Keesokan Hari.
Sarapan kali ini Aida nikmati bersama keluarga Yun dan Danu, tapi tentu saja minus kedua putra nya, Yusuf mengurus perusahaan Danu, sedangkan Abdullah Breck sedang mengurus proyek baru nya. Yah, sudah beberapa tahun terakhir Aida mulai dekat dengan keluarga ini, sejak pertemuan mereka si Ihsar Hospital. Apalagi setelah Aida berhasil melakukan Prosedur Laparoscopy terhadap Yun yang menderita Cholelithiasis. Operasi akhirnya diputuskan setelah Yun mulai mengalami gejala yang lebih parah. Awalnya dr. Zhafran lah yang akan melakukan Laparascopy, namun kemudian memutuskan untuk menyerahkan posisi Operator kepada Aida dan ia sendiri menjadi Asisten Operator. Karena moment ini juga Aida mendapatkan perhatian lebih dari seorang Yun. Wanita paruh baya itu merasa berhutang budi dan juga menaruh iba atas kisah yang Akhirnya Aida ceritakan, mengenai kehidupannya, masa kecilnya. Mengingatkan ia pada Abimanyu kecilnya.
Mereka menyantap sarapan dengan khidmat dan tenang. Hanya denting peralatan makan yang beradu kadang terdengar. Aida pun meneguk segelas teh hangat yang sudah tersedia di meja. Di rumah ini, ada seorang asisten rumah tangga yang membantu Yun melakukan pekerjaan rumah sejak ia mulai sakit. Hanya tadi pagi, Aida sedikit membantu pekerjaan didapur, menyiapkan sarapan. Aida merasa tak enak hanya numpang tidur. Danu yang sudah lebih dulu selesai dengan sarapannya, mengambil Tab nya , membuka-buka laman surat kabar dunia. Beralih ke email yang masuk. Beberapa diabaikannya sampai ia melihat email yang masuk 30 menit lalu. Dari Abdullah Breck. Senyum Danu mengembang. Ia berbinar. Yun pun merasa heran dengan perubahan wajah sang suami. “ Kenapa pa? Kayak baru dapet lotre. ??” Tanya nya.
“ Hmmm tak sia-sia kita membesarkan Abdullah. Liat aja, sekarang udah mau bikin usaha baru lagi. Dia mau bikin Rumah Sakit. Prosesnya sudah 30%. 4 tahun yang lalu IT, 2 tahun yg lalu konstruksi. Padahal retailnya udah banyak. Nilai sahamnya juga stabil bahkan cenderung meningkat. Dia handal banget Ma. Papa bangga sama dia. “ jelas Danu.
“ Iya Pa, alhamdulillah. Mama tau anak itu cerdas sejak awal. Kita bersyukur punya dia ya Pa. “ balas Yun.
“ Eh Aida, gimana kalo kamu kami jodohkan dengan Abdullah? “ cetus Danu tiba-tiba. Aida yang dicecar tiba-tiba merasa terkejut.
“ Gimana Om?? Maksudnya apa Om? “ tanya Aida gelagapan.
“ Kamu jadi istri Abdullah, Aida. Abdullah itu udah kepala tiga, kamu juga udah hampir kepala tiga kan? Kalian sama-sama udah mapan juga. Kamu juga baik, cantik. Pasangan yang pas untuk Abdullah. “ lanjut Danu lagi. “ Gimana menurut Mama? “ mencari dukungan Yun.
“ Mama sih setuju aja. Apalagi kamu udah melakukan banyak untuk tante Aida. “ Yun menatap Aida.
“ Tapi saya... mmm, apa anak Om dan tante mau sama saya? Mungkin aja dia udah punya calon Om, tante.... “ tolak Aida halus. Bagaimanapun ia tidak bisa menikah saat ini, apalagi dengan keluarga ini, yang sudah sangat lama menetap di Turki. Beberapa hari lagi ia akan kembali ke Indonesia, seperti janjinya pada Yudi.
Drrrt. Drrrt. “ Assalamualaikum... oh, kamu udah nyampe?? Iya, sebentar aku keluar. “ memutus sambungan teleponnya. Kemal sudah menunggu nya untuk berkeliling Ankara hari ini.
“ Om, Tante, Aida mau pergi, udah ada temen yang jemput. “ pamit Aida pelan.
“ Loh, kamu ga jadi pergi sama Yusuf ? “ tanya Yun.
“ Bang Yusuf ga bisa tante, ada meeting penting katanya. Lagian ga enak sama istrinya, Sarah. “ jawab Aida.
“ Temen kamu laki apa perempuan Aida?” tanya Danu kemudian. Aida pun gugup, karena yang menemaninya kali ini memang laki-laki. Hati-hati ia menangkap netra Danu yang masih mengawasinya.
“ Eng, anu om , laki-laki. Namanya Kemal, teman daRi Gazi. “ ungkap Aida.
“ Suruh dia masuk, kalo mau jemput anak gadis orang jangan di jalan, pamit yang bener. Kalo kami sedang di sini, kamu tanggung jawab kami Aida, karena kamu itu perempuan yang jauh dari keluarga kamu. “ ujar Danu tegas.
“ Eh, iya om. “ Aida gugup, ia tak menyangka, sebesar ini perhatian keluarga Danu kepadanya. Ia jadi merasa tak enak. Selang beberapa menit, wajah seseorang muncul di interkom. Aida menyahuti dari dalam dan membukakan pintu untuk Kemal.
“ Assalamualaikum. Gunaydin. Saya Kemal, teman Aida paman. “ kata Kemal begitu berhadapan dengan Danu dan Yun, Yun hanya geleng kepala melihat tingkah suaminya. Kenapa Danu harus bersikap seolah Aida adalah anak gadisnya... hmmm. Yun menghela nafas.
“ Oh... Waalaikumsalam. Kamu sudah sarapan Kemal? “ tanya Danu dengan nada dingin.
“ Alhamdulillah, sudah paman. “ jawab Kemal singkat, ia keburu bergidik melihat ketegangan di wajah Danu. “ Apa yang kalian rencanakan hari ini? “ tanya Danu lagi.
“ Saya hanya akan mengantar Aida untuk berkeliling Ankara, paman. Kebetulan jadwal saya kosong hari ini. “ sahut Kemal.
“ Baiklah, tapi ingat, kalau Aida tergores sedikit saja, kau berhadapan dengan ku. “ tegas Danu.
“ Insyaallah paman, saya akan menjaga Aida dengan baik. “ ujar Kemal lagi.
Keduanya pun berlalu setelah mendapat wejangan-wejangan dari Danu. Apalagi Aida sudah dianggapnya seperti putri nya sendiri. Juga Danu dan Yun memang tidak memiliki anak perempuan. Dan Danu merasa sangat bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan Aida selama ia berada di rumahnya. Kendaraan Double cabin yang dikendarai Kemal melaju dengan kecepatan sedang , menembus jalanan ramai Kota Ankara. Perjalanan dilalui dengan keheningan. Hingga akhirnya Kemal membuka suara. “ Hei, kita akan kemana dulu Aida? “
“ Hmmm. Menurutmu ? Kamu yang lebih mengenal Ankara Kemal. Tapi Kemal, kamu tidak masalah pergi dengan ku hanya berdua hari ini? bukankah, kamu bilang akan mengajak tunanganmu, hmmm siapa namanya....Haniya???” tanya Aida menyelidik.
“ Tadi nya mau begitu. Tapi dia dapat orderan catering mendadak tadi malam untuk siang ini, jadi dia ga bisa ikut.” Jelas Kemal. “ Ok, baiklah kalo gitu. Aku hanya berpikir dia akan salah faham dengan ku. “ kata Aida lagi.
“ Hei, aku dan Haniya jadian juga berkat kamu Aida, mana mungkin dia akan menganggapmu macam-macam. “ sambung Kemal lagi.
“ Hm, ok ok. Jadi sekarang kita akan kemana??” tanya Aida kemudian.
“ Anitkabir. “ Kemal menyahut. Kemal pun melajukan kendaraannya menuju Anitkabir.
Ada banyak destinasi wisata di Ankara. Mulai dari Anitkabir atau yang di kenal dengan Ataturk Mausoleum yang secara harfiah berarti Makam Peringatan merupakan makam Mustafa Kemal Ataturk, pemimpin Perang Kemerdekaan Turki sekaligus pendiri dan Presiden Pertama Republik Turki, juga tokoh yang merubah kedaulatan Kerajaan Ustmaniyah menjadi republik, mengenalkan sekulerisme dan nasionalisme. Kemal memberikan penjelasan singkat mengenai sejarah berdirinya Turki. Mendengar cerita Kemal, Aida pun teringat pula cerita Zaineb yang pernah menyebutkan seorang pemimpin Turki yang otoriter. Yang membuat banyak perubahan terhadap status kepemerintahan Turki. Walapun selanjutnya Mustafa Kemal diberi julukan Bapak Bangsa Turki.
Dari Anitkabir , Kemal kemudian melesatkan mobilnya melewati jalan Strazburg selama kurang lebih 15 menit menuju ke Ethnography Museum. Tempat dimana ribuan artefak peradaban Turki di semayamkan. Museum ini didirikan antara tahun 1925-1928. Merupakan tempat di mana Mustafa Kemal Ataturk dimakamkan sebelum kemudian dipindahkan Ke Mausoleum Anitkabir. Sebuah monumen Seorang Pria Berkuda menyambut mereka, Monumen Ataturk. Aida dibuat kagum oleh bangunan ini. Berbagai artefak bersejarah disimpan di museum ini, cerita sejarah Turki yang tertera jelas melalui benda-benda bersejarah yang dipajang. Dan yang menarik perhatian Aida adalah sebuah Artefak Alkitab tua yang usianya disinyalir mencapai 1.500 tahun. Kemal kamudian menyebutkan bahwa kitab itu diduga merupakan Injil Barnabas. Setelah Aida terlihat puas berkeliling Museum juga tak lupa mengabadikan setiap momen dengan berfoto, Kemal pun mengajaknya keluar area museum. Tiba di tempat ia memarkirkan mobilnya, Kemal melihat arloji di tangannya.
“ Sudah hampir waktu Zuhur Aida. Aku rasa kita sebaiknya mencari masjid untuk sholat, setelah itu kita makan siang. “ Ajak Kemal.
Mereka kemudian melesat menuju Kocatepe Mosque yang berdiri di tengah kota Ankara. Masjid yang megah yang menaranya dapat terlihat dari semua penjuru Ankara ini dapat menampung 24.000 jamaah. Mereka pun menunaikan Sholat Zuhur, setelah mendengar azan berkumandang. Tak lupa pula Aida mengabadikan momen dirinya saat berdiri di depan bangunan Masjid.
Setelah mengisi tenaga mereka dengan menyantap makanan khas Turki, berbagai menu kebab di salah satu restoran kebab terkenal di Ankara, Kemal menyeret langkah Aida menuju Teater Romawi masih di pusat kota Ankara. 16 menit dari Masjid Kocatepe. Dari bangunan teater yang mirip dengan Colosseum Romawi itu meninggalkan jejak bukti bahwa Turki adalah salah satu negara yang dulunya merupakan bagian dari kekaisaran Romawi. Bangunan yang sudah berdiri sejak tahun 200 masehi dan sudah berdiri sejak berabad-abad lalu masih tetap berdiri kokoh dan terawat dengan baik walaupun ada beberapa bagian telah hancur termakan usia. Saat pertama kali di temukan, terdapat banyak pahatan indah yang menghiasi bangunan ini, dan kemnudian pahatan-pahatan itu di pindahkan ke museum Anatolia untuk diamankan dan keperluan penelitian lebih lanjut. Kemal pun menuturkan pengetahuannya tentang Teater unik ini.
Destinasi yang masih tersisa di list Aida untuk di kunjungi adalah Museum Anatolia dan Kastil Ankara. Mengingat janjinya pada Om Danu untuk pulang sebelum Ashar, maka Aida kemudian memutuskan untuk mengunjungi Kastil Ankara. Kemal dengan senang Hati mengabulkan permintaam Aida. Merekapun meluncur menuju Kastil Ankara dengan berjalan kaki yang hanya memakan waktu 16 menit dari Teater Romawi dengan memotong jalan melewati Evi Park.
Aida kembali dibuat berdecak kagum setelah menaiki bangunan Kastil. Pesona keindahan Ankara terlihat jelas dari atas Kastil. Kastil yang berdiri di pusat kota Ankara ini memiliki luas bangunan dengan panjang 350 m dan lebar 150 m. Kastil ini diketahui sudah berdiri sejak jaman pemerintahan Konstantinopel II. Meskipun sudah menua dan terlihat sedikit kuno, namun kastil ini masih menjadi idola para turis untuk di kunjungi, seperti siang ini, turis dari berbagai negara, dengan kerabat, keluarga, sendiri dengan berbagai aktifitas mereka. Dari hanya sekadar memandang keindahan Ankara, juga ada yang sedang foto Pre wedding, hingga berfoto dengan berlatar keindahan kastil dan kota Ankara.
Puas mengelilingi bangunan kuno ini, Aida pun kemudian melirik jam tangannya. “ Udah hampir jam 3 sore Kemal. Sebaiknya kita pulang, aku rasa Om Danu sudah menunggu di depan pintu. “ Canda Aida. “ Hahahah Kamu benar, sebaiknya kita bergegas, kalo terlambat bisa-bisa aku pulang dengan keadaan compang-camping.” Ujar Kemal. Mereka kemudian melangkah kembali menuju parkir di area teater Romawi kemudian melesat kembali ke kediaman keluarga Danu. Setelah memasuki halaman kediaman Danu, mobil yang dikendarai Kemal perlahan berhenti. Di lirik nya Aida. “ Kemal, terima kasih untuk hari ini. “ ucap Aida. Perlahan ia mengeluarkan sebuah bingkisan. “ Ini Kado Pernikahan kalian dari ku. Kemungkinan besar aku ga bisa menghadiri resepsi kalian karena dua minggu ke depan aku akan terbang kembali ke Indonesia. “ ucap Aida lirih dengan senyum kecil dari sudut bibirnya. Kemal balas menatap netra Aida. Ia bisa menangkap keharuan di sana. Mata itu mulai berkaca-kaca. Diulurkannya tangan nya untuk menerima bingkisan dari Aida. Ditatapnya sekilas kemudian beralih menatap Aida lagi. “ Aku yang harusnya berterima kasih padamu Aida. Kamu orang yang aku kagumi sekaligus yang bisa mengubah hidupku. Membuatku yakin mengenai Haniya. Tadinya aku berfikir kamu bisa mengalihkan perhatianku dari Haniya, nyata nya kamu membuatku bisa memasuki hatinya.” Lirih Kemal.
“ Itu artinya, kalian memang berjodoh Kemal. Allah hanya sedang menguji kalian. Aku hanya perantara saja. “ balas Aida. “ Baiklah, om Danu sudah mengawasi, kamu mau turun juga? “ tanya Aida memastikan. “ Aku harus mengembalikan gadis yang ku bawa Aida. Aku turun, sekalian berpamitan dengan Paman galak itu. “ kerling Kemal bergurau. Aida terkekeh pelan. Keduanya pun turun dari 4Strada Triton yang dikendarai Kemal.
“ Assalamualaikum. “ keduanya mengucap salam berbarengan. Om Danu memang sudah menunggu di taman depan rumah, sembari menikmati teh melati yang diseduhkan tante Yun, serta menikmati kudapan sore. “ Waalaikumsalam. “ balasnya.
“ Saya mengantar Aida kembali dengan selamat dan tidak kurang satu apapun paman. “ ucap Kemal.
“ Baiklah. Terima kasih sudah menjaga gadis ini dengan selamat. Mau minum teh sekalian? Biar di buatkan oleh Aida kalau kamu mau.” Tanya Danu.
“ Terima Kasih paman, tapi hari sudah sore, saya juga masih ada sesuatu yang harus diurus. Mungkin lain kali saja. Saya langsung pamit. Aida aku pulang dulu, terima kasih bingkisannya, nanti akan aku sampaikan ke Haniya. “ pamit Kemal. “ Salam untuk Haniya. Juga terima kasih untuk hari ini Kemal. “ Balas Aida sambil tersenyum.
“ Mari paman... “ pamit nya pada Danu.
“ Hati-hati di jalan Kemal. “ balas Danu. Mereka pun berpisah. Setelah bercakap-cakap ringan dengan Danu, Aida pun beranjak menuju kamar di mana ia tempati selama di Ankara. Kamar tamu di rumah itu tidak terlalu besar, tapi sang empunya sangat menjaga kerapihan dan kebersihan rumah, sehingga Aida sangat nyaman berada di sini. Ditambah, keluarga ini sudah seperti keluarga sendiri bagi Aida, pun keluarga Danu yang sudah menganggap Aida seperti bagian dari keluarga mereka. Aida kemudian mandi, membersihkan diri dari sisa-sisa peluh karena perjalanan wisatanya hari ini. Kemudian menunaikan sholat ashar.