CHAPTER 25 PERKENALAN DENGAN IBU YUN

1283 Kata
            Huuuft. Aida akhirnya dapat melemaskan otot-otot nya. Setelah hampir 7 jam berdiri di hadapan meja operasi. Operasi repair Hepar dan Gall bladder pasien kecelakaan tadi malam adalah operasi dengan durasi yang lumayan panjang yang pernah ia lakukan. Sebelumnya ia pernah melakukan operasi repair Kidney yang juga cidera akibat kecelakaan dan itu juga memakan waktu hampir 8 jam. Saat ini ia benar-benar lelah. Pekerjaan yang sangat menguras tenaga dan otak, tetapi Aida senang melakukannya, itu karena ilmu nya dapat berguna bagi kehidupan orang banyak. Aida pun terlelap dalam lelahnya, dengan keringat yang masih mengalir di pelipis di balik hijabnya yang perlahan mengering tertiup hembusan angin dari Air conditioner yang terpasang di ruangan tempat para dokter residence beristirahat. Ia sengaja memilih bed yang posisinya menghadap ke AC, agar dalam kondisi seperti ini, rasa lelahnya dapat segera terobati.                          Cukup lama Aida terlelap, hingga kemudian sayup-sayup ia mendengar suara azan subuh sudah menggema di luar sana, menandakan hari sudah beranjak dari peraduannya. Ia mengambil hp  yang ia letakkan di samping nya, bermaksud melihat waktu sudah menunjukkan pukul berapa. Tapi tujuan nya terdistraksi oleh beberapa pesan singkat yang masuk ke layar hp nya. Satu pesan yang paling menarik perhatiannya.   “ Assalamualaikum dokter Aida. Maaf mengganggu istirahatmu dini hari begini. Saya harus berangkat  ke Holland untuk menemui adik perempuan saya yang jatuh sakit. Pagi ini seharusnya jadwal saya di poliklinik, dan juga ada seorang pasien sudah terjadwal untuk kontrol. Tolong temui. Pasien ini orang Indonesia, jadi kamu pasti akan sangat mudah berkomunikasi dengannya. Data pasiennya sudah saya titipkan ke perawat asisten. Terima kasih sebelumnya. Wassalamualaikum. “ pesan dokter Zhafran kali ini. Aida kemudian menarik nafas lagi, dalam. Ia heran, sebenarnya ada lebih dari 10 dokter bedah yang residen maupun yang bukan residen di rumah sakit ini, tapi senior-seniornya selalu saja lebih memilihnya untuk mengisi jadwal mereka ketika mereka sedang ada keperluan mendesak seperti ini.  Karena itu, ia sangat sering berumah di rumah sakit ini dari pada pulang ke apartemen nya dan Zaineb. Tapi demi kelancaran program studi nya dan juga demi hubungan baiknya dengan Dr. Zhafran yang masih kerabat jauh sekaligus sahabat Mubarak, dekannya sewaktu di Mesir, maka ia akan tetap berusaha maksimal. Aida pun kemudian beranjak membersihkan diri dari sisa-sisa darah dan lelah malam tadi. Untuk kemudian memenuhi panggilan Sang Khaliq.               Aida mematut dirinya di cermin, merapikan pakaiannya, membenahi kembali hijabnya, kemudian menyeruput habis Hot Chocolate yang tadi dibuatnya untuk melengkapi sarapan pagi yang tentu saja dilakukannya di rumah sakit. Di mana lagi? Sepotong kebab  juga sudah meluncur masuk dengan teratur ke dalam lambungnya untuk dicerna. Setelah dirasanya sudah cukup tenaganya untuk memulai hari, ia pun mengenakan jas dokternya dan berjalan menuju  poliklinik dimana ia akan menemui pasien-pasien dokter Zhafran. Sebelumnya, ia sudah menaruh gelas kotor yang digunakannya tadi ke dalam wastafel di pantry yang ada di ruaangan itu. Diliriknya sekilas dua bed dokter disamping nya, mereka teman sejawat nya yang kelelahan dari tugasnya semalam suntuk di ER dan OR.   Poliklinik Bedah Trauma, Ihsar Hospital             “  Berapa pasien lagi yang tersisa Nazwa? “ tanya Aida pada asistennya hari itu. “  Masih ada 2 pasien lagi kak. “ jawab Nazwa. “ Ok. Panggilah pasiennya. “ kata Aida lagi. “ Nyonya Yun Arundia. “ ujar Nazwa memanggil nama pasien. “ Ya. “ seseorang menyahut. “ Silahkan masuk Pak. “ Nazwa mempersilahkan masuk seorang perempuan paruh baya yang ditemani oleh seorang pria yang ia taksir usianya sekitar pertengahan 30 an itu. “ Ibu Yun Arundia. Silahkan duduk. “ Aida sengaja menggunakan bahasa Indonesia setelah membaca resume pasien yang ia ketahui ternyata setanah air dengannya. Ia kemudian teringat pesan singkat dari dr. Zhafran bahwa ada pasien yang berkebangsaan indonesia akan datang memeriksakan kesehatannya. Kedua orang itu tertegun, setelah duduk Yun Arundia pun bertanya. “ Dokter orang Indonesia? “ “ Ya betul bu, saya asli Indonesia. Senang rasanya bertemu dengan saudara setanah air. “ Sahut Aida. “ Waaah begitu ya, kami juga senang karena bisa bertemu dengan sesama orang Indonesia di sini, apalagi di Rumah sakit. Sangat jarang ada dokter Indonesia yang bekerja di Turki. Sebenarnya ada banyak mahasiswa Indonesia di sini, hanya saja ketika studi mereka selesai, mereka memilih kembali ke tanah air.”  Balas Yun. Aida tersenyum lalu melirik pria yang menemaninya. “ Oh , ini putra sulung saya. Yusuf Maulana. “ Yun memperkenalkan putra nya. Yusuf pun menangkupkan telapak tangan di depan dadanya, “ Yusuf, senang bertemu Anda Dokter. “ “ Saya Aida. Kebetulan Dr. Zhafran sedang ada keperluan mendesak, jadi saya yang menggantikan beliau. “ jelas Aida singkat. Nazwa yang memperhatikan sejak tadi percakapan ini tersenyum. Ternyata mereka setanah air. Batinnya. “ Jadi, gimana bu Yun? Ada keluhan apa sekarang?” tanya Aida memulai anamnesa nya. Sembari memperhatikan layar komputer di depannya, melihat dengan seksama catatan medis pasien yang ada di depannya. Baik Yun maupun Yusuf kemudian menjelaskan apa-apa yang menjadi permasalahan Yun yang memang sudah akrab dengan suasana rumah sakit Ihsar. Setelah mendapat informasi mengenai kondisi pasiennya, Aida pun mempersilahkan pasien untuk berbaring di bed yang terletak di sisi kiri meja kerjanya. Melakukan pemeriksaan menyeluruh dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aida pun mengambil sarung tangan medis yang tersedia di samping meja kerjanya, kemudian mulai melakukan palpasi. Dilihatnya juga bagian kelopak mata. Sampai ke bagian kaki pasiennya.             “ Bu Yun, apa akhir-akhir ini bu Yun sering  muntah-muntah juga selain nyeri di bagian perutnya?” tanya Aida. “ Ga sering, tapi ada sih, saya pikir maag saya kambuh. Aida tersenyum mendengar jawaban pasiennya itu. “ Kita USG ulang bagian perutnya ya bu. Kelopak mata ibu agak kuning juga. Nanti kita cari tau ada masalah apa di perutnya, mudah-mudahan sih ga berat. “ balas Aida. Dengan sigap, Nazwa menyiapkan mesin Ultrasonograph  yang akan digunakan. Dan Aida pun dengan sigap memainkan probe USG di perut sang pasien, melihat dengan seksama ke arah monitor, menekan tombol-tombol untuk menangkap gambaran USG yang akurat. Tak sampai 10 menit, pemeriksaan pun selesai. Aida pun mempersilahkan pasiennya untuk kembali ke duduk di tempat semula.             “ Bu Yun, mas Yusuf, saya mau jelasin dulu hasil USG nya. Di semua bagian bagian ini, ini , semua nya normal. Nah ini ada hepar atau liver, di bagian tengah ini yang kayak lubang itu, itu kantung empedu. Normalnya, kantung empedu ini gambarannya bersih, hitam aja. Tapi ini, ada kayak buletan warna putih ini, ini batu. Belum terlalu besar ini, kalo pas diukur tadi sekitar 0.8 cm diameternya. Ini masih bisa kita upayakan dengan obat-obat oral kok. Jadi ibu , mas Yusuf ga perlu khawatir. Ini nih yang nyebabin ibu suka mual, sama nyeri perut atas sebelah kanan, nama nya Murphy Sign. Tapi nih, buat jaga-jaga karena biasanya di beberapa kasus batu empedu, bisa nyebabin inflamasi atau radang empedu, untuk mencegah ini kita cek darah juga ya bu. Dari hasil USG sih ga keliatan tanda-tanda yang mengarah ke sana. Tapi kita pastiin ya. “ jelas Aida.   Yun dan Yusuf pun keluar ruangan menuju laboratorium untuk diambil sample darah. Sekitar 30 menit menunggu di depan ruangan Aida, Yun pun dipanggil. Aida pun menjelaskan kembali hasil dari pemeriksaan darah yang dilakukan, Yun pun Yusuf terlihat lega karena tidak ada yang serius dari hasil pemeriksaan darah tersebut. Merekapun berpamitan setelah Aida meresepkan beberapa obat dan saling bertukar nomor telepon. “ Kapan-kapan mampir ke Ankara ya Aida. Tante tunggu. “ mereka pun tampak sudah akrab. “ Insyaallah tante, kalo Aida ada waktu luang. “ jawab Aida. Mereka kemudian bersalaman. Sebelum melangkahkan kaki keluar, netra Yusuf menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya, namun tak begitu jelas.             Drrrrt. Drrrrt. Drrrrt. “ Hallo Breck, ooh ok. Mama juga udah selesai nih, tinggal ke instalasi farmasi nya aja. Ok. Ayo ma, Yusuf anter mama dulu ke mobil , Breck udah nunggu di parkiran. “ Yusuf . “ Iya. “ sahut Yun.             Mereka berlalu, pun Aida yang sudah menyelesaikan pekerjaan nya.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN