Pagi hari, usai sarapan. Damian menyuruhku bersiap menemui papa dan opa. Sumpah dah, males banget.
"Eh, cepetan ganti pakaian?" sentak Damian.
Aku mendelik, cemberut. "Emangnya kenapa kalau aku pake pakaian ini?"
"Jelek."
Astaghfirullahalazhim ... jawaban yang frontal dan menyakitkan. Sabar, Salsa ... harus terbiasa dengan kata-kata menyakitkan dari sang suami. Dengan langkah gontai, aku masuk ke dalam kamar, mengganti pakaian seperti keluarga itu kenakan.
Selesai mengganti pakaian, menemui Damian yang duduk di ruang keluarga.
"Udah selesai nih!" kataku berdiri di sampingnya yang sibuk melihat layar handphone.
Damian mendongak, kedua pundaknya menurun.
"Udah ganti pakaian tetep aja jelek. Kita ke salon dulu supaya wajahmu gak pucat." Damian menarik lenganku namun dengan kasar aku hempaskan.
"Enggak mau. Aku gak mau ke salon. Kalau kamu gak mau terima aku yang kayak gini, aku gak mau berangkat." ancamku pada lelaki berwajah garang itu. Aku paling gak suka ke salon, lama. Make-up tebal juga aku tidak suka.
Damian bergeming, tangannya mengepal kuat. Aku membalas tatapannya yang tajam. Sesaat, kami saling menatap seperti seorang musuh.
"Kenapa? Kamu mau pukul aku? Mau tampar aku? Nih!" Aku mencondongkan sebelah pipi ke depan dia. Kedua mataku terpejam, menahan sakit yang mungkin sangat terasa.
Kedua mataku membeliak ketika bukan tamparan yang kudapatkan justru kecupan singkat.
What the?
"Ayok, berangkat sekarang!" Damian meraih sebelah telapak tanganku, digenggamnya erat. Aku masih tak percaya kalau baru saja Damian mengecup pipiku. Aku pikir, oh ya Allah ... apa aku tidak sedang bermimpi? Sikap Damian benar-benar di luar dugaan.
Kami sudah di dalam mobil. Kendaraan yang kami tumpangi melaju, meninggalkan halaman luas rumah Damian Adiwiguna.
Sepanjang jalan, tanganku masih saja digenggamannya. Supir yang mengemudikan kendaraan sampai tersenyum melihat Damian yang sesekali mencium punggung tanganku.
Masya Allah ... meleleh hati Neng, Bang ... meleleh ....
Memasuki halaman rumah keluarga besar Adiwiguna, tubuhku mendadak tegang. Menelan saliva, menarik napas berulang kali. Aku harus siap mental, siap hati, siap telinga dan siap menahan gatalnya mulutku membalas hinaan mereka nanti.
"Dam, kamu malu gak aku berpenampilan kayak gini?" tanyaku saat kami hendak keluar mobil.
Damian menelisik penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Enggak."
Jawaban sangat singkat tapi sangat membahagiakan hati. Semoga saja setelah ini Damian mau terima keadaanku apa adanya. Aku tidak suka menjadi diri orang lain.
Damian masih saja menggenggam telapak tanganku. Kami melangkah bersama ke rumah bak istana itu. Seperti yang sudah-sudah jika bertemu dengan keluarga ini, kami akan berjumpa di ruang keluarga yang sangat luas.
Samar-samar kudengar gelak tawa oma dan ibu tiri Damian. Entah apa yang mereka tertawakan.
Langkahku sontak berhenti melihat Chika sudah ada diantara mereka. Damian menoleh, memberi isyarat lewat matanya agar kami melanjutkan langkah kaki.
"Hai, Damian ... apa kabar? Wow, pagi ini kamu makin tampan sekali aja, Dam?" Suara wanita tak tahu malu itu menyambut kedatangan kami.
Apa keluarga ini selain Damian tidak tahu kelakuan Chika di luar sana? Kenapa sampai mereka menyuruh Damian menikah lagi dengan Chika?
Ya Allah, kalau aku dan Damian sudah bercerai nanti, sudah habis masa kontrak pernikahan kami, apakah dia akan menikah dengan Chika?
"Dam, kamu kok cemberut aja? Kalau dipuji orang, bilang terima kasih dong ...."
Oma selalu saja berkata demikian. Tidak bisa menjaga perasaanku sebagai istri cucunya.
"Ngapain bilang terima kasih? Harusnya aku marahi dia, Oma. Dia udah merayuku di depan istriku. Dia sama sekali gak menghargai perasaan istriku."
Langsung menoleh pada Damian, memandang wajah suamiku dari samping.
Apakah kalimat pembelaan itu berasal dari tulusnya hati Damian? Atau hanya pura-pura saja? Ah, tidak peduli. Bagiku, mau itu pura-pura atau tulus, tidak masalah. Yang penting sekarang Damian angkat bicara, membelaku ketika mereka menghina atau tidak menghargai perasaanku.
"Emang harga perasaan istrimu yang kampungan itu berapa, Dam?"
Pertanyaan Chika yang merendahkanku ditanggapi gelak tawa oma dan ibu tiri suamiku. Aku merunduk, menahan emosi yang sudah ingin meletup. Ingin sekali kumarahi dan caci maki Chika. Wajahnya sok polos padahal pernah keluar masuk hotel bersama om-om.
"Kamu enggak akan mampu membayar harga perasaan istriku karena kamu sendiri gak punya perasaan."
Makjleb jawaban Damian. Perlahan, senyumku merekah.
Masya Allah tabarakallah ... suamiku ini idaman sekali. Dia benar-benar membelaku dan membuat hati ini semakin meleleh.
Gelak tawa tiga wanita yang duduk di hadapan kami seketika terhenti. Terlihat sekali kemarahan dari raut wajah Chika.
Sukurin, memangnya enak di-skakmat Damian. Lagian sok-sok-an menghina orang, dia sendiri bisa saja lebih hina dariku.
"Bicaramu kenapa kasar sekali sih, Dam?" Suara Chika bergetar. Dia pasti ingin menangis. Ingin mencari perhatian oma dan mama. Uh menyebalkan.
Mama mertuaku merangkul pundak Chika dan wanita itu menangis. Tangisan tanpa air mata.
"Damian, kamu udah melukai hati Chika. Kamu harus minta maaf!" titah Om membentak. Aku menoleh pada Damian, ingin mendengar tanggapannya. Apakah Damian mau minta maaf sama Chika? Padahal jelas-jelas Chika yang mulai lebih dulu. Tidak salah seorang suami membela istrinya.
"Aku mau minta maaf ke dia kalau dia mau minta maaf dulu pada istriku."
Lagi, aku dibuat melayang dengan untaian kalimat pembelaan yang diucapkan Damian. Aku merebahkan kepala pada bahu Damian. Sangat bahagia.
Tiga wanita itu membeliak tak percaya. Mereka juga menunjukkan ekspresi wajah jijik. Bodo amat, mau mereka jijik padaku, aku tidak peduli. Terpenting Damian sekaranga ada di pihakku.
Belum sempat diantara mereka menimpali ucapan Damian, opa dan papa mertua masuk ke ruangan. Menghampiri kami.
"Damian cucuku ...." panggil opa merentangkan kedua tangannya. Damian melepaskan genggaman tanganku, lalu berdiri, menghambur dalam pelukan opa.
"Selamat, Damian. Sebentar lagi kamu akan punya anak. Opa senang sekali."
Ternyata opa sudah mendengar kabar kehamilanku. Damian tersenyum, menganggukkan kepala.
"Iya, Opa. Sekarang istriku sedang mengandung calon penerus perusahaan Opa."
Aku tersenyum lebar mendengar ucapan Damian. Melirik pada ibu tiri dan Chika, mereka membuang wajah ke arah lain. Begitu pula Oma, wanita tua itu terlihat sekali tidak menyukaiku.
Opa tertawa lepas, menepuk-nepuk bahu Damian.
"Bagus, Damian. Kamu akan memiliki anak setelah kalian sudah menikah. Tidak seperti Ferdi dan Jenny, mereka memiliki anak sebelum menikah. Memalukan!"
Sontak, ketiga wanita yang duduk di sofa bersebrangan denganku membeliakkan kedua mata, terutama ibu mertua yang tak lain ibu kandung Ferdi. Ia merunduk, terlihat kemarahan dari raut wajahnya. Entah mengapa, aku sangat bahagia mendengar perkataan opa yang seperti memuji Damian.
"Iya, Opa. Aku enggak mungkin punya anak di luar pernikahan. Apakah Opa dan Papa sangat bangga padaku?" tanya Damian pada dua lelaki yang berdiri di hadapan suamiku.
"Papa bangga padamu, Nak," kata papa mertuaku yang selama aku kenal, sangat irit bicara.
'Kalau Opa?" Damian seolah ingin menegaskan pada ketiga wanita itu kalau opa dan papa bangga padanya.
"Tentu saja! Opa sekarang sangat bangga padamu," jawab Opa membuatku tersenyum bahagia. Pandangan Opa beralih pada papa mertua.
"Damar?" panggil Opa pada papa mertuaku.
"Iya, Pah?"
"Secepatnya kamu harus mengubah pemberian harta warisan dari nama Ferdi Saputra menjadi atas nama Damian Adiwiguna. Pewaris sah keluarga Adiwiguna Wijaya.