“Jadi?” Fadlan mengusap wajahnya. Matanya melirik Feri yang tak kalah frustasi. Usai makan-makan, mereka diseret ke rumah opa lalu diinterogasi begini. Aih, mereka lupa karena bagaimana pun, lelaki tua ini adalah ayah mereka. “Ando,” ucap Feri menggantung. Opa menurunkan korannya lalu kaca matanya. “Ingin melamar Farras.” Opa menganga. Tangan tuanya terkepal. Oma yang turut mendengar nyaris jantungan. Kaget luar biasa. “Bagaimana bisa?” Opa menggeleng tak percaya. Ini hadiahnya sepulang dari umroh? Allah.....dadanya tiba-tiba sakit. Hal yang membuat dua anak lelakinya kompak bergerak namun ia menggeleng. Ia tak apa-apa. Cuma kaget saja makanya begini. Beberapa detik kemudian, sakit itu menghilang perlahan. “Sejak kapan?” Feri menggeleng lemah. Tiap ditanya dengan pertanyaan itu, And

