Cairo, September 2011
Yudi sedang asyik menikmati sarapannya. Sandwich kebab kreasi nya sendiri saat ini sudah menjadi menu sarapan favorit nya maupun Aida. Wajahnya cerah, ia terlihat bahagia, senyum tipis tak lepas sedetikpun dari wajahnya. Ia bahkan bersenandung di sela kagiatan makannya. Tak lama lagi dia kan mendapatkan ijazah S2 nya di bidang Manajeman Bisnis Syariah. Dan sekarang dia sedang menantikan keluarganya untuk menghadiri wisuda S2 nya. 2 tahun lalu, saat ia lulus S1 Akuntansi Bisnis nya, ia mentah-mentah menolak untuk wisudanya dihadiri oleh keluarganya, tapi kali ini Yudi memutuskan sudah saat nya Abah memamerkan wajah bangga nya terhadap anak bungsunya ini. Maka ia pun dengan senang hati mengundang abah Santoro, Bang Ahmad beserta isitrinya. Tapi, karena istrinya sedang hamil dan perjalanan udara yang jauh, serta khawatir dengan kondisi kandungannya, akhirnya diputuskan hanya Abah dan bang Ahmad yang terbang ke Kairo. Sebenarnya Ahmad pun sedikit bingung saat memutuskan untuk berangkat karena kondisi kehamilan istrinya, tapi karena ia pun khawatir dengan keadaan abah Santoro, maka Ahmad memutuskan untuk menemani abah.
Yudi Duduk di depan televisi sambil mengunyah makanannya. Ia meraih remote tivi, jam sepagi ini, biasanya Channel Al Jazeera menyuguhkan berita-berita berkualitas dari seluruh dunia. Ia pun tak ragu memencet tombol remote untuk memindahkan Channel ke Channel Al Jazeera. Berita mengenai konflik Palestina – Israel tak pernah luput masuk dalam berita hampir setiap hari. Dalam hati Yudi berdoa agar konflik Palestina-Israel segera usai. Berita politik dalam negeri pun disuguhkan. Saat ini Mesir yang sedang Kosong Jabatan Presidennya, dipimpin oleh seorang Militer, Muhammad Hussein Tantawi. Dan dalam beberapa bulan ke depan Mesir sedang bersiap untuk Pemilihan Umum Presiden berikutnya setelah kedudukan Presiden diambil alih oleh Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Field Marshall selama Satu Tahun. Berita demi berita terus beralih. Yudi masih asyik menghabiskan sarapannya, sementara Aida masih berbenah dan bersiap untuk berangkat kuliah. Ia sibuk packing perlengkapan kuliahnya, ransel nya yang sudah hampir penuh dengan buku itu, sudah akan ia tutup resleting nya. Namun kegiatan nya terhenti karena mendengar suara gelas yang pecah. Ia sadar, Yudi sedang berada di ruang tengah. Aida pun menghambur keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. Begitu tiba di ruang tengah, ia bermaksud mengeluarkan pertanyaan, namun saat ia menoleh ke arah televisi, ia langsung menangkupkan telapak tangan nya ke mulut. Berita kecelakaan pesawat Egypt Air yang baru 10 menit lepas landas dari Bandara International King Abdul Aziz Jeddah setelah transit selama 1 jam dari Jakarta dan akan terbang menuju Kairo, Mesir. Pesawat yang membawa Abah dan abang nya.
“ Kak, itu.... itu... “ Aida tak sanggup mengeluarkan kata-katanya. Rasa panas di pelupuk matanya sudah menyerang. Yudi yang sedari tadi belum sadar kehadiran Aida di dekatnya, langsung menoleh, dan langsung di raihnya bahu Aida dan ia dekapkan ke d**a nya.
“ Itu pesawat abah dan bang Ahmad dek.... “ Yudi bersuara dengan serak, air matanya sudah tumpah dari tadi tanpa ia sadari. Aida masih belum percaya melihat berita itu, ia masih terlalu Shock. Disebutkan bahwa pesawat Egypt Air yang baru lepas landas itu mengalami kerusakan mesin dan meledak di udara di atas laut Merah. Belum dapat dipastikan ada korban yang selamat. Mengingat pesawat yang terbakar dan meledak di udara. Aida luruh, ia merasa tidak bertenaga saat menyaksikan berita itu. Ia hampir saja pingsan jika Yudi tidak menenangkannya.
“ Dek... kita akan cari tau. “ Ujar Yudi masih memeluk Aida. Ia mengeratkan pelukannya, saat dirasanya bahu Aida semakin berguncang, Aida semakin terisak. Yudi kemudian memapah Aida untuk masuk ke kamarnya. Ia melihat sekilas backpack Aida yang sudah siap. Namun sepertinya, hari ini Aida akan bolos kuliah. Setelah mendudukkan Aida di tepi ranjang, Yudi merogoh saku celananya. Ia menekan pad-pad pada handphone nya. Mencoba menghubungi seseorang.
Hanya sekali nada dering nya terdengar, seseorang sudah mengangkat telpon nya. “ Assalamualaikum.... “ Yudi belum sempat melanjutkan kalimatnya, ia sudah mendengar isakan dari seberang sana. “Bang , ... Abah... Bang Ahmad .... “ Suara perempuan itu terputus-putus. “ Tenang Syifa, tenang, abang sudah tau. Kamu tunggu abang ya... abang akan segera pulang. Kamu jangan terlalu stress, ga baik buat janin kamu. Nanti semua abang yang urus, kamu yang tenang ya...” ucap Yudi mencoba menenangkan Syifa, kakak iparnya. Suara isak masih terdengar dari handphone nya, pun isak dari Aida.. “ Kak, Aida juga mau pulang kak....” pinta Aida di sela tangisnya. “ Kita bahas nanti.” Sahut Yudi cepat. Ia kembali fokus ke handphone nya. “ Syifa, dengerin abang, kamu harus tetap jaga kondisi kamu. Urusan ini nanti abang yang urus, kamu Cuma perlu berdoa, jangan berbuat yang aneh-aneh, kamu pernah janji kan sama abang, kesulitan apapun yang kamu hadapi, kamu akan kuat, kamu belum lupa kan?? Sekarang kamu wudhu terus sholat dua rakaat, supaya kamu tenang... hmmm” ujar Yudi, sembari menyeka airmata yang entah kenapa tidak dapat berhenti keluar saat ini. Hanya Yudi menahan untuk tidak terisak demi menenangkan dua orang perempuan yang ia sayangi. “ Ada siapa di samping kamu?” tanya Yudi lagi. “ Ada mbak Husna bang...” jawab Syifa pelan masih di sela isaknya. “ Mana, kasih handphone nya, abang mau ngomong....” kata Yudi Lagi. Handphone sudah berpindah tangan, Yudi tau itu “ Assalamualaikum Yud... “ kata seorang perempuan lagi. “ Waalaikumsalam Husna. Husna, boleh ga aku minta tolong?” Yudi. “ Apa Yud? Aku pasti bantu kalo aku mampu bantu.” Balas Husna. “ Jagain dulu Syifa, dia ga punya siapa-siapa, mendengar berita ini, aku takutnya dia shock dan terjadi apa-apa dengan kandungannya. Sebisa mungkin jangan biarin Syifa sendirian Na, aku berangkat besok, pulang. Bisa kan Na??” pinta Yudi pada Husna. “ Insyaallah Yud, Syifa aku temenin. Kalian semua yang sabar ya Yud, hati-hati.” Balas Husna. “ Makasih Banyak Na. Aku tutup teleponnya ya. Wassalamualaikum... “ Pungkas Yudi. “ Waalaikumsalam.” Tuuuut. Sambungan terputus.