Abdullah Breck
Abdullah masih mengoreksi susunan foto-foto liburannya di Mesir bersama sahabat-sahabatnya. Selain file foto-foto disimpan juga di Laptop pribadinya, ia sengaja mencetak dan menyusunnya di sebuah album foto sebagai kenang-kenangan. Semua foto mereka dari hotel, di tengah sungai Nil, National Egyptian museum, Luxor Temple, The Grand Pyramide dan beberapa masjid yang mereka singgahi. Ada satu tempat di Mesir yang terkenal, yang sebenarnya sangat ingin Abdullah kunjungi yaitu Siwa Oasis, sebuah kota di tengah Gurun Sahara yang terletak di Perbatasan Mesir-Libya. Karena jarak yang lumayan jauh dan memakan waktu tempuh sekitar 9 jam dari pusat kota Kairo, dan juga terbatas nya waktu yang mereka punya selama di Mesir, akhirnya Abdullah dan teman-temannya mengurungkan niat mereka untuk mengunjungi Siwa Oasis, padahal pada bulan Oktober seperti ini ada hari perayaan perdamaian yang diadakan setiap tahunnya, perayaan ini dikenal dengan nama Festival Syaha. Dan jika ada kesempatan lagi untuk mengunjungi Mesir kembali, Abdullah akan memprioritaskan Siwa Oasis sebagai destinasi wisatanya.
Setelah dirasa nya susunan foto-foto itu sudah pas dan tersusun rapi, Abdullah bermaksud menyimpan album itu ke dalam Travel Bag nya untuk ia bawa serta kembali ke tanah air dalam 2 hari ke depan setelah kurang lebih 7 tahun ia menghabiskan hidupnya di Ankara, Turkey. Hidup nya yang sebenarnya akan ia mulai. Perlahan ia merogoh saku kecil yang ada di bagian dalam koper miliknya. Secarik foto usang itu dipandang nya sendu. Ada sosok yang selama lebih dari 10 tahun telah berjasa besar dalam hidupnya, sosok yang ia hormati sekaligus ia sayangi,namun juga menoreh luka yang tiada terkira di dalam hatinya. Abdullah meringis, d**a nya terasa seperti terhimpit, sakit, sama seperti saat ia telak diminta untuk meninggalkan Indonesia, dan perih yang sama yang ia rasakan saat ia melihat sosok seorang perempuan yang tak dikenalnya di Museum Mesir. Abdullah berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan dalam situasi apapun, situasi dimana ia harus mengikuti takdir membawa nya. Takdir yang tak pernah ia tahu, akan berujung di mana, takdir yang selama ini selalu ada dalam doa di setiap doa-doa sholat nya, juga doa-doa di setiap sepertiga malamnya.
Aida Attiya
Aida masih sibuk dengan laptopnya. Ia menyusun foto-foto yang diambilnya saat berwisata. Masih ada beberapa tempat yang belum ia kunjungi. Selain karena waktu perkuliahannya yang mulai padat, destinasi itu cukup memakan jarak dan waktu untuk di kunjungi. Tapi Aida masih punya banyak waktu untuk itu, karena ia masih akan tinggal beberapa tahun untuk menyelesaikan studinya di Universitas Al Azhar, Kairo. Setelah selesai dengan foto-foto wisatanya, Aida kemudian meraih sebuah buku notes bercorak sakura di sampulnya. Ia membuka halaman di bagian tengah buku hariannya itu. Selembar foto tersimpan di sana. Lama dipandanginya foto itu. “ Ayah, Aida kangen ayah.... “ gumamnya. Semoga ayah tenang di sana, semoga ayah diampuni, dan diberi tempat terbaik. Aida berdoa dalam hati, ia sertai juga dengan Surah Al Fatihah untuk sang Ayah yang sudah lam berpulang itu. Ia mengelus pelan foto itu, foto yang bergambar dirinya, ayahnya dan dia, kakaknya satu-satunya. “ Mas... kamu dimana?? Apakah kamu sehat, hidup bahagiakah?” Aida berlirih dalam hati.
Lamunan Aida buyar, saat handphone nya bergetar. Dilihat nya nama di layar handphone nya, tertulis ‘ Abah Santoro ‘ di sana. “ Assalamualaikum. Hallo abah,....” Sambut Aida. “ Waalaikumslam Warrahmatullahi wabarakatuh.... “ balas Santoro. “ Gimana kabar kamu Aida? “ tanya suara itu. “ Alhamdulillah bah, Aida sehat. Abah gimana? Sehat kan?! Aida kangen sama Abah...” ujar Aida. “ Abah juga kangen sama kamu, sama Yudi juga. Yudi nya ada juga ga? Apa dia masih kuliah?” Tanya abah Santoro lagi. “ Kak Yudi masih di perpustakaan kampus bah. Dia udah mau ngurusin skripsi loh bah. Hebat deh kak Yudi, bisa selesai lebih cepat kayaknya.” Kata Aida bersemangat. “ Oh gitu, nanti abah juga mau nelpon Yudi. Oh ya,kamu sudah nemuin Umi Salimah belum? “ Abah bertanya lagi. “ Udah bah, Aida udah mulai rutin setoran ke Umi, alhamdulillah sekarang udah masuk juz 12. Doain ya Bah...” cerita Aida. “ Iya abah pasti doain kamu. Kamu juga jalan-jalan ga? Udah ke Pyramida belum? Kan udah hampir 3 bulan kamu di sana.” Lanjut aba Santoro. “ Hm... udah ke beberapa tempat. Sebenernya masih banyak tempat wisata sejarah yang belum Aida kunjungin. Tapi nanti-nanti insyaallah, Aida masih punya banyak waktu, kalo Allah ngijinin.... “ kata Aida lagi. “ Amiiiiin. Ya sudah, kamu istirahat, bilangin ke Yudi, nanti abah mau nelpon kalo dia udah ga sibuk.” Kata Abah Santoro. “ Iya bah, abah jaga kesehatan ya” ujar Aida. “ Insyaallah. Assalamualaikum.” Tutup Abah Santoro. “ Waalaikumsalam...” pungkas Aida.