjanjilah kamu akan tetap menjadi sahabatku sampai kapan pun," ucap Adrian bersungguh-sungguh. Ia takut untuk sendiri. Damian mengangguk. "Pasti!" Ketulusan Damian membuat Adrian terenyuh. Ia berjanji, akan membagi sebagian hartanya untuk Damian. *** Beranjak remaja, Damian dan Adrian menjadi pujaan para gadis. Kedua lelaki itu selalu bersama-sama. Adrian tidak jarang menggoda Damian dengan gadis-gadis cantik di sekolahnya. Tapi Damian tidak peduli. Ia masih setia pada gadis kecilnya. Susah-susah mudah menjalani hidup tanpa orang tua bagi Adrian. Masa remaja yang seharusnya bisa bersenang-senang, Adrian habiskan di perusahaan peninggalan kedua orang tuanya. Dibantu dengan Damian, keduanya berhasil mengolah saham perusahaannya. Adrian Dermaga. Nama itu kini adalah pemilik perusahaan yang besar. Adrian disegani bahkan di usianya yang baru menginjak 17 tahun. Sekolahnya yang nyaris terhambat karena sibuk mengurusi perusahaannya, tidak menjadi penghalang kesuksesannya. Damian selalu ada membantunya. Sampai suatu hari... Damian tidak sengaja membongkar tas milik Adrian saat sahabatnya itu tengah sibuk meeting dengan beberapa klien. Damian berniat mengambil buku PR Adrian dan mengerjakan tugas lelaki itu agar Adrian tidak dihukum besok. Tapi... Sebuah plastik berisi obat-obatan membuat Damian tertegun. Damian mengernyit. Menerawang obat-obatan tersebut di dekat cahaya. Obat apa ini? Mungkinkah Adrian sakit? Pikiran-pikiran buruk langsung menyentak Damian. Tidak! Adrian tidak mungkin mengenakan n*****a. Adrian itu baik. Damian tahu itu. Damian percaya pada Adrian untuk tidak berpikir pendek seperti itu. "Mereka sangat membosankan. Maafkan aku karena membuatmu lama menunggu." Damian lantas menyimpan obat itu dalam saku sweater abu-abunya. "Tidak apa," ucapnya. Berusaha keras membuat suaranya terdengar biasa-biasa saja. Adrian manggut-manggut. Ia lantas mengernyit mendapati tasnya terbuka di samping Damian. "Sedang apa kau dengan tasku?" Damian menggeleng. "Aku tadi berniat menyalin PR yang sudah kuselesaikan ke buku tulismu." Adrian tersenyum. "Baik sekali. Kau tidak takut kalau ranking-mu di kelas akan terkalahkan olehku?" Damian terkekeh. "Tidak mungkin. Nilai ujianmu cukup buruk. Aku tidak akan takut untuk membantumu." Adrian tergelak. Ia memukul kepala Damian dengan bersahabat. "Sialan." "Bisa kita pulang sekarang?" Damian menjulurkan lehernya. Mendapati tamu-tamu Adrian sudah pulang. "Sudah selesai, kan?" Adrian mengangguk. "Ayo. Akan kutraktir kau pizza." "Itu tidak akan membuatku mau mengerjakan PR-mu lagi, Adrian." Adrian terkekeh lantas merangkul tubuh Damian yang sama tingginya. Dalam perjalanan, Adrian asyik bercerita tentang kliennya yang berumur tua-tua. Adrian sampai takut punggung mereka retak saat bangkit dari duduknya. Padahal, tidak tua-tua banget. Adrian saja yang berlebihan karena terlalu muda di sana. Namun, justru karena usianya tersebut. Ia sangat bangga karena dirinyalah yang paling muda dan merasa paling hebat. Sementara asyik bercerita, Adrian tidak menyadari Damian yang terdiam. Bukan asyik mendengarkannya, tapi tengah memikirkan obat-obat yang tadi ditemuinya. Mengapa Adrian menyimpan obat tanpa nama seperti itu? Kalau obat yang wajar, pastilah terdapat kertas dan merknya di dalam. Tapi tidak dengan obat yang masih tersimpan di kantung sweater Damian. Entah bagaimana nanti dia mengembalikannya tanpa diketahui Adrian. Damian menghela napasnya. Tidak. Buang jauh-jauh pikiran tentang obat ini. Adrian tidak seburuk yang dibayangkannya. Pasti ada kekeliruan di sini. Baiklah. Mulai dari sekarang, Damian akan melupakan obat itu. Damian akan bersikap seolah obat itu tidak pernah ada dan tidak pernah ia temukan. Ia tidak ingin menyimpan semua ini lebih lama, menjadikan hatinya gelisah karena rasa penasaran yang tak henti bertanya. *** Adrian melempar topi toganya dengan bangga. Ia bangga karena bisa lulus bersama dengan Damian. Keduanya tertawa. Mereka melakukan high-five sebelum akhirnya meninggalkan acara. "Kau yakin mau pulang sekarang?" Damian melirik ke belakang. Acara terpentingnya memang sudah berakhir. Tapi ada seorang pun yang pulang. "Tidak mau foto-foto dulu?" Adrian memutar kedua matanya. "Seperti perempuan saja. Kita bisa foto di rumah kalau kau mau." Damian terkekeh. "Bukan begitu. Tapi foto dengan latar gedung kampus kita akan lebih terkesan." Adrian menggeleng. "Tidak. Aku mau pulang. Lelah." Melihat raut wajah lelah Adrian membuat Damian mencoba mengerti. Meskipun kecewa karena Adrian tidak mau berfoto dengannya. Padahal ini adalah wisuda pertama dan terakhir kalinya. Terakhir untuk Adrian karena lelaki itu sudah memiliki perusahaan sendiri. Sedangkan Damian? Tidak mungkin ia bekerja dengan Adrian. Yang ada, orang-orang akan membicarakannya. Jadi, lelaki itu berpikir untuk mengambil S2 ke depannya. Di dalam mobilnya, Adrian terdiam. Keringat dingin tampak di dahi lelaki itu. Tetapi Damian tidak melihatnya karena Adrian mengalihkan pandangan ke luar kaca mobil. Namun, Damian melihat jemari Adrian yang terkepal kuat di atas paha sahabatnya itu. "Kau tidak apa?" Pertanyaan Damian sanggup membuat Adrian sedikit terlonjak dari tempatnya. Damian pun mengernyit dalam karena reaksi Adrian. Mengapa Adrian begitu terkejut? Apa Damian baru saja berteriak? "Tidak." Jawaban singkat itu semakin membuat Damian penasaran karenanya. Ingin bertanya lebih lanjut, tapi ia tidak ingin membuat Adrian memaki karena telah mengusiknya. Meski Adrian tidak pernah sekalipun membentaknya. Begitu mobil telah sampai di halaman depan, Adrian terburu-buru keluar dari mobilnya. Meninggalkan Damian yang menatapnya aneh. Supir mereka bahkan juga tampak bingung karena tingkah Adrian. "Tuan Adrian tidak apa-apa, Tuan?" Damian menggeleng. "Aku akan menyusulnya." Damian bergegas meninggalkan supir itu dan menyusul Adrian. Ia mencari Adrian di kamar lelaki itu, tapi sosok Adrian tidak ada. Damian mencari ke berbagai penjuru mansion besar ini, namun Adrian juga tidak bisa di temukan. Lalu ponselnya berbunyi. Dari Adrian: Temui aku di kamarmu. Damian mengernyit. Jadi, Adrian sejak tadi berada di kamarnya? Untuk apa? Mengabaikan berbagai pertanyaan di benaknya, Damian bergegas melangkah ke kamarnya. Ia membuka pintu perlahan, dan mendapati Adrian tengah duduk santai di sofa tunggal di dekat jendela besar. "Aku mencarimu di mana-mana." "Aku tahu, makanya aku mengirimimu pesan." Damian menghampiri Adrian yang terlihat sangat tenang. Namun, ketenangan ini membuat Adrian tampak beda. Entahlah, terdapat aura yang berbeda di balik sosok Adrian yang kini tengah duduk di atas sofa berwarna putih itu. Damian menarik kursi belajar di dekat sofa tersebut dan menghadapkannya pada Adrian. "Ada apa?" tanyanya begitu ia telah duduk menghadap Adrian. "Ada yang ingin kuceritakan." Damian mengernyit. "Ceritalah. Tidak biasanya kau bercerita dengan meminta izin terlebih dahulu." Adrian terkekeh. "Bukan meminta izin. Hanya memperingatkanmu bahwa ini bukan cerita biasa." Adrian mencondongkan badannya. "Ini adalah sebuah rahasia Adrian Dermaga." Damian mendengus. "Aku sudah tahu macam-macam rahasiamu, Adrian." "Tapi tidak dengan yang satu ini, Damian." Tatapan serius Adrian membuat Damian bergeming di tempatnya. "Rahasia apa?" tanya Damian nyaris berbisik. Adrian menatap Damian tak terbaca. Namun, entah mengapa. Damian justru melihat penderitaan di balik kilat kedua mata Adrian. "Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku sendiri kalau kau sudah mengetahuinya." Damian mengembuskan napasnya. "Aku tidak akan. Aku berjanji. Katakanlah..." Adrian lantas menyerahkan sebuah amplop cokelat padanya. "Bacalah." Damian menerima amplop tersebut dan membukanya. Ia membaca nama yang tertera pada kop surat. Rumah Sakit Jiwa Harapan Kasih. Sepasang alis Damian bertaut. Ia melirik Adrian sekilas sebelum akhirnya membaca keseluruhan isi surat. Damian tertegun. Ia nyaris menjatuhkan surat di tangannya. "Kau..." "Ya. Kau tidak perlu mengucapkannya. Aku pun berat menerima dan mendengarnya." Damian menatap Adrian dengan pandangan tak terbaca. "Sejak kapan?" Adrian mengangkat bahunya. "Sejak kecil aku sering kali diluar kendali. Para pelayan bahkan kedua orang tuaku pun tidak tahu apa yang kualami. Aku terkadang sulit mengendalikan emosi. Terkadang aku tidak sadar diri meski aku membuka mata. Aku bisa kapan pun melakukan sesuatu yang tak terduga." Damian bersusah payah menelan ludahnya. Ia teringat kejadian waktu kecil dulu. Saat Damian melihat Adrian mengamuk. Saat Adrian tidak terkendali. Kedua mata Adrian menggelap saat itu. Adrian bahkan tidak segan melempar vas bunga ke kepala pengawal yang berusaha menenangkannya. "Aku yang membunuh kedua orang tuaku." Damian terkejut bukan main. "Apa?" Adrian menunduk dalam. "Aku tidak tahu mengapa aku berbuat sedemikian. Aku hanya marah saat itu. Entah aku ini gila atau memang psikopat!" jerit Adrian frustrasi. Lelaki itu mencengkram kepalanya dengan kuat. Damian menatap Adrian dengan nelangsa. Ia berniat menghampiri Adrian, namun lelaki itu justru melarangnya. "Jangan mendekat! Aku sulit mengendalikan emosiku!" Adrian menangis. Sepasang bahunya terguncang mengingat semua kekacauan yang telah ia perbuat. "Aku bisa melakukan apa pun di luar kesadaran kalau emosiku memuncak. Entah itu marah, sedih, atau senang sekali pun." Adrian memukul kepalanya. "Aku marah seperti kerasukan. Aku bisa mencelakai orang tanpa sebab. Bahkan membunuhnya. Aku sedih seperti tak ingin lagi hidup. Aku berkali-kali mencoba bunuh diri. Aku senang seperti orang t***l. Gila yang keterlaluan hingga aku sulit menahan untuk tidak tertawa." Damian terperangah. Ia tidak pernah tahu, selama ini Adrian menderita. Ia tidak pernah tahu, selama ini ia bersahabat dengan orang gila sekaligus seorang pembunuh. Adrian mendongak. Tubuhnya merosot ke lantai. Menatap Damian dengan memohon. "Kumohon, rahasiakan ini dari siapa pun. Aku tidak ingin kehilangan semua ini." "Mengapa mereka tidak menangkapmu?" tanya Damian seraya menatap surat RSJ tersebut. Adrian tertegun. "Kau ingin mereka menangkapku?" Damian menggeleng. "Bukan apa-apa. Jangan berpikir buruk. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Kau pasti bisa sembuh." Adrian menggeleng. "Tidak. Aku akan tetap seperti ini. Lagi pula, ada obat penenang yang selalu membantuku kembali normal." "Suatu saat nanti, jika kau lupa membawa obatmu. Apa yang akan kau lakukan, Adrian? Membunuh semua orang?" Adrian menunduk. Teriris mendengar Damian yang berkata kasar padanya. "Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu," ucap Damian menyesal. "Aku hanya tidak ingin kau melakukan hal-hal yang membahayakan meski kau tidak berniat melakukannya." Damian menepuk-nepuk bahu Adrian. "Kau harus sembuh! Kau harus rehabilitasi. Aku akan menemanimu." Adrian terenyuh. "Kau tidak akan meninggalkanku?" Damian menggeleng. "Tidak. Sampai aku melihatmu sembuh!" Adrian tersenyum. "Terima kasih. Kau sahabatku yang paling berarti. Aku berjanji tidak akan pernah melukaimu meskipun aku tidak sadar." Damian terkekeh geli. "Kalau kau mulai kambuh, aku akan menjauh darimu." Adrian tergelak bersamanya. Damian memang sangat pengertian. Adrian bebas menceritakan segalanya pada lelaki itu. Dan kini, beban akan rahasianya telah terangkat. Hidup Adrian terasa lebih ringan. Adrian menjalani rehabilitas dengan sembunyi-sembunyi. Damian selalu menyemangatinya. Adrian bahkan menyewa dokter jiwa pribadi untuknya. Bertahun-tahun terlewati dengan tenang. Adrian sudah lebih baik. Ia sedikit bisa mengontrol emosinya. Namun, berita itu menyebar. Seolah tidak membiarkan Adrian tenang dalam hidupnya, kabar bahwa pemilik sekaligus CEO perusahaan milik Adrian mengidap penyakit gangguan jiwa. Adrian marah saat orang-orang diperusahaan menatapnya dengan pandangan merendahkan, takut, nelangsa, dan segalanya yang buruk. Adrian mengamuk di perusahaannya. Adrian nyaris menghilangkan nyawa salah seorang karyawannya saat lelaki itu tak sengaja melempar penggaris besi di dekatnya ke arah kepala karyawan tersebut. Tidak sedikit yang resign. Mereka lebih mementingkan nyawa dibandingkan uang dan jabatan, meski gaji di perusahaan Adrian begitu menggiurkan bagi siapa saja. Namun, tidak sedikit juga yang tetap bertahan. Bukan bertahan untuk Adrian. Semua orang kini takut padanya. Khawatir pada perusahaan besar ini. Mereka bertahan, terlebih untuk kelangsungan perusahaan ini. Kemudian, salah satu bawahan Adrian mengetahui keberadaan Damian. Lelaki itu beserta dengan karyawan yang lainnya datang menemui Damian, meminta pertolongan pada Damian untuk ini... Damian terkejut. "Apa?" Seluruh karyawan yang menemuinya mengangguk-angguk. Membuktikan bahwa pendengaran Damian tidak salah. "Maaf saya tidak bisa." "Tuan, tolong kami." Lirih salah satu dari mereka membuat Damian terenyuh. Ia memikirkan nasib perusahaan Adrian bila masih di tangan sahabatnya tersebut. Tapi bagaimana mungkin ia sanggup menggantikan Adrian? Bukankah itu artinya ia merampas seluruh milik Adrian? "Tidak. Adrian sahabatku. Dia keluargaku." Para karyawan itu menunduk mendengar penolakan Damian. Baru saja Damian ingin bangkit meninggalkan semuanya, salah seorang karyawan kembali bersuara. "Terlihat kejam memang, tapi niat Anda adalah untuk menolong perusahaan ini, Tuan. Niat Anda adalah membantu kami. Banyak dari kami yang resign dan kini tidak memiliki pekerjaan. Kita tidak mau perusahaan ini bangkrut dan membuat kerja kami hanya sia-sia." Damian bergeming. "Nama Ardian Dermaga sudah mengancam kelangsungan perusahaan itu sendiri. Kami butuh Tuan untuk menggantikannya." Damian marah. Ia benci orang-orang yang menyuruhnya untuk mengkhianati Adrian. "Itu urusan kalian! Saya tidak ikut campur. Permisi." Damian berlalu, meninggalkan mereka semua yang menunduk. Seolah nasibnya terlihat di bawah lantai. Jatuh. Kotor. Dan terinjak-injak. Hanya Damian harapan mereka. Hanya Damian yang sebanding dengan Adrian. Mereka tahu, di balik suksesnya Adrian juga terdapat Damian. Maka dari itu, mereka memohon pada Damian untuk menolong mereka dalam hal ini. Namun, ternyata Damian sangat mementingkan perasaan Adrian. Karena Adrian lelaki itu bisa merasakan kehidupan mewah. Lantas, ia dengan kejam akan merebut seluruhnya?! Tidak. *** Hari-hari berlalu. Semakin banyak karyawan yang resign bahkan tidak ada kabarnya. Perusahaan Adrian tengah berada di ujung tanduk. Saat Damian tidak sengaja berjalan-jalan, ia menemukan seorang gadis kecil tengah mengamen di lampu merah. Damian tersenyum. Gadis itu mengingatkannya pada gadisnya dulu. Namun, baru saja selesai mengamen, wadah uang recehannya dirampas begitu saja oleh beberapa preman yang langsung kabur. Meninggalkan gadis itu menangis sendirian. Damian bergegas menghampiri gadis kecil yang masih terisak itu. Kemudian ia bersimpuh, membantu memunguti beberapa recehan yang terjatuh di trotoar. "Jangan menangis." Gadis kecil itu mengusap pipinya yang berlinang air mata. Ia tersenyum menerima uang picisan yang diberikan Damian. "Terima kasih, Om." Damian tersenyum. "Kamu nggak sekolah?" tanyanya spontan. Pertanyaan itu kontan membuat sang anak kembali bersedih. "Nggak. Papa sama Mama nggak kerja lagi. Jihan nggak punya uang." Damian memiringkan kepalanya. Meskipun tengah berjongkok, tingginya tetap sejajar dengan gadis kecil yang tetap berdiri itu. "Kenapa tidak kerja?" "Papa sama Mama takut. Katanya, kantor itu memiliki bos yang sakit jiwa," ucap gadis itu polos. "Lagi pula, sepertinya sudah mau bangkrut perusahaannya. Jadi percuma kalau kembali. Begitu kata Papa dan Mama." Damian tertegun. Semakin hari, kabar akan perusahaan dan Adrian semakin kacau. Jika terus dihiraukan, bagaimana ke depannya? Begitu sampai di kostannya, Damian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia memang tidak tinggal di kediaman Adrian untuk sementara waktu karena tengah menjalani S2. Demi Tuhan! Mengapa Damian kepikiran soal perusahaan itu?! Ia tidak boleh mengkhianati Adrian! Tapi, bukankah dengan menghiraukannya seperti ini akan memperburuk keadaan perusahaan dan mental Adrian sendiri? Belum lagi, para pekerja yang merasa dirugikan. Jika tidak segera diselesaikan, rahasia itu akan bocor pada pihak yang berwajib. Entah bagaimana nanti ia bisa menolong Adrian, terlebih perusahaannya yang akan membuat beban berat bagi Adrian. Kalau sudah begitu, Damian tidak bisa membantunya. Lantas, apa yang harus Damian lakukan? Damian menarik napasnya dalam-dalam. Meyakinkan diri untuk jawaban yang tepat. Dan pada akhirnya, Damian memilih mengkhianati. Mengkhianati untuk menyelamatkan sahabatnya...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN