Damian sudah diperbolehkan pulang. Tidak. Bukan diperbolehkan, melainkan lelaki itu sendiri yang memaksa. Ia tidak ingin berlama-lama di rumah sakit. Membuang waktu hanya akan membuatnya terlihat lemah tak berdaya. Sara membutuhkannya. Dan di sinilah Damian kini. Berbaring di atas ranjang yang pernah menjadi tempat Sara beristirahat. Aroma perempuan itu di spreinya bahkan masih terasa menggelitik indra penciumannya. Damian tidak berniat menggantinya. Getaran lembut ponsel di atas nakas menyadarkan Damian bahwa sejak tadi ia melamun. Lelaki itu bahkan masih betah bertelanjang d**a sejak ia selesai membersihkan diri setengah jam yang lalu. Ia pun segera meraih ponselnya dan menjawab panggilan... "Ya?" "Mungkin kau terkejut kalau aku langsung bicara pada intinya." Damian mengernyit begit

