Kendall Shancez

1209 Kata
Celline ingin mundur, tetapi tak bisa. John telah mengekang langkahnya sedemikian rupa. Celline duduk lemah di limosin dengan pandangan redup. Wajahnya yang telah dipoles cantik tak sesuai dengan suasana hatinya yang kacau. Kendall Shancez. Seorang lelaki yang dulu pernah ada di masa lalu. Nilai Kendall bagi Celline bukan hanya lelaki biasa. Mereka pernah membentuk hubungan yang cukup serius beberapa tahun yang lalu. Hubungan yang terpaksa kandas dengan sangat tragis karena Celline memilih memutuskannya secara sepihak. Masa lalu terkadang memiliki sebuah rahasia-rahasia di dalamnya. Ada rahasia yang memang lebih baik tertutup rapat dan tak dibuka kembali. Kendall Shancez adalah salah satunya. Dia wujud dari simbol terlarang yang sebenarnya Celline coba hindari untuk ia ingat kembali. Apa yang ada di antara mereka cukup rumit untuk diurai. Tetapi, bagaimana bisa sekarang Kendall menjadi orang yang justru menyewa dirinya? Apakah itu memang sebuah kesengajaan? Sesuatu yang lelaki itu perbuat sebagai bentuk dari olok-olokmya karena dulu Celline telah membuang Kendall dengan cara yang cukup kasar. Jika itulah niat Kendall, maka Celline bisa menjamin dia saat ini mengalami kesulitan besar. Kendall sepertinya telah berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Dari keterangan yang mampu Celline tangkap melalui pembicaraan Alex dan John, Kendall telah menjelma menjadi seorang CEO sukses dengan kekayaan yang cukup besar. Terbukti dari limusin dan sopir yang ia kirimkan untuk menjemput Celline. Lelaki itu bukan lagi lelaki sederhana seperti dulu. Seharusnya, semua ini tidak terlalu mengejutkan. Kendall adalah lelaki yang memiliki kegigihan tinggi. Dia sangat berbakat dalm banyak hal. Dulu, Celline pernah membuat prediksi, lambat laun Kendall pasti akan bersinar dan menaklukkan dunia. Dengan karakter lelaki itu, pasti tak sulit untuk menaklukkan apa pun yang ia mau. Hanya saja saat penaklukkan itu terjadi, Celline sudah berdiri berseberangan dengan Kendall. Jauh di sisi lain. Limusin berhenti di sebuah hotel ternama. Alex membimbing Celline untuk mengantar ke sebuah ruangan president suite room di lantai atas dan meninggalkan Celline persis di depan pintu. Perlahan, tangan Celline terangkat ke pintu untuk membuat ketukan lirih. Dia sudah merasa tak sanggup untuk menopang tubuhnya lebih lama lagi. Tekanan batin yang ia miliki berada di batas kemampuan dirinya. Keringat dingin dan kecanggungannya berada di tingkat tertinggi. Pintu mulai terkuak perlahan. Tanpa sadar, Celline menahan nafas cukup lama. Semua ini seperti adegan eksekusi yang diperlambat. Perlahan, sosok lelaki yang sangat dikenalnya berdiri menjulang tinggi dengan sikap arogan. Pandangan Celline naik perlahan, mengamati sosok di depannya. Wajah Kendall lebih tampan dari pada ingatan yang Celline miliki. Rahangnya tegas dengan bakal janggaut yang mulai tumbuh secara samar. Kulitnya masih sewarna tembaga, seperti yang diingat Celline. Netra hitamnya menyorot Celline dengan pandangan tajam. Mengamati Celline seksama dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sebuah setelan formal masih Kendall kenakan. Celline yakin pakaian itu pasti berbandrol ratusan dollar. Jahitannya rapi dan jelas bahannya bukan bahan kain sembarangan. Aura Kendall sangat terasa kuat. Seolah-olah ia saat ini memiliki d******i tinggi dalam mengendalikan apa pun di sekelilingnya. Ya Tuhan. Kendall sangat berubah. Dia ibarat ulat yang bermetamorfosis sebagai kupu-kupu. Memiliki sayapnya sendiri dan keanggunan istimewa. Celline mengedip tak percaya, menatap sosok di depannya. Semua ini sungguh berada di luar perkiraan. "Kendall?" tanya Celline lirih. Kedua tangannya ia topangkan di sisi pintu, menahan dirinya agar tetap berdiri tegak. Celline butuh sandaran yang kuat untuk membantu kesadarannya memproses kenyataan demi kenyataan yang tersaji di hadapannya. "Celline? Kau tampak lebih memikat saat ini, meskipun kau terkesan murahan. Sepertinya aku terlalu membayar tinggi hargamu. Suamimu adalah marketting yang ahli. Dia menaikkan nominalmu semaunya sendiri!" Suara Kendall dalam, syarat akan olok-olok dan sindiran tajam. Dia kembali menatap tubuh Celline penuh makna, seolah-olah ingin menilai produk yang baru saja ia beli. Celline mundur beberapa langkah. Wajahnya merah padam tak karuan. Kakinya gemetar hebat. Apa yang dikatakan oleh Kendall mampu menembus hatinya dan mengguncang nuraninya. Di hadapan Kendall, saat ini Celline sama sekali tak memiliki arti. Dia tak ubahnya benda murah yang bisa dibeli, dimanfaatkan, dan dibuang. Dia tidak memilili makna sama sekali sebagai orang yang yang pantas dihargai. Semua itu menusuk kesadaran Celline dengan sangat kuat. "Apa tujuanmu sebenarnya, Kendall? Apa maumu dengan membayarku ke sini?" tanya Celline dengan suara lirih. Gaun yang ia pakai saat ini terasa semakin mengetat, menampakkan aset-aset dirinya yang tak semestinya. Dadanya sudah hampir menyembul keluar, garis pinggungnya tercetak dengan jelas. Penampilannya kali ini membuat Celline merasa kacau dan seolah-olah mempermalukan diri sendiri. "Tujuanku? Bukankah sudah jelas? Aku membayar suamimu dengan nominal uang yang sangat besar untuk mencicipimu. Sekarang, aku penasaran sebesar apa kemampuanmu sehingga kau dihargai sangat tinggi. Mungkinkah kau lebih hebat dari terakhir kita melakukannya dulu?" Nada Kendall semakin tak menyenangkan. Membuat Celline tersudut dan tertampar nuraninya. Celline tak tahu lagi harus menanggapinya seperti apa. Dia hanya mampu menggeleng lemah tak berdaya. Apa yang mereka lakukan dulu adalah suatu keindahan. Suatu ikatan yang sangat istimewa. Tetapi kini Kendall mengatakannya dengan nada seolah-olah mereka dulu melakukan dosa tak termaafkan. Seperti hal kotor yang pantas untuk disesali. "Kau terpaksa kecewa jika itu tujuanmu, Kendall. Bisa kukatakan aku tak memiliki kemampuan lebih. Aku masih tak berbeda jauh dengan dulu." Celline menjawab dengan rahang kaku. Bibirnya terasa kebas. Dia mencengkeram gaunnya dengan sepenuh tenaga, melampiaskan rasa sakit hati dan kamarahan yang bercampur baur menjadi satu. "Oh ya? Kupikir lelakimu itu adalah lelaki yang hebat dan bisa memberimu pengalaman luar biasa di atas ranjang. Mungkinkah aku salah? Jika ia tak berbeda jauh dengan lelaki lain, kenapa kau menikahinya. Bukankah kau bilang padaku, dulu John adalah lelaki hebat di atas segala-galanya?" Kendall terkekeh kecil. Dia membuka lebar pintu suite roomnya dan memberikan isyarat agar Celline segera masuk. Sosok Kendall terasa semakin menakutkan saat ini. Dominasinya berkali-kali lipat lebih besar dari pada dulu. Auranya juga menunjukkan kekuatan miliknya yang berada di atas rata-rata. Jujur, Celline merasa menjadi selemah kain tipis yang tak berdaya. Teronggok di pojokan dan siap dijadikan sebagai alas kaki lelaki itu. Celline memejamkan mata sejenak. Dia jadi terbawa ingatannya di masa lalu. Dadanya terasa bergemuruh lebih hebat. Kejadian demi kejadian terasa seperti kilas balik yang menegangkan. Dulu, itulah salah satu alasan yang diberikan Celline pada Kendall dari banyaknya alasan yang ia ungkapkan untuk memutus hubungan mereka. Dia memuja John, seseorang yang belum pernah Kendall lihat secara langsung, sebagai seorang lelaki yang sangat hebat dan memilki nilai tinggi. Lelaki yang ratusan kali lebih baik dari pada Kendall. Kata-kata itu sekarang terasa seperti senjata yang menyerangnya sendiri. Lelaki yang dulu ia puja-puja setinggi langit, menjadi lelaki yang dengan tega menjual dirinya sendiri. Lebih gila dari itu, John menjualnya kepada seseorang yang tanpa sepegetahuannya menjadi masa lalu Celline. Ya Tuhan. Apakah dunia bisa sekejam ini dalam membuat skenario? "Kenapa kau masih berdiri di sini? Ataukah sekarang kau tertarik melakukan kesepakatan kita di lorong hotel yang dingin? Jika menurutmu itu bisa memberikanmu sensasi, aku tak keberatan!" Kendall menaikkan kedua bahunya, tertawa dengan sinis. Ia mulai melepaskan lengan jasnya sebelah kanan. Mata Kendall mengunci Celline dengan tatapan membara. Dengan syok, Celline memaksa kakinya melangkah ke dalam ruang suite room hotel yang telah Kendall pesan. Suhu pendingin di dalam ruangan terasa lebih intens. Membuat bulu kuduk Celline meremang dengan kecepatan nano detik. Kamar hotel tertutup. Celline menatap lelaki yang kini berdiri tak jauh darinya dengan kepasrahan. Dinding-dinding ruangan ini seolah-olah menjadi penjara baru baginya yang membatasi kebebasan Celline dari dunia luar. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN