Bab 16. Kucing Genit

1052 Kata
Sampai di rumah sekitar jam 10 siang. Aku langsung bergegas menggendong rival terberat ke dalam toilet dekat dapur. Namun, baru saja menurunkan si Miau, suara Damian terdengar. "Kamu mau ngapain bawa si Miau ke toilet dapur?" Masih saja nanya. Tadi dia sendiri yang suruh, sampai rumah langsung mandikan si Miau. Sekarang pura-pura tanya. "Mau mandiin si Miau. Kenapa?" "Hah? Jangan di situ mandiinnya. Enak saja!" katanya datang menghampiri, mengangkat binatang yang hobi tidur itu, lalu membelai lembut. Ya elah, keseringan belai Kucing, istri sendiri tidak pernah dibelai. Eh iya, aku kan cuma istri kontrak. "Terus di mana?" "Di toilet kamar kita." Astaghfirullah ... cuma mandiin Kucing saja repotnya nauzubillah. Untung dia udah transfer tiga juta, coba kalau belum ditransfer? Ogah. Mau tak mau, mengikuti keinginan Damian. Mengikutinya masuk ke dalam kamar. Penuh kelembutan dan cinta serta kasih sayang, Damian meletakkan Miau di atas bathub yang belum terisi air. "Nah, sekarang kamu mandiin dia, keramasin dia, creambath, jangan lupa kepalanya dipijitin!" Ya ampun, cuma Kucing sampai diperlakukan bagai putri Raja. Keterlaluan si Damian. "Eh, malah bengong? Cepet lakukan! Ingat, aku udah bayar kamu tiga juta." "Iya. Tapi, Dam ... masa iya mandiin Kucing di situ? Nanti bulunya rontok, terus nempel di situ, gimana? Itu kan tempat mandi kita, Dam." Aku harus protes. Kalau dibiarkan Damian akan menjadi-jadi tingkahnya dan semakin aneh. "Ya jangan sampai bulunya rontok-lah ... udah, udah ... cepetan mandiin!" Damian keluar toilet, tinggallah aku dan Miau. Menghampiri Kucing itu, memandikannya pelan-pelan. "Dipikir-pikir enakan jadi kamu, Miau. Dimanja banget sama si Damian. Aku aja yang istrinya, enggak kayak gini. Ke salon cuma satu kali, itu juga karena mau ketemu keluarga besarnya." Sengaja, aku curhat sama Kucing supaya dia tahu, betapa menyedihkannya perasaanku alau lihat Damian lebih sayang dan lebih memanjakan Miau. "Meooong ...." Ya elah, cuma ditanggapin Meong doang. *** Selesai memandikan Kucing, merebahkan diri di atas tempat tidur. Melirik Damian, lelaki itu tampak sedang fokus pada layar laptop. "Udah selesai mandiin Miau-nya?" Baru saja memejamkan kedua mata, suara Damian terdengar. Aku menoleh sekilas, lalu menjawab. "Udah. Tuh Kucingnya juga udah tidur lagi," jawabku melirik Miau yang sudah meringkuk tidur di atas sofa. Damian menghentikkan pekerjaannya, ia datang menghampiri. Duduk di sampingku, lalu tangannya terulur, memegang lenganku, memijat. "Terima kasih, kamu mau mandiin Miau. Dia kalau dimandiin kamu, jinak. Kalau aku atau Bi Sanah yang mandiin, pasti ngamuk. Terima kasih." Tiba-tiba Damian mengecup keningku cukup lama, sambil tangannya masih memijat tanganku. Ya Allah, pertanda apakah ini? Apakah setelah ini, dia mengajak bertempur lagi? Tidak, aku tidak mau. Sumpah, lagi capek banget. Damian tersenyum tipis. Sekarang pijatannya berpindah alih ke kedua kakiku. Coba bayangkan, seorang bos mafia sedang memijat kaki istrinya? Kalau ada orang lain yang melihat, pasti dikira suami takut istri. "Kenapa kamu diam aja?" Suara Damian meninggi. Aku terkejut salah tingkah. Menarik kedua kaki dari pijatan tangannya. "A-aku emang ... emang harus ngomong apa?" tanyaku gugup. Damian membuang muka, membuka celana dan pakaiannya. Nah kan, pasti ujung-ujungnya mainan. "Gak usah ngomong apa-apa. Sekarang aku mau mandi dulu." Eh? Kirain mau ngajakin bertempur ternyata mau mandi. Ah, jadi malu kepedean. *** Sedari tadi, suara handphone Damian berdering. Aku tidak berani melihat siapa yang meneleponnya apalagi mengangkat telepon itu tapi suaranya sangat mengganggu. Lagian tuh orang kalau mandi lama banget sih? Hampir 20 menit, ngapain aja di dalam toilet? "Dam ... woy, Damian ...." teriakku yang entah didengar atau tidak. "Damian!" Memanggil namanya sembari menggedor-gedor pintu. Suara gemericik air tidak terdengar. "Ada apa?" Nah tuh, baru menyahut. "Handphone kamu bunyi terus dari tadi, Dam ... cepetan keluar toilet!" Tidak berselang lama, wajah Damian menyembul dari balik pintu. Rambutnya masih basah, bertelanjang d**a. "Apa?" "Ada telepon. Eh, maksudnya telepon kamu dari tadi bunyi. Angkat dulu ke!" kataku sambil menelan air liur melihat postur tubuh Damian yang seksi. Tanpa menanggapi ucapanku, Damian keluar toilet, melilitkan handuk sebatas pinggang. Damian menatap layar ponselnya, tapi bibirnya tersenyum, ia lantas keluar kamar, berdiri di balkon. Aku bergegas menghampiri, tapi di pintu balkon saja, niatnya mau menguping. Ingin tahu, siapa yang menelepon sampai Damian senyam-senyum sendiri. "Hallo, Opa?" Hah? Opa? Berarti kakeknya Damian. Waduh, lelaki tua itu kalau bertemu denganku suka senyam-senyum tidak jelas. Mengerikan kalau melihat orang yang ekspresi wajahnya kayak opa. Jangan-jangan opa mau mengajak kami bertemu? Ah, males. Mengetahui siapa yang menelepon, aku sudah tidak berselera menguping pembicaraan Damian. Duduk di sisi ranjang, pandangan lurus ke depan. Lalu, memindahkan pandangan ke perutku yang belum juga membuncit. Kalau anak ini sudah lahir, apa aku sanggup meninggalkannya? Aku takut, kalau anak ini berada di tengah keluarga besar Damian, tidak diperlakukan dengan baik. Tapi, aku dan Damian telah melakukan kesepakatan, aku sudah melahirkan, memberinya anak, kami bercerai. Ya Allah, apakah yang sudah aku lakukan berdosa? Kesepakatan ini seperti menganggap pernikahan bukan sesuatu yang sakral. Damian sudah selesai menelepon. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. "Eh, sekarang kamu ganti pakaian. Kita ke rumah utama sekarang. Papah dan Opa udah pulang. Jangan lupa, bawa surat keterangan dokter dan hasil USG pertama." Perintah Damian membuat semangat hidupku meredup. Paling malas bertemu dengan keluarga besar Damian. Ucapan keluarganya terutama ucapan Oma dan mama tidak bisa dijaga. Sering kali menyakitkan hati. "Aku gak ikut, ya? Kamu aja yang bawa surat keterangan dokter dan USG-nya. Aku capek banget. Perutku juga kayaknya kram lagi, gara-gara kelamaan jongkok waktu mandiin Miau," kataku beralasan padahal aslinya aku malas sekali bertemu dengan mereka. Bisa dibayangkan dari sekarang, obrolan apa yang akan keluar dari mulut-mulut bergincu menor itu. Damian mendekati, aku yang sedari tadi rebahan, memunggunginya. "Coba sini, aku elus-elus perutmu," katanya tapi tidak membuatku bahagia. Aku hanya membalikkan badan, bertelentang. Membiarkan Damian mengusap perutku. "Kalau kamu enggak mau ke sana sekarang, gak apa-apa. Nanti malam atau besok pagi saja." Mau sekarang, nanti malam, atau besok, aku tetap tidak mau. Sayangnya kalimat itu hanya meluncur dari suara hatiku. Aku mana berani mengucapkan langsung pada Damian. "Iya." Hanya itu jawabanku. Ternyata dielus-elus seperti ini nyaman juga. Coba saja, tiap hari perlakuan Damian seperti ini, aku pasti bisa lebih nyaman dan bahagia. "Meooong ... meong ...." Kedua mataku terbuka, mendengar suara Miau. Ya Allah, itu Kucing ganggu amat sih? Baru saja menikmati kelembutan tangan Damian, Miau datang, duduk di atas pangkuan Damian. "Kamu mau aku elus-elus juga? Sini ...." Damian beranjak, turun dari ranjang, duduk di sofa sambil mengelus-elus si Miau. Dasar Kucing genit, enggak boleh banget Damian mesra sama aku. Sialan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN