Kendall menatap Celline dengan tatapan tajam seperti predator yang telah menemukan mangsa. Dia berjalan mendekat dan melepaskan jasnya perlahan. Membuat Celline membelalak ketakutan dan tanpa sadar mundur ke belakang, hingga ia merasakan punggung belakangnya menabrak dinding.
Mungkin wajah Celline telah pucat pasi saat ini. Mungkin sudah tak ada lagi rona. Atau mungkin ia seperti wanita mengenaskan korban kriminal. Celline sudah tidak tahu lagi dia harus mendeskripsikan dirinya seperti apa. Dia mulai kehilangan fokus. Tenggorokannya kering, tak bisa melontarkan satu patah kata pun.
"Kenapa kau bersikap seperti perawan? Apakah berhubungan badan adalah hal yang asing bagimu? Kau tak perlu bersikap malu-malu." Kendall menatap reaksi Celline yang bersikap seperti rusa lemah dan terjebak dalam sangkar. Tak ada belas kasihan sama sekali di mata Kendall. Tak ada kelembutan sama sekali dalam sikap dan reaksinya. Dia sepenuhnya bertindak seperti lelaki yang tak mengenal moral.
Celline hanya terdiam. Bibirnya masih terasa kelu untuk berbicara. Dia juga tak tahu harus menanggapi apa atas olok-olok Kendall yang demikian tajam. Di mata Celline, Kendall telah berubah menjadi lelaki lain. Lelaki dengan karakter yang sangat kuat dan kejam.
"Kenapa kau diam saja, Celline? Aku tak terlalu suka memakai jasa wanita pasif dan tak bisa melakukan inisiatif sepertimu." Kendall mundur perlahan, berdecih kecil merasa kecewa.
Kendall berbalik dan berjalan menyeberangi ruang tamu suite room yang berdesain modern. Ada satu set kursi berlapis finil yang mengesankan. Hiasan ruangannya minimalis, tetapi memiliki kesan glamour. Beberapa hiasan dinding dari lukisan dan pahatan kayu tampak tertempel indah. Celline bahkan tak sempat mengagumi ruangan ini karena sebelumnya ia terlalu sibuk dengan suasana hatinya yang tak karuan.
Darrel mengambil satu botol wine dan dua buah gelas kristal. Ia menuangkan cairan merah itu di dalam gelas dan menyerahkan salah satunya pada Celline. Wanita itu sudah sepucat mayat. Celline perlu diberi alkohol untuk membuat rona wajahnya kembali normal.
"Tidak. Terimakasih." Celline menolak dengan lemah. Dia masih berdiri bersandar di tembok, tak tahu harus bagaimana. Kedua tangannya menegang tas kecil di d**a, seolah-olah dengan begini entah bagaimana dirinya sedikit terlindungi.
"Kau masih ingin tetap di situ dan berdiri mematung saja?" Kendall menunjuk Celline dengan pandangan tak mengerti. Sepertinya wanita itu sudah dipenuhi ketakutan total.
"Oh," ujar Celline bingung. Dia berjalan perlahan ke kursi paling ujung dan mengistirahatkan tubuhnya di sana. Kedua matanya masih memancarkan ekspresi kewaspadaan. Jari-jemarinya saling terkait dan mengeluarkan keringat gugup.
"Aku tak terlalu suka membayar wanita yang tak bisa melakukan apa pun. Beri aku sebuah pertunjukan." Darrel menaikkan salah satu kakinya ke atas kaki yang lain. Dia menyesap winenya dengan gaya anggun. Kedua matanya menatap Celline dengan mata menyipit. Membuat kelopaknya membentuk satu garis simetris. Bulu matanya menghasilkan bayang-bayang samar.
"Per-pertunjukan?" Celline tak mengerti. Bagus. Dia saat ini seperti domba yang tersesat di kandang serigala. Hanya akhir tragis yang menunggunya. Sudah terlambat bagi Celline untuk keluar dari situasi ini. Berharap keajaiban pun juga tak terlalu berguna. Garis hidupnya sudah menggiringnya ke jalan ini.
"Ya. Pertunjukan. Buat aku puas dengan jasamu, Celline. Beri aku tarian!" Sebelah mata Kendall ia naikkan, menantang Celline secara terang-terangan.
"Aku ... aku tak bisa menari!" aku Celline bingung. Dia semakin kacau. Pikiran-pikiran was-was hadir di otaknya. Bagaimana jika Kendall nanti merasa marah dan tak terima dengan Celline? Mungkinkah dia akan melakukan komplain dengan John? Ya Tuhan. Bagaimana dengan nasib Lily nantinya? Saat ini, satu-satunya yang bisa menjamin keselamatan Lily adalah sikap Celline sendiri. Dia harus bisa melewati malam ini dengan lancar agar tak terjadi apa pun pada adiknya.
"Kau tak bisa? Kalau begitu, apa yang bisa kau lakukan untukku sebagai gantinya?" tanya Kendall sinis. Sebagai seorang pebisnis, ia tak terlalu merasa diuntungkan. Bagaimana bisa ia membeli wanita dengan kemampuan buruk seperti ini? Wanita di pinggiran jalanan Manhattan saja mungkin bisa melakukan sepuluh kali lipat apa yang tidak bisa Celline lakukan saat ini.
"Aku tak bisa melakukan apa pun." Celline menjawab apa adanya.
Dia tak memiliki bakat apa pun dalam hal seni erotis. Tidak bisa menari, tidak bisa mengggoda, tidak bisa berinisiatif lebih dulu, dan tidak bisa menyanyi. Singkat kata, Celline hanya wanita biasa yang memiliki banyak keterbatsan. Kendall tak bisa menyalahkan dirinya jika produk yang ia beli tak sesuai ekspektasi.
"Lantas, apa nilai jualmu?" tanya Kendall lagi. Saat ini dia sudah menunjukkan reaksi malas. Sepertinya dia merasa membuang-buang uang dengan cara yang sembrono.
"Aku tak memiliki nilai jual jika itu maksudmu. Aku tak memiliki bakat apa pun sebagai wanita malam. Aku tak memiliki kemampuam yang kau harapkan. Aku hanya wanita dangkal yang tak tahu apa-apa. Jika kau merasa dirugikan dalam hal ini, harusnya kau lebih bisa mengecek apa yang kau beli sebelumnya. Sudah terlambat bagimu untuk mengeluh." Celline lelah disudutkan. Dia bukan wanita malam yang memiliki segudang keajaiban dan kemampuan yang diinginkan banyak laki-laki.
Dia lelah. Dia takut. Dia marah. Dia waspada. Dia putus asa. Dia memutuskan untuk mengungkapkan apa yang ada pada dirinya kepada Kendall secara terus terang.
"Oh, kalau begitu, kenapa kau tak belajar sesuatu untuk membuatku senang malam ini?" tantang Kendall tak habis kata. Dia berkata dengan ringan, seolah-olah mereka sedang membicarakan acara televisi yang tak penting.
"Aku tak bisa mencoba untuk belajar apa pun. Bukankah kau seharusnya tahu itu, Kendall? Dari dulu aku memang tak bisa melakukan apa pun seputar tentang cara-cara menggoda. Kau dulu pernah menghabiskan banyak malam denganku. Seharusnya kau masih ingat kemampuanku. Jika kau tak cocok, untuk apa kau membeliku?!" Suara Celline sudah sedikit meninggi. Nafasnya terdengar terputus-putus. Detak jantungnya berjalan lebih cepat dari pada biasanya.
Celline tahu tindakannya bisa membuat Kendall melayangkan komplain pada John dan menjebak Celline dalam masalah baru. Celline tahu tak bijaksana untuk membuat lelaki itu marah. Tetapi dia sudah sangat lelah dan tersudut. Celline tak bisa dipaksa jatuh dalam tekanan lebih jauh lagi.
"Kau benar, Celline. Kau jadi membuatku ingat tentang masa lalu. Kita memang pernah membagi malam-malam bersama. Malam-malam yang kupikir memiliki nilai, tetapi ternyata aku salah. Aku telah menyia-nyiakan waktuku untuk wanita yang tidak tepat. Aku telah memuja wanita yang seharusnya aku rendahkan. Aku telah menjunjung tinggi wanita yang seharusnya kusingkirkan jauh-jauh. Wanita itu adalah dirimu, Celline. w************n yang nyatanya bisa kubeli dengan dollarku untuk kumanfaatkan semauku. Kedudukanmu memang hanya sebatas itu. Sungguh sayang dulu kita memiliki kisah." Kendall menggeleng lemah, menyesali masa lalu yang mereka bentuk bertahun-tahun dulu.
Celline pikir dia sudah disudutkan sedemikian rupa. Dia tak pernah menduga kata-kata Kendall barusan mampu membuatnya jatuh terpuruk dalam luka baru lagi. Kedua kelopak matanya mengerjap lemah, menahan agar air mata tak jatuh berderai. Jari-jemarinya mencengkeram pinggiran kursi dengan kekuatan ekstra. Hingga ia merasakan kukunya sakit karena terlalu keras menekan permukaan kain pelapis tersebut.
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada dijadikan w************n dan disudutkan dengan kata-kata tajam seperti yang ia terima.
Kata itu ibarat senjata. Ada yang terlalu tajam dilontarkan sehingga mampu mengiris bagian hati seseorang. Ada yang terlalu tinggi diberikan sehingga mampu melambungkan seseorang. Semuanya tergantung bagaimana kita mengelolanya.
Celline menatap Kendall dalam-dalam. Dulu, ia pergi memberikan luka pada lelaki ini. Kini, lelaki itu datang melemparkan luka kembali. Seperti sebuah hutang lama yang saling dibayar. Menyakitkan dan penuh lara.
Celline mencoba menerima. Tida apa-apa. Memang terkadang kehidupan seperti ini. Luka sering kali hadir dari orang yang ia cinta. Hanya saja, cinta yang ia miliki untuk Kendall masih kuat. Sehingga luka yang lelaki itu torehkan juga dalam.
…