Jakarta, Februari 2019
Abdullah sedang seksama memperhatikan kolega nya yang sedang memaparkan rencana proyek baru. Audience yang terdiri dari petinggi Ihsan & Breck Corp tampak saling berdiskusi serius. Mereka akan mengerjakan proyek yang benar-benar sangat baru bagi mereka. Selama ini Ihsan & Breck corp , perusahaan yang Breck pimpin adalah perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan resort, juga Jasa Konstruksi, dan beberapa Mall dan retail. Kali ini ada penawaran yang masuk dan sangat baru bagi perusahaan itu, yaitu berupa usaha di bidang jasa kesehatan, yaitu pendirian sebuah rumah sakit. Rapat pun berlangsung sangat alot dan memakan waktu lebih dari yang di perkirakan. Di sudut ruangan, tampak asisten sekaligus sekretaris Abdullah, Bram tampak serius dengan laptop yang menyala. Banyak catatan dari presentasi tadi yang menjadi topik pembahasan cukup serius ia tuangkan untuk kemudian dibuat laporan yang akan diserahkannya pada sang Pimpinan. Setelah 2 jam lebih, barulah rapat selesai dan menyisakan banyak pe er bagi staf Ihsan & Breck Corp.
Setiba di ruangannya, Abdullah duduk dan membuka kembali proposal yang baru saja di presentasikan. Bram yang sedari tadi mengiringi langkahnya pun kini berdiri di hadapannya untuk menunggu instruksi si bos besar nya.
“ Mas Bram, gimana nih? Dunia kesehatan lumayan baru untuk kita. Apa kita harus menerima nya atau kita mundur saja?” tanya Abdullah membuka percakapan sembari memindahkan posisi duduknya ke sofa yang ada di ruang itu. Bram pun mengikutinya, duduk di hadapan nya. “ Saya pikir, kita bisa mencobanya Breck. Mengingat saat ini, pemerintah juga memiliki program Jaminan Kesehatan Nasional bukan?? Saya sudah mencari tahu, lrbih dari 90 % rumah sakit di seluruh Indonesia juga sudah menjadi provider JKN. Dan sampai dengan saat ini rumah sakit- rumah sakit ini bisa bertahan bahkan ada yang berkembang. Tak ada salahnya kita coba. Lagipula ..... pencarianmu bisa dilakukan di sini, karena informasi yang aku terima keluarga mereka berasal dari kota itu. “ Bram membeberkan opini nya.
“ Hmmmm, begitu ya. Ok, 2 hari lagi kita adakan pertemuan lanjutan, dan dalam 2 hari itu, siapkan segala perhitungan dan rencana kerjanya. Baru kita putuskan. Bisa kan?? “ ucap Abdullah.
“ Baiklah, saya akan berkoordinasi dengan Finance dan GM Ihsan & Breck Construction. Juga mengumpulkan data-data yang diperlukan. “ balas Bram.
“ Ok. Aku tunggu. “ Abdullah.
April 2019.
Abdullah Breck.
Sultan Mahmud Badarudin II International Airport, Palembang.
Abdullah dan beberapa orang dibelakangnya, termasuk Bram melangkah menuju pintu keluar terminal kedatangan, sementara 2 orang pria sudah memasang senyum menyambut kedatangan mereka.
“ Selamat datang di Palembang pak Abdullah. Saya David asisten Dokter Kemas Armon, dan ini Dokter Novran Shadad. ” Sambut seorang pria menyalami Abdullah dan rombongannya diikuti oleh pria yang dikenalkan sebagai Dokter Novran.
“ Kita ke hotel dulu, atau ke kantor Dokter Kemas Pak?” Tanya david.
“ Kita langsung saja ketemu Dokter Kemas. “ jawab Abdullah singkat.
“ Baik Pak. “
Mereka pun menaiki 2 unit Pajero Sport yang sudah disiapkan. Meluncur menuju kantor Dokter Lingga. Perjalanan tidak perlu memakan waktu lama, hanya kurang dari 45 menit. Itupun suasana perjalanan cukup santai diisi dengan obrolan seputar proyek dan diselingi sedikit cerita ringan. Mobil melaju di sepanjang jalan Kol. H Burlian, kemudian jalan jendral Sudirman, berbelok arah ke kanan menuju jalan Demang Lebar Daun. Memasuki kawasan perumahan elite, Demang Regency. Di depan sebuah bangunan megah, tampak seseorang sudang menunggu kedatangan mereka.
“ Assalamualaikum. Selamat datang di Palembang Pak Abdullah. “ sambut pria muda yang beberapa bulan lalu memaparkan keinginannya yang tertuang dalam proposal yang ia ajukan ke Ihsan & Breck corp. Dr. Kemas Armon. Mereka pun masuk ke dalam bangunan mewah yang merupakan tempat Praktek sekaligus kantor dan rumah kediaman Dr. Kemas. Percakapan mengenai segala keperluan dan t***k bengek pendirian rumah sakit berlanjut. Abdullah juga sudah memberikan rincian perhitungan dana yang akan dikucurkan oleh perusahaan nya untuk proyek ini. MoU pun sudah ditandatangani 2 minggu lalu. Rencana kerja dan Blue Print bangunan rumah sakit yang akan didirikan pun sudah siap. Pekerjaan sudah siap dilakukan.
“ Baiklah kalo gitu, mm besok kami akan tinjau langsung lokasinya. “ ucap Abdullah diikuti anggukan anggota-anggota perusahaannya. Abdullah dan rombongan pun kemudian di antar ke Novotel di kawasan Basuki Rahmat untuk beristirahat. David sudah menyiapkan segala sesuatu yang dikira akan diperlukan oleh Abdullah dan rombongan.
“ Pak Abdullah dan rekan-rekan silahkan beristirahat, jika ada yang diperlukan bisa langsung hubungi saya. Mau berkeliling kota Palembang juga boleh. Saya siap jadi guide.” Ujar David sembari tersenyum.
“ Ya ya, terima kasih, nanti Mas Bram yang jadi narahubung saya. Sementara ini saya mau istirahat dulu. Oh ya, terima kasih sudah menyambut kami dengan baik.”
Ucap Abdullah. Setelah berbasa basi akhirnya merekapun bubar dan melangkah menuju kamar hotel mereka masing. Bersiap untuk meninjau lokasi rencana pembangunan rumah sakit.
Aida Attiya.
Ankara, Turkey.
Gazi University.
Aida keluar dari Range Rover hitam yang dikemudikannya setelah memarkirnya di parkir lot yang terbentang di halaman Gazi University. Ia berjalan menuju gedung utama Gazi University untuk menemui Rektor dan Dekan Faculty of Medicine. Sejak 2 bulan lalu ia menerima undangan untuk mengisi perkuliahan umum menyambut mahasiswa baru Kedokteran Gazi University. Setelah sedikit berbincang dengan rektor, dekan dan beberapa dosen keokteran Gazi University, langkah Aida di bimbing menuju ruang kuliah umum yang bertempat di gedung utama Fakultas kedokteran lantai 7.
Ruangan yang luas lebih mirip aula dan tersusun bertingkat dan diperkirakannya dapat menampung lebih dari 1000 mahasiswa ini tampak penuh oleh para mahasiswa kedokteran yang baru bergabung di universitas ini termasuk juga mahasiswa beberapa mahasiswa Indonesia. melihat bahwa rombongan yang ditunggu sudah memasuki ruangan, seorang wanita berusia sekitar pertengahan 20 an maju ke podium dan membuka acara. Sedangkan Aida beserta rektor, dekan dan beberapa dosen duduk di bagian kiri ruangan di tempat yang sudah disediakan oleh panitia acara. Setelah kata sambutan dari rektor dan dekan fakultas, Aida di persilahkan menyampaikan kuliahnya. Di mulai dari sedikit data pribadinya kemudian riwayat perjalanan pendidikannya. Banyak dari audience yang hadir tampak kaget, sekaligus heran di usia yang belum genap 30 tahun Aida sudah dapat meraih gelar dokter spesialisnya dengan biaya yang ia dapat dari beasiswa. Dan juga berbagai prestasi selama kuliah, serta lulus dengan predikat terbaik. Di antara para audience pun tak menyangka bahwa wanita muda yang bergelar dokter bedah trauma itu berasal dari Indonesia. Di kuliah nya kali ini, Aida tak banyak membahas mengenai ilmu kedokteran, ia mempertimbangkan bahwa audience yang hadir adalah mahasiswa baru, sehingga hanya Aida hanya membagikan perjanalan nya di rantau dan memotivasi para mahasiswa untuk dapat melakukan yang terbaik.
Di ujung meja para dosen, tampak seorang dosen muda begitu memperhatikan dengan seksama , mengagumi pribadi Aida. Dokter Kemal, seorang dosen sekaligus Dokter anastesi yang sudah lama menaruh perhatian pada Aida. Setiap jurnal nya yang Aida tulis atau karya ilmiah dan sejenisnya, menjadi koleksinya setahun belakangan. Setiap sepak terjang Aida tak pernah ketinggalan ia ikuti. Ia bisa menganggap dirinya adalah fans berat Aida. Bahkan di akun IG nya, Aida kerap mendapat kan Direct Message dari Dokter Kemal. Pemuda tampan dengan wajah khas Turki itu kerap tak segan menyampaikan kekagumannya terhadap Aida.
Aida menghargai sikap Kemal selama dipandangnya masih dalam batas wajar. Walaupun sebenernya Aida sangat faham ada maksud lain yang tersembunyi dari sikap Kemal. Mereka pun saling berkomunikasi melalui DM. Sebernarnya Kemal pernah meminta izin untuk berkomunikasi via SMS ataupun WA, namun Aida menolak dengan alasan ingin menjaga privasi nya. Dan Kemal menghormati itu, ia mengerti , gadis muda yang jauh di rantau seorang diri seperti Aida tentu harus pandai membawa dan menjaga diri.
Hampir dua jam Aida memberikan kuliahnya. Ia pun menutup nya dengan memberikan kuis dan menghadiahi beberapa Souvenir Ihsar Hospital yang ia bawa dari Istanbul. Tak lupa ia memberikan beberapa kalimat motivasi untuk menyemangati para mahasiswa baru itu. Lalu kuliah umum itu di tutup oleh moderator. Tak lupa mereka mengabadikan momen bersama. Beberapa dari dosen bahkan mahasiswa pun meminta Aida berfoto bersama mereka, ada juga yang meminta Aida untuk membubuhkan tanda tangannya di buku mereka, tak ketinggalan juga mahasiswa-mahasiswa Indonesia, mereka patut berbangga hati karena ada orang Indonesia yang berhasil dan sukses menjadi dokter yang cukup ternama seperti Aida di negara Asia-eropa ini. Aida merasa sangat tersanjung, diperlakukan bak selebriti. Ia merasa momen ini lebih mirip jumpa fans daripada Kuliah umum, gumamnya dalam hati. Dari kejauhan tampak Kemal tersenyum dan menanti dengan sabar untuk bertemu secara pribadi dengan Aida. Setelah para mahasiswa mulai berhamburan dari ruangan itu, Kemal pun menghampiri Aida dan menyapa nya.
“ Assalamualaikum. Apa kabar Aida? “ sapa Kemal. Aida menoleh ke arah sumber suara. “ Waalaikumsalam. Kemal!!! Aku pikir kamu sibuk dan ga bisa dateng. “ Aida menyahut. Tentu saja dengan senyum yang mengembang dari kedua sudut bibirnya. “ Pertanyaanku belum dijawab Aida. “ sambung Kemal lagi. “ Ah ya. Aku baik, alhamdulillah. Bagaimana denganmu? Sehat kan... “ Aida balik bertanya. “ Alhamdulillah, i am so fine. Apalagi bisa ketemu kamu. Aku merasa menjadi manusia paling sehat di bumi hari ini. “ Ujar Kemal. Aida tersenyum. Ia merasa aneh, karena selama ini, ia selalu menjaga jarak dengan laki-laki di sekitarnya. Mungkin karena Kemal adalah pria pertama yang sangat intens berkomunikasi dengan nya, bukan hanya tentang kehidupan pribadi nya, tapi juga sering berbagi cerita tentang profesi masing-masing, walaupun hanya melalui media sosial.
Kemal pun mengajak Aida berkeliling fakultas, dan kebetulan Ia memang ditugaskan untuk memandu tamu mereka berkeliling fakultas. Kemal dengan senang hati dan sigap menunjukkan berbagai fasilitas yang ada di kampus mereka. Mulai dari ruang kelas, laboratorium hingga perpustakaan fakultas. Kemal pun membantu Aida untuk mendapatkan kartu member perpustakaan. “ Sebenernya ga perlu Kemal. Karena aku di sini ga lama. “ kata Aida beberapa detik setelah menerima Kartu Member dengan nama nya tercantum di sana. Kemal hanya menanggapi dengan senyumnya. Drrrt. Drrrt. Drrrrt. Hp Aida bergetar menandakan ada seseorang yang menghubunginya.
“ Assalamualaikum tante Yun.” Aida.
“ Aida, Yusuf sedang meluncur ke Gazi untuk menjemputmu. Kamu pulang bareng Yusuf ya Nak. “ suara Yun.
“ Oh, tapi mobilnya gimana Tante?” tanya Aida sedikit bingung.
“ Yusuf bareng sopir, nanti Mobil kamu sopir yang bawa. “ balas Yun.
“ Ooh, ok tante, Aida tunggu. Aida juga udah selesai kok. “ balas Aida. “ Ok. Assalamualaikum. “ Yun menutup percakapan telepon mereka. “ Waalaikumsalam. “ Aida membalas lalu menutup sambungan telepon.
“ Aku harus segera pergi Kemal. “
“ Benarkah? Padahal aku mau mengajakmu berkeliling Ankara. Dan mengajakmu makan siang. “ Ujar Kemal dengan nada lesu.
“ Hei, aku besok masih di Ankara loh... ga usah sedih gitu. “ hibur Aida.
“ Emang kamu mau, aku ajak jalan-jalan? “ tanya Kemal .
“ Insyaallah, aku juga udah lama pengen jalan-jalan di Ankara. “ balas Aida lagi.
“ Ok kalo gitu, besok aku jemput kamu, kirim alamat tempat mu menginap ya. “ Kemal lagi.
“ Ok. “
Mereka pun berjalan menuju parking lot tempat Aida memarkirkan mobilnya. Baru saja mereka menuruni tangga taman, sebuah SUV silver berhenti tepat di depan mereka. seorang pria turun dari pintu kemudi, disusul Yusuf yang turun dari kursi penumpang di depan. “ Kunci nya mana? “ tanya Yusuf sembari mengadahkan tangan ke Aida. Aida merogoh saku tasnya lalu menyerahkan kunci mobil itu ke tangan Yusuf. Yusuf kemudian memberikan kunci itu kepada sopir pribadi nya.
“ Ayo, aku harus menjemput Sulthan dulu baru lanjut ke rumah mama. Ga apa-apa kan?”
Yusuf. “ Iya mas, ga apa-apa. “ sahut Aida. Aida kemudian berpamitan dengan Kemal, masuk ke mobil, dan mereka pun melaju menjauhi kampus Gazi University.