Author POV
Seminggu sudah Setelah pertemuan tak terduga itu terjadi
Hari-hari berjalan sebagaimana mestinya..
Di sudut ruangan tepatnya di balkon sebuah apartemen, seorang pria tampan dan gagah menatap lurus ke depan sambil menyesap segelas Wine yg ada di tangannya..
Sesekali pria itu memutar gelas itu dan menatapnya, entah apa yang ada di pikirannya saat ini..
Drrrtt
Drrrtt
Drrrtt
Suara ponsel yang bergetar dari balik saku celana nya membuyarkan semuanya.
"bagaimana?"
tanya pria itu dengan suara yang mencekam.
"Leo, gue sudah mengirimkan semua datanya di email dan gue yakin Lo pasti puas dengan informasi yang gue kirimkan"
"Ok, thanks.. bayarannya nanti biar Tom yang hubungi Lo.."
Tanpa menuggu jawaban dari seberang sana Leo memutuskan sambungan telepon itu..
Leo,
Leonard Axton
Adalah Pria yang dulu nya terkenal Humble dan Friendly. Namun karena suatu hal yang terjadi, mengakibatkan Leo menjadi sosok yang Dingin, Angkuh dan bisa di bilang tidak mudah di dekati, terlebih oleh seorang wanita..
Kedekatan antara Leo dan Lisa terjadi karena selain mereka teman satu sekolah juga karena orang tua mereka saling mengenal satu sama lain.
Pria yang memiliki tubuh Atletis dengan Pahatan yang nyaris sempurna itu adalah Putra tunggal dari Frans Axton.
Frans Axton sendiri adalah seorang pengusaha yang bisnisnya tidak bisa di ragukan lagi keberadaannya..
Golden Company adalah perusahan yang bergerak di bidang desain arsitektur dan perancangan.. bukan hanya itu Golden Company sendiri memiliki anak cabang yang bergerak di bidang lainnya.
Golden Company sendiri menduduki peringkat 2 dunia setelah Setiadi Company dan di bawahnya yang menduduki peringkat 3 dunia adalah perusahan milik keluarga Nayla yaitu Leezan Corp.
Setelah menerima telepon Leo bergegas masuk ke ruang kerjanya dan menyalakan laptopnya.
Memeriksa Email yang sudah di kirim oleh detektif dan juga hacker terbaik sekaligus sahabat Leo, yaitu Brian..
Leo tersenyum samar menatap barisan-barisan informasi yang ada di depannya..
"Kita pasti akan bertemu lagi"
gumamnya dengan penuh penekanan.
.......
Di lain tempat...
Nayla termenung sendiri di taman belakang kediamannya..
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam namun Nayla enggan beranjak dari tempatnya duduk.
Menatap setiap bunga-bunga yang ada di sudut taman itu, seakan bunga itu adalah suatu hal sangat menarik..
cuaca cukup dingin di waktu yang sudah hampir tengah malam namun tak lantas membuat gadis cantik ini menyerah untuk terus berada di sana.
Tiba-tiba sebuah tangan bertengger di bahu nya.. yang membuat nayla sedikit terlonjak kaget..
"Melamunin apa Nay"..
tanya bella pada Nayla dan duduk di samping adik iparnya..
Mendengar suara lembut sang kakak ipar membuat seketika matanya memanas..
Mata hitam pekat itu kini di kelilingi dengan genangan air mata..
Melihat sang adik terdiam menundukkan kepala dan bahu yang perlahan bergetar membuat tangan bella refleks mengusap punggung sang adik dengan lembut..
"Ceritakan pada kakak, ada apa?"
Hening,, untuk sesaat bella membiarkan semua tangis nayla keluar dan menunggu nayla cukup tenang untuk berbicara..
"Dia kembali kak,, aku bertemu lagi dengannya"
Ucap nayla,, perlahan kepalanya terangkat dan menampilkan wajah yang telah basah oleh aliran deras air mata..
"apakah masih sangat sakit bertemu dengan dia sayang?"
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut nayla, hanya tangisan yang terdengar sangat memilukan.. Namun setiap orang yang mendengarkan tangisan nayla akan tahu bahwa ini sangat menyakitkan untuknya..
"Sabarlah,, jika memang kalian berjodoh pasti dia akan tetap ada di samping kamu, tapi jika memang dia bukan jodoh kamu maka ikhlaskan dia"
Bella tahu apa yang di alami oleh adik iparnya itu, sebelum dia menikah dengan kakaknya nayla,, nayla sudah sangat dekat dengan bella..
Nayla selalu menceritakan apa yang selalu dia alami.. tidak ada rahasia di antara Nayla dan juga bella.. itu sebabnya bella mengerti betapa rasa sakit yang di rasakan oleh nayla..
"tapi mereka bersama kak"
mendengar itu, bella langsung merengkuh adiknya.. membawa nayla kedalam pelukannya mencurahkan seluruh perhatiannya untuk nayla..
Sementara di sudut lain.. ada sepasang suami istri yang melihat pemandangan menyakitkan itu..
Hati orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya harus tersakiti seperti itu. Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan selain melihat..
Bukannya mereka tidak tahu akan kesedihan anaknya hanya saja mereka pura-pura tidak tahu dan tidak ingin bertanya.. Pikir mereka untuk apa membuka luka sang anak, jika sang anak sendiri sudah mati-matian untuk menutup luka itu.. Meski pada akhirnya mereka tahu bahwa luka itu belum tertutup sepenuhnya..
Yang bisa mereka lakukan sekarang hanya mengikuti skenario dari sang anak sendiri karena mereka tahu bahwa Nayla akan tahu apa yang terbaik untuk kebahagiaannya..