Tepuk tangan di belakang membuat Sara mengernyit, tapi tidak untuk Adrian. Lelaki itu sudah menduga, Damian akan segera datang menghancurkan segalanya. Tidak membiarkan ia berhasil keluar membawa Sara.
"Bagaimana caramu menyelundup ke daerahku, kawan?" tanya Damian. Ia berjalan mendekat dengan kedua tangan tenggelam dalam saku celana.
"Berhenti di situ! Kamu nggak akan bisa lagi menculikku! Suamiku sudah datang," pekik Sara, mampu membuat langkah Damian terhenti.
Perempuan itu memeluk lengan Adrian dengan erat, seolah mengisyaratkan pada Damian bahwa keduanya tak terpisahkan.
Alih-alih meludah, Damian mengangkat bahu. Tanpa banyak bicara, ia menggedikkan dagu ke arah Adrian. Memerintahkan seluruh pengawalnya untuk menghabisi lelaki itu. Damian tidak main-main. Ini wilayahnya. Berani sekali Adrian menginjak daerah kekuasaannya!
Damian mengamati Adrian yang tidak dapat melawan. Lelaki itu dikeroyok oleh para pengawalnya tanpa bisa berkelit. Pemandangan indah menyaksikan penderitaan orang yang berani melawannya. Namun, rasa senang itu hanya sementara. Kecemasan Damian tiba-tiba muncul ketika Sara memekik. Perempuan itu mengaduh kencang sambil memegang perutnya. Siku salah satu pengawal Damian tak sengaja mengenai perutnya saat perempuan itu tengah berusaha menolong Adrian.
Sara terhuyung, akan terjatuh membentur kerasnya aspal kalau saja Damian tidak bergegas menahannya. Dengan mudah, ia membopong tubuh ringan Sara dan membawanya menjauh. Ia tidak peduli bagaimana keadaan Adrian nanti. Kalau perlu, biarlah nyawanya melayang sekalian. Yang terpenting adalah kondisi Sara juga bayi dalam kandungan perempuan ini. Meski ayah sang bayi itu sendiri tengah tersiksa dalam kuasanya.
***
Sara terbangun begitu mendengar keributan di luar kamar Damian yang pintunya sedikit terbuka. Tidak begitu jelas, namun samar-samar ia bisa mendengar amarah Damian. Entah pada siapa lelaki itu memaki.
"Aku percaya padamu untuk mengawasinya. Dan kali ini kau mengecewakanku, Noah."
Meski amarah Damian telah mereda, pemuda itu tetap merasa bersalah karena telah lalai.
"Saya benar-benar minta maaf, Tuan. Saya mengawasinya seperti biasa. Tapi kali ini saya lengah. Saya tidak pernah mengira Nyonya Sara akan pergi melewati basement."
Noah menunduk. Ia merasa yakin bahwa penjagaannya sangat ketat. Ia menyebar kawanannya di berbagai sudut. Bagaimana Adrian bisa masuk? Dan mengapa bisa Sara lolos dari pengawasannya juga para penjaga? Ada yang tidak beres.
"Maaf bila saya lancang, Tuan. Mungkin saya keliru, tapi perasaan saya mengatakan bahwa ada orang lain yang terlibat dalam hal ini."
Damian mengernyit. Ia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengeluarkan ponsel dan menghubungi Zero.
"Zero, bantu aku menyelidiki kasus ini... Ya... Kutunggu."
Damian kembali menatap Noah begitu sambungannya terputus. "Menurutmu, siapa yang telah berani ikut campur urusanku, Noah?"
Noah menggeleng. Meski kecurigaannya belum matang, tapi entah mengapa semua ini membuat pikirannya mengarah pada satu orang.
***
"Selamat pagi Nyonya," sapa Noah riang seolah tidak terjadi apa-apa kemarin. "Bagaimana tidur Nyonya? Nyenyak, kah?"
Noah merasa tatapan Sara semakin menajam seiring langkahnya mendekat.
"Mau apa kamu?!" ketus Sara, tidak memedulikan senyum Noah yang bersahabat.
"Saya akan melanjutkan cerita yang tertunda setelah Nyonya sarapan."
Wajah Sara tampak memerah saking kesalnya. "Untuk apa?! Aku cuma mau pulang!" jerit Sara frustrasi.
Noah tersenyum. "Mungkin saat ini Nyonya hanya ingin pulang dan pulang. Tapi, mau kah Nyonya mendengarkan kisah saya? Setidaknya sampai habis nanti. Lalu, Nyonya yang akan menentukan sendiri selanjutnya. Akhir cerita berada di tangan Nyonya."
Sara yang baru saja akan menyela omong kosong Noah, tiba-tiba terdiam. Akhir cerita berada di tanganku? batinnya bertanya-tanya.
"Maksudmu?" Sara lantas menggeleng dan meralatnya. "Berada di tanganku? Memangnya aku kenapa?"
Noah mengangguk. "Ya. Saya tidak bisa beritahu Nyonya, kecuali menceritakan lanjutannya dan membuat Nyonya mengerti sendiri."
Sara terdiam. Ingin memaki dirinya sendiri karena tergiur mendengar lanjutan cerita Noah. Seharusnya ia melakukan segala cara untuk keluar dan kabur dari sini. Namun, tubuhnya terpaku. Tetap duduk pada posisinya di atas ranjang. Fisiknya seolah telah siap mendengar kelanjutan cerita dua bocah misterius yang pernah Noah ceritakan.
Tanpa disadari, Sara mengangguk. Ia merutuki kepalanya sendiri. Mengapa ia justu mengangguk?! Seharusnya ia katakan "aku tidak peduli!" atau kalau perlu bahkan menghajar Noah dengan tenaganya yang tak seberapa.
Noah tersenyum geli. Perempuan itu mengangguk mantap tapi kerutan di keningnya juga semakin dalam. Noah yakin, Sara berniat menolak dan mengabaikannya. Namun, rasa penasaran perempuan itu mengalahkan niatnya untuk kabur.
"Baiklah, saya mulai..."
***
Bocah itu tersenyum. Ia sangat senang membantu sahabat satu-satunya itu dalam melakukan apa pun.
Damian namanya. Laki-laki itu sangat beruntung dipertemukan dengan Adrian. Nasibnya yang berubah drastis, membuat Damian tidak akan pernah lupa kebaikan keluarga Adrian padanya.
Damian bangga ketika tahu Adrian begitu memercayainya. Hanya Damian yang mau mendengar keluh kesah Adrian tentang keluarga yang mengekangnya. Hanya Damian yang dibiarkan Adrian mengetahui segala rahasia bocah kaya itu.
Sampai suatu hari...
Damian merasakan kejanggalan. Adrian bertindak tidak wajar. Tidak seperti Adrian yang dikenalnya. Adrian mengamuk. Bocah itu menjambak rambutnya, memaki seluruh pelayan, dan membanting beberapa perabotan di rumah.
Damian takut, tapi bocah itu ingin sekali membantu. Ia ingin menghampiri Adrian dan menenangkan sahabatnya tersebut. Namun, salah seorang pelayan tertua menahannya bahunya sambil menangis. Pelayan itu menggeleng, melarang Damian untuk menghampiri Adrian.
Damian benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Adrian. Sampai tengah malam menjelang, Damian yang ingin tidur di kamarnya pun masih mendengarkan jeritan Adrian yang memekakan telinga. Ia sedih. Terlebih untuk Adrian yang seperti bukan dirinya. Seluruh pelayan dan penjaga bahkan kewalahan menanganinya.
Lalu, jeritan itu berhenti. Pecahan barang pun tidak lagi terdengar.
Damian yang penasaran pun bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengintip kamar Adrian di seberang kamarnya dari balik celah pintu.
Terlihat beberapa orang berjas putih tengah berbincang dengan orang tua Adrian yang ternyata telah pulang. Sang ibu tampak sekali tengah terisak sambil menutup mulutnya.
Ya Tuhan, ada apa dengan Adrian? batin Damian bertanya-tanya. Ia berharap, Adrian tidak apa-apa. Damian sangat sedih melihatnya, apa lagi jika mendengar sesuatu yang terjadi pada sahabat satu-satunya itu.
Begitu lelah dengan pikirannya pun Damian kecil akhirnya tertidur. Ia memeluk gulingnya dengan erat. Damian menangis. Kalau sampai ia kehilangan Adrian, siapa lagi temannya di dunia ini? Cukup kehilangan gadisnya. Ia tidak lagi ingin kehilangan.
***
"Mengamuk?" Sara mengernyit. "Seperti orang gila saja."
Noah bergeming mendengar ucapan Sara. Pemuda itu kemudian berdeham. Tidak menggubris komentar Sara.
"Sampai di situ saja, Nyonya."
Sara terperangah mendengarnya. "Kamu ini! Kenapa selalu berhenti bercerita di saat sedang seru-serunya?!" pekik Sara kesal. Ia bahkan tergoda untuk melemparkan bantal di dekatnya ke wajah Noah yang menyengir tanpa dosa.
"Nanti kalau ceritanya habis, Nyonya tidak mau makan lagi gimana? Ini taktik saya, Nyonya."
Sara mendengus. "Yaudah sana! Aku mau istirahat."
Noah membungkuk sopan. "Baik, Nyonya. Beristirahatlah yang tenang."
Sebuah guling pun membentur empuk kepala Noah yang kini terkikik geli.
"Kamu saja yang mati!"
***
Sambil terkikik, Noah menutup rapat pintu kamar tuannya. Ia bahkan tidak sadar, Damian telah menungguinya.
"Aku ingin berucap terima kasih."
Noah tertegun mendapati Damian tengah bersandar di dinding luar kamarnya. "Ya, Tuan?" tanya Noah kembali, meyakinkan pendengarannya.
"Terima kasih."
Noah menelengkan kepalanya. "Untuk apa?"
"Kau telah membuat Sara tersenyum tadi. Kau menghiburnya."
Noah terkikik geli. "Nyonya Sara itu memang lucu. Saya tidak menghiburnya, Tuan."
"Aku tetap berterima kasih."
Noah tertegun. Ucapan Damian benar-benar tulus padanya. Membuat Noah menyadari, Sara benar-benar penting bagi Damian.
"Sama-sama, Tuan."
Usai Noah menjawabnya, Damian berlalu meninggalkannya. Tuannya itu tampak lelah, tapi tidak sampai membuat Damian lengah dalam segala hal.
Noah menghela napasnya. Damian pasti kewalahan menjaga Sara agar tidak seorang pun yang bekerja pada Adrian, berhasil membobol istananya. Meski tampaknya Adrian lemah karena gagal membawa Sara kembali, akan tetapi begitu mendapati raut Damian yang sarat akan rasa lelah membuat Noah berasumsi bahwa Adrian sebanding dengan tuannya. Adrian tidak selemah dugaannya.
Damian masuk ke dalam kamar Sara tanpa mengetuknya terlebih dulu. Membuat Sara nyaris terjungkal dari pinggir tempat tidur karenanya.
"Mau apa kamu?" tanya Sara dengan sepasang mata mendelik.
Damian mendengus. "Ini rumahku, Sara. Aku bebas berbuat apa pun di wilayahku."
Maksud Damian hanya ingin mengingatkan Sara bahwa perempuan itu masih tinggal di rumahnya. Tapi pikiran Sara sepertinya lain. Bayangan akan Damian yang ingin berbuat macam-macam padanya membuat Sara mundur, merapatkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Menjauh sebanyak apa pun juga tidak akan membuatku sulit menggapaimu, Sara. Kemarilah."
Sara menggeleng. Ia memeluk lututnya dengan erat. Mengingat kaki tangan Damian tanpa hati memukuli suaminya membuat Sara berpikir Damian juga tidak akan segan untuk menyakitinya.
"Aku tidak akan menyakitimu kalau kamu menurut, Sara." Damian berucap seolah lelaki itu membaca pikiran Sara.
Sara semakin menggeleng kuat. "Kamu kejam."
Baru saja ia ingin mendekat, kalimat Sara menghentikan langkahnya. Oh, benarkah? Bahkan Damian baru saja ingin bertindak lembut pada perempuan itu. Damian ingin memperbaiki hubungan dan kesan Sara padanya. Namun, ucapan Sara lagi-lagi menggores hatinya. Entah mengapa bibir tipis perempuan itu selalu mampu menusuk hati Damian bahkan tanpa lelaki itu tahu sebabnya.
Dengan kesal lelaki itu mengatupkan rahangnya. Ia bergegas menghapus jarak. Menarik Sara dengan kasar, memaksa perempuan itu untuk berdiri dan menatap langsung kedua matanya.
"Tarik ucapanmu," tukas Damian dengan bibir menipis.
"Nggak! Kamu memang jahat!" Sara mendongak dengan air mata berlinang. "Kamu memukuli suamiku dengan keji! Memang apa salahnya?! Apa salahku?!" jeritnya seraya mendongak. Menatap Damian tepat di kedua mata lelaki itu.
"Kamu mau tahu kenapa, Sara?"
Sara terdiam. Entah kemana perginya keberanian Sara yang sudah-sudah. Tiba-tiba saja perempuan itu takut. Sangat takut pada Damian.
"Jawab pertanyaanku, Sara!" bentak Damian seraya mengguncang-guncang tubuh Sara.
Sara menggigit bibirnya. Cengkraman Damian di lengannya terasa menyakitinya. Tapi ia tidak ingin terlihat lemah! Cukup air matanya saja yang mengkhianatinya. Tidak dengan tubuhnya. Bisa-bisa, Damian akan semakin berkesempatan untuk berkuasa!
"He's insane, Sara."
Sara tertegun. Ia membalas kedua mata Damian dan mencoba menyelaminya. Mencari-cari kebohongan dalam ucapan itu, namun tidak ia temukan.
Sara menggeleng. "Nggak. Kamu yang gila! Kamu yang menculikku! Kamu yang datang tanpa diundang dan membuat keluarga kecilku berantakan. Kamu yang gila!" tutur Sara kencang. Perempuan itu mencoba berontak, ingin melepaskan diri dari Damian sekarang juga.
Damian menatap Sara nelangsa. "Kamu tidak percaya?"
"Nggak! Aku nggak akan percaya apa pun yang keluar dari mulutmu itu!"
Damian memiringkan kepalanya. "Kalau aku bilang, aku akan membunuhmu sekarang. Apa kamu percaya?"
Sara terdiam. Tubuhnya tidak lagi berontak dalam kuasa Damian.
Lelaki itu tersenyum miring. "Maaf mengecewakanmu. Tapi perlu kuingatkan, bahwa kamu memang percaya apa pun yang iblis ini katakan, Sara."
Sara menunduk. Merutuki hatinya yang memang memercayai ucapan Damian.
Tidak. Tidak mungkin. Semua yang dikatakan Damian tidak benar! Adrian tidak gila!
Dan kisah dari Noah pun terngiang di telinganya. Menyentak Sara akan sebuah kenyataan baru yang membuat perempuan itu lemas.
Sara pingsan dalam kuasa Damian.