CHAPTER 24 DI KEDIAMAN KELUARGA USTMANI

1054 Kata
              Sore itu, sebuah Land Cruiser putih melesat melewati Aurasya Tunnel yang membentang di bawah selat Bosphorus. Pengemudi nya sengaja memilih jalur melewati sile Otoyolu kemudian berbelok ke Anatolian Side hingga ke Hareem dan kemudian memasuki Aurasya Tunnel menuju ke Eminomu lalu melewati jembatan Galata menuju kawasan Fatih. Aurasya Tunnel di rancang untuk mempersingkat jarak Kazlicesme di bagian Eropa dan gostepe di bagian Asia, dengan rute sepanjang 14,5 km. Jalur ini mempersingkat perjalanan mereka dari Umraniye menuju Fatih yang biasa nya bisa lebih dari 1 jam, menjadi 35 menit saja.             LC putih itu berbelok dan memasuki sebuah halaman rumah yang cukup luas. Dan kemudian berhenti di depan sebuah bangunan yang tampak sederhana namun terlihat elegan. Kediaman keluarga Ustmani. Dua wanita berhijab tampak turun dari mobil itu dan berjalan memasuki rumah.   “ Assalamualaikum..... Anne, Abi... “ ucap Zaineb. Diikuti Aida. “ Assalamualaikum Anne.” “ Waalaikumsalam sayang..., syukurlah kalian belum terlambat. Inikah sahabatmu Aida itu?” Tanya Anne Emira , ibunda Zaineb. Zaineb menoleh ke arah Aida, dan Aida pun segera menyalami wanita paruh baya itu. “ Assalamualaikum Anne, saya Aida, maaf dengan lancang menghadiri acara keluarga seperti ini. “ ujar Aida tulus. “ Hahaha... tidak apa sayang, Zaineb tampaknya sangat gugup hingga perlu membawa sahabatnya. Bagaimana kabarmu? “ balas Emira. “ Alhamdulillah, tamam anne. Anda sendiri tampaknya sangat berbahagia malam ini.” sahut Aida lagi. “ Alhamdulillah, aku memang harus bahagia. Eh, kalian sebaiknya berkemas, lalu bantulah anne mu ini menyiapkan hidangan. Tidak keberatan kan Aida?? “ Emira tersenyum. “  Tentu saja tidak Anne, untuk itulah saya ke sini.” Balas Aida. Hanya Zaineb yang tampak muram karena gugup. Ia tak dapat menyembunyikan rasa canggungnya untuk berhadapan dengan calon pendamping hidupnya kelak. Ada raut bahagia di sana, sekaligus rasa tidak percaya diri Zaineb yang baru pertama kali akan bertemu dengan keluarga besar calon suami nya. Aida merangkul bahu dan menyeret langkah Zaineb untuk mempersiapkan diri nya.             Tak sampai setengah jam seluruh anggota keluarga itu pun telah berkumpul di ruang tengah rumah keluarga Ustmani. Ruang keluarga yang luas, yang di tengahnya di  buat taman kecil dan ada kolam kecil yang menghiasinya. Semua orang sibuk saling membantu menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut keluarga calon besan hingga azan maghrib berkumandang.             “ Kita sholat berjamaah dulu, tapi di mana Kareem? Kenapa belum datang? Apakah dia terlambat lagi kali ini??” Emira bertanya setengah berteriak. “ Maaf aku hampir terlambat anne, ada banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor. “ suara itu tiba-tiba diikuti dengan kemunculan sosok pria tegap dengan rambut gondrong yang dikuncir rapi dengan senyum yang mengembang Kareem. “ Baiklah kalau begitu, segeralah berwudhu, kami menunggu mu untuk berjamaah.” Sahut Emira sembari memeluk sebentar anak laki-laki sulungnya itu. Tak lama mereka pun terlarut dalam lantunan bacaan yang indah dalam sholat yang dipimpin oleh Kareem Ustmani.             Tak berselang setengah jam, ruangan semakin ramai dengan kedatangan 2 orang pria. “ Assalamualaikum.... “ mereka mengucap salam serentak. Sontak semua orang di ruangan itu pun menoleh ke arah sumber suara. “ Waalaikumsalam.” Beberapa orang kompapk menyahut, termasuk Emira. Ia pun menyambut 2 pria muda itu dengan pelukan hangat. “ Anak-anakku. Anne kira kalian sudah melupakan wanita renta ini.” “ No anne. Kami sangat merindukannmu. “ Zayeed bersuara. “ Iya, betul anne, berkat doamu, kami hampir tidak punya waktu untuk mengunjungi mu. “ Sahut Said. “ Aku benar-benar merindukanmu anne. “ sambung Said bergelayut di lengan Emira. Kareem yang melihat adegan itu pun menghambur ke tengah-tengah mereka. “ Hei, apa-apaan kalian ini?? Dia ini ibu ku, kenapa kalian yang malah bermanja, Zayeed berhentilah bergelayut, kau bantu menyiapkan berbeque, sebentar lagi keluarga Hossam akan tiba disini. By the way, mana Breck? Apa dia tidak akan datang?” tanya Kareem pada Said dan Zayeed. “ Dia sedang mengantar ibu nya ke hotel, besok pagi adalah jadwal kontrolnya. Jadi dia akan sedikit terlambat. “jawab Zayeed.               “ Mereka sudah datang!” teriak adik sepupu Zaineb, Eylin. Zaineb yang mendengar itu tiba-tiba mematung, ia memainkan jari-jari tangannya. Wajahnya memerah, antara tersipu malu, bahagia, gugup bercampur aduk. Aida yang memperhatikan gelagat itu, segera menggenggam jemari sahabatnya, memberinya sedikit ketenangan , sembari menganggukkan kepala dan tersenyum menyemangati. Zaineb pun kemudian menyunggingkan senyumnya, memberi isyarat bahwa ia sudah siap untuk menyambut kedatangan keluarga Hossam, sang calon suami.             Selang beberapa waktu, tampaklah beberapa orang memasuki ruangan itu, di paling depan adalah Hossam, diikuti di belakangnya, ibunya Ibtisam, ayahnya Yazid, kakak laki-lakinya Omar dan seorang remaja perempuan Helwa, adik perempuan Hossam. Acara lamaran berjalan santai, penuh dengan cengkrama, canda dan tentu saja kebahagiaan bagi kedua calon pengantin.  Makan malam pun penuh dengan keceriaan, kegugupan yang tadi nya bergelayut di wajah zaineb kini hilang sudah, berganti dengan rasa senangnya. Pun Aida, ia turut  larut dalam keriuhan. Tanggal pernikahan pun telah ditetapkan, yaitu 3 minggu dari sekarang. Semua persiapan akan dilakukan bersama kedua keluarga, karena memang anggota keluarga Hossam akan tinggal di Turki hingga hari H pernikahan. Aida memeluk Zaineb, “ Selamat ya, kau akan segera menikah Zaineb, aku turut bahagia.” Ucap Aida tulus. Zaineb pun membalas pelukan sahabat nya itu.             Drrrt. Drrrrt. Drrrt. Hp Aida bergetar menandakan ada  telepon yang masuk. “ Assalamualaikum...... ya? Ok, saya akan segera ke sana. “ Aida lalu memutuskan sambungan telepon. “ Ada apa Aida? “ tanya Zaineb. “  Ada kecelakaan besar. Banyak orang terluka, dan 2 orang harus segera di operasi. 2 operasi lain sedang berjalan, dan mereka membutuhkan ku. “ jawab Aida sembari beranjak. “ Aku akan kembali ke Umraniye. “ kata Aida lagi. “ Kalau kau naik angkutan umum waktunya ga akan cukup, bawalah mobilku Aida. “ ujar Zaineb. “ Baiklah, sampaikan ke anne, aku kembali karena hal mendesak, maaf aku tidak bisa sampai selesai acara nya. “ ucap Aida sembari menerima kunci mobil dari tangan Zaineb. “ Hati-hati Aida! “ Aida pun melambaikan tangannya, tanda ia akan berhati-hati.             Tak lama Land cruiser putih itu berputar di depan halaman rumah kediaman keluarga Ustmani dengan Aida yang memegang kemudi. Tatkala LC putih itu meluncur keluar kediaman Ustmaniyah, tampak Range Rover hitam baru saja memasuki halaman rumah itu. Seorang pria tampan tampak sedikit memelankan laju mobilnya dan mencoba mencuri pandang ke arah LC yang baru saja berpapasan dengannya. Dan tiba-tiba nyeri itu dirasakannya lagi. Ciiiiiit. Ia tiba-tiba menghentikan laju mobilnya sembari meremas d**a nya yang terasa nyeri. Sekali lagi ia memandang ke arah mobil yang sudah melaju jauh, hingga hanya terlihat kerlip lampunya saja.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN