HERE I AM NOW....

808 Kata
  Soekarno-Hatta International Airport Abdullah melangkah keluar gate menuju Claim Bagage bandara. Kaca mata hitam bertengger di wajahnya, dengan hidung mancung bangir yang menopang bagian tengah kacamatanya. Sembari menunggu kopernya, ia merogoh saku dalam jaketnya saat terdengar suara getar handphone nya. “ Assalamualaikum... selamat siang...” Sapanya. “ Waalaikumsalam. Saya Bramastya pak, saya udah nunggu di luar pintu terminal kedatangan pak. “ Sapa orang itu di sambungan telpon. “ Iya, saya masih nunggu bagasi. Tunggu aja di sana, sebentar lagi selesai.” Jawab Abdullah singkat, lalu menutup telepon nya begitu dilihatnya koper nya sudah ada di depan matanya. Abdullah segera berjalan dengan langkah cepat, ia tak memperhatikan jika dirinya saat ini sedang menjadi sorotan beberapa pasang mata di tempat itu.  Abdullah memang terbilang tampan, sedari kecil ia memang selalu menjadi sasaran cubitan gemas oleh para tetangga orang tua nya dulu. Bahkan hingga sekarang ketampanannya bertambah seiring dengan kedewasaannya yang bertambah. Tapi satu hal yang tak pernah berubah. Abdullah bersikap dingin terhadap orang-orang disekitarnya, kecuali anggota keluarga dan tentu saja 4 sahabat asingnya. Sembari berjalan, ia melihat notifikasi pesan yang masuk  di akun emailnya. Ternyata, email dari Said masuk 1 jam yang lalu, lalu email dari Zayeed sudah sejak 3 jam yang lalu, begitupun Kareem. Dan kini Abdullah sedang membuka email dari Hossam, teman Mesirnya. “ Assalamualaikum. Hi , bro? Sudah tiba kah kamu di tanah air mu? Baru 1 hari tapi rasanya seperti seribu tahun. Kabari aku jika sudah menemukan apa yang kau cari okay...  Your Big Brother... hahaha” pesan Hossam. Abdullah menyeringai sembari melebarkan pandangannya, lalu sesaat ia melangkahkan kakinya menuju seseorang yang sedang memegang sebuah papan bertuliskan namanya. Tanpa banyak bicara ia langsung membuka pintu mobil Range Rover yang sebulan sebelumnya sudah ia pesankan pada Yusuf untuk menyediakan Range Rover untuknya selama ia di Jakarta. Tak banyak permintaan Abdullah, hanya Range Rover, dan seorang asisten pria yang handal yang bisa ia minta untuk melakukan hal apapun termasuk menjadi agen rahasianya. Untuk hunian, Abdullah sengaja menolak untuk tinggal di mansion milik keluarga Danu, terlalu besar untuk nya seorang diri, walaupun ada beberapa pekerja yang menjaga, membersihkan dan mengerjakan perkerjaan rumah lainnya. Tapi selama ia belum menemukan flat atau pun apartemen yang dirasanya cocok, Abdullah tak punya pilihan lain untuk menempati mansion milik Keluarga Danu. Abdullah menempati kursi penumpang di samping supir. Koper yang tadi ditentengnya sudah ditempatkan di bagasi belakang oleh Bramastya. Tak selang berapa lama. Bram sudah duduk di depan kemudi nya. Bramastya tersenyum pada bos barunya. “ Saya Bramastya pak, panggil aja Bram.” Kata Bram sambil mengulurkan tangannya pada Abdullah. Abdullah melepaskan kaca matanya, dan membalas uluran tangan Bram. “ Saya Breck, Abdullah Breck. Hmmm saya rasa usia kamu lebih dari usia saya, jadi tolong jangan panggil Pak. Panggil aja Breck, saya nggak keberatan.” Balas Abdullah, sambil tersenyum juga. Suasana kemudian perlahan mencair. “ Oh ya, kita langsung ke kantor aja. Saya bisa mandi di kantor, setelah mberesin beberapa urusan baru saya pulang. Dan juga nanti mas Bram bantu saya cari apartemen  ya, ga perlu yang mewah, yang penting agak jauh dari keramaian. “ ujar Abdullah. “ Oke. Ruangan mu juga udah disiapin, Bang Yusuf juga minta nyiapin pakaian ganti dan perlengkapan lainnya di kantor. Jadi, koper ga perlu ikut diturunin.” Jelas Bram singkat. “ Ok. Makasih ya mas.” Balas Abdullah. Ia kemudian menurunkakn sandaran kursi, lalu memejamkan matanya. Lelah masih dirasakannya. Ia pun tertidur. “ Breck, ... “ Bram mencoba membangunkan Breck yang tertidur. “ Kita sudah di parkiran kantor. “ ujar Bram  lagi. Abdullah menaikkan sandaran kursi, sambil mengerjapkan matanya. Ia melepaskan pandangan sekeliling. “ Ayo.” Katanya pada Bram. Tanpa banyak bicara, Bram dan Abdullah turun dari Range Rover hitam itu, berjalan dengan arahan Bram. Mereka menaiki Lift yang disediakan khusus untuk CEO perusahaan. Di gedung lantai 17 di kawasan Rasuna Said Kuningan Jakarta selatan, di sebuah ruangan yang luasnya 100m2 , di ruang bagian dalam kantornya, Abdullah sedang merapikan dirinya, setelah selama 30 menit ia membersihkan dan menyegarkan badannya dari sisa-sisa kelelahan setelah 16 jam perjalanan udara. Setelah ia yakin penampilannya sudah layak, Abdullah keluar dari ruang pribadinya. Di lihatnya sudah ada menu sarapan yang tampaknya sudah disiapkan oleh Bram. Bram sendiri sudah duduk di sofa yang ada di tengah-tengah ruang kantornya. Bram tersenyum begitu melihat Abdullah yang sudah rapi. “ Aku nggak tau kamu suka makanan apa untuk sarapan, tapi karena ini sudah lewat jam sarapan, dan ini juga beli di komplek belakang kantor, jadi Cuma ini yang bisa tersedia dalam waktu cepat. “ jelas bram. Abdullah ,melirik bungkusan yang ada di meja sofa. Makanan khas Indonesia ini sudah sejak beberapa tahun jarang hinggap di lidahnya. Makanan yang mengingatkannya pada sosok ayah yang pernah sangat dikaguminya. Dan sebentar lagi , ia akan segera menemui pria itu, juga perempuan yang selama ini ia pendam kerinduan dalam diamnya, dalam doanya. “ Okay, setelah menghabiskan ini, kita langsung meeting aja. Setelah itu saya mau pulang ke mansion Papa. “ Sahut Abdullah. Ia lalu menyantap gado-gado yang sudah disediakan oleh Bram. Lalu memulai aktifitas nya sebagai Pimpinan CEO perusahaan Roismands Corps. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN