Celline tertidur tanpa sehelai benang pun. Dia terbaring di ranjang yang sama dengan Kendall. Selimut bermotif garis-garis menutupi mereka berdua sejak setengah jam yang lalu.
Celline mendengar nafas Kendall yang teratur. Lelaki itu memunggungi dirinya, seolah-olah mereka tidak melakukan aktifitas apa pun yang cukup intens sebelumnya. Padahal, empat jam lebih mereka saling melengkapi dalam tarian erotis. Memberikan nyanyian istimewa dan menaklukkan malam bersama. Ikatan mereka terjalin sempurna, memberikan harmoni-harmoni indah dalam penyatuan fisik.
Mereka melakukannya dalam gelap. Celline berkata itu adalah syarat yang ia miliki. Terlalu banyak luka yang ia miliki di bagian perut dan punggung. Celline tak ingin Kendall semakin memperolok dirinya sedemikian rupa karena terjebak dalam kebobrokan John yang seperti monster. Selain itu, ia juga tak ingin Kendall merasa jijik padanya dengan semua luka yang ia miliki.
Beruntung, Kendall tak keberatan. Baginya, tak terlalu berbeda melakukannya dalam gelap atau dalam terang. Tak mengubah tujuan Kendall sebelumnya.
Munafik jika Celline mengatakan tak menikmatinya. Munafik jika Celline mengaku tak terbawa suasana. Munafik jika Celline masih menyangkal gelora hasrat yang mereka miliki satu sama lain.
Di balik kediaman Celline dan sikap dinginnya, dia tetap saja lemah terhadap Kendall. Sentuhan lelaki itu memiliki efek memabukkan, seperti dulu mereka bersama. Kendall mampu membangkitkan apa yang Celline pikir telah mati. Respon-respon naluriah miliknya, jeritan-jeritan terdalamnya, gerakan-gerakan indah darinya.
Bersama Kendall, Celline seperti selembar kain tipis yang rentan untuk diperlakukan apa pun oleh lelaki itu. Pasrah dan merespon. Menerima dan memberi. Hingga semua latar belakang yang ada terasa samar dan tak lagi berarti. Semuanya seolah-olah hanya berpusat pada mereka. Tak ada lagi waktu. Tak ada lagi keterbatasan. yang ada hanyalah kebahagiaan demi kebahagiaan yang mereka reguk secara bersama.
Ini sangat indah. Ralat. Bukan hanya indah, tetapi juga luar biasa. Apalagi melihat Kendall akhirnya menyerah dengan Celline, memberikan dan mengambil apa yang lelaki itu sanggup. Tidak ada yang lebih menggembirakan Celline, selain keberadaan lelaki itu yang memenuhi dirinya.
Hanya saja, setelah aktifitas mereka reda dan bohlam kecil remang-remang dihidupkan kembali untuk memberikan pencahayaan, sikap Kendall kembali seperti semula. Matanya menyorot dingin dan berjarak. Seolah-olah mengolok-olok Celline tanpa kata-kata. Dia bahkan tak memberikan kata-kata pemanis bagi mereka. Tubuh lelaki itu berubah menegang, memilih membelakangi Celline begitu saja, dan membiarkan Celline terjebak dalam kesendirian.
Wanita itu kini menatap dinding kamar hotel yang berwarna cream dengan pandangan nyalang. Ada rasa sakit yang ia miliki di sudut hatinya. Apa yang ia lakukan dengan Kendall, seolah-olah hanya dihargai sebagai kesepakatan dangkal di antara mereka. Mungkin memang begitulah adanya. Dari awal pun John sudah mengatakan kepada Lindsey, dia hanya harus diam dan menerima. Apa yang terjadi tak lebih dari sekadar perjanjian murahan untuk mendapatkan uang yang cukup besar.
Celline tahu. Celline sadar. Tetapi hati dan emosinya kini terlanjur terbawa. Membentuk mimpi-mimpinya sendiri dengan cukup tragis. Menghempaskannya dalam rasa sakit baru. Beginilah rasanya dipermalukan dan dimanfaatkan. Seolah-olah apa yang ia anggap penting hanya menjadi nilai tak bermoral bagi orang lain.
Sakit hati Celline semakin menjadi-jadi saat Kendall terbangun tiba-tiba dan dia bangkit dengan mengambil salah satu piyama tidur untuk menutupi tubuhnya. Kendall menatap Celline dengan sorot tajam dan tak suka.
"Aku sudah selesai denganmu. Kau akan pulang sekarang atau menunggu pagi? Aku perlu melanjutkan laporan pekerjaanku yang tertunda!" Kendall berjalan pelan menuju meja di sudut kamar.
Syok. Itulah apa yang bisa mewakilkan perasaan Celline. Dia bergerak cepat dan menjadikan selimutnya sebagai penutup tubuh. Seluruh pakaiannya tersebar di bawah ranjang. Dengan terburu-buru, Celline mengumpulkan satu demi satu pakaian miliknya. Setelah berhasil, dia berjalan ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Kendall yang melihatnya hanya tersenyum sinis.
"Kau tak membutuhkan kamar mandi. Untuk apa mengganti baju di sana dan menutupi dirimu sendiri, jika aku sudah menyentuh setiap jengkal tubuhmu itu?" tanya Kendall tak habis pikir. Apakah setiap wanita memiliki jiwa munafiknya masing-masing? Mereka saling memberi hal-hal pribadi, tetapi kemudian saling bersikap tertutup kembali.
Celline memilih tak membalas perkataan Kendall. Dia menyeret selimut tebal yang melingkari dadanya dan masuk ke kamar mandi tanpa kata. Kendall telah menyentuh dirinya, tapi lelaki itu belum melihat dirinya secara penuh. Ada banyak cacat yang Celline miliki. Amukan-amukan John setiap kali lelaki itu marah telah membekas secara paten di kulit perut dan punggungnya. Membentuk garis-garis mengerikan dan saling tumpang tindih. Yang jelas, pemandangan itu bukanlah pemandangan yang cukup indah untuk dilihat. Celline tak ingin Kendall melihat sisi dirinya yang tak sempurna.
Setelah menghabiskan waktu yang lumayan lama, Celline keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan wajah sedikit pucat. Dia meraih tas kecilnya yang berada di meja nakas dan memakainya dengan serampangan. Make up Celline telah memudar. Wajah pucatnya semakin terlihat dengan bibirnya yang bergetar kecil.
"Aku akan pulang sekarang!" Celline menggigit bibirnya keras-keras, menahan kekalahan yang ia terima.
Waktu sudah memasuki waktu dini hari. Tetapi fajar belum menyingsing. Langit di luar masih tampak gelap. Jalanan dan aktifitas juga pasti madih sepi. Celline tak tahu harus pulang dengan menggunakan apa, mengingat ia tak membawa mobil dan tak membawa satu sen pun uang. Tas yang ia pakai hanyalah aksesori. Di dalamnya hanya ada ponsel miliknya dan kartu identitas. Tak ada uang sama sekali. Mungkinkah ia harus berjalan ke flatnya?
Celline merasa semakin kacau. Ternyata beginilah rasanya menjadi w************n yang tak lagi terpakai. Mudah dibuang begitu saja, tanpa mempedulikan perasaan yang ia miliki. Sungguh tragis.
"Baguslah! Aku akan menyuruh sopirku menjemputmu." Kendall menghidupkan laptop miliknya dan mulai membuka beberapa laporan terbaru. Dia adalah seorang CEO perusahaan properti besar. Dedikasinya sangat tinggi dalam perusahaan dan selalu mengontrol laporan keuangan dengan cermat. Tak heran, Kendall menghabiskan banyak waktu miliknya hanya untuk bekerja tanpa kenal lelah.
Kendall pernah merasakan hidup miskin dan diperlakukan semena-mena. Dari sinilah ia kemudian memiliki tekad untuk bangkit dan tak membiarkan masa lalu kembali terulang. Menjadi miskin dan lemah bukanlah pilihan hidupnya. Lebih baik ia bekerja keras mati-matian untuk menjamin hidupnya tetap terjamin. Dengan begini, semua yang ia inginkan bisa dibeli dengan mudah. Termasuk wanita yang dulu pernah membuangnya, Celline.
"Aku akan menunggu sopirmu di lobi." Celline mengangguk kecil, memilih menerima tawaran Kendall. Memang apa lagi yang bisa ia perbuat saat ini? Celline jelas tak sanggup untuk pulang dengan berjalan kaki. Situasi memang sedang tak mendukungnya saat ini.
Dengan lemah, Celline berjalan keluar dari kamar suite room. Air mata langsung menetes deras ketika ia telah berada di luar. Kepedihan yang ia rasa sungguh sangat luar biasa. Kakinya berjalan lemah menyusuri lorong hotel menuju lift yang berada di ujung. Tangan Celline mengusap wajahnya dengan kasar.
Ya Tuhan. Dia saat ini tak lagi memiliki nilai. Harga diri yang ia miliki telah dirusak dengan sangat kejam oleh John dan Kendall. Dua lelaki itu, menggoreskan luka demi luka yang mulai Celline benci. Sebagai seorang wanita, terpuruk dengan cara seperti ini bukanlah apa yang ia inginkan.
Suara lift berdenting, menunjukkan Celline telah tiba di lantai satu. Dengan tergesa, Celline kembali merapikan wajahnya dan menghilangkan jejak-jejak air mata. Dia tidak boleh terpuruk semakin dalam. Celline harus kembali bangkit.
…